Liquid Gold

Liquid Gold – A Future of Indonesia

Sebelum melanjutkan tulisan ini, silakan click:

http://www.angelfire.com/planet/palmoilproducts/, jangan kaget kalau di website ini kita akan melihat sekeluarga kerabat jauh (bukan kerabat saya lho tapi….), dan silakan dicari di sana produk-produk apa di sekitar anda sehari-hari di manapun anda berada, terutama yang ada di Amerika, Australia dan Eropa, mulai dari food products, personal care (sabun, shampoo, perawatan wajah, dsb), sampai dengan others, ada berapa banyak yang terbuat dari PALM OIL….. Jika daftar itu di’copy-paste di sini, akan mendapatkan 2 halaman penuh daftar produk-produk tsb, sehingga saya putuskan untuk memberikan link’nya saja. Ya betul, minyak sawit yang berasal dari Indonesia, yang katanya jelek, penyumbang terbesar emisi karbon dioksida, penggundul hutan tercepat di muka bumi, dsb, dsb….

Palm Oil

Nama ilmiahnya adalah Elaeis guineensis berasal dari Africa, dan malah sekarang banyak sekali menyebar di negeri-negeri tropis, termasuk Indonesia kita ini. Mari kita lihat sekali lagi dari dekat bentuk dan bagian kelapa sawit.

foto-1-oil-palm

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto 1: Oil Palm Fruit

Yang memberikan minyak adalah bagian yang kuning kemerahan, sementara di tengah yang berwarna putih itu adalah disebut dengan kernel, yang memang, juga menghasilkan minyak.

Minyak yang dihasilkan dari kernel jauh lebih mahal dan berharga dibandingkan dengan minyak sawitnya sendiri.

Bagi penggemar parfum, entah itu Chanel, CK, Bvlgari, Aigner, Hilfiger, dsb, salah satu bahan terpenting dalam parfum papan atas itu adalah kernel oil ini! Tentu saja banyak lagi campuran, tapi salah satu komponen penting adalah kernel oil ini.

foto-3-oil-palm-tree

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto 2: Tandan Buah Kelapa Sawit

Sudah masak siap untuk dipanen. Di dalam foto itu keliatan ada tongkat dari aluminium ujungnya arit kecil yang hendak memotong tandan buah tadi. Sering kita dengar dan baca istilah TBS, yaitu Tandan Buah Segar. Itulah bentuknya. Bagi yang belum pernah lihat, inilah kesempatannya.

foto-4-fruit-bunch

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto 3: Tandan Buah Segar

Memperlihatkan tandan buah yang sudah dipetik (tepatnya dipotong) dari pohonnya dan berserak di tanah sebelum diangkut ke pabrik kelapa sawit untuk diproses ekstraksi minyaknya.

foto-5-loose-fruit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto 4: Buah Lepas

Yaitu buah yang terpisah dari tandan buahnya, karena dalam istilah sehari-hari dikenal dengan nama ‘masak pohon’, jadi karena sudah masak, akan lepas dan jatuh ke tanah. Berapa banyak buah lepas di bawah satu pokok pohon akan menjadi indikator bahwa pohon tsb sudah siap dipanen. Buah lepas memiliki kandungan minyak tertinggi dibanding dengan buah yang masih bergerombol di tandannya.

 

foto-2-palm-fruit

 

Foto 5: Kelapa Sawit

foto-6-oil-palm-plantation

Foto 6: Perkebunan Kelapa Sawit

Salah satu contoh perkebunan kelapa sawit yang ada di Indonesia. Dengan management yang tertata rapi, profesional, satu perkebunan kelapa sawit akan memberikan kontribusi yang cukup banyak di masyarakat dan daerah sekitarnya.

Sustainable Palm Oil

Sebelum kita lanjut, mari kita lihat dulu, apa arti ‘sustain’ atau ‘sustainable’. Dalam kamus English – Indonesia yang saya punya, disebutkan beberapa arti ‘sustain’ adalah sbb: menopang, menyokong, menahan, meneruskan (tanpa henti). Yang kemudian ‘sustainable’ secara singkat dapat diartikan menjadi ‘berkelanjutan’. Nah, apa itu yang disebut ‘sustainable palm oil’? Yang selalu digembar-gemborkan di seluruh dunia, yang dijadikan negative campaign bahwa kelapa sawit di Indonesia ‘tidak sustainable’ atau ‘tidak berkelanjutan’. Lama sekali saya berpikir dan merenung: di mananya yang dibilang ‘tidak berkelanjutan’? Bahkan di link di awal tulisan saya juga dipisahkan ‘sustainable yield’. Bagi KoKiers yang berasal dari pertanian, bisa menolong saya menjelaskan apakah ‘sustainable agriculture’ itu?

