Kaki Yang Terlipat

….satu tulisan tentang kebudayaan Tionghoa Peranakan di Indonesia….

Ada kah sebagian dari pembaca yang masih ‘menangi’ (apa ya bahasa Indonesianya? Artinya kurang lebih masih sempat bertemu atau berinteraksi sebelum meninggal) para nenek, emak, mak-co/nenek buyut yang memiliki penampilan seperti gadis di foto kuno ini.

golden-lilies Golden Lilies (Seorang wanita cantik legendaris di masa Dinasti Qing)

Perhatikan kakinya! Lihat betapa kecil dan mungilnya sepasang kaki yang nampak dalam foto itu dibanding ukuran tubuhnya. Terlebih bentuk yang runcing ‘aneh’ tsb. Pernahkah anda melihat kaki yang demikian? Pernahkah anda mendapati kaki emak atau mak-co anda mempunyai kaki yang demikian semasa hidupnya? Beginilah bentuk kaki tsb sebenarnya…. 

bended-foot Kaki Yang Terlipat

Ini bukan tipuan, hoax atau rekayasa foto, tapi ini benar-benar asli, walaupun bukan saya yang memotretnya, tapi foto ini asli. Kelihatan aneh? Jari-jari kaki terkecuali jempol kaki terlipat aneh ke arah telapak kaki, dan di tumit terdapat garis lekukan yang menyambung ke arah kaki.

Itulah bentuk dan ‘norma’ kecantikan wanita di masa Dinasti Qing (清朝)!

Tidak, anda tidak salah membacanya….itulah standar wanita cantik di masa itu. Dinasti Qing yang dimulai tahun 1644 dengan runtuhnya Ming Dynasty, didirikan oleh orang-orang Manchu dari clan Aisin Gioro. Dinasti Qing sekaligus menjadi dinasti penutup Negeri China, dinasti terakhir dan sekaligus dinasti yang paling berpengaruh dalam meletakkan dasar China Modern saat ini. Sebenarnya Dinasti Qing didirikan awalnya bernama Later Jin Dynasty (今后) atau dalam bahasa Manchu sendiri adalah Amaga Aisin Gurun di tahun 1616. Di tahun 1636 kemudian berganti nama menjadi Qing (清) yang berarti suci bersih.

Pelipatan kaki ini sebenarnya sudah jauh dimulai sebelum Dinasti Qing, dated back di abad 11. Dimulai dari kalangan The Have yang menunjukkan derajat dan tingkatannya yang lain dibandingkan dengan golongan bawah atau peasant. Perkembangannya tidak terlalu pesat, sampai dengan tahun 1644, di mana Dinasti Ming ambruk dan digantikan dengan Dinasti Qing, yang sekaligus merupakan dinasti terakhir China (filmnya Bertolucci, The Last Emperor).

Berkuasanya Dinasti Qing yang dikuasai oleh suku minoritas Manchu membawa reformasi besar-besaran di China yang sampai sekarang masih banyak warisan dari Dinasti Ching yang masih dipakai, termasuk banyak sekali pencapaian-pencapaian dalam penyatuan China. Provinsi Xinjiang dengan suku Hui’nya (mayoritas Muslim) ditaklukkan dan di’akuisisi di jaman Dinasti Qing (Film’nya 书剑恩仇录 “Shu Jian En Chou Lu”/Pedang dan Kitab Suci) oleh Kaisar Kang Xi. Akar kata “Hui Jiao” (回教 Islam dalam bahasa Mandarin) diyakini berasal dari sini, karena suku Hui, dan jiao (baca ciau) yang berarti “ajaran”, secara bebas diterjemahkan sebagai “ajaran suku Hui”.

Ciri khas Dinasti Qing yang tidak bisa hilang dari ingatan semua orang adalah: kuncir kepala untuk cowok, dan kaki terlipat untuk cewek. Rasanya rata-rata anda pernah nonton Huang Fei Hong dibintangi oleh Jet Lee, nah…itu tuh kuncir’nya. Konon kuncir tersebut diharuskan dan diwajibkan oleh undang-undang oleh pemerintah waktu itu, semua cowok diwajibkan untuk mencukur rambut bagian depan, dan memanjangkan bagian belakang, untuk menghormati atribut suku Manchu dan sekaligus menghormati kuda, yang termasuk sangat dipuja oleh suku Manchu, karena mereka bangsa nomaden. Kuncir tersebut merupakan lambang kejantanan dan kegagahan seorang pria pada masa itu.

