Liquid Gold 2

The New Emerging E-7

Melanjutkan tulisan sebelumnya, sekaligus merupakan bagian akhir dari seluruh kesatuan tulisan saya mengenai situasi di Indonesia, ditinjau dari lingkungan hidup, dan masa depan Indonesia dengan minyak kelapa sawitnya.

Perekenomian Dunia Masa Depan

Bulan Maret 2006, Price Waterhouse Cooper menurunkan laporan “The World in 2050” yang menyoroti naiknya perekonomian negara-negara “dunia ketiga”, yang kemudian sudah tidak menjadi “anak bawang” lagi, tapi menjadi apa yang disebut dengan E 7, dengan kekuatan ekonomi luar biasa, yang terdiri dari: China, India, Brazil, Russia, Mexico, Turkey dan tentu saja Indonesia!

Penulisan Indonesia di paling belakang, bukan berarti mengatakan Indonesia yang paling belakang di antara 7 negara itu, tapi justru Indonesia berpotensi menjadi kekuatan nomor 2 di bawah China, dengan “senjata andalannya” yaitu Liquid Gold ini, alias minyak kelapa sawit. PCW memperkirakan bahwa perekonomian E 7 bisa jadi lebih kuat dan lebih besar daripada perekonomian G 7 antara 25% – 75% tergantung dari ukuran dan indikator mana yang dipakai.

 

Pertumbuhan ekonomi E 7 akan menjadi panutan dan patokan perputaran bisnis dan ekonomi dunia. Untuk mengimbangi pertumbuhan ekonomi yang luar biasa, diperlukan juga semangat serta kekuatan luar biasa untuk menyeimbangkan lingkungan hidup.

Menurut para ahli dari PCW, dengan global economic model, disajikan skenario alternatif sbb:

Baseline scenario: dengan meningkatnya teknologi serta yang membawa meningkat drastis efisiensi di segala bidang, termasuk dalam bidang energy, dan fuel mix di banyak negara, sehingga peningkatan kebutuhan akan energy yang luar biasa tidak akan berdampak buruk terhadap lingkungan, justru akan menurunkan emisi karbon, sehingga level pencemaran dan pemanasan global dapat ditekan. Dapat dikatakan, tidak ada perubahan apapun dan “business as usual”.

Scorched Earth scenario: dengan peningkatan efisiensi energy 1% lebih rendah daripada level di Baseline scenario, tapi ada perkembangan dalam teknologi explorasi minyak petra, yang menghancurkan semua usaha dan perkembangan ke arah substitusi bahan bakar fossil atau minyak petra. Dengan adanya lompatan kemajuan dalam teknologi explorasi minyak petra, akan menyebabkan harganya murah (kembali), diimbangi dengan efisiensi di segala bidang, sehingga kerakusan energy negara-negara di dunia dapat diminimalisasi imbas dan bahayanya terhadap bumi dan lingkungan hidup.

Constrained Growth scenario: asumsi energy seperti pada Baseline scenario, pertumbuhan GDP tidak terlalu tinggi, dan terjadi di negara-negara E 7.

Greener Fuel Mix scenario: asumsi konsumsi energy seperti baseline scenario, tapi terjadi perpindahan yang signifikan ke energy nuklir dan renewable energy di tahun 2050.

Green Growth Scenario: pertumbuhan green energy seperti Greener Fuel Mix scenario, tapi masih ditambah lagi dengan peningkatan efisiensi energy 1% per tahun, sehingga merupakan impian kondisi yang sangat ideal.

Green Growth + CCS: digunakan teknologi yang lebih advanced lagi, yaitu pengurangan signifikan emisi karbon, dan penggunaan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS).

Skenario manakah yang kira-kira akan terjadi dalam kurun waktu sekarang sampai dengan 2050? Di dalam laporan PCW tsb, dibahas, dikupas satu per satu, lengkap dengan tampilan seluruh data, kolom, grafik, tabel, yang terus terang sudah membikin dahi saya berkerut, kepala berat, dan mata terpicing. Analisa mendalam dan menyeluruh tsb, ada yang kurang tepat, dan rasanya akan sangat keluar jalur jika ditampilkan di sini.

Carbon Emission by Countries
carbon-emission

Secara singkat, analisa dan perkiraan saya sendiri, adalah dalam kurun waktu dari sekarang sampai dengan 2050, akan terjadi:
Constrain Growth ? Scorched Earth ? (Greener Fuel Mix + Green Growth) ? (Baseline + Green Growth + CCS).

