Adhe Mirza Hakim
Siang itu di akhir penghujung bulan April, udara di luar cukup menyengat, ponselku tiba2 berdering, dari nada sambungnya sudah kutahu itu Hubby, “Bu…cepet berangkat, orang2 udah pada kelaparan tuh!!”, “Siap Bozz, I’m on the way”.
Harusnya aku memang sudah dari pukul 11.30 berangkat menuju ke kebun, tapi karena harus melayani para ‘tamu’ yang sowan ke kantorku, jadi urusan keluar kantor jadi molor 1 jam kemudian. Wajar kalo hubby jadi ‘gerah’ karena mikirin ‘Para buruh pemetik buah jeruk’ yang lagi pada nungguin jatah ‘ransum’ makan siang. Sebenernya bisa aja Hubby nyuruh supirku yang anter itu makanan, tapi bukan itu maksudnya, hubby ingin aku faham dan terlibat langsung dengan ‘suasana panen jeruk’ saat itu. Jangan sampai aku hanya tau ‘beres’ tapi gak faham sama ‘proses’ yang sedang berlangsung.
Dalam mobil, sudah disiapkan 30 nasi bungkus, aku jadi mikir “aduh…kasian orang2 yang sudah berpeluh itu menanti jatah nasi bungkus, sedang aku terlambat mengantarnya”. Jalan menuju kebun jeruk memang tidak mulus. Mobilku harus di parkir kira2 500 meter dari lokasi kebun. Saat aku tiba sudah menunggu dua orang koordinator kebun, yang siap membawa nasi bungkus itu pake motor. Sedang aku, yah…jalan kaki bareng supirku, hehehe….lha jalannya hanya bisa dilalui gerobak sapi. Kalo mobilku type offroad, mungkin bisa masuk sampai ke dalam. Sambil berjalan pelan karena jalannya naik turun dan banyak legokan2, aku hanya bisa memandangi selop ‘C ‘n K’ yang kupakai “Duh..malang nian nasibmu, baru juga kubeli sudah harus rusak gara2 jalanan offroad kek gini, hehehe”,
Padahal pagi tadi hubby udah wanti2 “Bu nanti pake sepatu kets aja kalo mau ke kebun, jalannya jelek banget”, awalnya aku inget, tapi begitu saat harus buru2 ke kantor, pesan hubby itu tiba2 aja ‘menguap’, untung aja aku hanya bisa pake selop pendek, bukan hight heel…secara emang aku gak suka dan merasa tersiksa, Bagiku ‘pakaian’ itu harus nyaman…bukan masalah ‘keren atau tidak’.
Lanjut…dengan langkah pelan tapi pasti…’Panas yang terik’ tanpa bawa payung pelindung…’cukuplah’ pake payung jilbabku, sampai juga aku ke tengah kebun jeruk. Langsung kulihat ‘pemandangan’ para buruh petik yang duduk ‘kelelahan’ di bawah pohon kelapa, lokasi kebun jeruk bersebelahan sama kebun kelapa, ada juga yang ngaso dibawah gubuk untuk berteduh. Kata yang pertama kuucapkan saat bertemu mereka “Maaf….ya, ibu dan bapak udah lama nunggu, saya terlambat datang”, iyalah…aku faham banget mereka belum makan karena nungguin aku, hiks….maaf ya…
Emang harusnya aku cepat2 berangkat tadi,….tapi mau ninggalin ‘para tamu’ di kantor juga gak enak….yah..mudah2an para ‘wong cilik’ ini memaklumi keadaan diriku. “Nggak apa2 bu…,kami juga masih ngaso, ini juga ada minuman dan buah jeruk” kata Pak Tukimin, orang kepercayaan kami di lapangan. Alhamdulillah…semoga aja bener.
Aku langsung meninjau ‘kebun jeruk’ yang ada di hadapan mata, wuih…banyak banget buahnya, sampai pohonnya ‘doyong kebawah’ karena gak kuat nahan beban banyaknya buah jeruk.
Aku melihat satu truk Fuso memuat buah jeruk hampir se bak truk. Aku hanya tersenyum, ya Allah…aku gak perlu banyak..hanya sedikit yang bisa kumakan. Alangkah senangnya kalau bisa berbagi dengan keluarga, karyawan, teman dan handai taulan.
Lalu aku pesan pada koordinator lapangan, mau bawa ke Jakarta, 3 kardus jeruk, buat berbagi dengan keluarga dan teman2. Syukurlah…buah jeruk yang mau kubawa sudah disiapkan mereka. Aku tersenyum melihat rerimbunan buah jeruk, ini bukan milik kami, tapi ‘titipan dariNYA’, aku tidak mau berhitung berapa nilainya, yang penting ‘tanah’ ini bisa bermanfaat dan mendatangkan rizki bagi orang2 yang ikut terlibat di dalamnya.
Rizki bagiku bisa datang dari berbagai ‘arah’ , seandainya kita hanya terpaku pada satu sisi, kita seakan ‘melupakan’ bahwa DIA Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, begitu luas rahmat dan karunianya. Semoga aku tidak ‘dibutakan’ mata hatiku olehNYA, karena kasih dan sayangNYA menitipkan semua ini pada keluargaku.