Sementara kaki terlipat merupakan simbol status sosial, kecantikan, keanggunan dan derajat seorang wanita. Makin kecil kaki, makin cantik. Pada masanya seorang wanita dengan kaki “utuh” dianggap barbar, biadab dan rendahan, contohnya kelas pekerja, buruh, pelayan, dayang di istana, petani. Bisa dibayangkan dengan kondisi kaki seperti itu, yang bisa dilakukan hanya duduk-duduk sepanjang hari, karena untuk jalan pun susah dan sangat menyakitkan.

old-ladies Wanita-wanita Tua Kalangan Atas

 

rich-lady-with-a-maid Rich Lady With A Maid

Seorang anak perempuan, saat berumur 3 atau 4 tahun akan “dikerjain” oleh orang tuanya, jari-jari kaki, kecuali jempol kaki akan dilipat ke dalam dan arah telapak kaki dan diikat dengan kain kuat-kuat dengan beberapa kali bebatan. Memang, secara kasar dan kejam, 8 jari kaki dipatahkan. Semua ini dikerjakan tanpa bius atau anestesi. Si anak biasanya meraung-raung sangat kesakitan, dan menderita selama berminggu-minggu sampai kaki yang hancur tsb sembuh sendiri, tentunya dengan konstruksi tulang kaki yang sudah berubah dan rusak total. Biasanya si anak dirawat oleh perawat (embok emban) khusus yang merendam kaki-kakinya ke dalam rendaman obat tradisional. Selama proses penyembuhan, si anak hanya bisa digendong dan ditandu ke mana pun dia pergi.

Itu belum semua, setelah beberapa tahun penderitaan tahap dua dimulai, kaki-kaki tersebut akan dilipat tapi kali ini adalah “mempertemukan” bagian tumit dengan bagian depan, sehingga jarak antara jempol kaki dengan tumit sekecil mungkin. Ukuran “ideal” kaki wanita pada masa itu adalah 3 inci (oh geee….). Pembalutan dan pembebatan untuk menahan kaki tersebut dimulai lagi. Setelah 2 tahap tsb, si anak wanita akan mencapai masa pubertas dan dianggap sempurna serta diharapkan cepat dapat jodoh.

folded-foot

folded-foot-1 Kaki-kaki Yang Terlipat

Sepanjang hidupnya, wanita yang dilipat kakinya ini akan menderita dan kesakitan seumur hidup. Untuk menjaga supaya sepasang kaki tsb cukup kuat untuk aktivitas sehari-hari, biasanya dibebat dengan kain. Saat-saat relieve untuk mereka adalah di malam hari di mana bebatan kain dibuka dan sepasang kaki direndam dalam air hangat, itulah saat terbebasnya mereka dari siksaan untuk sementara, dan besoknya memulai saat-saat sakit itu lagi.

Makin kecil kaki makin indah menurut ukuran masa itu. Ungkapan yang digambarkan ketika itu adalah Dahan Willow Yang Melambai, untuk menggambarkan cara berjalan para wanita itu seperti dahan pohon willow yang ditiup angin melambai. Demikianlah ukuran cantik dan sexy di masa itu.

Konon sampai sekarang, masih ada di pedalaman China yang masih memraktekkan pelipatan kaki seperti itu, yang merupakan peninggalan keyakinan dari jaman Dinasti Qing. Benar atau tidaknya, terus terang saya tidak tahu.

Di Indonesia, mungkin sekarang ini masih ada beberapa wanita usia lanjut yang masih memiliki bentuk kaki yang demikian. Masa saya kecil, teman-teman angkatan saya masih ada cukup banyak yang mempunyai nenek dengan kaki yang terlipat.

Di Semarang, masyarakat kebanyakan menyebutnya dengan ‘emak kathok’ (literally: emak celana), yaitu nenek-nenek yang berpakaian seperti dalam foto pertama di atas. Kelompok nenek-nenek ini mengenakan celana panjang komprang dengan baju atas lengan panjang seperti dalam foto pertama di atas. Kelompok ini disebut juga dengan Tionghoa Totok, masih asli dari China, dan merupakan pendatang yang langsung dari China masuk ke Indonesia.