Manusia pada dasarnya memiliki 2 naluri atau insting yang paling mendasar, yang pernah banyak dibahas dalam banyak ilmuwan, yaitu kemampuan mempertahankan diri, kemampuan menyesuaikan diri (atau punah seperti Neanderthal, kerabat terdekat Homo sapiens, manusia modern), sekaligus menghancurkan diri sendiri. Self-destruction sekaligus self-survival akan menjadi kekuatan tarik menarik yang secara sadar dilakukan umat manusia secara kolektif.

Kenapa Minyak Sawit Perlu Dicegah Perkembangannya?

Farmers Protection; Economic Interest

Masing-masing negara perlu dan harus melindungi kepentingan petaninya, jika tidak persaingan bebas di dunia international, dengan pure demand – supply principle, market price mechanism, n economic of scale point of view, hampir dipastikan bahwa minyak kelapa sawit akan keluar sebagai pemenang dalam free fight competition di oil world. Economic of scale di sini adalah dicapainya volume tertentu sehingga dapat menguntungkan.

Dengan tabel sebelumnya kita lihat bahwa produktivitas dan yield kelapa sawit adalah lebih dari 10x lipat dari soybean dan kira-kira 5x lipat lebih tinggi dari rapeseed. Kenapa saya sebut 2 ini dibandingkan dengan kelapa sawit? Ini karena minyak kelapa sawit dijadikan musuh bersama oleh keduanya. Dulu kelapa sawit menjadi musuh soybean, tapi sekarang justru penghasil soybean terbesar yaitu Amerika menjadi sekutu Indonesia untuk menghadapi issue yang sama yaitu sustainability yang dihadang oleh Eropa dengan seluruh sekutunya yaitu EU.

Jika tidak dilancarkan kampanye negatif seperti itu, market akan mengikuti proses pasar bebas, dan pasti akan bertekuk lutut oleh kelapa sawit. Pasar bebas yang selalu digembar-gemborkan oleh kelompok negara maju atau G 7 jika sesuai dan sejalan dengan kepentingan mereka, dan akan sebaliknya menghadang setiap potensi pesaing komoditi mereka at all cost, jika mengganggu kepentingan mereka, kepentingan ekonomi mereka.

WTO Principles vs Non-Tariff Barriers

Dalam era perdagangan bebas sudah ditetapkan prinsip-prinsip kesetaraan, non-diskriminasi, persamaan di segala bidang, tanpa adanya batasan dan persaingan bebas. WTO yang dimulai di Doha, dikenal dengan Doha Round, yang menciptakan adalah para pakar dari negara maju, dari negara industri. Perseteruan industri besi baja di Eropa yang membawa terciptanya kesepakatan Doha dan mendorong lahirnya WTO.

Sekarang mereka jugalah yang kebingungan untuk membendung banjirnya barang produksi dan industri dari China, mulai dari peniti sampai dengan kapal perang, pesawat terbang, pesawat tempur sampai dengan segala macam alat berat. Demikian juga dengan menggelembungnya perekonomian negara-negara yang dulunya dianggap under-dog, bangkitnya ekonomi di Asia, pelahan tapi pasti menggerus perekonomian negara maju yang cenderung stagnan kehilangan ruang geraknya untuk berkembang.

Tidak ada jalan lain lagi selain dipikirkan cara untuk membendung itu semua dengan senjata pamungkas, yang kelihatan halus, yaitu yang disebut dengan NON-TARIFF BARRIERS. Apa itu? Penghalangan satu negara atas barang atau jasa dari negara lain yang bukan merupakan sesuatu yang bisa dikuantifikasi atau dihitung. Sementara tariff barriers itu jelas, misal: quota (sekian dan sekian yang boleh masuk dan dijual misalnya), pajak sekian persen, import duty sekian persen, pajak ini sekian persen, pajak itu sekian persen.

