A Tale That Wasn’t Right

JC – Global Citizen

 

Note Redaksi:

Seperti yang sudah-sudah, weekend ini juga ditampilkan artikel lama. Artikel ini benar-benar sudah cukup lama, pernah tayang di salah satu citizen journalism di bawah media nasional terbesar. Tulisan ini tayang kembali karena terinspirasi perjumpaan penulis di Jumat pagi tanggal 07 January 2011 dengan seorang konsultan kelapa sawit dan berdiskusi panjang lebar mengenai persawitan di Indonesia. Juga perbincangan penulis dengan salah satu kontributor Baltyra yang juga penggiat agriculture, yaitu Anastasia Yuliantari dan suaminya, Max.

 

A Tale That Wasn’t Right

Here I stand all alone; Have my mind turned to stone
Have my heart filled up with ice; To avoid it’s breakin’ twice

Thanks to you, my dear old friend; But you can’t help, this is the end
Of a tale that wasn’t right; I won’t have no sleep tonight

Chorus
In my heart, in my soul; I really hate to pay this toll
Should be strong, young and bold; But the only thing I feel is pain

It’s alright, we’ll stay friends; Trustin’ in my confidence
And let’s say it’s just alright; You won’t sleep alone tonight

Helloween – Keeper of The Seven Keys Part I (1987)

Salah satu lagu terfavorit saya sepanjang masa ini saya jadikan judul artikel kali ini…A Tale That Wasn’t Right….actually not only a tale, but tales, that are not right….

Tidak salah bila dikatakan Indonesia masih jauh dari sempurna, masih jauh dari baik, betul sekali! Seperti juga tulisan saya yang sudah-sudah, korupsi adalah penyakit SATU-SATU’nya yang menyebabkan semua ini terjadi. Tapi kali ini, saya tidak akan membahas masalah korupsi, tapi akan membahas hal yang lain, menjadikan saya membongkar seluruh hasil riset sembarangan saya, catatan pribadi dan seluruh koleksi buku, jurnal, penelitian saya bongkar semua, dan buku referensi, internet saya pelototi dan inilah hasilnya. Apakah benar pengembangan perkebunan kelapa sawit membawa efek negatif lebih banyak dibanding dengan efek positif, apakah benar bahwa pengembangan perkebunan kelapa sawit itu mengorbankan hutan dan menyebabkan global warming di bumi ini, dan apakah benar social effect dan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh perkebunan kelapa sawit?

Maafkan saya lagi jika nantinya tulisan ini terlalu panjang, sehingga saya memandang perlu untuk membaginya menjadi 2 bagian, yaitu:

Part 1: A Tale That Wasn’t Right
Part 2: Liquid Gold – A Future of Indonesia

Belakangan selalu dikampanyekan, digembar-gemborkan bahwa Indonesia merupakan salah satu penyumbang terbesar pencemaran lingkungan, emisi karbon yang tertinggi di dunia, penyumbang efek rumah kaca paling ganas di dunia, perkebunan kelapa sawit menyebabkan global warming, dsb, dsb.

Mari kita lihat sejarah dan kenyataan yang ada.

Revolusi Industri
Perubahan besar-besaran di dunia diawali dengan adanya Revolusi Industri yang dimulai di Inggris pada akhir tahun 1700’an, tepatnya di tahun 1760, dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa. Penemuan mesin uap oleh James Watt menyebabkan terjadinya revolusi besar-besaran di segala bidang, yang tadinya masih dikerjakan oleh kekuatan tenaga manusia dan hewan, dapat digantikan dengan mesin uap, yang mengawali terjadinya mekanisasi di segala bidang. Gelombang kedua Revolusi Industri terjadi di tahun 1850.