Aku tidak hanya melihat dan ikut memetik buah jeruk, tapi banyakan motret2 suasana kebun lewat camera ponselku, sempat aku berbincang-bincang dengan Pembuat Gula Aren, yang membuka ‘Pondok pemrosesan gula aren’ (sejenis gula jawa) di dekat lokasi kebun. Kuperhatikan begitu tekunnya si ibu pembuat gula aren, mengudak panci besar yang berisi air dari pohon kelapa aren.
Rupanya cara mendapatkan air aren itu dengan meletakkan jeriken di atas pucuk pohon kelapa. Nah air yang sudah tertampung didalam jeriken itulah yang dimasak, sampai kalis…dan terakhir dicetak dalam cetakan bambu yang bentuknya mirip cetakan kue putu. Aku tanya berapa harganya, si Ibu menjelaskan “Rp. 5.000,- rupiah/kilo”, hm…lumayan murah, jika aku harus kerja membuat gula aren dalam kondisi udara yang panas dan berpeluh di sekitar tungku pemasak, rasanya….nggak kebayang bahwa ‘kerja keras’ seharian itu hanya menghasilkan ‘sekian ribu rupiah’ saja.
Tapi itulah hidup wong cilik…mereka tetap bisa ‘mensyukuri’ apa yang mereka ‘terima’ dariNYA. Yah….kita memang harus banyak belajar dari wong cilik untuk menyikapi hidup secara arif dengan ‘kesederhanaan’ hidup yang mereka lalui. Si Ibu pembuat gula aren ini, agak malu saat aku potret dia sedang mengaduk air kelapa aren yang sedang mendidih, dengan santai aku bilang, “udah ibu gak usah malu, berdiri aja disitu, biarkan saya mengambil foto ibu”, dia lalu tersenyum geli mungkin sambil berpikir “tumben…koq ibu satu ini mau motretin orang yang lagi buat gula aren”, hehehe….maklum wong kota turun ke ndeso jadi rada norak gitu, sebenernya aku mau beli gula aren itu kelihatannya menarik dan enak dilihat. Tapi rupanya gula arennya baru siap jual saat sore hari, sedang stock yang sudah jadi nggak tersedia. Yasud….aku pulang deh!
Sambil menyusuri jalan yang berliku dan banyak legokan disana sini, aku memandang geli ke arah si Ririn, supirku yang berjalan didepanku sambil membopong seember buah jeruk, hehehe…dia tampak berjalan agak doyong…, tapi tetep semangat dan berjalan cepat, sedang aku mengikuti dari belakang, sambil sedikit2 menoleh ke belakang, karena ada gerobak sapi yang berjalan pelan dibelakangku. Aku malah iseng motretin gerobak sapi itu, halah….dasar! tapi sebenernya aku tuh rada takut sama sapi, hehe..takut di seruduk ato diendusi sapi, padahal sapi beda sama banteng. Tetep aja kalo jalan deket2 sapi, aku jadi gak pe-de..pernah sekali aku harus melewati sekawanan sapi yang ada di jalan setapak di dekat ladang, aku sampai harus minta temanin anak dari petani penggarap ladang, yang kebetulan lagi main didekat ku. Mereka pada ketawa cekikikan saat aku bilang tolong temanin melewati sapi2 itu, hehehe….cuek ajah…namanya juga takut!
Sampai juga aku ke lokasi parkiran mobil, lega…rasanya sudah bisa ‘ngadem’ di mobil. Yah…baru sedikit yang kupelajari tentang ‘hidup wong cilik’, semakin sering aku bersentuhan dengan kehidupan mereka semakin merasa ‘betapa beruntung’nya aku….jadi tiada alasan untuk tidak bersyukur. Semoga….
Quote: "Selalulah bersyukur".
October 26th, 2012 at 13:40
hiyaaaa pengen liat ke sana
January 10th, 2011 at 10:08
lo boleh tau kebun jeruknya daerah mana? tolong di bls k mail q..terimakasih kalau bisa membantu
October 7th, 2009 at 08:28
asyiiiikkkk akhirnya bisa masuk..ho..ho..
October 7th, 2009 at 08:27
Mbak Adhe…siipp..bagus sekali.
September 24th, 2009 at 11:22
Adhe, thank you ya buat ceritanya. Waduh gula aren cuman 5000 rup/kilonya? weleh..weleh….kita disini beli satu kantong (ada 3 balok kecil begitu) hampir 4 dollar. Duh….siapa nih yg ambil untung besar? wong cilik ya gak tahu kali ya…
Btw, kebun jeruk ini ada dimana tepatnya?
September 23rd, 2009 at 21:50
Dulu aku suka mencemplungkan ubi kayu (singkong) yang masih mentah kedalam kuali pembuatan gula merah (gula aren). Begitu larutan gula mulai kalis, ubinyapun masak dan berbalut gula merah……hhmmmmm enaknyaaa.
July 20th, 2009 at 02:18
Bu Adhe…sharingnya selalu bagus…jadi tau proses pembuatan gula aren…minggu lalu barusan beli 2 bgks…panen jeruknya jd inget dulu pernah ke rumah sodara yg pny ladang jeruk asyik jg bs ikut petik@