Ereveld Ancol, Kuburan Belanda Ancol

Saras – Jakarta

 

Note Redaksi:

Satu lagi artikel lama yang dikeluarkan dari arsip. Artikel ini pertama tayang tanggal 13 July 2009.


Di Ereveld Ancol ini bukan hanya pejuang-pejuang Belanda yang dimakamkan tapi pejuang-pejuang Indonesia yang pada waktu itu berjuang turut juga dimakamkan disini.

Salam jumpa everyone…apa kabar? Sehat pastinya, atau ada yang lagi sakit (tapi masih kuat buka-buka web) aduuhh cepat sembuh lagi buat yang lagi sakit ya! buat Redaksi…heemmm…salam kenal n kompak deh…

b1

Atas desakan dan dorongan beberapa teman-teman ’terselubung’ saya coba sekuat tenaga (pada hal nggak ada yang dipikul lo…ko berat ya) untuk menulis perjalanan wisata yang tidak disengaja ke suatu tempat peristirahatan terakhir umat manusia di Ancol (bahasa Indonesia jaman Belanda dulu ditulisnya Antjol).

Perjalanan yang saya bilang jadi wisata ini sebenarnya sesuatu yang tidak disengaja. Mengapa saya bilang tidak disengaja, ya karena tujuan kami ke Ancol adalah mau makan malam di salah satu restorant Sea Food di salah satu taman hiburan yang ada di Ancol ini.

Di dalam perjalanan dari wilayah Selatan Jakarta tepat kami semua tinggal sepanjang jalan kami asik berbincang-bincang membicarakan jalan yang kami lewati. Maklum sesama orang-orang yang bermukim di wilayah selatan kota Jakarta kami sudah lama tidak menjalani wilayah timur Jakarta (Pasar Baru, Gunung Sahari dan sekitarnya), banyak sekali perubahan terutama dengan adanya ITC disekitar Gunung Sahari ini. Saking banyaknya erubahan sampai-sampai kami salah jalur dan ditilang sama Pak Polisi. Ha ha ha ha ha jangan panggil Beby (nama salah seorang teman saya) kalau tidak bisa menghadapi aparat yang satu ini. Dengan sigapnya dia keluar dari mobil dengan tidak lupa membawa uang 50 ribu, nggak lama kemudian ya mobil kami jalan lagi dengan lampaian senyum Pak Polisi, gampangkan hidup di Jakarta siapa bilang susah?

Sampai pada akhirnya kami mulai memasuki tempat wisata Ancol saya teringat dan membicarakan suatu tempat yang dulu waktu kecil pernah dibawa oleh Ayah jalan-jalan ke tempat ini, ya apa lagi kalau bukan kuburan ua milik pemerintah Belanda (Kuburan tempat pejuang2 Belanda dan Indonesia di makamkan). Tergerak untuk melihat kembali kuburan tersebut dan ternyata keinginan saya disetujui olah kami semuanya (rombongan saya berlima perempuan semua), yang paling excited adalah Tante Magdaleen Brouwer.

Tante Magdaleen Brouwer adalah sahabat kami yang sudah tergolong sepuh, dengan usianya yang sudah 60 tahun lebih. Di usia beliau yang terbilang sepuh Tante Magda masih terlihat frash dan energic, beliau semangat sekali setelah saya menyebutkan kuburan Belanda. Dengan antusiasnya akhirnya Tante Magda cerita bahwa Ayah beliau termasuk yang dimakamkan di kuburan Belanda tersebut, beliau amat sangat bahagia kalau kami semua berkenan mangantarkan dia ber ziarah ke kuburan Balanda itu.