Penemuan penting yang mengubah wajah peradaban umat manusia:
• Mesin pintal: dengan memakai kerangka ciptaan Richard Arkwright yang dipatenkan tahun 1769 dan disetujui patennya tahun 1783, membuat lompatan ke depan dalam industri tekstil.
• Mesin uap: seperti sudah disebut di atas, ditemukan oleh James Watt dan membawa mekanisasi di segala bidang.
• Besi cor: dipatenkan oleh Henry Cort di tahun 1783 dan 1784.
Penemuan-penemuan besar lainnya di segala bidang susul menyusul, kimia (semen, pemakaian semen pertama kali di Thames Tunnel yang dibuka tahun 1843), kemudian mesin-mesin, metalurgi, pertukangan, dan banyak lagi.

foto-1-cottonopolis

Foto 1: Cottonopolis – Manchester, England

Foto dari tahun 1840, menunjukkan jelas sekali level pencemaran yang sampai hari ini belum pernah tertandingi. Sejak inilah, perusakan lingkungan hidup pertama kali dilakukan oleh umat manusia dalam skala yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya dan dalam kecepatan yang tidak pernah terpikirkan. Emisi karbon dalam jumlah masif pertama kali terjadi dalam sejarah umat manusia. Sementara itu, dalam kurun waktu yang sama, di benua Amerika, Asia, Australia, Africa dan tempat-tempat lain di dunia masih jauh sekali dari yang namanya pencemaran lingkungan, pencemaran udara, emisi karbon yang akut, dsb. Di sebagian besar wilayah-wilayah ini masih liar, masih belum tersentuh oleh manusia, dan masih memiliki hutan dalam jumlah besar.

Dengan banyaknya industri yang berkembang pesat, kota-kota besar, hutan cerobong asap pabrik, hunian padat penduduk, fenomena urbanisasi terjadi secara besar-besaran. Ketertarikan penduduk desa ke kota sudah menjadi insting yang sama tuanya dengan umat manusia. Naluri untuk memperbaiki hidup, mulai dari urbanisasi, imigrasi ke negeri lain sampai dengan hari ini masih dilakukan oleh manusia.

foto-2-exploitasi-anak
Foto 2: Exploitasi Anak
Exploitasi anak-anak di jaman itu dibenarkan, sah dan diterima oleh norma masyarakat ketika itu menjadi suatu kewajaran dan menjadi pemandangan sehari-hari di mana-mana. Exploitasi anak adalah salah satu efek dari fenomena urbanisasi besar-besaran. Pertambahan jumlah penduduk di perkotaan mendorong kelompok masyarakat ketika itu membabat hutan, menggunduli hutan dengan riang gembira. Kayunya dipakai untuk pembangunan perumahan, untuk keperluan konstruksi, dan segala jenis pemenuhan nafsu buas mahluk yang bernama homo sapiens, atas nama perkembangan dan pertumbuhan ekonomi, sekali lagi merupakan praktek wajib dan sah di jamannya.

Era penjelajahan samudera di masa sebelumnya, dengan 3 G yaitu Gospel, Glory dan Gold menjadi makin mengkristal dan kolonialisme makin mengakar kuat di mana-mana. Emisi karbon terus berlangsung dengan cepat di belahan utara equator bumi, yaitu di belahan bumi Eropa. Sementara di benua baru yang menjanjikan, para pendatang mengalir bagai air bah.

Perambahan hutan dalam kecepatan dan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya terjadi untuk pertama kalinya di bumi orang kulit merah. Demi perjuangan hidup sekelompok besar imigran, demi tempat hidup dan lahan hidup sekelompok besar pendatang dari benua di sebelahnya, Penggusuran, baik secara halus, secara kasar, penduduk asli berkulit merah mau tidak mau terjadi, sekali lagi demi sebuah kepentingan yang lebih besar, tapi ketika itu, who cared? Bahkan pertumpahan darah, penumpasan suatu suku atau kelompok masyarakat penduduk asli dibenarkan dan diterima menjadi suatu kewajaran, keharusan bahkan kebanggaan.

Waktu bergulir, dan di tahun 1929 Black Friday menghantam Amerika, menjungkir balikkan Amerika ke titik nadir dan untuk pertama kalinya resesi besar terjadi di sana. Banyak orang menjadi gila, bunuh diri, melompat dari gedung bertingkat, suami istri bercerai, kelaparan, anak-anak usia sekolah drop out, antrean panjang di mana-mana untuk mendapatkan pekerjaan dan jatah roti atau makanan yang lain menjadi pemandangan sehari-hari di jalan-jalan di Amerika. Pelahan tapi pasti, perekonomian dunia pulih, perekonomian Amerika berangsur membaik.

