Josh Chen – Global Citizen
Di satu siang awal bulan Mei 2009, istriku menerima telepon dari seorang teman dan kemudian berbincang asik beberapa saat lamanya. Setelah telepon ditutup, istri memberitahukan bahwa akan ada 2 orang teman yang datang ke rumah sebentar lagi. Tak sampai 30 menit, tampak mobil berhenti di depan rumah kami dan 2 orang wanita keluar dari mobil itu.
Keduanya adalah umat Buddha yang taat yang sering beribadah di satu vihara di daerah BSD. Yang satu bisa dibilang adalah biarawati di vihara tsb dan sering memimpin ibadat serta memberikan ceramah-ceramah keagamaan. Kami beberapa kali diundang ke vihara tsb jika ada acara, seperti misalnya Mid-Autumn Festival tahun lalu dan beberapa acara lainnya. Sementara wanita yang satu lagi adalah teman baik dari istri.
Mereka bertiga segera terlibat perbincangan asik dan setelah beberapa saat, aku juga ikut dalam perbincangan itu. Rupanya mereka datang khusus untuk mengajak kami ikut dalam acara kunjungan salah satu panti asuhan yang ada di Gading Serpong yang direncanakan pada tanggal 17 Mei 2009.
Akhirnya hari itu pun tibalah…
Setelah sarapan, sekitar jam 10 pagi kami meluncur ke Gading Serpong berpedoman pada alamat yang di’sms’kan. Tak lama kami sampai di sebuah rumah yang lumayan besar, di hoek dan lokasinya dekat dengan sekolah yang cukup berkelas di sana. Cukup kontras dengan lingkungan sekitar 2 sekolah mentereng berseberangan dengan panti asuhan yang sederhana.
Ternyata di situ sudah berkumpul beberapa pengunjung yang berasal dari vihara yang sama. Tua-muda tampak membaur di tengah anak-anak yatim piatu. Canda-tawa terdengar di sana sini di sela percakapan. Puluhan anak-anak nampak senang mendapat kunjungan di hari Minggu itu, walaupun kelihatan di sana sini ekspresi kosong dan sedih.
Tak lama kemudian acara segera dimulai. Acara informal yang dipimpin oleh MC yang masih remaja, masih dari vihara yang sama, nampak luwes memandu acara. Mulai dengan menyanyi bersama, main tebak-tebakan dengan hadiah-hadiah kecil, menari bersama, dan beberapa permainan yang lain.
Ada satu hal yang menonjol di antara puluhan anak-anak yatim piatu itu. Seorang gadis kecil dengan lincah berjalan, berlari ke sana kemari, berceloteh, bertanya, bercengkerama dengan satu pengunjung ke pengunjung yang lain. Dengan segera kelihatan sekali bahwa si kecil itu memang lain daripada yang lain. Matanya memancarkan kecerdasan jauh di atas rata-rata anak-anak yang ada di situ, selingan bahasa Inggris terdengar di sana di sini dengan suaranya yang cadel.
Cerita punya cerita ternyata dia adalah anak yang tak diinginkan orangtuanya…duh betapa malangnya! Ayahnya adalah orang asing yang sedang bekerja di Indonesia, dan ibunya adalah siswi SMP kalau tidak salah kelas 2 atau 3! Setelah lahir, bayi itu dipasrahkan ke panti asuhan Samuel ini. Sang ayah kemudian tidak diketahui keberadaannya, sementara sang ibu yang berasal dari keluarga menengah menurut kabar diharuskan bersekolah lagi atau bagaimana juga kurang jelas. Sayang sekali foto gadis cilik ini buram, susah sekali untuk difoto karena kelincahannya…..
Beberapa pengunjung ada yang khusus mengatur barang-barang pemberian donatur, untuk didistribusikan merata ke anak-anak itu, ada yang mengatur makanan yang sebentar lagi akan dibagikan untuk makan bersama, ada yang berbincang dengan pengurus panti asuhan mengenai anak asuh, dana pendidikan, dsb, dsb. Kami sendiri sudah memberikan kontribusi kami bersamaan melalui pengurus vihara yang mengajak kami turut serta kali ini.
Puncak acara adalah saat makan siang bersama dibagikan. Makan siang yang terdiri dari beberapa macam, ada nasi goreng, mie goreng dan bihun goreng dilengkapi dengan masing-masing air kemasan. Santapan sederhana yang terasa nikmat sekali, karena siang itu kami semua bisa menikmati dan mensyukuri apa yang sudah kami dapatkan selama ini. Sebagai catatan, semua santapan siang itu adalah vegetarian, mengingat yang memasak adalah para sukarelawan dari vihara tsb.
Dan acara foto bersama menutup semua acara siang hari itu. Kami pulang dengan perasaan bercampur aduk, gembira, terenyuh, haru, menjadi satu.
Terima kasih sudah membaca.
July 14th, 2009 at 08:15
Yak, betul sekali, sedih banget lihatnya. At least aku senang, bisa ikut sedikiiiiiiiittt membuat mereka tersenyum di hari Minggu itu…..
Terima kasih sudah mampir ya….
July 14th, 2009 at 08:09
JC: Sedih amat seehhhhh
jadi bangga lo kalo inget Tante saya(sepupunya Mami) msh single (skrg usia udh 53th, seorang dokter Gigi) waktu ditugaskan di salah satu Puskesmas daerah Tangerang (yang paling pelosok banget) dia terenyuh melihat ada anak orok yg ditinggalkan ibunya di Puskesmas tsb. Alasannya karena anaknya sudah banyak dan memang keluarga miskin (keturunan Tionghoa). Singkat cerita tante saya akhirnya mengadopsi orok tersebut sampai saat ini. So, Denny sekarang sudah berumur sekitar 20th
Denny jadi remaja yang ganteng n pinter pula lo baru aja 2 minggu yang lalu maen ke rumah…he he he he tanteku single tapi punya anak. Saya bangga untuk org2 yang mau mengadopsi seorang anak yang bukan anak kandungnya.