Pengadaan dan pengusahaan perkebunan kelapa sawit yang ‘tidak sustainable’? What does it mean?

Pak IK. Haryadi juga menyebutkan bahwa ditengarai pengadaan perkebunan kelapa sawit ini dengan membakar hutan. Eit, tunggu dulu, mari kita lihat secara sedikit ilmiah. Perkebunan kelapa sawit di satu lokasi itu berkisar antara 40.000 – 100.000 hektar. Luasan itu bukanlah luasan yang kecil. Benar memang ada pembakaran hutan, tapi apakah pembakaran dengan luasan 40.000 hektar dalam satu lokasi dalam satu kesempatan merupakan hal yang masuk akal?

Yang benar adalah, proses pembakaran hutan itu dilakukan oleh penduduk asli setempat, terutama di daerah Kalimantan, yang memang dari sononya, dari kebiasaan nenek moyangnya melakukan pembakaran hutan untuk keperluan ‘land clearing’ yang akan digunakan untuk tanah pertanian mereka dalam 1 musim tanam. Yang dibutuhkan memang tidak besar, sekitar 2 – 10 hektar rasanya cukup buat sekelompok masyarakat dalam 1 masa melakukan ‘nomadic agriculture’nya. Tidak dapat dipungkiri, praktek land clearing dengan cara membakar tidak dibenarkan sama sekali, kebutuhan 5 hektar lahan, bisa berkembang, apinya menjalar sampai mungkin 2, 3 kali lipatnya. Tapi mari kita berlogika sedikit saja, apakah mungkin menjalar sampai 100.000 hektar sekaligus?

Penduduk asli setempat tsb, memang dari sononya itu nomaden, mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dan pembukaan lahan kelapa sawit dengan pembakaran hutan merupakan tindakan yang tidak disukai karena justru dengan pembakaran hutan, lahan yang terbakar itu tidak bisa ditanami segera, tidak bisa diusahakan segera, karena harus menunggu sekian lama untuk menjadi temperatur normal lagi, struktur tanah yang berubah karena karbon, karena getah pohon yang terbakar, dsb. Jadi justru pembakaran hutan sangat dihindari oleh para pengusaha perkebunan kelapa sawit karena akan merugikan mereka sendiri.

Betul sekali, penggundulan hutan, pembalakan liar atau illegal logging itu nyata, ada dan memang sangat luar biasa jangkauannya. Sekali lagi hukum ekonomi ‘demand & supply’ berlaku di sini. Kalau tidak ada permintaan dari luar Indonesia, mungkinkah para pelaku illegal logging itu memotong pohon di hutan? Untuk apa? Toh tidak ada yang minta kok? Permasalahannya, sekali lagi adanya permintaan dari negeri-negeri yang mengakunya ‘environmental concerned’, ternyata permintaan cukup tinggi. Memang tidak secara langsung, karena mereka minta furniture dengan ‘certified wood’. Tidak susah di Indonesia, akan berputar dulu ke Malaysia, ke China kemudian di sana diproses dan diberikan ‘certification’ untuk di’export ke Amerika dan Eropa. Kembali lagi ‘law enforcement’ di sinilah yang masih sangat-sangat-sangat lemah.

Bekas HPH di masa Orde Baru meninggalkan bekas yang mengerikan sekali (60 juta hektar oleh Bob Hasan!). Tanah kosong di mana-mana, terutama di pedalaman Kalimantan, memaksa pemerintah berpikir keras bagaimana mengembalikannya. Ditanami kembali dengan pohon-pohon kayu keras tropis, memang ideal, tapi berapa lama yang dibutuhkan untuk tumbuh menjadi hutan kembali? Pohon kelapa sawit dipandang ideal untuk kebutuhan menghijaukan kembali kerusakan hutan tropis, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi para pelaku usahanya sekaligus masyarakat dan wilayah sekitarnya. Sesuai apa uraian Arita, bahwa 1 pohon kelapa sawit dapat tumbuh dan mulai menghasilkan panen optimal pertama adalah setelah berumur 7 tahun, waktu yang relatif singkat. Dan dalam kurun waktu kira-kira 10 tahun, wilayah perkebunan kelapa sawit itu akan segera menjadi hijau serta dapat mulai menyerap karbondioksida serta meluncurkan oksigen ke udara sebagai hasil respirasi dan fotosintesis. Luasan 1 hektar lahan, biasanya ditanami antara 128 – 140 batang pohon, tergantung jenis tanah, kondisi geografis, dan beberapa hal lainnya.

