Hari Raya Pe Cun

Josh Chen – Global Citizen

 

Note: artikel ini dari tahun lalu

Setiap tahun di saat yang sama seperti sekarang ini, ingatan kembali melayang ke masa lebih dari 25 tahun silam di Semarang. Sekarang kami sendiri tidak pernah ikut merayakan atau melakukan ritual berbagai macam sembahyangan sepanjang tahun. Tapi ingatan masa kecil akan bakcang dan kicang kuat melekat.

Tahun ini hari raya Pe Cun atau Sembahyang Bakcang jatuh di tanggal 28 Mei 2009, terasa sepi karena keluarga kami sekarang tidaklah merayakan secara khusus seperti di masa kecil saya di Semarang dulu….

Di dalam 1 tahun, Papa saya akan ‘mengumumkan’ kapan akan ada sembahyang apa, entah itu sembahyang bakcang, sembahyang ronde, sembahyang meja dua, sembahyang ceng beng, dsb. Salah satu yang paling kami nantikan adalah sembahyang bakcang.

Beberapa hari sebelumnya, biasa di Pasar Gang Baru akan mulai kelihatan di sana sini penjualan bakcang. Bergelantungan di kios-kios di sepanjang Gang Baru itu. Berbagai harga, berbagai rasa dan berbagai pembuat memromosikan bakcangnya yang paling lezat. Kami biasa membeli yang ‘standard’ saja harganya, tak lupa kicang juga kami beli. Di keluarga kami yang sudah bergenerasi lahir di Indonesia, sudah tidak bisa lagi membuat sendiri bakcang ini. Tradisi yang makin luntur apalagi di masa opresif waktu itu. Pada saat yang sama, kelunturan itu yang terus dijaga supaya tidak hilang sama sekali.

Beda bakcang dan kicang bisa dilihat dari buntalan daun bambunya. Kalau bakcang buntalan daun bambunya berwarna lebih gelap dibanding kicang. Warna daun bambu yang beda ini karena bakcang di dalamnya berisi daging (babi) yang diberi segala macam bumbu, yang biasanya hasil akhirnya berwarna gelap. Sementara kicang (disebut juga dengan kuecang di beberapa tempat lain) adalah tanpa isi apa-apa, hanya ketan semua. Warna kicang sendiri ada yang putih, ada yang semu kekuningan. Bakcang terbuat dari beras yang dicampur dengan beras ketan, sementara kicang full semua dari beras ketan. Tradisi, rasa, isi, dan bumbu serta pelengkap bakcang di tiap daerah beda, di tiap negara beda juga.

Di Semarang seingat saya rasa bakcangnya cenderung manis. Sementara di kota-kota lain di Indonesia bervariasi, ada yang cenderung manis, asin, ada yang isinya campur telor asin, kemudian jamur, sosis merah, dsb.

Untuk yang Muslim, jangan kuatir, sekarang juga sudah ada yang tanpa daging yang diharamkan umat Islam tsb, ada bermacam-macam isi bakcang sekarang. Kalau bakcang, di keluarga kami biasa dimakan sambil dicocol kecap manis atau kecap asin.

Waktu kami anak-anak masih kecil, kami sangat menikmati acara makan bakcang bersama, bahkan kadang dibawa juga sangu ke sekolah, yang bikin teman sekolah yang tidak pernah tahu terheran-heran.

Makan kicang, adalah favorit kami karena kadang makan bakcang bikin mblenger dan paling malas kalau sudah seliliden (serpihan daging terselip di sela gigi). Sementara kicang yang kenyal-harum ini sangat nikmat dimakan dengan dicocol dengan gula cair. Gula pasir yang dipanaskan pelahan dengan api kecil sehingga jadi gula cair bening kekuningan dan ditambahkan daun pandan, adalah yang paling tepat untuk makan kicang.

Tapi kami sering sekali melakukan modifikasi atau eksperimen lidah sendiri. Secara prinsip karena dimakan dengan gula cair, kadang kami anak-anak mencoba dengan sirop frambors, sirop vanila, sirop jeruk, sirop mocca, seadanya apa ketika itu. Semua rasa khas itu masih lekat di ingatan saya, serasa masih di ujung lidah dan baru minggu lalu terjadi.

Menurut penuturan Papa dan Mama saya dulu, di Semarang, di kali Banjir Kanal, kemudian di Kali Kuping yang melintas di dekat Kelenteng Gang Lombok Tay Kak Sie, masih bisa dilayari kapal-kapal besar. Pada waktu itu jika hari Pe Cun tiba, diadakan lomba perahu naga.

 

Perahu-perahu kecil yang dihias dengan kepala naga akan didayung berlomba antara satu dengan yang lain. Sampai dengan detik ini saya menuliskan ini, belum pernah sekalipun saya menonton lomba perahu naga ini. Yang saya dengar terakhir, di Jawa Tengah, setelah diperbolehkannya kembali perayaan-perayaan semacam ini, di Welahan, dekat Rembang, juga di banyak tempat di pesisir utara Pulau Jawa kembali disemarakkan dengan lomba perahu naga ini.