Sementara ada kelompok satu lagi yang biasa disebut ‘emak jarik’ (literally: emak berkebaya). Yaitu kelompok nenek-nenek dengan kaki yang tidak terlipat, kebanyakan sudah lahir dan besar di Indonesia, sebagian merupakan kawin campur dengan penduduk setempat, dan sudah merupakan beberapa generasi keluar dari China. Kelompok ini sering disebut dengan Tionghoa Peranakan atau Tionghoa Babah, sementara Bentuk pakaian yang demikian merupakan lintas budaya asimilasi antara budaya China dengan budaya setempat, dengan variasi baju kurung dan motif kebaya yang bercorak oriental. Di beberapa daerah di Indonesia, kelompok nenek-nenek ini disebut juga dengan ‘encim’.

Paparan ini nampak jelas di foto di bawah ini, Ny. Ang Sim Nio, contoh kebaya dan baju kurung serta berbagai motif batik oriental untuk kebaya dalam berpakaian sehari-hari. Di keterangan foto disebutkan bahwa di daerah Tangerang hanya tinggal 8 wanita lanjut usia yang mengenakan gaya berbusana seperti itu, sementara yang saya tahu, masih ribuan wanita berusia lanjut mengenakan gaya berbusana seperti itu di Jawa Tengah. Kebanyakan adalah di kota-kota pantai utara Jawa, dari Cirebon, Tegal, Pekalongan, Brebes, Semarang, Jepara, Welahan, Lasem, Kudus, dst sampai ke Surabaya, masih banyak sekali wanita usia lanjut berbusana demikian.

kebaya-encim Ang Sim Nio & Kebaya Encim

corak-batik-sarung-kebaya Corak Batik Sarung Kebaya

Demikian sekelumit tulisan tentang standard kecantikan di masa Dinasti Qing dan sepenggal tentang budaya Tionghoa Peranakan di Indonesia.

Terima kasih sudah membaca.

Photos by:
• Sydney D. Gamble.
• Father Leone Nani.
• Koleksi pribadi.
• Festival Tionghoa Peranakan.

Reference:
• The Chinese Century A Photographic History of the Last Hundred Years by Jonathan D. Spence and Annping Chin, Random House – New York.
• Peranakan Tionghoa Indonesia, Sebuah Perjalanan Budaya, Intisari – Kelompok Kompas Gramedia Group.
• Catatan pribadi

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

34 Comments to "Kaki Yang Terlipat"

  1. SU(alamat email SUDAH ditutup)  11 October, 2011 at 11:00

    Kaki saya ini sizenya besar dan setelah hamil anak pertama sampai sekarang sizenya malah nambah 1 pula

    Dulu pas kecil sampai remaja itu sempet sedih banget setiap kali salah satu tante bilang,”Kaki kamu itu jebrag(gede-lebar) banget. Jelek. Ga seperti (nama sepupu) kakinya bagus. Kecil. Perempuan dengan kaki kecil itu bakal disayang mertua.”

    Habis mau gimana ya, kaki saya persis pleg seperti kaki papa saya. Betisnya juga mirip Makanya kalau berat badan tambah sedikit saja, tidak bisa pakai boots yang selutut itu. Ga bisa disletingiin

    Puji syukur sy bisa mengerti dikemudian hari kenapa tante saya itu bicara spt itu. Sudah tidak sakit hati lagi*smile*

  2. Lani  11 October, 2011 at 09:56

    AKI BUTO : ini mah bukan ukuran cantik buat wanita……tp PENYIKSAAN ruaaaaaar biasa……MEMEDENIKAN

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  11 October, 2011 at 09:49

    Bener kata mBak Meita, jangan lagi dilestarikan hal spt ini. Tapi itu pemikiran etnocentris.

  4. J C  11 October, 2011 at 09:06

    Meitasari: woalaaaaaahhh kok ‘ning ratan’ tho… lah khan, abis mekso aku dampit sama Lani, sekarang dipekso sudrun…dibilang aku ini anteng-alim-pendiem kok…

  5. Meitasari S  11 October, 2011 at 08:57

    Tx JC buat sharing. Tp dr berbagai info sptnya gambaran posturmu itu tmsuk yg ‘ning ratan’ ya? Kan raksasa. Ha ha ha. Kalo aku tmsuk golongan ‘nang alasan’ wkwkwk. Dasar S.U.D.R.U.N!

