PB Djarum

Universitas Bulutangkis, dari Kudus Menuju Pentas Dunia

Akhir Bulan Juni yang lalu baru saja di-release Film mengenai bulutangkis dengan judul “King” yang menceritakan tentang perjuangan seorang anak yang bernama Guntur yang bercita-cita menjadi pemain bulutangkis, untuk dapat diterima sebagai atlit bulutangkis binaan dari PB Djarum.

Tidak berselang lama dirilis juga sebuah buku dengan judul “Panggil aku King” yang menceritakan perjalanan hidup salah satu legenda bulutangkis Indonesia Liem Swie King, mulai dari awal beliau berlatih bulutangkis , menjadi pemain bulutangkis binaan PB Djarum dan berhasil menjadi pemain bulutangkis andalan Indonesia di pentas dunia.

Tak lama kemudian, tepatnya tanggal 4-5 Juli yang lalu, PB Djarum juga mengadakan Audisi Beasiswa Bulutangkis, di mana proses ini merupakan awal dari suatu proses untuk dapat mencetak pemain-pemain bulutangkis tingkat dunia yang diharapkan dapat membawa nama Indonesia ke tingkat dunia.

audisi1

Dalam audisi yang berlangsung selama 2 hari dan diikuti oleh sekitar 700 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, berhasil dipilih hanya 12 pemain putra dan 12 pemain putri untuk dapat mengikuti proses selanjutnya. Dan akhirnya dari 24 orang tersebut setelah melalui proses karantina terpilih 9 pemain putri dan 5 orang pemain putra.

audisi2audisi3

Dari sini kita bisa melihat bahwa untuk dapat menjadi seorang juara harus melalui suatu proses yang panjang, di mana sejak usia 12-13 tahun harus ditempa dengan latihan yang keras, setiap hari baik pagi dan sore, baik latihan fisik maupun teknik untuk dapat menjadi pemain yang berkualitas.

Apakah setelah berhasil diterima untuk mendapatkan beasiswa bulutangkis tersebut dijamin semua pemain akan berhasil? Tentu saja tidak, selain dibutuhkan bakat dan tekad serta kemauan untuk berlatih, pemain juga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, terutama salah satunya dari pihak klub.

PB Djarum sebagai salah satu dari klub bulutangkis yang ada di Indonesia, berusaha untuk selalu mencetak atlet atlet bulutangkis yang bisa mengharumkan nama bangsa dan negara terutama untuk proses regenerasi perbulutangkisan di Indonesia.

Untuk mencetak prestasi tinggi, tentu dibutuhkan fasilitas yang memadai. Manajemen PT. Djarum menyadari hal itu. Karenanya, untuk memenuhi tuntutan tersebut, awalnya dibukalah sarana bulutangkis terpadu di bilangan Kaliputu, Kudus, sebagai kawah candradimukanya para pebulutangkis Djarum dan Indonesia di masa depan. Pusat pelatihan itu mulai digunakan sejak 1982.

Sebagian atlet Djarum dari generasi pertama (Liem Swie King Cs) tak bisa menjadi penghuni regular di Kaliputu. Pasalnya, mereka lebih sibuk berkutat di pelatnas di Jakarta. Tapi, atlet-atlet dari generasi berikutnya seperti Hariyanto Arbi, Hermawan Susanto, Eddy Hartono, Fung Permadi, Hendrawan, Kristin Yunita, dan Sigit Budiarto memang dibesarkan lewat gemblengan ‘Kaliputu'.

GOR Djarum di Kaliputu dibangun atas pijakan untuk menciptakan sistem pembinaan yang lebih profesional, yang pada muaranya akan melahirkan atlet-atlet bermutu. Misalnya dari penyaringan calon pemain lewat jalur pemasalan, penyaringan bibit (seleksi), dan pemanduan bakat. Metode pembinaannya pun dilakukan dengan program yang integral, sesuai perkembangan zaman, dan mengacu pada pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Yang dimaksud integral, semua atlet yang dibina di Kaliputu diasramakan dan disekolahkan di Kudus. Karena, bagaimana pun, pendidikan bagi atlet tetap penting sebagai bekal mereka di kemudian hari kelak setelah tak lagi menjadi atlet.

fangkaixiang

Untuk memperluas wawasan dan kemampuan pelatih, Djarum secara rutin sejak 1986 mengadakan seminar tentang pelatihan. Pada tahun itu juga, para staf pelatih dan pembina diberangkatkan ke Singapura untuk mengikuti seminar tentang Psychological Preparation for Big Sport. Pada kesempatan dan tempat yang sama, mereka pun mengikuti seminar International Sport Science Conference. Seminar-seminar sejenis di tanah air, tentu tak dilewatkan pula. Diramu dengan pengalaman mantan juara dunia bulutangkis Hendra Kartanegara alias Tan Joe Hok-yang sudah kenyang pengalaman internasional-bersama Hendra Sugita alias Tan Thiam Beng-juga mantan pebulutangkis nasional-di samping Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa-yang ahli dalam psikologi olahraga-serta dr. Budi Rahardjani-seorang ahli ilmu faal-ditambah dengan Christian Hadinata-mantan spesialis ganda Indonesia- maka tak diragukan lagi pembinaan dengan pendekatan ilmiah yang coba diterapkan PB Djarum dapat terlaksana dengan baik.

