Cermin Sang Nyonya

Urip Herdiman Kambali – Jakarta

Cermin memang ajaib. Cermin menangkap dan memantulkan apa yang ada di depannya, tak peduli bagus atau jelek, elok atau buruk. Cermin berbicara apa adanya, tidak membeda-bedakan, dan juga tidak menyensor.

Mirror

Setiap hari, bisa pagi bisa petang bisa juga malam, ia selalu duduk di depan cermin. Atau sesekali berdiri dan berjalan-jalan. Jika sudah begitu, ia tahan berlama-lama menatap wajah dan dirinya sendiri. Melihat, mengamati, meneliti, menelaah, menjelajah. Matanya, hidungnya, telinganya, rambutnya, lehernya, dadanya…aih. “Tak ada yang menyamai diriku, tak boleh ada yang menyamaiku!” pikirnya.

Dahulu ketika masih muda dan belum punya apa-apa, ia tak peduli cermin seperti apa yang ada di depannya. Cermin yang ia punya hanya cukup seukuran tubuhnya saja. Langsing.

Tetapi kini, setelah ia bisa memiliki semua yang diinginkannya, ia menjadi peduli pada cermin seperti apa yang harus ada di depannya.. Apakah datar, cembung atau cekung. Satu hal yang pasti, cermin itu harus lebih lebar dari bentuk tubuhnya yang meluas beberapa millimeter setiap tahunnya. Ia bisa tersenyum dan tertawa senang karenanya. Atau merengut, cemberut, marah-marah dan memaki-maki.

Dan semua dipantulkan oleh cermin itu, tak ada satu pun yang terlewatkan.

Suatu malam menjelang tidur, seperti biasa, ia duduk berjam-jam di depan cerminnya. Ia memang sudah tidak muda lagi. Tetapi lekuk-lekuk tubuhnya masih bisa membetot mata para lelaki. Tubuh yang subur dan indah permai.

Ditatapnya rambut yang mulai dihiasi warna putih. Keriput yang mulai bisa dihitung. Kantung mata yang agak gelap. Kulit yang harus selalu diberi pelembab. Dan ia masih bisa tersenyum melihat bibirnya yang mungil, tipis, basah, merekah. “Bibir ini tidak perlu ikut-ikutan menjadi tua,” ucapnya lirih.

Tiba-tiba ada sebuah lampu yang menyala di dalam otaknya. Cling! “Aku bosan menatap diriku sendiri setiap hari. Aku ingin sesuatu yang berbeda.”

Pagi berikutnya, pembantu masuk ke dalam kamar sang nyonya. Tidak ditemukan majikannya yang biasa menatap dirinya sendiri di cermin setiap pagi, tetapi ia mendengar seseorang memanggil-manggilny a. “Surti, Surti…kemari.”

Surti, pembantu itu, celingak-celinguk hingga mengarahkan pandangan matanya pada cermin sang nyonya. ““Aku disini, di dalam cermin!”

Jakarta, 22 Juni 2009

 

Biodata :

Urip Herdiman Kambali, lahir di Jakarta, 15 Juli 1965.

Buku antologi puisi pertamanya adalah Meditasi Sepanjang Zaman di Borobudur (2005). Buku tersebut berhasil masuk nominasi 5 besar Khatulistiwa Literary Award 2006. Buku antologi puisi keduanya adalah Karna, Ksatria di Jalan Panah (2007).

Urip Herdiman kini tinggal di Sawangan, Depok.

 

Ilustrasi:

http://1.bp.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.