Gayung bersambut Beby sang driver perkasa akhirnya mengarahkan mobilnya ke kuburan Belanda ditambah lagi karena keingin tauan kami bagaimana sekarang keberadaan Kuburan Belanda (Ereveld Ancol) sekarang, sekalian mengantar Tante Magdaleen Brouwer mau ziarah ke makam Ayah tercinta…..pas kan!! Jadi deah wisata ziarah Kuburan Belanda.

b2

b5

Sampai di Gerbang Ereveld Ancol yang ada pada kami semua adalah decak kagum, bukan ketakutan membayangkan kuburan-kuburan tua yang tidak terawat dan kotor serta mungkin bau-bau yang agak-agak tidak mengenakkan. Bagaimana tidak, kami disambut oleh Pintu Gerbang yang memang bener-benar bagus….wiiiihhh…didalamnya itu loh terlihat, so PEACE.

Suasana semakin indah karena kami datang pas lagi Sunset di Ereveld ini, benar-benar menakjubkan. Tempatnya bersih, makam tersusun rapih dihapari olah permadani rumput hijau yang benar-benar terawat rapih plus bersih. Kedatangan kami memang tepat, karena memang tempat ini sedang dalam masa selesainya perbaikan sana-sini sekitar makam. Ini terlihat ada bebarapa bagian dari areal makam masih belum tertutup permadani rumput hijau tapi tahah merahnya sudah disiapkan dan tampak bersih, ditambah lagi terlihat adanya beberapa pekerja yang tinggal diareal pemakaman tersebut. Disekeliling pekuburan ini dibatasi olah tembok yang tidak seberapa tinggi tapi cukup aman untuk mencegah adanya abrasi dari pantai/laut disekitarnya.

Setelah mengisi Buku Tamu yang memang disediakan ditempat khusus, kami menyusuri sisi-sisi pemakaman pelahan-lahan sambil membaca setiap nisan yang kami lalui. Semantara Tante Magda mencari makam Ayah tercinta saya dan teman-teman yang lain asik potret-potret sana sini, aahhh…in action ditempat ini nggak kalah bagus ko…sama sekali tidak ada kesan menakutkan, ditambah lagi rombongan termasuk yang nulis note ini agak narsis sedikit.

Di Ereveld Ancol ini bukan hanya pejuang-pejuang Belanda yang dimakamkan tapi pejuang-pejuang Indonesia yang pada waktu itu berjuang turut juga dimakamkan disini, satu lagi, bukan yang beragama Christian saja tapi yang beragama Muslim juga ada disini. Ini terlihat dari bentuk nisan-nisan mereka. Untuk yang beragama Christian berbentuk Salib dan untuk yang beragama Muslim berbentuk Kubah (layaknya Kubah Mesjid). Wilayah dan tempat perjuangan mereka sampai wafat juga tertulis di nisan-nisan, seperti pejuang-pejuang yang wafat di Berastagi-Medan, Banjarmasin, Lembang, Sanggau Ledo, Brojonegoro, Ancol, Pontianak dan masih banyak lagi.

Setelah setengah jalan memasuki area pekuburan tua ini ditegah-tengah sisi sebelah Kanan kami menemui sebuah Batang Pohon tua yang sudah diawatkan dan terawat, kata Tante Magda pohon tersebut jaman dulu dijadikan pemerintah Jepang sebagai tempat mengeksekusi pejuang-pejuang kita.

Pohon ini sekarang menjadi salah satu prasasti dan dibatang pohon tersebut sekarang ada prasasti yang tertulis:

Hemelboom ” They shall not grow old as we that are left grow old, Age shall not weary them nor the years condemn, At the going down of the sun and in the morning, we shall remember them, we shall remember them” (Antjol, 1942-1945)

b4

b7

b8

b9

Paling depan Kuburan Belanda ini ada Tugu dan 2 Tiang Bendera yang memang disiapkan bila suatu waktu ada upacara-upacara tertentu kita bisa meletakkan bunga pas ditengah-tengah tugu, demikian juga pemasangan bendera.

