Jangan Memberi!

Handoko Widagdo – Solo


Truk adalah berkah. Sopirnya adalah malaikat bagi kami. Setiap datang, kami segera mengepungnya. Merubungnya. Menjarah. Kami bersaing dengan lalat dan sapi untuk mencari celah. Namun kami tahu cara berbagi. Bagian sampah yang basah dan hijau milik sapi. Yang busuk milik lalat. Kardus dan plastik adalah bagian kami.

pemulung04

Beruntunglah aku mendapatkan kardus bekas kulkas. Aku berhasil merebutnya dari Darmin. Merebut dari Darmin diantara tumbukan sampah yang ditumpahkan dari truk sampah yang baru datang. Aku beruntung karena Darmin terlalu dekat dengan bak truk sehingga kakinya terpeleset tumpahan sampah.

Kardus bungkus kulkas itu sangat berguna bagiku. Kardus itu bisa mengganti dinding gubugku yang sudah mulai ditusuk-tusuk angin. Sudah sebulan ini aku ingin mengganti dinding gubugku. Tetapi sulit sekali mencari kardus bekas di antara tumpukan sampah. Beruntunglah aku. Dengan bungkus kulkas tersebut maka aku akan menikmati malam-malam yang lebih hangat dari malam-malam sebelumnya. Apalagi saat ini sedang musim hujan dengan angin yang tidak tahu kasihan. Kardus itu juga membantu hidungku dari sengatan bangkai tikus -dan kadang-kadang bayi yang tanpa malu ikut serta berkunjung ke tempatku, bersama-sama dengan sampah orang-orang kota.

pemulung05

Senja itu aku segera mengganti dinding pondokku yang telah lunglai diterpa hujan dengan kardus bekas bungkus kulkas, yang aku rebut dari Darmin. Ku lihat Dasir datang dengan menggendong seonggok “awul-awul”[1]. Entah mengapa ia tidak menyetorkannya kepada lapak. Mungkin sudah terlalu sore. Sumini juga datang menggendong anaknya. Bekas lelehan kecap di kakinya masih ada. Mungkin ia tidak bersih ketika membasuh borok pura-pura di kakinya setelah selesai mengemis di perempatan Panggung.

“Sudah pulang Lek.”

“Sebelum magrib tadi. Kau dapat berapa?” Tanyaku.

“Wah tidak seperti biasanya Lek. Walaupun sudah kucubit si Genduk beberapa kali, tapi tak ada kaca mobil yang dibuka untukku. Cuma dapat delapan ratus Lek.”

“Ya sudah Sum, nrima saja. Besok kan hari Jumat. Cobalah nyanggong di dekat mejid ngalramah. Siapa tahu banyak yang mau beramal sebelum atau setelah sholat Jumat. Biasanya kan orang ingat beramal pada hari Jumat dan Minggu.”

“Tapi Lek, kata Eyang Dlepih hari baik saya kan hari Kamis. Oleh sebab itu saya jadi Pengemis.”

“Ya embuh Sum.”

“Kamu sendiri dapat berapa Lek?”

“Lumayan Sum, aku tadi ngamen di bus. Embuh setan mana yang menggerakkan, aku dikasih puluhan ribu oleh seorang penumpang yang lagi mengantuk.”

“Lha kebeneran tha Lek.”

“Sum. Nanti malam ke sini saja. Mijeti saya. Tidur saja sekalian di sini. Kita bisa senang-senang semalaman. Mumpung dindingku baru. Kita juga bisa beli gudeg di depan Stasiun Purwosari untuk mengisi perut kita. Kalau perut penuh kan tambah Josss.”

“Ya Lek, tapi setelah si Genduk tidur ya.” Sambil ngeloyor menggendong si Genduk menuju gubugnya.

“Ya. Biar aku yang ke Purwosari cari gudeg sementara kamu nidurin si Genduk.”

Sumini. Kami kenal 6 bulan yang lalu. Ia datang dengan anaknya yang masih bayi. Ia tidak pernah menceritakan siapa bapak dari anak itu. Dan. Hal itu juga tidak penting bagi kami. Kedatangannya menambah semarak tempat kami. Badannya berisi. Cara berbicaranya seperti prenjak yang menyambut tamu. Dan. Lebih-lebih lagi Sumini adalah satu-satunya perempuan yang tinggal di lingkungan kami, selain tentu saja si Genduk anaknya itu. Kami memanggilnya Genduk, karena kami tidak tahu namanya. Sumini pun tidak ingat siapa nama anaknya itu.

pemulung03

Awalnya Sumini datang ke lingkungan kami sebagai orang yang tidak waras. Ia datang pada saat senja. Linglung. Sumini menggendong anaknya. Sayalah yang pertama menemukannya diantara onggokan sampah. Beberapa kali ku sapa. Tapi ia seperti tidak melihat ada orang di sekitarnya. Ia tinggal bersama saya selama kurang lebih 1 bulan. Saya membawanya ke Eyang Dlepih di Tirtomoyo daerah asal saya. Melalui ruwatan yang dilakukan oleh Eyang Dlepih akhirnya Sumini menemukan kesadarannya lagi. Sejak saat itu Sumini tinggal dekat dengan gubug saya. Kadang-kadang tidur dengan saya. Walaupun kadang-kadang ia tidur di gubug Dasir atau Darmin, jika mereka mendapat rejeki yang lebih baik. Berdasarkan nasihat Eyang Dlepih, Sumini mencari uang dengan cara mengemis. Karena keberuntungannya adalah pada hari Kamis. Tangis anaknya, yang sengaja dicubit, adalah alat yang ampuh untuk menggugah para dermawan melemparkan recehannya kepada Sumini.

Sudah seminggu ini kami tidak melihat Dasir pulang. Kami tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Mungkin saja ia pulang ke kampung asalnya. Kembali kepada anak istrinya yang ditinggalkannya. Atau ia terkena musibah dibakar masa karena mencuri dan tertangkap. Bukankah setiap hari kita dengar orang yang dibakar karena mencuri, bahkan hanya mencuri sandal saja. Kami tidak tahu. Gubugnya kini dihuni oleh anjing-anjing yang mengais tulang di antara sampah-sampah. Gubug itu mungkin lebih hangat bagi anjing-anjing liar itu daripada di luar, sehingga anjing-anjing itu tidur di dalam gubug Dasir.

Siang itu kulihat Darmin mengemasi barang-barangnya. Tepatnya membuntal jeannya yang berjendela di lutut dan pantat, dua-tiga kaos yang sudah seperti jaring ikan. Itu saja.

“Mau kemana Dar?”

“Pulang Lek”

“Apa dapat warisan, apa, kok pulang.”

“Tidak Lek. Cari uang sekarang susah. Tidak ada lagi orang yang mau memberi.”

“Memangnya kenapa?”

“Tidak tahu Lek. Minggu lalu saya nyanggong di depan nggreja. Saya dengar orang yang bicara di depan itu bilang:


“Jangan memberi! Sesuai anjuran Pak Wali, kita tidak boleh memberi kepada para pengemis dan pengamen. Dengan tidak memberi apa-apa kepada mereka, maka mereka akan pergi sendiri. Pada era reformasi ini tidak jamannya lagi mengejar-ngejar mereka. Itu tidak sesuai dengan HAM!”

“Edan Lek. Ketika bubaran nggreja, tak satupun nyonyah-nyonyah yang biasanya melemparkan recehannya, memperdulikan saya. Malaikat apa ya Lek yang berdiri di depan itu, kok bicaranya bisa ditaati sekian banyak orang?”

“Lha kamu akan kerja apa di desa? Jari tanganmu kan pada pruthul? Kamu kan tidak bisa macul?”

“Ya embuh Lek. Mungkin ngemis di desa masih lebih mudah daripada di kota ini Lek.”

“Wis ya Lek. Hati-hati Lek”

“Ya. Andum slamet ya Dar.”

Kini tinggal kami bertiga yang tinggal di antara anjing dan sampah-sampah. Saya, Sumini dan si Genduk.

Siang itu. Menjelang sore. Sudah sakit jariku menggenjreng gitar. Mulai dari ngamen di bis kota, bis Solo-Yogya, sampai Prambanan. Hanya tiga ratus yang aku dapat. Aku coba untuk ngamen di perumahan. Entah sudah berapa Stasiun Balapan, Kuncung dan Terlena keluar dari kerongkonganku. Tapi hanya dua ratus yang aku dapat. Pintu-pintu di perumahan tiba-tiba pada tupup semua. Lima ratus rupiah. Aku habiskan limaratus itu dengan membeli rokok. Aku berharap Sumini mendapat hasil yang lebih baik. Bukankah ini hari Jumat? Tadi pagi ia pamit akan ke dekat mejid ngalramah. Tapi sampai suara jengkerik bersahutan, Sumini tidak muncul. Dengan perut lapar aku coba merebahkan tubuhku yang sudah penat. Untunglah masih ada sebatang rokok di kantong bajuku.

pemulung01

Nasibku tidak lebih baik dari hari kemarin. Hari ini hanya tiga ratus yang aku dapat. Perutku betul-betul lapar. Aku ke pasar loak. Kujual gitarku. Hanya dapat lima ribu. Kubawa pulang lembaran lima ribu itu. Malam nanti akan kubelikan gudeg di Purwosari. Untukku, untuk Sumini dan untuk si Genduk. Kutunggu Sumini pulang. Tapi sampai habis darahku dihisap nyamuk, tak jua kulihat batang hidungnya.

Hari Minggu. Kutunggu Sumini sampai menjelang sore. Aku sudah mengambil keputusan untuk pindah dari kota ini. Tak ada lagi tempat bagi orang seperti kami di kota ini. Tapi Sumini tak datang juga. Akhirnya kutinggalkan Sumini. Entah apa yang terjadi padanya dan pada si Genduk.

Aku menunggu bis yang menuju ke desaku Tirtomoyo. Termangu aku mendengar penjual koran menjajakan korannya. “Koran-koran. Ditemukan anak perempuan menangis di dekat mayat ibunya di emper Matahari. Ayo-ayo siapa baca. Hanya lima ratus rupiah saja.”

Suminikah dia? Gendukkah ia?

Di radio yang diputar keras-keras dari restoran aku dengar wawancara Pak Wali.

“Pak Wali, apa kiatnya sehingga kota ini bersih dari pengemis dan pengamen?”

“Jangan memberi!” Jawabnya mantab.

“Jangan memberi!”

“Jangan memberi!”

“Jangan memberi!” Kalimat itu terus menerus mendengung di telingaku.

Dlepih-Tirtomoyo

“Adalah berkat memberi daripada menerima”

handoko widagdo


Sumber foto:

http://mandacutie.files.wordpress.com

http://www.indonesiaindonesia.com

http://4.bp.blogspot.com

http://citizenimages.kompas.com

http://maryulismax.files.wordpress.com


[1] Awul-awul adalah sebutan untuk kertas bekas yang masih bisa dijual kepada pengumpul (lapak)

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.