Sekolah Bertaraf Internasional di Tengah Perkebunan Tebu

Adhe Mirza Hakim

 

Tulisan ini aku buat sebagai rasa bangga terhadap kontribusi suatu perusahaan swasta yang begitu peduli terhadap dunia pendidikan. Mungkin kita semua sudah faham, begitu mahalnya biaya pendidikan di tanah air ini, sehingga bagi orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, pendidikan merupakan sesuatu hal yang mewah.

Padahal Negara sudah menjamin “Hak” dari setiap warga Negara untuk mendapat pendidikan yang layak, tetapi masih banyak kita temui kesenjangan dalam dunia pendidikan di negeri tercinta ini. Banyak factor yang bisa mempengaruhi sebab akibat dari runyamnya masalah pendidikan ini, di antaranya letak geografis dari Negara kita yang merupakan Negara kepulauan, banyak penduduk yang tingggal terpisah-pisah di pulau-pulau yang letaknya saling berjauhan, sarana transportasi yang masih menjadi kendala untuk mencapai daerah-daerah terpencil dan ketersediaan sarana dan prasarana sekolah berikut tenaga pengajarnya. Salah satu contoh kisah klasik dunia pendidikan yang tergambar sangat apik dalam novel “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata, dapat mewakili bagaimana pilunya nasib anak-anak yang harus berjuang keras untuk menikmati “Pendidikan” yang begitu mereka cintai.

Tetapi tidak semua anak-anak di negeri tercinta ini mengalami ketidak beruntungan dalam memperoleh pendidikan, ada sebagian anak-anak yang lebih beruntung nasibnya dalam mengenyam bangku sekolah dengan fasilitas sekolah yang mutunya bertaraf internasional tanpa dikenai biaya sedikitpun alias GRATIS. Hanya ada satu syarat untuk bisa bersekolah di sana yaitu harus merupakan anak dari pegawai atau karyawan dari perusahaan.

Ada foto di sini mengenai sekolah SGC

Mungkin kita semua sudah pada tahu dengan satu nama perusahaan gula yang iklan produknya selalu ditayangkan di layar TV swasta atau media cetak lainnya, yaitu “Gulaku” dari “Sugar Group Company”. Di mana perusahaan ini begitu peduli terhadap mutu pendidikan dari anak-anak karyawannya. Sebenarnya tulisan ini, hanya mengulang dari tulisan yang pernah ada sebelumnya di media massa nasional, saat diresmikan untuk pertama kalinya oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono, pada tahun 2005.

Aku mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Sekolah ini dikarenakan ada pekerjaan yang aku lakukan di sana. Sebelumnya aku hanya mendengar dan membaca dari koran tentang sekolah ini. Begitu aku menyaksikan secara langsung, ada perasaan bangga dan kagum atas upaya dari pihak perusahaan, yang begitu peduli dengan anak-anak karyawan mereka, yang telah membantu membesarkan perusahaan, sehingga bisa menjadi Perusaan Gula, yang terbesar di tanah air bahkan termasuk perusahaan gula yang dapat mengekspor gula ke luar negeri.

Sekolah Sugar Group Company, didirikan pada tahun 2005, di atas lahan seluas 5 hektar, dengan biaya pembangunan sebesar 200 Milyar, wah…bener-bener mewah mutu bangunan dan fasilitas pendukung sekolah ini. Biaya ini akan terus bertambah seiring dengan ditambahnya fasilitas-fasilitas baru di sekolah tersebut. Terletak di kampung Mataram Udik, di Kabupaten Tulang Bawang, Propinsi Lampung, dari Bandara Raden Intan Lampung, kita harus naik mobil lagi untuk sampai ke tujuan, jarak tempuh kurang lebih 3 jam. Sebelum sampai ke sekolah ini kita akan melalui hamparan kebun tebu yang luasnya ribuan hektar.

Dari depan bangunan sekolah lebih mirip kantor berlantai 2, dengan desain minimalis, mewah dan asri.