  6. J C  11 October, 2011 at 08:37

    Meitasari: bener sekali memang kejam. Tapi di manapun juga yang demikian memang terjadi, pernah terjadi atau masih terjadi. Jaman itu justru yang kakinya dilipat begini adalah golongan “ningrat”, golongan rakyat, petani dianggap golongan “barbar” karena kakinya kayak raksesi – begitu katanya jaman itu. Tapi seandainya pelipatan kaki ini berlaku untuk semua wanita, terus yang petani gimana? Walaupun demikian, banyak juga golongan masyarakat biasa waktu itu yang memaksakan diri melipat kaki anak-anak perempuan dengan harapan bisa memiliki “masa depan” yang lebih baik. Mendapatkan suami dari golongan atas, dijodohkan dengan keluarga pejabat dan untuk gengsi keluarga. Banyak dijumpai juga di desa-desa yang kakinya kecil terlipat namun masih bisa bekerja di sawah, naik turun gunung tidak kalah gesit dengan yang berkaki normal.

  7. Meitasari S  11 October, 2011 at 08:13

    Oh no, JC! Betapa kejamnya mempertaruhkan kecantikan dg kesadisan yg dmkian. Maaf, tp pemikiran sy mgkn tdk sama dg pmkiran n budaya dulu ya. Kayaknya di indo jg ada yg model begituan. Itu pake anting tlinganya mpe molor dlsb. Oh tidakkkk .,.. Smoga skrg sdh tdk ada lg yg beginian ini. N tak perlu dilestarikan. Hiks …

  8. J C  16 February, 2011 at 16:05

    Bu Nunuk: waaaaahhhh matur nuwun sanget sampun mampir di tulisan lama saya ini. Lha memang demikian adanya, pada jaman itu standard kecantikan dan sexy yang jalannya “megol-megol bak ranting willow melambai”. Padahal megol’nya disebabkan karena kakinya yang hancur dan tidak kuat menyangga badan jika berjalan biasa.

    Mungkin tetangga Panjenengan tsb merupakan salah satu “korban” dari standard yang berlaku waktu itu. Sebagai tambahan informasi, untuk membedakan tegas keluarga petani dan keluarga kalangan atas adalah dari kakinya. Keluarga atas anak-anak perempuannya kakinya memang dibegitukan, karena tidak perlu bekerja, sementara keluarga petani anak-anak perempuannya dibutuhkan untuk membantu pekerjaan di sawah. Tapi ada juga anak perempuan keluarga petani yang dilipat kakinya karena orangtuanya berharap si anak dapat “mengangkat harkat dan martabat” keluarga karena dilamar keluarga atas.

    Mengenai bibit-bebet-bobot, dalam bahasa Mandarin juga ada istilahnya “men dang hu tui” (bacanya: men tang hu twe), artinya harafiahnya adalah “membandingkan dua pintu rumah”, arti bebasnya ya sama kayak pengertian bibit-bebet-bobot.

  9. nu2k  16 February, 2011 at 15:52

    Dimas JC. Saya sampai memelototkan mata berkali-kali memperhatikan foto yang ada. Sama sekali tidak pernah menduga ada bentuk kaki yang sampai sekecil dan seruncing itu. Dulu waktu masih tinggal di Kebon Kawung Bandung, teman saya Cun Cun tinggal di nomor 2, seberang rumah, juga punya buyut yang kakinya cukup kecil dimata saya. Tapi tidak sampai sekecil dan seruncing seperti yang tertera dalam foto di atas.
    Dulu poro sepuh, kalau sedang memperhatikan siapa bakal calon cucunya, memang diam-diam melihat lama ke arah telapak tangan dan kakinya. Rupanya itu salah satu cara pandang untuk menentukan dari mana seseorang berasal dan mempertimbangkan apakah bebet, bibit dan bobot seseorang pantas untuk calon cucu sang poro sepuh…Saya tetap setuju dengan pertimbangan bebet, bibit dan bobot, tetapi tidak perlu harus sekejam itu…

    Hartelijk dank voor het mooie verhaal. Ik vind het prachtig en geweldig dat je dat voor de Baltyra hebt opgeschreven. Saya acungkan jempol saya.

    Selamat berkarya, Nu2k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.