SELEKSI KETAT

Terkait dengan hal di atas, maka proses penyeleksian pemain untuk masuk Kaliputu dilakukan secara ketat. Di sini pembinaan dilakukan pada pemain-pemain pilihan setelah ditetapkan kriteria tersendiri bagi atlet yang akan dibina. Selain teknik dan fisik, faktor umur, tinggi badan, bakat, kemampuan intelektual, keseimbangan psikologisnya, sampai sejauh mana dukungan orang tua, menjadi pertimbangan PB Djarum sebelum memutuskan untuk membina seorang pemain.

Bagi pemain berusia di bawah 12 tahun, disediakan waktu khusus latihan di hari Rabu dan Sabtu. Mereka boleh datang dari mana saja, tidak diasramakan, dan berlatih bersama di GOR Bulutangkis Djarum (model pelatihan ini untuk membantu pemasalan bulutangkis). Bagi pemain yang lolos lewat penyaringan, diberikan kesempatan bergabung dalam kelompok inti yang disediakan asrama di komplek GOR Bulutangkis Djarum tersebut. Mereka ini adalah pemain yang sudah memiliki teknik bermain cukup baik yang datang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Selain lewat jalur seleksi tersebut, pemain-pemain inti juga direkrut dari jalur pemanduan bakat (talent-scouting), yaitu lewat pengamatan para pembina PB Djarum di sirkuit atau kejuaraan tingkat nasional. Maka, GOR Bulutangkis Djarum di Kaliputu tak hanya berisi pemain-pemain asal Jawa, tapi juga dari Sumatra, Sulawesi, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan daerah lainnya. Calon atlet yang diambil adalah mereka yang diprediksi dapat diasah menjadi pemain top.

GOR Djarum di Kaliputu memiliki 11 lapangan bulutangkis yang berjajar dari utara ke selatan dan empat lapangan yang membujur di timur dan barat. Tempat latihan itu beralaskan parket (papan). Luas lapangan 30 x 90 meter dan diterangi oleh 12 baris lampu berkekuatan 2000 watt. Sarana tersebut juga dilengkapi weight training dan fitness yang terletak di dalam ruangan khusus seluas 6 x 15 meter dan berpendingin udara.

LATIHAN, SEKOLAH, DAN PROMOSI/DEGRADASI

Bagi PB Djarum, membina anak didik dari yang berusia belia hingga mereka yang tumbuh dewasa bukanlah perkara mudah. Karena itu, para atlet yang terpilih masuk TC, praktis menjadi tanggung jawab PB Djarum. Tak ayal, hal-hal seputar kehidupan atlet menjadi perhatian pelatih maupun pengurus. Dalam hal ini, PB Djarum bertindak sebagai orang tua kedua bagi para atlet. Karenanya pula, PB Djarum turut bertanggung jawab atas aspek di luar pengasahan kemampuan teknis atlet seperti pendidikan formal (sekolah). Pasalnya, sebagian besar atlet yang dibina di Kaliputu adalah mereka yang masih di usia sekolah.

"Sekolah merupakan keharusan di klub ini. Karena, tak semua pemain bisa menjadi atlet andal. Jadi, ketika dinyatakan gagal menjadi atlet, mereka bisa melajutkan sekolah untuk menunjang masa depannya," ungkap pimpinan PB Djarum. Jadwal latihan yang ketat tentu menjadi kendala tersendiri bagi kelangsungan sekolah anak didik ini. Karena itu, PB Djarum mencoba mengkoordinasikan dengan Depdikbud Kabupaten Kudus agar mendapatkan dispensasi bagi anak didik mereka.

Baiknya, hingga saat ini Depdikbud mendukung program PB Djarum tersebut. Termasuk memberikan izin ketika para atlet meninggalkan sekolah untuk beberapa hari karena mengikuti turnamen atau kejuaraan. "Kami telah bekerja sama dengan beberapa sekolah di Kudus untuk urusan sekolah atlet. Mereka diperbolehkan masuk lebih siang," ungkap pelatih Hastomo Arbi, pahlawan Piala Thomas 1984, yang kini mengabdi untuk PB Djarum.