Outside Building

Di sini ada lagi foto sekolah tampak depan.

SGC07

Diteruskan ke Lobby penerimaan tamu, yang dipenuhi dengan furniture berkelas dan lukisan-lukisan yang apik dan bernilai seni tinggi.

SGC01 SGC02

Ini Lobby merangkap Gallery lukisan. Lobby penerima tamu, adem….free hot spot lagi!!

SGC04

Untuk ruang pak Satpam (Security room), di tata cukup apik, tidak terkesan hanya sebagai ruang pelengkap.

 

SGC03 

Ruang Pak Satpam aja keren banget, ada lukisan lagi.

Ada juga ruang tamu khusus, yang biasa dipakai untuk menyambut tamu-tamu dalam jumlah yang terbatas. Dilingkungan sekolah ini ada Free Hot Spot area. Jadi bisa ngenet gratisan asal bawa laptop, kita bisa make fasilitas ini.

Ada satu ruangan yang bikin saya kagum berat, duh…segitunya, hehehe..apalagi kalau bukan “Ruang Perpustakaan” yang nyaman banget, dijamin betah dan bisa bikin tidur, walah…bisa nggak mau pulang, tapi mana boleh makan dan tidur di perpus, semuanya faham itu ruang untuk membaca dan menulis. Koleksi buku-bukunya lengkap, ada seperangkat computer untuk mencari data-data yang kita perlukan, meja, kursi, sofa bahkan bantal-bantal yang empuk melengkapi suasanan nyaman di perpus, dan fasilitas Air Con yang ada disetiap sudut ruang bener-bener bikin sejuk, gak ada yang namanya gerah berada di dalam perpus.

Dari ruang perpustakaan kita menuju ruang-ruang kelas, sebelumnya kita harus melalui lorong-lorong yang bersih dan asri, gimana nggak bersih, petugas cleaning service membersihkan setiap saat. Bahkan kita nggak nemuin ada sarang laba-laba di setiap sudut langit-langit. Ada 29 ruang kelas ber AC, dalam setiap kelas dilengkapi LCD Proyektor dan Laptop, setiap kelas hanya berisi 20 siswa/kelas, total siswa keseluruhan berjumlah 425 siswa, dari jenjang SD, SMP sampai SMA. Disini para siswa dibiasakan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Di depan setiap ruang kelas, disediakan locker-locker buat siswa menyimpan barang-barang pribadi mereka, disetiap locker tertera nama siswa yang menyimpan barang didalamnya, untuk menghindarkan kebingungan saat mau ambil barang di locker masing-masing.

SGC09

Para siswa diberi seragam lengkap dari topi sampe sepatu, setiap satu tahun sekali diganti, buku-buku juga disediakan, transportasi dari tempat tinggal ke sekolah di siapkan oleh pihak perusahaan. Dan yang paling bikin iri, para siswa disini dikasih makan 4x sehari, Gratis disiapkan oleh pihak sekolah, yaitu 2x Coffe Break pada pukul 09.10 wib dan 15.30 wib, Lunch/makan siang pada pukul 12.00 wib, terakhir Dinner/makan malam pada pukul 19.00 wib. Khusus untuk biaya operasional sekolah buat para siswa dan staff pengajar, dianggarkan Rp.500juta/bulan, duh… udah pinter otaknya, sehat juga badannya, hehehehe, di sekolah ini ada Bakery yang dikomandoi oleh chef sekelas hotel berbintang, walah..biar kata ni sekolah di daerah terpencil, tapi soal makanan yang ada di sini, bener-bener serasa berada di kota besar, hehehehe…

Para siswa makan di ruang Aula, yang bisa merangkap kafetaria dan ruang serba guna untuk beragam aktivitas, misalnya buat seminar dan ceramah umum. Kafetaria ini bisa menampung 500 siswa sekaligus. Menu makanannya selalu diganti setiap waktunya, dan khusus untuk dapurnya dipimpin oleh seorang ahli tata boga. Semuanya serba tertata secara rapi. Selain kafetaria, ada juga studio music, tari , laboratorium dan fasilitas olah raga yang lengkap (pembangunan swimming pool, sedang dalam tahap perencanaan).SGC08