Tante Magda terharu dan menagis bahagia bisa kembali memeluk nisan ayah tercinta, kami jadi larut dalam keharuannya juga. Tidak putus-putusnya dia mengucapkan terima kasih kepada kami terutama Beby karena mau menyempatkan diri mampir ke kuburan tua ini, nisan ayah Tante Magda bernama D. Lapod menjadi satu dengan pejuang-pejuang lainnya.

Sekedar info buat teman-teman, Ereveld Ancol, kita biasa menyebut Kuburan Belanda saat ini ditangani langsung oleh sebuah yayasan yang bernama Netherlands War Graves Foundation (Oorlogsgravenstiichting).

Setelah puas berkeliling dari nisan satu ke nisan lainnya tibalah kami berpotret-potret ria. Matahari sudah terbenam di ufuk Barat tibalah waktunya kami meninggalkan Kuburan Balanda yang indah ini sambil terteriak “Good bye Oma n Opa siapapun anda terima kasih sudah berjuang buat kami ya, sekarang kami mau pulang sampai ketemu lagi”. Didalam hati ini ada rasa terharu bisa datang ketempat seperti ini, nggak tau kenapa…ya bangga aja!

Tidak terasa perut dan teman-teman sudah kroncongan minta diisi oleh sea food yang memang kami sudah idam-idamkan, maka kamipun pamit kepada penjaga pintu gerbang makam sambil mengucapkan terima kasih karena sudah diizinkan kami masuk karena waktu itu jam kunjugan sebetulnya sudah TUTUP sepertinya.

Sampe ketemu lagi teman-teman saya mau menikmati sea food dulu ya, salam kompak buat Bapak/Ibu Redaksi yahhh….


Love u all,
Saras

b10

b11

b12

Tante Magda

b13

125 Comments to "Ereveld Ancol, Kuburan Belanda Ancol"

  1. Saras Jelita  19 April, 2012 at 18:16

    Hai Mel….siapa aja boleh masuk ko makan ini, sepertinya ini udah jadi salah satu tempat Wisata Sejarah di Jakarta deh ) yuuukkkksss berkunjung yaahhh…thanks sudah mampir kekmarku

  2. Mel  5 April, 2012 at 15:34

    dear saras, nice article, sudah lama pengen tau isinya ereveld, thanx sudah jelasin disini.
    tapi klo aku gak mpunya family yg dimakamkan disitu, dibolehkan masuk kah?sama yg jaga?
    pls info. pengeeen…banget masuk. hehehe

  3. Saras Jelita  14 March, 2012 at 22:36

    Hollaa Rozy…ini tahun 2009 kekuburan Belanda (biasa kita sebut kalau mau ke Ancol) yg dimana waktu itu lagi diperbaiki sana-sini (termasuk ditanam-tanami rumput2 baru) dan dibuat tempat semacam pendopo buat para peziarah yg bisa mengisi Buku Tamu kalau datang berkunjung Terima kasih sudah mampir yah..

  4. rozy  12 March, 2012 at 21:59

    sy belum pernah masuk, tapi pada saat masuk ksana, mba saras, tahun berapa yah..? kok tampak dari luar cuma pepohonan aja yah..thx yah berita nya..

  5. julio  25 August, 2011 at 01:12

    thanx Saras Jelita hug… iya tar sampein..

  6. Saras Jelita  24 August, 2011 at 21:52

    Hai Julio…thanks for the correction yahhhh sampein Mami di FB sdh dicorrection tuh :p

  7. julio anaknya tante magda  17 August, 2011 at 10:31

    nisan ayah ibu saya,Tante Magda bernama D.Lapod bukan W. De Leeuw…thanx

  8. saras jelita  7 March, 2011 at 15:37

    @ Ulfah : sepertinya bisa dehhh…kan nggak ada ‘penunggu’nya Sssstttttttttttttt….ajak2 donk kalo mau moto2

  9. Ulfah  27 February, 2011 at 14:37

    dikuburan belanda sini kalo photo season malem masih bisa?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.