Pemberian dispensasi dari sekolah tersebut memang dimungkinkan karena jumlah atlet PB Djarum Kudus cukup banyak. Jadi, mereka dibukakan kelas khusus dengan porsi dan jam pelajaran yang khusus pula. "Untuk atlet yang duduk di bangku SMP, misalnya, jam belajar mereka adalah dari 09.30 hingga 13.00 WIB. Karena, paginya dari jam 06.30 hingga 09.00 mereka latihan. Sementara yang siswa SMA, pola sekolahnya lebih unik, yakni tiga hari masuk dan tiga hari libur," urai Hastomo. Terkait dengan jam sekolah itu pula, pengurus dan pelatih PB Djarum membagi shift latihan menjadi empat sesi. Sesi latihan pagi berdurasi dari pukul 06.30-09.00 WIB dan 08.00-11.00 WIB. Sementara untuk sesi latihan sore/malam hari berlangsung dari 15.00-18.00 dan 18.00-21.00 WIB.

"Kemudahan-kemudahan yang diberikan sekolah, sejauh ini, tidak mengganggu aktivitas atlet. Mereka umumnya cepat menyesuaikan diri. Jadi, tak ada masalah berarti," timpal Ellen Angelina yang bersama Hastomo Arbi menangani 8 pemain putri. Mengingat padatnya jadwal harian para atlet, yakni antara latihan dan sekolah, maka PB Djarum sangat memperhatikan kondisi kesehatan mereka. Di antaranya, tentu, dengan memberikan suplai konsumsi yang sehat dan memenuhi kebutuhan gizi mereka.

Untuk memenuhi kebutuhan gizi sebanyak 3.500 kalori/hari, dan menjadi 4.000 kalori/hari saat memasuki TC, menu atlet telah disusun sedemikian rupa. Dengan fasilitas pembinaan yang demikian lengkap dan terpadu, bagaimana jika seorang atlet tak juga berhasil meningkatkan kemampuannya? "Kami memberlakukan sistem promosi-degradasi setiap tahunnya. Jadi, jika dalam seleksi seorang atlet dinyatakan mentok, maka dengan berat hati mereka dipulangkan," ungkap Ellen, yang sempat keluar masuk pelatnas pada kurun 1995 hingga 2002 itu. Penjelasan dari PB Djarum, klausul pemulangan atlet yang gagal sudah disepakati secara tertulis dengan orangtua atlet sebelum anaknya masuk TC. Cara ini, disamping untuk meningkatkan iklim kompetitif di kalangan atlet, pun untuk memberi kesempatan kepada yang gagal untuk memperbaiki diri atau mengembangkan karirnya di bidang yang lain.

Setelah GOR Kaliputu dipakai untuk kurang lebih 23 tahun, PT Djarum kembali membangun GOR Bulutangkis megah nan modern di Jalan Jati, Kudus, semata untuk mengembalikan kedigdayaan dan harkat perbulutangkisan Indonesia di mata dunia.

Ya, melihat fasilitas yang lengkap dan mutakhir yang disediakan GOR Bulutangkis Djarum yang baru, tak berlebihan bila tujuan untuk mencetak juara dunia diikrarkan. Berdiri di atas lahan 29.450 m2 (total 43.207 m2), kompleks GOR Bulutangkis Djarum memiliki sejumlah bangunan terpadu yang digunakan untuk kelangsungan denyut pembinaan PB Djarum.

tampak depan

Dengan bergaya arsitektur minimalis, GOR ini terlihat sangat elegan. Terdiri dari 5 kelompok bangunan, meliputi gedung olahraga, ruang penunjang, dining hall, asrama atlet, dan rumah tinggal pelatih.

Untuk gedung olahraga, terdapat 16 lapangan (12 beralaskan parket kayu dan 4 beralaskan karet sintetis). Di dalamnya juga tersedia 2 tribun penonton pada sisi tepi center bangunan, ruang fitnes, kantor pengelola, toilet, ruang P3K, dan gudang.

lapangan1

lapangan2

Sementara untuk kelompok ruang penunjang, berisi entrance hall, aula serba guna (digunakan untuk coaching, audiovisual), ruang perpustakaan dan komputer, kantor POR Djarum Kudus, ruang meeting, pantry, dan toilet umum. Sedangkan sarana ruang saji makanan, dapur umum + ruang cuci, dan kamar tidur pembantu asrama terletak di kelompok bangunan dining hall.