Sementara di Taiwan dan Hong Kong sudah menjadi tradisi tahunan yang jadi atraksi menarik turis dan menjadi daya jual tersendiri untuk pariwisata di sana. Yang pernah saya tonton dari TV, keramaian dan kemeriahan perlombaan perahu naga ini sungguh memikat, ditingkahi dengan gebukan tambur yang ritmis dan rancak, terlihat perahu-perahu yang dihias indah melaju membelah air….

Asal Usul

Dari semua kesimpangsiuran kisah yang beredar dapat dirangkum dalam versi yang paling populer:

Peringatan atas Qu Yuan

Qu Yuan/屈原 (339 SM – 277 SM) adalah seorang menteri Raja Huai dari Negara Chu/楚 di masa Negara Berperang (Zhan Guo Shi Dai/战国时代, 475 SM – 221 SM). Ia adalah seorang pejabat yang berbakat dan setia pada negaranya. Ia banyak memberikan ide untuk memajukan negara Chu, bersatu dengan negara Qi/ untuk memerangi negara Qin/. Namun sayang, ia dikritik oleh keluarga raja yang tidak senang padanya yang berakhir pada pengusirannya dari ibukota negara Chu. Ia yang sedih karena kecemasannya akan masa depan negara Chu kemudian bunuh diri dengan melompat ke sungai Yu Luo.

Ini tercatat dalam buku sejarah ‘Shi Ji’ tulisan sejarahwan Sima Qian. Lalu menurut legenda, ia melompat ke sungai pada tanggal 5 bulan 5. Rakyat yang kemudian merasa sedih kemudian mencari-cari jenazah sang menteri di sungai tersebut. Mereka lalu melemparkan nasi dan makanan lain ke dalam sungai dengan maksud agar ikan dan udang dalam sungai tersebut tidak mengganggu jenazah sang menteri. Kemudian untuk menghindari makanan tersebut dari naga dalam sungai tersebut maka mereka membungkusnya dengan daun-daunan yang kita kenal sebagai Bak Cang sekarang.

Para nelayan yang mencari-cari jenazah sang menteri dengan berperahu akhirnya menjadi cikal bakal dari perlombaan perahu naga setiap tahunnya.

Kegiatan dan Tradisi

Lomba Perahu Naga

Tradisi perlombaan perahu naga ini telah ada sejak zaman Negara Berperang (475 SM – 221 SM). Perlombaan ini masih ada sampai sekarang dan diselenggarakan setiap tahunnya baik di Mainland (Hunan), Hong Kong, Taiwan maupun di Amerika. Bahkan ada perlombaan berskala internasional yang dihadiri oleh peserta-peserta dari luar negeri yang kebanyakan berasal dari Eropa ataupun Amerika Utara. Perahu naga ini biasanya didayung secara beregu sesuai panjang perahu tersebut.

Makan Bak Cang (肉粽 = Rou Zong – bahasa Mandarin)

Tradisi makan bakcang secara resmi dijadikan sebagai salah satu kegiatan dalam festival Duan Wu sejak Dinasti Jin. Sebelumnya, walaupun bak cang telah populer di Tiongkok, namun belum menjadi makanan simbolik festival ini. Bentuk bak cang sebenarnya juga bermacam-macam dan yang kita lihat sekarang hanya salah satu dari banyak bentuk dan jenis bak cang tadi.

Di Taiwan, di zaman Dinasti Ming akhir, bentuk bak cang yang dibawa oleh pendatang dari Fu Jian adalah bentuk bak cang yang bulat gepeng, agak lain dengan bentuk prisma segitiga yang kita lihat sekarang. Isi bak cang juga bermacam-macam dan bukan hanya daging, ada yang isinya sayur-sayuran. Ada pula yang dibuat kecil-kecil namun tanpa isi untuk kemudian dimakan bersama serikaya.

Di Indonesia lebih sering disebut dengan Pe Cun yang berasal dari dialek Hokkian, yang berasal dari kata Pa Long Chuan/爬 龙 船 yang berarti ‘mendayung/mengemudikan perahu’ naga. Akhirnya “pa long chuan” disingkat menjadi “pa chuan” dan dialek Hokkian berbunyi “Pe Cun”.

Walaupun perlombaan perahu naga di kalangan Tionghoa Indonesia telah tidak umum saat ini namun istilah Pe Cun tetap digunakan untuk menyebut festival ini.

Secara umum, Festival ini dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek dan telah berumur lebih 2300 tahun dimulai dari masa Dinasti Zhou.

Hari Telur Berdiri

Di hari raya Pe Cun atau Duan Wu Jie atau Bakcang ini biasa identik dengan Hari Telur Berdiri. Bertahun-tahun yang lalu, saya sendiri pernah mencoba memberdirikan telur dan berhasil. Telur tsb tahan sampai 3 minggu lamanya, dan jatuh karena tersenggol, dan hebatnya, waktu dipecahkan di mangkok, telur tsb tidak busuk.