Sementara non-tariff barriers, misalnya: sustainability, kesetaraan gender, gender bias, children labor atau children exploitation, environment issues, environment protection, social impact, human rights, dan masih banyak lagi. Hal-hal semacam inilah yang tidak bisa dikuantifikasi, diukur, ditimbang, dihitung, berapa banyak, berapa persen, berapa kg, berapa ton, dsb. Apa tolok ukur “sustainability”? Apa ukuran “gender bias”? TIDAK ADA. Masing-masing negara dan pihak “boleh” dan berhak menentukan standard’nya sendiri. Sampai dengan hari ini tidak ada kesepakatan international untuk hal-hal semacam ini. Inilah penghalang terselubung yang tidak terselubung, yang biasanya hanya diamini banyak sekali pihak, entah NGO, LSM, environment activist, dsb.

Kenapa Non-Tariff Barriers?

Karena itu tadi, tidak bisa dikuantifikasi, tidak bisa diukur, tidak bisa dihitung, dan sekaligus memanfaatkan celah di mana sebagian besar masyarakat negara maju yang sudah “maju” pemikiran dan pendidikannya, diarahkan untuk keblinger ke arah situ, mengutip pak IK. Haryadi dalam komentarnya: “life to the fullest, while at the same time ignorance how to get its fullest”.

Apakah mereka sadar, berapa sumber daya alam, manusia dan energy yang diperlukan untuk mencapai tingkat hidup mereka di negara maju sekarang ini dan sekaligus untuk “sustain” gaya hidup, cara hidup dan tingkat hidup seperti itu? Ketidaktahuan sebagian besar masyarakat negara maju itulah yang dimanfaatkan. Saya yakin lebih dari 90% penduduk di negara yang gembar gembor “sustainability” palm oil TIDAK PERNAH melihat sekalipun, no idea at all, bentuk, penampakan dari pohon kelapa sawit, buah kelapa sawit, dsb.

Bahkan saya pernah menjumpai pertanyaan yang (maaf) bodoh sekali, yang mengira orangutan itu adalah indigenous people from Kalimantan and Sumatera…oh, how ironic it is, setelah ditunjukkan foto orangutan, jelas sekali kelihatan bahwa sekelompok orang yang sebagian besar adalah NGO dan “green activist” dari Amerika dan Eropa yang melongo, baru sadar bahwa orangutan itu adalah PRIMATA besar! Mereka masih tidak percaya, dan sekali lagi mengonfirmasi hal itu.

Apakah mereka memahami semua hal yang dikampanyekan di tempat mereka masing-masing? Rasanya, sorry to say, TIDAK….

My Theory

Bila Alvin Toffler meramalkan waktu itu, bahwa orang yang memiliki informasi, menguasai teknologi informasi akan menguasai dunia, dan memang terbukti sekarang ini, salah satu contoh adalah Bill Gates sang empu Windows, serta contoh dari Indonesia adalah Bapak Sehat Sutardja, dari Surabaya, pemilik Marvell Technology, masuk 5 besar terkaya di Amerika menurut Majalah Forbes, juga menguasai teknologi informasi ini.

Di masa yang akan datang, saya memberanikan diri meramalkan bahwa yang menguasai renewable energy yang akan menguasai dunia! Renewable dan sustainable energy, green energy lebih tepatnya. Hal inilah yang akan menjadi tarik ulur kepentingan dan “perang” untuk mendapatkannya di masa-masa yang akan datang, yang sudah dimulai saat ini. Jika negara maju yang akan menyediakan teknologi untuk menyongsong World 2050, negara-negara E 7’lah yang akan menyediakan energy mix’nya untuk dunia. Di mana posisi Indonesia? Only time will tell….

Usul Asal-asalan Asal Usul

Clean government adalah MUTLAK. Berikutnya adalah pemberantasan KORUPSI dengan serius. Law enforcement yang tegar dan kuat. Hukuman mati bagi koruptor perlu diterapkan, untuk memberikan efek jera selamanya. Pembenahan rantai birokrasi yang ruwet, mbulet dan mbundhet di seluruh lapisan pemerintahan. Peningkatan positive mentality di seluruh lapisan dengan peningkatan pendidikan yang tepat.

Memang kedengaran klise, klasik dan itu-itu saja. Tapi memang semua itulah yang menjadi dasar dari kekuatan sebuah bangsa, sebuah negara. Gampang ngomong? Iya memang! Bagaimana penerapannya…..susahnya bukan main, betul. Bisakah kita?