Kemudian, untuk asrama atlet, terdiri dari hunian putra dan putri yang masing-masing berkapasitas 20 kamar (total 40 kamar dan tiap kamar dihuni 2 atlet) dengan dua lantai. Tiap kamar mempunyai fasilitas tempat tidur dan meja belajar untuk 2 atlet. Asrama putra dan putri diletakkan terpisah, dibatasi oleh 2 rumah tinggal pelatih. Masing-masing unit asrama juga memiliki locker room, toilet, laundry, ruang seterika, dan jemur.

Sedangkan untuk kelompok rumah tinggal pelatih, Tersedia fasilitas ruang tamu, 2 ruang tidur, 1 ruang tidur utama + kamar mandi dan kamar kecil, ruang keluarga, ruang makan, dapur, ruang cuci, gudang, dan ruang tidur pembantu.

Sejauh ini GOR Bulutangkis Djarum di Jalan Jati menggunakan 29.450 m2 dari total lahan seluas 43.207 m2. Sisa lahan seluas 13.757 m2 rencananya disiapkan untuk pengembangan site selanjutnya.

TEKNOLOGI BARU

Demi kenyamanan dan konsentrasi dalam latihan, GOR pun dilengkapi dengan ventilasi udara yang modern. Aliran udara di dalam gedung tak lebih dari 0,5 meter perdetik. Di bawah lapangan parket diberi rongga setinggi 60 cm dengan sistem ventilasi dan penyedot udara refresentatif untuk mengurangi kelembaban dan menjaga ketahanan lapangan. Penyedot udara itu bekerja 30 menit sekali dalam 4 jam secara otomatis.

Lebih dari itu, di bawah kayu penyangga lapangan juga dilapisi karet setebal 2,5 cm untuk menjamin kelenturan landasan agar mengurangi dampak benturan yang bisa mengakibatkan atlet cedera. Teknologi Inilah yang tak dimiliki GOR Bulutangkis di mana pun di Indonesia, bahkan mungkin dunia.

Tan Joe Hok, legenda Bulutangkis Indonesia, Mengaku takjub dengan ide brilian itu. "Wah, hebat. Selama ini belum ada yang memikirkan hal itu," katanya.

Diharapkan GOR Jati ini tak hanya menjadi pusat pelatihan anak-anak PB Djarum, tapi juga menjadi desentralisasi pemusatan latihan nasional. Sementara untuk melengkapi sarana latihan yang memadai di Jakarta, PB Djarum juga akan membangun GOR Bulutangkis yang baru di sekitar Petamburan. Lahan yang dibutuhkan sekitar 1,6 hektar dengan rencana membangun 9 lapangan plus asrama atlet.

Sejak GOR Kaliputu pertama kali berdiri sekitar tahun 1982, PB Djarum terus memantapkan langkahnya menjadi salah satu pembina klub bulutangkis yang paling concern terhadap perkembangan olahraga bulutangkis di tanah air. Kiprah tersebut tergolong berhasil dan sukses, banyak di antara pemain binaan PB Djarum yang berhasil menghantarkan Indonesia meraih juara dalam berbagai ajang turnamen bergengsi.

tampak blk

Berdasarkan dari catatan tersebut, saya menilai bagaimana satu persatu prestasi tersebut ditorehkan dengan amat manis. Hal tersebut tidak lain merupakan usaha dan kerja keras PB Djarum dalam upayanya mendongkrak prestasi talenta muda Indonesia, khususnya dalam bidang bulutangkis. Keseriusan salah satu klub bulutangkis tertua ini dibuktikan kembali dengan membangun sarana latihan/GOR Jati yang sudah berdiri sejak tahun 2005. Kontribusi PB Djarum pun dibuktikan lewat cara mengirimkan banyak sekali pemain- pemain muda yang memiliki potensi demi kepentingan bangsa dan negara. Ini merupakan bentuk dedikasi PB Djarum, yang dengan konsisten ingin membangun dunia bulutangkis nasional.

Akhirnya, saya ingin menutup tulisan ini dengan mengutip secuil kalimat yang ditulis oleh Sdr. Karyanto pada sebuah milis berbasis bulutangkis, yang kurang lebih seperti berikut: "Di kaki bukit Gunung Muria-tetirah Sunan Muria bersemayam, di seberang menara Kudus-tetirah Sunan Kudus bersemayam, atlet-atlet PB Djarum kini tengan menyiapkan diri menuju jenjang prestasi dunia."

Disarikan dan dirangkum dari www.pbdjarum.com oleh Jon Leung

40 Comments to "PB Djarum"

  1. nansa  12 September, 2011 at 19:11

    aku sangat ingin sekali menjadi seorang atlit badminton yang profesional namun ketika aku sma nanti aku bukanlah akan menuju ke kudus ataupun sekolah pb djarum lainnya tapi aku akan menuju ke kalimantan jadi apakah aku bisa untuk menjadi atlit badminton walaupun tidak masuk pb djarum

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.