Selain kafetaria yang bersih, ada fasilitas yang tak kalah bersih dan harum, yaitu fasilitas toilet sekolah yang dipergunakan buat siswa dan staf pengajar, dan sanitasi equipment nggak salah pake merk “Calmiq”, hehehe kayak hotel. Di setiap toilet ada pengharum ruangan, tissue roll dan selang semprot air buat membilas, dan closet duduk semua. Nggak nemu yang jongkok tuh, hehehe. Petugas cleaning service selalu stand by di ruang toilet untuk ngepel dan mengelap lantai agar selalu terjaga kering. Bener-bener standar kebersihan dijaga secara ketat, inilah sisi yang jarang diperhatikan oleh lembaga-lembaga pendidikan umum kebanyakan.

Khusus bagi yang muslim, ada fasilitas tempat wudhu dan ruang untuk sholat di salah satu sisi ruang kelas.

Setelah berputar diseputar sekolah, kami diberi tempat beristirahat di kamar-kamar, mirip Guest House, ada toilet didalamnya, trus kami dapat welcome drink dan cake. Ada pantry kecil dan meja makan, tempat tidur ukuran double tentu saja ber AC, di teras depannya ada kursi-kursi panjang buat tamu-tamu bersantai sambil menikmati sejuknya pemandangan taman yang tertata rapi.

SGC06

Selain perhatian yang extra buat para siswa, para staff pengajar juga tidak kalah mendapat perhatian yang layak. Para guru yang sudah berkeluarga disediakan rumah tinggal type 45 dengan model minimalis, bagi guru yang masih single disediakan asrama atau mess guru. Total jumlah guru ada 30 orang, menurut Ibu Purwati Lee – Inspirator SMA Sugar Group Company, guru-guru yang direkrut adalah guru-guru yang professional dan telah menjalani training khusus oleh lembaga pendidikan bergengsi di Jakarta (menurut info yang didapat, Lembaga tersebut adalah Prasetya Mulya ). Para guru harus menguasai bahasa inggris secara aktif, karena dipakai sebagai bahasa sehari-hari.

Terakhir, ada yang tambah buat bahagia lagi hati para karyawan yang anaknya sekolah disini, bahwa pihak Perusahaan memberi beasiswa bagi para siswa yang berprestasi ke tiga universitas negeri bergengsi di Tanah Air yaitu Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung dan Universitas Gajah Mada. Tetapi beasiswa ini diberikan dengan ikatan dinas, yang diikat dengan Perjanjian secara tertulis. Syarat-syarat yang diberikan kepada para siswa lumayan ketat. Jadi selama mendapat bea siswa, ada ketentuan masa tempuh kuliah yang harus diselesaikan, seluruh biaya perkuliahan, buku-buku, pemondokan, makan maupun biaya kesehatan ditanggung penuh oleh Perusahaan.

Ada ikatan dinas selama 13 tahun jika sudah selesai kuliah pada perusahaan, apabila sebelum 13 tahun keluar, maka siswa yang bersangkutan harus mengganti biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan selama masa perkuliahan. Sebenarnya tujuan pihak perusahaan mendidik para siswa agar menjadi tenaga-tenaga ahli yang professional sebagai sumber daya manusia yang bermutu bagi perusahaan, kalau dipikir-pikir enak juga ya..sudah di sekolahkan Gratis begitu lulus kuliah sudah ada tempat bekerja. Sekolah SGC ini tidak menerima siswa dari luar, sekolah ini diperuntukkan khusus buat seluruh anak-anak dari seluruh karyawan Perusahaan-perusahaan yang berada dibawah naungan Sugar Group Company.