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang cepat belajar, quick and fast learner. Untuk bangsa yang baru bangkit dari keterpurukan, hanya dalam waktu 9 tahun, sudah melaksankan “full speed democracy ala embahnya demokrasi si Uncle Sam”, yang bahkan bikin geleng kepala si embah demokrasi: “kok bisa?”. Tidak ada negara satu pun di dunia ini yang perkembangan demokrasi’nya sepositif Indonesia. Bahkan Amerika pada jamannya pun tidak dalam waktu sependek ini untuk mencapai tingkat yang relatively mature democracy. Dengan keunggulan sifat dan kemampuan yang cepat belajar ini, saya punya keyakinan bangsa ini akan menyongsong World 2050 dengan tidak memalukan!

Bagi semua orang Indonesia di luar sana, jika memang tulisan dan uraian saya sepanjang 3 seri ini dirasa masuk akal, mari, jangan hanya berdiam diri jika ada kampanye negatif tentang Indonesia, terutama produk unggulan kita, Liquid Gold alias kelapa sawit ini, terangkan, jelaskan mereka yang menentang, yang mengatakan jelek. Jika tidak setuju, itu merupakan pilihan, merupakan stand point dan pendapat yang berbeda. Saya tidak mengatakan saya paling benar, memang ada dan masih banyak salahnya. Masih banyak orang lain dan para pendekar lingkungan, pakar ekonomi, pakar pertanian, diplomat di luar sana banyak yang lebih lihai, lebih kompeten daripada saya yang bukan siapa-siapa di negeri ini.

Pembangunan dan kemajuan ekonomi selalu bagai 2 muka koin, bagai pedang dengan 2 mata, akan membawa kemajuan dan sekaligus kerusakan, di mana saja sama! Tinggal bagaimana masing-masing negara dan bangsa, meminimalisasi negatifnya ini. Salah satunya kembali lagi strong government, law enforcement dan dignity sebagai sebuah bangsa.

Apakah usul yang asal-asalan ini keluar pakem? Bermanfaat? Monggo pembaca yang menentukan….

Terima kasih banyak saya ucapkan bagi pembaca yang setia mengikuti dongeng berseri saya. Terima kasih semua rekan, sahabat, teman di luar sana yang sudah memberikan dukungan.

Sebagai penutup, ini saya sertakan image satelit dari Google Earth, dalam salah satu advanced features’nya, didapatkan forest coverage planet kita ini. Silakan diliat, mana yang masih ter’cover dengan relatif padat warna hijaunya, dan mana yang kurang hijau…monggo….

Earth Forest Coverage from Google Earth:
world-map

 

God Bless Indonesia…….

Sambil bersenandung….(catatan khusus: silakan perhatikan lirik lagunya, cocok sekali dengan kondisi Indonesia saat ini)

And quickly he’s subdued; through constant pained disgrace
The young boy learns their rules

With time the child draws in; this whipping boy done wrong
Deprived of all his thoughts; the young man struggles on and on he’s known
A vow unto his own; that never from this day
His will they’ll take away

Chorus

What I’ve felt; what I’ve known
Never shined through in what I’ve shown
Never be, never see
Won’t see what might have been
What I’ve felt; what I’ve known
Never shined through in what I’ve shown
Never free, never me
So I dub thee UNFORGIVEN

They dedicate their lives; to RUINING all of his
He tries to please THEM all; this bitter man he is
Throughout his life the same; he’s battled constantly
This fight he cannot win; a tired man they see no longer cares
The old man then prepares; to die regretfully
That old man here is me

Chorus

You labeled me; I’ll label you
So I dub thee UNFORGIVEN
Never Free, never me
So I dub thee UNFORGIVEN
You labeled me; I’ll label you
So I dub thee UNFORGIVEN

The Unforgiven – Metallica

http://www.youtube.com/watch?v=5cGvzApDZKI (original)

http://www.youtube.com/watch?v=ssy88kN4CoA (Lord Of The Ring version)

Note:
Tulisan ini pernah tayang di Idul Fitri di Angkasa, Uh Malaysia & Cerita Lebaran (AS, Belgia, Prancis) 17 Oktober 2007 http://community.kompas.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=47391section=92

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

One Response to "Liquid Gold 2"

  1. pintu jati  10 December, 2018 at 17:32

    tingagal kita menyikapi dengan bijaksana, semoga NKRI bisa aman damai maju dan sentosa kedepanya

    https://www.furniturecantik.com/ranjang-tingkat-terlaris.html

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.