May Ing Nyaris Bercinta di Beos

Alexa – Jakarta

Disclaimer:

Perkataan BERCINTA disini bukan memiliki pengertian MAKE LOVE… jadi bagi pembaca yang mengharapkan hal itu…mohon siapkan hati tuk kecewa…hikz.

Siang itu aku diajak temanku May Ing melihat tokonya yang baru di Mangga Dua – aku mengenal May Ing beberapa tahun lalu pada sebuah seminar. Di usianya yang menjelang 40 tahun; dia single parent dengan dua anak – yang sulung sudah kuliah sementara yang bungsu duduk di bangku SMP..memang May Ing menikah muda. Pas kenalan itu, aku baru saja memulai kehidupanku sebagai single parent…karena merasa senasib sependeritaan maka kami menjadi dekat.

Nah pas mau ke Mangga Dua itu, statusku sudah balikan dengan suami dan aku berkantor di kawasan Plaza Semanggi sementara May Ing berkantor di kawasan Apartemen Aston di belakang Plaza Semanggi, bergabung dengan perusahaan yang menjual “rumah masa depan” di Krawang yang terkenal itu. Selain bekerja disitu, May Ing mencoba peruntungannya di dunia dagang dengan membuka toko baju di Mangga Dua yang dijaga kakaknya.

Beos 1

Kami janjian ketemu di halte busway di daerah Benhill…terakhir kali naik busway nyaris setahun lalu makanya pas sampe disana kaget banget melihat kondisi dalam halte itu….wauw bersih dan rapih. Ada mesin otomatis penjual minuman, tapi tidak seperti mesin otomatis penjual minuman yang pakai koin maka mesin ini mempergunakan lembaran kupon yang bisa kita beli dari mbak yang jaga disitu…mungkin untuk ketertiban dan keamanan mesin.

 

Beos 2Beos 3

Perjalanan dengan busway rasanya singkat banget..entah karena memang cepat atau karena kami sibuk ngobrol. Obrolan berlanjut saat busway tiba di halte Kota yang lebih dikenal dengan nama Beos. Sebelum perjalanan tadi, aku sudah menantang May Ing untuk mencari spot makan siang yang lain dari yang sudah sering dibahas di media massa…

May Ing mengajakku makan siang di Stasiun Kota…. disana katanya ada Mie yang terkenal. Dari tempat pemberhentian busway menuju stasiun Beos kami harus menyeberang dan ternyata saat ini bisa dilakukan melalui terowongan bawah tanah yang berbentuk spiral mengitari kolam dengan air mancur. Saking asyiknya berjalan sambil ngobrol, bukannya kami tembus ke Stasiun Beos, lha kok malah ke seberang yang lain yakni di muka Museum Bank Mandiri…. Wadauw. Mau turun lagi, mikir 100 kali deh habis May Ing dah encok-pegel-linu karena dia memakai rok span selutut plus sepatu high heel…sebelum jalan tadi dia presentasi di suatu perusahaan. Lha kok timbul akal gilanya…”Xa, kita naik ojek sepeda aja yuk….”. Buatku sih oke-oke saja karena seperti biasa aku memakai celana panjang nah dia dengan rok span itu? Tapi dia memaksa…katanya jalan-jalan denganku selalu memancing sisi liarnya…. Waaks.

Beos 4

Akhirnya jadilah kami naik ojek sepeda…..wadauw ternyata seru banget naik ojek sepeda – dengan cepat sepeda yang kunaiki meluncur melintasi Kali Besar, ojek sepeda yang dinaiki May Ing tertinggal jauh. Akhirnya aku suruh abang ojekku menunggu dulu…ojek yang dinaiki May Ing lamban karena posisi duduk May Ing yang miring membuat si abang ojek kewalahan menjaga keseimbangan belum lagi ternyata rok May Ing licin membuat dia makin miring aja duduknya. Walah…walah. Akhirnya aku suruh si abang ojeknya May Ing jalan duluan, baru aja beberapa kayuhan, kulihat sepeda yang ditumpangi May Ing oleng dan gubraaak May Ing terjatuh…..haduh,haduh. May Ing tidak luka tapi katanya malunya tujuh rupa….he,he.

Tak lama kemudian kami sampai di Stasiun Beos….dan lagi-lagi aku takjub melihatnya. Beos sudah berbenah: rapi..bersiiih dan tertib. Di dalam ada 12 jalur antar kereta api yang tadinya diisi oleh pedagang kaki lima, sekarang sudah disterilkan sehingga orang bebas berlalu lalang.

Beos 8 Beos 5 Beos 6 Beos 7

Aku sempat mendengar pengumuman keberangkatan kereta api disusul calon-calon penumpang yang berlari-lari – wah ternyata sekarang ada kereta api KRL – AC Ekonomi: maksudnya ditiap stasiun kereta ini akan berhenti, tidak seperti KRL AC Pakuan yang langsung meluncur dari Kota dan hanya berhenti di tujuan akhir di kota Bogor. Wah, seneng banget melihat suasananya sibuk tapi tertib…gak kalah dengan suasana kereta bawa tanah di New York deh.