Nah…itu saja yang mau saya tulis, jika ada kekurangan data di sana sini dalam tulisan ini, saya minta dimaklumi. Kepada pihak Sugar Group Company, yang telah mengundang saya ke sekolah ini, saya ucapkan terima kasih, khusus buat Ibu Purwati Lee dan Bapak Gunawan Yusuf, semoga kebijakan yang Ibu dan Bapak telah terapkan pada perusahaan ini, akan menjadi contoh yang baik buat perusahaan-perusahaan besar lainnya.

Note:

Tulisan ini tidak berafiliasi apapun juga dengan Sugar Group Company. Tulisan ini sekedar sharing tentang Corporate Social Responsibility.

 

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

14 Comments to "Sekolah Bertaraf Internasional di Tengah Perkebunan Tebu"

  1. Ayi  9 November, 2017 at 11:09

    “Tulisan ini aku buat sebagai rasa bangga terhadap kontribusi suatu perusahaan swasta yang begitu peduli terhadap dunia pendidikan. Mungkin kita semua sudah faham, begitu mahalnya biaya pendidikan di tanah air ini, sehingga bagi orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, pendidikan merupakan sesuatu hal yang mewah.

    Padahal Negara sudah menjamin “Hak” dari setiap warga Negara untuk mendapat pendidikan yang layak, tetapi masih banyak kita temui kesenjangan dalam dunia pendidikan di negeri tercinta ini. Banyak factor yang bisa mempengaruhi sebab akibat dari runyamnya masalah pendidikan ini, di antaranya letak geografis dari Negara kita yang merupakan Negara kepulauan, banyak penduduk yang tingggal terpisah-pisah di pulau-pulau yang letaknya saling berjauhan, sarana transportasi yang masih menjadi kendala untuk mencapai daerah-daerah terpencil dan ketersediaan sarana dan prasarana sekolah berikut tenaga pengajarnya. Salah satu contoh kisah klasik dunia pendidikan yang tergambar sangat apik dalam novel “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata, dapat mewakili bagaimana pilunya nasib anak-anak yang harus berjuang keras untuk menikmati “Pendidikan” yang begitu mereka cintai.

    Tetapi tidak semua anak-anak di negeri tercinta ini mengalami ketidak beruntungan dalam memperoleh pendidikan, ada sebagian anak-anak yang lebih beruntung nasibnya dalam mengenyam bangku sekolah dengan fasilitas sekolah yang mutunya bertaraf internasional tanpa dikenai biaya sedikitpun alias GRATIS. Hanya ada satu syarat untuk bisa bersekolah di sana yaitu harus merupakan anak dari pegawai atau karyawan dari perusahaan..”

    Jangan lari dari tujuan utama pendidikan, sebagai cara untuk memerdekakan dan mencerdaskan bangsa. Pasca beasiswa ini si anak berprestasi diharuskan untuk kerja di sugar group. Apabila enggan, penggantian dana 3x lipat dari jumlah beasiswa dan naik 8% tiap tahunnya selama masa ikatan dinas (13 tahun) siap menanti. Jangan berharap kedermawanan pada korporasi..mereka hanya menginginkan usia produktif anak berprestasi untuk kerja pada perusahaannya. Apalagi kalo yang digunakan ialah dana CSR, bisa dibayangkan….

  2. ardi  19 January, 2014 at 11:29

    Dear Adhe
    Nice info, very comprehensive.
    Could I ask about the salary of the primary teacher? S1
    I could find the negative aspect of this school except placed in remote area, could u give us more ?
    Many thanks Adhe Mirza Hakim
    Im glad if we can build link from e-mail
    Regards
    Ardi

  3. Eggie Septiawan jourdy  27 October, 2013 at 22:37

    Makasih tulisannya, semoga bisa membuka mata pemerintah. Meningkatkan mutu pendidikan gak sesusah yg dipikirkan kok, walaupun gak semudah yg dibayangkan.

  4. Afna Hanunnida  24 October, 2013 at 22:16

    Saya masih bersekolah di SMA Sugar Group kelas 11. Terima kasih untuk artikel ini. Untuk @uli mawaddah salam segera disampaikan salam kenal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.