Industri menjadi lebih besar dari masa sebelumnya, hutan-hutan Amerika harus menerima nasib tanpa ada yang membela dan memperjuangkan keberadaannya sebagai salah satu paru-paru dunia. Rural and urban development menjadi issue yang bergaung di mana-mana. Pertumbuhan penduduk membutuhkan space untuk perumahan mereka, pertumbuhan penduduk yang pesat membutuhkan lahan pertanian untuk mencukupi pangan mereka semua, sama halnya dan berbarengan dengan saudara tuanya di Eropa, pertumbuhan penduduk membutuhkan pertumbuhan ekonomi. Untuk menumbuhkan ekonomi dibutuhkan tempat, space, untuk pengembangan perumahan, lahan pertanian, kota, infrastruktur, jalan raya, jembatan, jalan bebas hambatan, lintasan kereta api, konstruksi subway, distribusi air minum, listrik beserta banyak lagi kebutuhan dasar memberikan pilihan tunggal, yaitu: babat hutan yang ada!

Sekali lagi, hutan-hutan di sana hanya bisa menerima nasib untuk dibersihkan atas nama pembangunan, tanpa ada yang membela, memperjuangkan atau mempertahankan usianya sedikit lebih lama. Emisi karbon? Efek rumah kaca? Global warming? Tunggu dulu, “we have millions mouths to feed!”.

Dua perang besar dalam sejarah umat manusia memperkokoh peran manusia sebagai salah satu perusak lingkungan paling hebat di alam semesta ini. Perang Dunia I dan II membawa umat manusia ke perkembangan pesat di industri mesin perang, otomotif, militer beserta persenjataannya ke level di mana tidak pernah terjadi sebelumnya.

Menurut www.earth-policy.org disebutkan bahwa di tahun 1950 emisi karbon adalah 1,6 miliar ton. Di tahun 1977, melompat lebih dari 3 kali lipat menjadi 4,9 miliar ton. Dan di tahun 2000, emisi karbon meroket menjadi 6,5 miliar ton, berlipat empat dalam kurun waktu 50 tahun saja. Inilah yang menyebabkan efek rumah kaca (green house effect) yang memerangkap panas matahari yang tidak bisa memantul balik ke atmosfer, menyebabkan naiknya temperatur bumi, mencairnya es di kutub-kutub bumi, naiknya permukaan air laut dan banyak sekali fenomena alam yang aneh yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Tigaperempat emisi karbon disebabkan oleh aktivitas manusia yang rakus akan pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi terutama, dan juga batu bara). Menurut Department of Energy negeri Uncle Sam, konsumsi energi secara global diperkirakan akan melompat 60% dari level yang sekarang dalam 20 tahun ke depan. Penggunaan batu bara diperkirakan akan naik 45%, minyak petra 58% dan gas alam 93%. Sementara itu, menurut Intergovernmental Panel on Climate change (IPCC), konsentrasi CO2 di atmosfer akan mencapai 650 – 970 ppm jauh di atas level konsentrasi di awal revolusi industri yang “hanya” di kisaran 350 ppm. Sebagai akibatnya, temperatur global akan naik antara 1,4 – 5,8?C dari tahun 1990 – 2100.

Pembangkit listrik merupakan juara dalam kontribusi emisi karbon yaitu mencakup 42%, juara kedua dipegang oleh transportasi 24%, sementara ketiga dan keempat adalah industri dan kawasan hunian, masing-masing 20% dan 14%. Gelar the best of the best yang paling generous untuk emisi karbon ini adalah Amerika, pemegang saham mencapai 24%, disusul The New Emerging Economic Power, China 14%, dikuntit oleh Russia 6%, Jepang yang hanya sekelompok pulau, patut diperhitungkan dengan score 5%, dan India juga memegang angka yang sama 5%.

Facts and Figures:

Menurut www.worldmapper.org
1. Qatar 64
2. Bahrain 27
3. Brunei Darussalam 21
4. Kuwait 21
5. Trinidad & Tobago 20
6. Luxembourg 19
7. United States 19
8. United Arab Emirates 18
9. Australia 18
10. Saudi Arabia 17
Jumlah karbon dioksida yang “diproduksi” satu orang di wilayah-wilayah tsb di atas di tahun 2000.

Menurut www.breathingearth.net (ini yang paling cool, I insist to visit this one, sit, relax and enjoy)

Menghasilkan 1000 ton CO2 ke udara:
Amerika setiap 5,4 detik
Canada setiap 1 menit
Russia setiap 39,2 detik
China setiap 9,2 detik
Indonesia setiap 1,7 menit
Australia setiap 1,5 menit
Japan setiap 26,2 detik

Silakan di’cek sendiri di link yang saya sertakan. Menurut saya ini yang paling cool, click, buka link tsb, biarkan di layar anda selama kurang lebih 1 jam, dan lihatlah angka-angka yang ada di sana, kemudian silakan berkomentar. Berarti Indonesia sendiri yang dibilang juara dalam kontribusi ke global warming, masih “yesterday afternoon” dibandingkan dengan negeri-negeri lain di awan sana.

Menurut www.eie.doe.gov

Graph 1: World Carbon Emission
graph-1-world-carbon-emission

Graph 2: US Carbon Emission
graph-2-us-carbon-emission

Graph 3: US Energy Consumption
graph-3-us-energy-consumption

Menurut saya:

Kambing hitam perlu dicari.
Riset perlu dilakukan untuk mendapatkan pembenaran.
Prinsip negara-negara maju sekarang: “kami boleh sekuatnya mengonsumsi energi, minyak petra dan menghamburkan karbon sesuka kami, itu dibutuhkan untuk sustain ekonomi kami, demi kemajuan dan kehidupan rakyat kami”. Tapi…”kalian, negara dunia ketiga, tidak boleh sembarangan nebang hutan, tidak boleh pakai minyak petra banyak-banyak (nanti kami gak kebagian), tidak boleh ini dan tidak boleh itu”.

Akibat dari revolusi 247 tahun lalu, global warming, yang jelas sekali diakibatkan karena ulah para kampiun atau jawara industri di belahan bumi sebelah utara atau dunia barat, sekarang semuanya ditimpakan ke negara-negara berkembang dan dibilang negeri-negeri kambing hitam inilah yang mengakibatkan global warming. Dulu atas nama penduduknya, hutan di tempat mereka boleh dan sah-sah saja dihabisi, dalam nama dan atas nama kemajuan, pembangunan dan ekonomi. Sementara sekarang, di mana giliran negara-negara berkembang yang hendak membangun, memajukan rakyatnya, menciptakan lapangan kerja, membangun infrastruktur yang canggih, tapi dilarang, bahkan dikeroyok, dilempari, dikerutuki, dibalangi ramai-ramai.

Tidak usah dibilang membuka lahan perkebunan kelapa sawit, illegal logging atau perambahan hutan. Mari kita pejamkan mata sejenak, mari kita bayangkan, infrastruktur jalan raya yang sekelas yang ada di bumi Amerika dan Eropa jika seandainya semisal andaikata bisa dan sanggup dibangun di Indonesia. Mulai dari Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Padang, Palembang, Bengkulu, Jambi, Lampung, Merak, Tangerang, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Madura, Pangkalan Bun, Kota Waringin, Sampit, Banjarmasin, Pontianak, Denpasar, Menado, Makassar, Palu, Nusa Tenggara, Timor, Ambon sampai ke Irian, berapa hutan yang harus dan memang wajib dikorbankan? Apakah salah? Bagaimana dulu jaringan jalan dibangun di negeri-negeri barat, apakah memang sudah “tersedia” dan “disiapkan” tempatnya seperti hari ini?

Ini tidak untuk dipertentangkan apakah benar atau salah. Jika kita yang memiliki sumber daya tapi tidak diperkenankan untuk menyentuh dan mengelolanya, terus siapa yang harus bertanggung jawab untuk kepentingan manusia yang ada di bumi Indonesia? Memang ini bukan suatu excuse atau pembenaran, pembangunan memang seperti pedang, bermata di 2 sisi yang tajam, seperti 2 permukaan koin……tinggal pilih??

Memang diakui bahwa penyimpangan di Indonesia masih luar biasa, korupsi, penyakit akut yang menahun dan merasuk di semua lapisan (sudah bosan nulis dan bahas yang satu ini), kontrol dan terpenting law enforcement yang sangat-sangat-sangat-sangat-sangat lemah sekali…..

Sekali lagi mari kita bersenandung bersama: A Tale That Wasn’t Right di http://www.youtube.com/watch?v=bezhAEYqvxgseperti di awal tulisan ini plus silakan click: http://www.youtube.com/watch?v=VC_oizspKz4

…mari kita yang masih merasa orang Indonesia berbuat sesuatu untuk negeri ini…..sudahkah saya? Silakan anda semua yang menjawabnya…saya masih terlalu dini, masih terlalu kecil dan belum punya kemampuan untuk berbuat something big buat negeri ini….

Menurut www.flicker.com/photos/reddees

Foto terakhir…mari kita tersenyum bersama……
hahahaha-global-warming

God Bless Indonesia…peace…cheers…..

Bersambung…….

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

23 Comments to "A Tale That Wasn’t Right"

  1. Osa KurniawanIlham  9 January, 2011 at 23:30

    MasJC,kalau tekun membaca laporan National Geographic Brasilia selalu dijadikan contoh implementasi bioenergi yang merusak lingkungan. Itulah kampanye hitam negara maju terhadap negara ketiga yang tengah berkembang,tapi untungnya Brasilia tidak goyah dan tekun terhadap policy bioenergy.
    Pemerintah Indonesia lebih sering kayak panas2 tahi ayam. Hari ini bicara solar cell, pohon jarak, biodisel besok sudah lupa semua. Pemerintah kita munafik, tidak fokus menyelesaikan masalah eh malah nyari-nyari bantuan duit dari negara lain atas nama pengurangan emisi karbon. Kalau nggak mau mengeluarkan karbon ya kita balik lagi aja ke jaman Majapahit.

    Salam dari Pau,
    Osa KI

  2. J C  9 January, 2011 at 22:36

    Mas Tatang: wow! Kehormatan luar biasa mendapat kunjungan Panjenengan…hehehe…barusan online, dan terima message dari Panjenengan. Lha ya saya juga kaget kok selera lagu kita sama. Gak heran ada insiden tempo hari…hahaha…karena lagu yang satu itu juga pernah jadi ilustrasi salah satu artikel saya. Dua-duanya salah satu terfavorit saya sepanjang masa (bareng sama yang di sini ini). Tooosss dulu…lho, malah mbahas lagu, piye tho aku iki? Hahahaha….bener banget, manusia adalah perusak terbesar di alam semesta ini…tak terpungkiri lagi… Btw, balik ke lagu lagi, album Keeper of the Seven Keys menurut saya adalah album ter-ciamik Helloween…

  3. J C  9 January, 2011 at 22:32

    Pak Djoko: matur nuwun sudah mampir. Tidak ada kata terlambat sih untuk hal-hal seperti ini. Tapi ya memang berat…

    Pak Anwari dan Ayla: wah, saya senang baca diskusi Panjenengan berdua. Sungguh asik dan menarik. Contoh nyata yang cuek dan mbudeg dengan bengak-bengok negara-negara maju adalah BRAZIL. Negeri Brazil berhasil melepaskan diri dari ketergantungan minyak bumi, FREE 100%, mau harga minyak nyundul sampai $200/barrel, Brazil cuek saja. lha wong produser terbesar ethanol dunia. Dan regulasi pemerintah untuk semua pembuat kendaraan yang mau memasarkan produknya ke Brazil, mutlak hari FFV engine (Flex Fuel Vehicle), bisa pakai 100% alkohol atau biodiesel. Dengan independensi Brazil yang tidak tergantung sama minyak bumi jelas membuat negara-negara pemangku kepentingan perminyakan di dunia sewot. Brazil juga dituding merusak hutan untuk lahan pertanian, perkebunan tebu, kedelai dsb.

    Bagaimana dengan Australia yang memelontosi benua Kanguru untuk kepentingan pengembangan WOOL INDUSTRY mereka? Bagaimana dengan Amerika yang membabat habis hutan untuk pengembangan SOYBEAN mereka?

  4. J C  9 January, 2011 at 22:25

    Linda: lha ya gitu lah, dalam bahasa Jawa ada pepatah “asu gede menang kerah’e” artinya anjing besar menang galak/berkelahi.