Tapi kemudian Gandalf The Grey, mementahkan ‘kepercayaan’ tsb dengan tulisannya, yang saya kutip di bawah ini:

Anehnya kalau kepercayaan China mengatakan hari telur berdiri adalah hari Duan Wu Jie pada bulan ke 5 tanggal 5 kalender lunar yang jatuh sekitar bulan Juni di kalender Gregorian, maka di negara barat ‘kepercayaan’ hari telur berdiri adalah pada ‘vernal equinox’ yaitu posisi matahari tepat di atas katulistiwa yang selalu jatuh sekitar tanggal 20 – 23 Maret tiap tahun. Dan tentunya bagi yang mempercayainya dan mencoba pada hari kepercayaan masing-masing, semua (baik yang China maupun barat) mengatakan berhasil dan benar nyatanya… padahal memang kapan saja bisa berhasil.

Atas dasar itu saya coba mendirikan telur bukan pada hari Duan Wu Jie, bukan pada equinox dan bukan pada siang hari tapi malah sekitar jam 11 malam, dan ternyata berhasil dengan sukses. Berikut hasil google dan tips-nya bagaimana mendirikan telur kapan saja, di mana saja asal memungkinkan…

Pertama yang dibutuhkan adalah telur mentah, bukan telur mateng apalagi telor ceplok atau dadar (lha ini sudah pasti tidak bisa berdiri tapi tinggal dimakan saja…), boleh telur yang baru dikeluarkan dari kulkas (masih dingin) ataupun yang sudah di luar dan dikeringkan, bisa dilihat di foto yang saya lampirkan ada telur yang basah / berkeringat karena baru saya keluarkan dari kulkas, ada yang sudah kering dan hangat.

Yang kedua hanya perlu tangan yang stabil dan tentunya kemauan dan kesabaran yang baik untuk belajar mendirikan telur, di luar dua syarat utama ini semuanya tidak penting… Tidak perlu peduliin tanggal berapa, jam berapa, hari raya apa. Tidak perlu mikirin sekarang posisi matahari, bumi, bulan, bintang dan USS Enterprise-nya Jean-Luc Picard ada di mana (emang startrek…?).

Bahkan tidak perlu tempat / meja khusus yang permukaannya rata! Tapi buat yang baru pertama kali memang lebih baik di tempat yang rata dulu, cari posisi telur yang lonjong besar di bawah dulu untuk memudahkan, nanti setelah berhasil maka bisa coba di tempat yang lebih menantang seperti yang saya coba di atas cover kamera kecil yang permukaannya jelas licin dan melengkung!

Pegang telur dengan dua tangan, cara yang saya gunakan adalah tangan kiri menahan telur jika jatuh dan tangan kanan hanya jari telunjuk memegang ujung atas telur sampai berdiri dan lepaskan jari ke atas untuk mengurangi efek getaran pada telur.

Prinsipnya adalah membuat telur itu seimbang dan titik beratnya bisa tepat ada di tengah, memang kadang ada telur yang susah seimbang mungkin karena permukaan telur yang terlalu licin atau mungkin bentuk fisiknya kurang simetris sempurna, atau mungkin juga karena kuning telurnya tidak bisa tepat di tengah, sehingga tidak bisa mendapatkan keseimbangan berat (titik massa) di tengah. Coba-coba saja dengan beberapa butir telur.

Sebagai alat bantu pertama mungkin bisa menggunakan alas kain lap, makin tebal kainnya makin gampang telur berdiri, karena permukaan kain lap akan melengkung mengikuti bentuk telur sehingga bidang yang menopang telur lebih luas, kalau sudah bisa coba dengan alas kertas tipis, makin keras dan licin permukaannya (kaca misalnya) maka makin sulit mendapatkan titik seimbangnya.

Kalau mau cara curang bisa dengan menaburkan garam halus sedikit, lalu berdirikan telur dengan bantuan butir-butir garam, setelah bisa berdiri tiup garamnya sampai bersih! Bisa juga dengan cara curang Columbus yaitu meretakkan sedikit ujung telur sampai bisa berdiri.

Eh, foto hasil percobaan saya semuanya tanpa pake garam atau cara curang lho!

Tips tambahan: sebagai persiapan, ambil telur, pegang dan putar-putar telur dengan cepat atau dikibas-kibas/dikocak-kocak sebentar (asal jangan mrucut kata Gandalf). Dengan tujuan kuning dan putih telur teraduk tidak ada yang menggumpal sehingga titik kesetimbangan merata di seluruh telur. Kemudian pegangi sebentar dalam posisi tegak supaya kestabilan tercapai. Selanjutnya cobalah dengan cara di atas, semoga lebih cepat berdiri.

 

Reference & Photos:

Pengalaman dan catatan pribadi

Gandalf The Grey – Middle Earth

Milis [email protected] edisi 06 Juni 2005

http://iccsg.wordpress.com/2006/01/06/perayaan-festival-duan-wu-jie-peh-cun-compiled-by-rj/

http://community.travelchinaguide.com/forum2.asp?i=27799

http://id.wikipedia.org/wiki/Peh_Cun

http://james.sedulousmind.net/archives/db1.jpg

http://perayaancina.blogspot.com/2009/03/perayaan-duan-wu.html

 

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *