Mengunjungi Kota Air Liaocheng

Cakrawala Meazza – China

Kalau menyebut kota air di China, pasti yang terbayang di benak Anda adalah Hangzhou, Suzhou, atau Qingdao. Tapi minggu lalu kampus mengadakan kegiatan tour musim semi ke salah satu kota air, namanya Liaocheng.IMG_6818liao

Meski kota ini masih dalam wilayah kota Jinan provinsi Shandong, tapi aku sendiri tak pernah tau seperti apa kota ini. Kabarnya di sana terkenal dengan keindahan danau dan sungainya. Selain itu masih ada kuil dan menara tua, serta tak lupa kerajinan khas berupa labu air dan makanan khas mereka yaitu Tie Gongji (ayam panggang kering yang sangat asin, sebagai teman minum bir).

Jumat pagi itu kami berangkat dari kota Jinan. Tujuan utama kami adalah Liaocheng Teater. Teater yang diisi dengan 3000-an kursi itu kabarnya adalah teater terbesar di China. Pemandu wisata yang disewa oleh kampus tak henti-hentinya menyebut beberapa nama pembesar yang pernah datang ke sini untuk menyaksikan pertunjukan opera. Sayangnya kami hanya boleh memotret bagian luarnya saja. Indah memang. Dindingnya yang melingkar dihiasi ukiran logam yang kaya makna. Sementara ada “menara melingkar” (ini versiku, karena aku tak tau sebenarnya untuk apa bangunan besi ini dibuat, apakah hanya untuk hiasan atau apa, tapi yang jelas sangat cantik sebagai objek fotografi) menghiasi bagian belakang teater.

IMG_6836liao

Puas keliling-keliling teater yang dibangun di pinggir danau itu, kami naik motor air. Tujuan kedua adalah kuil tua. Tempat ini dulunya sebagai tempat peristirahatan para pedagang dari berbagai kota. Di sinilah mereka melakukan “meeting” untuk bisnis sutera dan kerajinan lainnya. Ada yang agak aneh sih. Apakah jaman dulu kuil dan hotel fungsinya sama ya? Hehe… Di sini ada pemandu wisata yang baru. Seperti biasa, pemandu wisata di sini sangat aneh. Bangunan tuanya sendiri tak digubris, dia malah asyik menerangkan sejarah pintu, jendela, ukiran serta kaligrafi di dinding. Bahkan pohon kering yang tumbuh di sana diceritakan sejarahnya, sedangkan bangunan utama kuil tak disebut-sebut sama sekali. Aku sendiri sibuk jepret sana-sini, tak kudengarkan lagi apa saja yang diceritakan si pemandu wisata.

IMG_6851liao

Dari kuil kami ke pusat kota untuk istirahat makan siang. Aku dan teman-teman langsung menyerbu KFC sedangkan para dosen sibuk mencari toko yang menjual Tie Gongji si makanan khas. Bahkan gara-gara Tie Gongji ini, Laozi guru besar Daoism menggelari kota ini Tie Gongji, saking enaknya ayam panggang dari kota ini. Aku sendiri tak tertarik mencoba. Soalnya sudah pernah juga dulu ada yang mengenalkan salah satu makanan kecil paling terkenal di sini, kabarnya makanan para raja dinasti Ming. Wah, mendengar kehebatan sejarah makanan ini, aku jadi tergelitik untuk mencoba, kelihatannya enak juga. Tapi setelah dicoba, hanya tak lebih dari makanan kecil dengan rasa tepung mendominasi. Wah, aku baru ingat, enak bagi raja jaman dulu belum tentu enak bagi kita sekarang. Raja jaman dulu kan belum kenal mentega dan keju sebagai bahan untuk kue kecil, haha….

IMG_6867liao

Setelah makan siang, kami ke Gulou, menara tua kota Liaocheng. Sayangnya hanya diberi waktu 20 menit untuk mejeng di tempat ini, jadi kami tak membeli tiket masuk ke Gulou. Mana cukup 20 menit untuk mengitari bangunan itu sampai ke puncaknya? Jadi cukup foto-foto dari luar saja. Yang menarik adalah penjual kerajinan labu air di halaman Gulou. Labu yang dibentuk dengan beragam rupa serta diukir di bagian luarnya itu sangat unik untuk pajangan di rumah. Dosen dan teman-teman pada milihin. Mumpung murahlah, sebuah labu ukir ukuran sedang hanya 10-15 Yuan saja, sedang kalau sudah di kota Jinan pasti harganya di atas 50 Yuan.

IMG_6876liao

IMG_7039liao

Tujuan selanjutnya adalah Liaocheng University. Aneh juga kupikir, tour musim semi koq ke kampus sih, hehe. Tapi begitu bus berhenti di pintu gerbang Liaocheng University, aku langsung terkagum-kagum. Gerbangnya aja segede gaban begini, bagaimana dalamnya yah? Perguruan Tinggi yang mempunyai lebih dari 30.000 mahasiswa ini begitu segar di mata. Selain bangunannya yang dikemas lebih simpel, tentu saja karena ada danau di bagian belakangnya. Tak salah kota ini disebut kota air. Di mana-mana ada danau yang jernih dan sejuk. Rasanya ingin berenang di sana!

 

 

IMG_6913liao

IMG_7156liao IMG_6953liao IMG_6976liao IMG_6980liao IMG_6984liao copy IMG_6989liao IMG_7016liao   IMG_7040liao IMG_7043liao IMG_7073liao IMG_7079liao IMG_7107liao IMG_7123liao IMG_7126liao IMG_7129liao IMG_7131liao IMG_7132liao IMG_7146liao

IMG_7150liao IMG_7148liao

IMG_7023liao

Dari Liaocheng University, kami beranjak lagi ke Museum Biologi. Sayangnya aku sudah kecapekan jepret sana-sini. Kakiku juga pegal karena keliling-keliling di kampus cantik tadi. Akibatnya aku tertidur di bus, dan ketika terbangun bus sudah jalan lagi, kali ini untuk kembali ke kota Jinan. Senja mulai menyelimuti alam dengan sinar keemasannya.

Tour pendek yang menyenangkan!

April 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.