Mulai dari tahun ke 7 sampai ke 10, pohon kelapa sawit akan menghasilkan minyak secara maksimal dan akan mulai menurun di tahun ke 12 sampai tahun ke 20. Usia pohon kelapa sawit sebenarnya bisa mencapai 40 tahun, dengan ketinggian pohon yang sangat tinggi. Oleh sebab itu, biasanya mulai tahun ke 18, sudah mulai ditanam tanaman baru, dan pada tahun ke 25, pohon tua itu akan dipotong, dan digantikan pohon baru, sementara kayu’nya bisa dimanfaatkan untuk membuat berbagai furniture, termasuk daun pintu yang indah sekali.

Tekstur kayu kelapa sawit sangat-sangat indah, kayu yang kuat, sayangnya belum ditemukan teknologi pengolahan yang tepat sehingga hasil olahannya bisa digunakan untuk outdoor furniture. Sejauh ini penggunaan kayu kelapa sawit adalah untuk indoor furniture.

Nah, di mananya yang ‘tidak sustainable’ jika dibandingkan dengan ‘rapeseed’ di Eropa dan ‘soybean’ di Amerika? Saat ini kampanye paling gencar adalah dari Eropa, kampanye yang aneh-aneh, dimasukkan dalam penilaian ‘sustainability’ suatu perkebunan kelapa sawit.

Di antaranya yang sangat aneh: gender bias, sexual harassment, child labor/exploitation. Bagi dunia dipersilakan, monggo, untuk mengecek sendiri secara acak perkebunan, perusahaan ataupun tempatnya, di manakah dan yang bagaimana bisa “gender bias” di perkebunan kelapa sawit? Sexual harassment di perkebunan kelapa sawit? Siapa yang melecehkan apa? Di mananya child labor/exploitation? Ketinggian pohon kelapa sawit ketika pertama kali panen juga tidak akan sampai oleh anak seumur 10 tahun, dan tidak akan kuat memegang arit ataupun tongkat yang ujungnya dipasangi arit untuk memotong panen tandan buah. Untuk mengangkat 1 tandan saja tidak akan sanggup!

Rapeseed dan soybean hanya bisa ditanam dimulai di awal musim semi dan sekali musim tanam saja, setelah panen, selesai. Lahan kosong sampai beberapa bulan kemudian, tanpa bisa ditanami apapun, mengingat memasuki winter yang jelas tidak bisa menanam apapun di lahan pertanian itu. Silakan bandingkan dengan kelapa sawit, yang sepanjang tahun melakukan fotosintesis menghasilkan respirasi melepas oksigen ke udara, panen sepanjang tahun, tanpa membiarkan tanah kosong, sehingga tangkapan air terpelihara baik, kesejukan dan kerindangan di bentangan luas wilayah perkebunan akan terjamin.

Mari kita lihat fakta di bawah ini:

Kelapa sawit menghasilkan 5.000 kg oil/hectare, sementara rapeseed hanya 1.000 kg/hectare, soybean lebih rendah lagi di 375 kg/hectare, dan jagung menduduki tempat terbawah 145 kg/hectare. Silakan dinilai sendiri, mana yang berkelanjutan, mana yang tidak. Untuk mendapatkan yield yang sama, berapa hektar lahan pertanian yang dibutuhkan oleh pertanian soybean di Amerika dan pertanian rapeseed di Eropa? Lebih jelasnya ada di grafik berikut:

graph-1-oil-yield

Graph 1: Oil Yield.

Keterangan:

Oil palm: 5000 kg or 5950 liter; kelapa: 2260 kg or 2689 liter; Jatropha: 1590 kg or 1892 liter; Rapeseed 1000 kg or 1190 liter; Peanut: 890 kg or 1059 liter; Sunflower: 800 kg or 952 liter; Soybean: 375 kg or 446 liter; Corn 145 kg or 172 liter.

Dengan angka-angka ini jelas bahwa kelapa sawit tidak akan dan belum akan tertandingi oleh tanaman apapun penghasil minyak.

palm_oil-indo_malay-600

Graph 2: CPO Production Indonesia vs Malaysia

Terlihat bahwa Indonesia sudah menyalip Malaysia dari tahun lalu.

Perkembangan perkebunan kelapa sawit di Malaysia bisa dibilang terhenti, alasan utama adalah keterbatasan lahan, dan kedua adalah kurangnya tenaga kasar yang mau bekerja di perkebunan untuk memanen tandan buah. Golongan muda Malaysia lebih senang kerja di kantoran, bila perlu ke luar negeri, sementara golongan kasar biasanya diserahkan ke TKI, baik yang legal maupun ilegal. Ditertibkannya tenaga kerja ilegal serta meningkatnya ketegangan antar 2 negara serumpun ini, menyebabkan anjloknya TKI yang memanen. Banyak sekali tandan buah yang membusuk di pohon karena tidak terpanen seluruhnya.

Luasan dan Produksi Kelapa Sawit

Pertumbuhan perkebunan kelapa sawit dalam 7 tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup pesat: 8,44% – 19,94%. Total luasan lahan perkebunan kelapa sawit saat ini adalah sekitar 6,4 juta hektar, tersebar di Sumatera, Kalimantan, Papua dan sedikit di Sulawesi.

Di Sumatera Utara, dikenal dengan “class 1” jenis tanah untuk kelapa sawit, sementara daerah selatan Sumatera dikenal dengan “class 2” dan “class 3” tanah, sehingga diperlukan teknik perkebunan yang lebih intensif. Sementara di Kalimantan kebanyakan adalah “class 3”.

Nilai export CPO tahun 1999 mencapai 3,3 juta ton atau senilai US$ 1,11 miliar; 2000 mencapai US$ 1,09 miliar tapi secara volume meningkat pesat sebesar 24,58% dari 1999; tahun 2001 hampir sama lagi US$ 1,08 miliar, volume meningkat 19,30% volume 4,9 juta ton ; tahun 2002 meningkat 29,17% menjadi 6,33 juta ton atau US$ 2,09 miliar; tahun 2003 nilainya mencapai US$ 2,45 miliar; tahun 2004 nilainya US$ 3,44 miliar; tahun 2005 mencapai US$ 3,76 miliar.

Perkembangan terakhir perluasan perkebunan kelapa sawit diperkirakan mencapai sekitar 5 juta hektar. Jadi kalau dibilang bahwa Indonesia menggunduli hutan sebanyak 20 juta hektar untuk perkebunan kelapa sawit, terus perkebunannya di mana? Kok tidak ada? Tidak semua wilayah di Indonesia cocok ditanami kelapa sawit, hanya wilayah tertentu saja.

Dengan total luasan sekitar 6,4 juta hektar ini, Indonesia diprediksi memproduksi sekitar 18,5 juta ton CPO untuk tahun 2007. Sementara pengembangan yang mencapai katakanlah asumsi minimal sebesar 3,5 juta hektar, diperkirakan produksi Indonesia akan melompat tajam di tahun 2010 kira-kira mencapai 22 juta ton CPO. Dengan kebutuhan dalam negeri sekitar 4,5 juta ton (untuk minyak goreng, kosmetik, oleochemicals, sabun, dsb), dan peningkatan yang tidak terlalu tajam diperkirakan akan mencapai hanya sekitar 6 juta ton di tahun 2010, berarti masih ada surplus 16 juta ton CPO. Tidak ada alasan apapun untuk kenaikan harga minyak goreng dalam negeri jika tidak terjadi lonjakan permintaan luar negeri.

Permintaan luar negeri ini adalah ke seluruh dunia, terbanyak India dan China, tapi BUKAN untuk biodiesel, melainkan untuk kebutuhan industri makanan dan industri oleochemical mereka. Industri mie instan merupakan salah satu industri yang rakus akan minyak sawit. Produksi China sendiri untuk mie instan merupakan tertinggi di dunia, dan Indonesia merupakan produsen mie instan salah 1 yang terbesar, kemungkinan masuk di 5 besar dunia. Jadi pendapat kalau Amerika yang menyebabkan naiknya harga minyak goreng dalam negeri karena peningkatan permintaan biofuel adalah salah sama sekali, karena Amerika lebih menyukai ethanol atau alkohol sebagai pengganti bensin, bukan biodiesel sebagai pengganti solar/diesel fossil based fuel.

Amerika dan Eropa juga rakus akan CPO Indonesia untuk kepentingan industri makanan dan industri oleochemicals mereka. Indonesia adalah exporter TERBESAR produk oleochemicals di seluruh dunia, belum ada yang mengalahkan Indonesia sejauh ini. Inilah sebenarnya pokok permasalahannya. Pure demand and supply, pure market price mechanism yang menyebabkan lonjakan harga minyak goreng dalam negeri.

Bersambung (lagi)……..

Note:

Tulisan ini pernah tayang di Gay/Lesbian Marriage, Rasa Sayange & Mudik (AS, Mesir, Swedia) 08 Oktober 2007 http://community.kompas.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=46523section=92

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

9 Comments to "Liquid Gold"

  1. danang  19 January, 2012 at 22:34

    grfik pertanian tahun 2011 tolong di munculkan trimakasi

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.