    Mawar: tengkyuuuuu…lha wong nulisnya juga berat…

    Kornelya: bukan dikau saja yang berang, salah satu alasan kenapa aku tidak lanjut dengan tempat kerja terakhir ya karena konflik batin selalu dalam menjalankan tugas…

    Lani: lha ya gitu lah, seperti yang aku bilang ke Linda, asu gede menang kerah’e…mereka politically, weapon-ly, ngeyel-ly, analytically selalu (merasa) menang…ya gitu lah…

  5. Tatang  9 January, 2011 at 20:15

    Ini yang saya suka dari artikel Om JC yaitu ide yang inovatif dan gaya penulisan yang mudah cerna, pokok’e berbobot. Artikel ini menunjukkan bahwa musibah dan bencana besar terjadi karena adanya respon alam terhadap perilaku manusia. Apapun alasan manusia dalam mengeplorasi alam dampaknya tak selalu baik bagi kelangsungan hidup alam itu sendiri dan akhirnya alam merespon kembali dengan global warming, banjir besar, tanah longsor, bahkan curah hujan tak menentu di setiap tahun. Sukses terus Om JC

  6. Anwari Doel Arnowo  9 January, 2011 at 13:05

    Anastasia,
    Tata cara pengukuran Tanah pernah memasuki masa kurang beres. Saya menemukan, waktu masih aktif bekerja dahulu, kebanyakan peta hasil pengukuran JanTop (Jawatan Topografi Angkatan Darat) yang mnenggunakan titik-titik ikat berupa puncak bukit Anu atau Tiang Bendera sebuah Kantor Kecamatan. Titik ikat seperti itu mudah berpindah karena beberapa sebab, bisa juga dipindahkan. Itu masih menggunakan alat theodolite dan sistem polygon yang susah disesuaikan lagi dengan system satelite yang menggunakan titik ikat Doppler. Lalu sekarang sudah teliti sekali dengan GPS, yang kesalahannya hanya kurang dari satu meter saja. Tetapi peta kuno buatan Jantop itu dan peta mutakhir sudah sesuai atau belum, itu yang menimbulkan masalah. Semua, pihak mau mencari keuntungan pihaknya sendiri. Pengusaha dan Pemerintah serta Hak Ulayat bertumburan satau sama lain. Kami para pengusaha dalam bidang Tambang, Pertanian dan kehutanan juga berbenturan satu sama lain.
    Area Pertambangan yang saya urus pernah juga diduduki oleh perusahaan Tambang milik Orang Malaysia dan masuk ke daerah yang bukan hak mereka. Waktu terbuka masalah ini, sudah seratus kilogram emas yang ditambang perusahaan Malaysia itu di daerah yang bukan haknya. Itu semua gara-gara peta JanTop yang keliru cara mengukurnya. Tentu saja ini akan memakan perdebatan yang tiada putusnya dan pasti tidak akan ada penyelessaiannya. Saat ini sudah dua puluhan tahun sejak peristiwa itu saya alami. Daerah itu sudah sama sekali berubah dan tidak saya kenali lagi, karena hutannya juga sduah terbabat habis. Tiang bendera kantor Kecamatan itu ada di mana, hanya angin yang tau. ……. Hak Ulayat?? Waaahh ..
    Anwari Doel Arnowo
    Toronto-09/01/2011

  7. Anastasia Yuliantari  9 January, 2011 at 08:31

    Pak Anwari: di beberapa wilayah mulai ada konflik tentang pembukaan lahan ini dengan masyarakat adat setempat karena batas yang ditetapkan negara kadang tak sesuai dengan pengertian secara adat. Kalau kembali dipikirkan lagi, negara dan mereka (suku dan adat) lebih dulu mana? Untuk menertipkan dan menyeragamkan aturan memang diperlukan, tapi mengapa mereka tidak memahami dulu budaya lokal sebelum menentukan tapal batasnya? Ataukah lembaran2 merah, biru, hijau mengambil peran yang lebih besar?

  8. Lani  9 January, 2011 at 02:36

    MAS DJ : komen 11………mmg betoooooooool & se7777777 apa kata mas DJ, coba klu didlm diri tiap org Indo, punya semangat utk memperbaiki negerinya……..pasti bakal berhasil, plg tdk klu ada niat, dan kegotong royongan demi kemajuan bersama, coba klu ada 55% penduduk Indonesia yg berniat itu, iso nulari yg lainnya utk semua jd bangkit dan bersama memajukan negeri ini……..tp opo yo ono yo????

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.