Beos 9

 

Bener-bener bangga melihat Stasiun Beos sekarang…..kurang lebih dua tahun lalu aku ke Beos untuk mengikuti Wisata Kota Tua bersama si Bocah dan teman-temannya. Hem suasananya kumuh, kotor dan padat– jalur antar rel kereta diisi oleh pedagang kaki lima sehingga penumpang tidak bebas berjalan, malah berdesak-desakan akibatnya ya jadi rawan copet, berkeringat dan berdebu. Pulang dari wisata kota tua waktu itu ingat banget deh; aku langsung mandi dan mandinyapun langsung dua kali.

 

 

 

 

Beos 10

Letak warung mie itu ada di sebelah kiri..tadinya ada bangunan-bangunan di jalur pojok kiri itu yang dijadikan warung makan. Tapi sekarang semua di gabung di Pusat Jajan yang tetap ada di bagian kiri stasiun. Kami langsung menuju tempat mie itu yang ternyata bernama Mie ASUN. Kami sepakat untuk memilih menu berbeda supaya bisa saling icip-icip. Sebelumnya aku konfirmasi dulu ke si Asun…”Ini bener-bener halal?” Lha iya-lah, masa ya iya dong….”Sumpe lu Sun…” “Iya…beneran, kalo enggak masa tuh ibu-ibu berkerudung berani makan disini.” Memang waktu itu ada serombongan karyawati bank pelat merah yang berjilbab sedang makan disitu.

May Ing memilih mie baso sementara aku disarankan Asun untuk merasakan mie siram Cap Cay, untuk minumnya kami sama-sama memilih es jeruk. Asun sibuk memasak, karyawannya khusus menangani order, meracik minuman dan mencuci perabotan.

Beos 12 Beos 11

Tak lama kemudian pesanan datang…mie siramku penampilannya seksi habis, sayur-sayur segar warna- warni, udang dan potongan baso serta kuah kental menutupi seonggok mie. Baunya benar-benar mengundang selera. Sementara itu mie baso pesanan May Ing datang…warnanya pucat dan kesannya minimalis, kelihatan tidak mengundang selera gitu. May Ing cuman mesam-mesem mendengar komentarku…dan dia mempersilahkan aku icip-icip si mie bakso itu. Karena tampangnya tidak meyakinkan aku cuman mengambil sedikit serpihan daging ayam dengan ujung sendokku. Kumasukan ke ujung lidah dengan segan….weits gubrak, lidahku meronta-ronta merasakan gurihnya si serpihan ayam…bener-bener pas gurihnya. Aku juga menyendok mie yang menipu itu….hem rasanya bener-bener yummy, tidak kalah dengan mie GM. Seperti petuah dan petunjuk Bp. Bondan Winarno selaku pakar wisata kuliner: untuk sendokan pertama-tama, nikmati apa adanya…jangan dicampur dengan penambah rasa seperti sambal, kecap atau saos. Jadi selain menghormati yang memasak, kita juga merasakan rasa asli dari makanan itu.

Beos 13

Aku jadi makin semangat menyantap si seksi mie siram cap cay ( duh JC jangan keras-keras nyebutnya jadi cap jahe…ketahuan tuh jawir abis). Kali ini aku menyendok dulu kuahnya, langsung masuk mulut dan pyar… semua rasa pecah di mulut…uenak tenan….( aku dan teman-teman sealiran dah sepakat kalau makan makanan berkuah dan rasa kuahnya dah enak pasti rasa makanannya juga enak. Kalau enak kami harus menjerit dengan berbisik bak sedang orgasme – coba gimana tuh…”Kuahnya aja enak…”) Kami menikmati santap kami dengan perlahan, sambil ngobrol dengan Asun…Asun memasak bergantian dengan kakak dan keponakannya yang semuanya lelaki.

Waktu itu datanglah seorang OB yang memesan 70 porsi mie goreng untuk makan malam karyawan suatu bank plat merah yang berkantor disitu. Katanya mereka rutin memesan disitu untuk karyawan yang lembur….wah berarti omset si Asun lumayan banget, belum lagi memperhitungkan omset dari walk in customer.

Omong punya omong Asun yang berusia 50 tahunan ternyata masih bujangan, wah langsung aku injek kaki May Ing…”Boleh juga tuh buat elo.” May Ing cuman melotot, “Hem seusia dia cocok ya buat produk yang gue jual.” Maka dia langsung mencatat nomor hp yang tercantum di daftar menu. Usai makan, tepat di luar pusat jajan ada yang menjual buah-buah impor dan harganya miring banget. Coba-coba beli anggur seedless yang di Supermarket berharga Rp.60 ribuan/kilo, disitu hanya Rp. 40 ribuan/kilo.

Beos 15

Aku akhirnya tidak jadi ke toko May Ing, keburu ditelpon kantor. Jadi kamipun berpisah. Esoknya May Ing telpon aku… “Xa, Asun prostat.” What..baru sehari elo dah tau masalah onderdilnya? tanyaku. “Iya sampe toko langsung gue telpon tawarin makam tapi dia memilih nantinya dikremasi….jadi gue tawarin life insurance – dia langsung bilang dah beberapa kali apply tapi langsung ditolak pas ketahuan prostat.” Oh gitu..gue pikir elu langsung ngintip….lagian jualan lu komplit juga yak….”Lah iyalah, masa ya iya donk.” Jawab May Ing…lho kok sound like Asun?

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *