Adhe Mirza Hakim – Bandar Lampung
Aku ini suka melihat yang indah indah dan bagus-bagus, ini manusiawi kan? Dulu aku hanya sekedar bisa melihat dan mengagumi dalam hati, wah…bagus ya lukisannya…, kalo pun ingin memiliki sepertinya tidak terpikiran, lha uang dari mana? Bisa disekolahin ortu aja sudah bagus. Mau belajar melukis belum kepikiran juga, sepertinya aku memang tidak berbakat menggambar, lebih senang menulis dan membaca.
Sejak kecil, aku sudah biasa melihat lukisan, di rumah Papaku, ada satu lukisan yang gede banget, kalo dipandang oleh mata kecilku saat itu, yang kusayangkan saat Papaku merehab itu rumah, lukisan itu tidak jelas lagi keberadaannya, dan aku juga tidak terpikiran mau menanyakan di mana gerangan itu lukisan yg dulu selalu kulihat sehari-hari, tapi aku masih selalu mengingat itu lukisan, kebetulan ada salah satu foto kecil ku yg background nya lukisan tsb, tema lukisan itu pemandangan ‘Danau Ranau’.
Balik ke lukisan lagi, ada satu kenangan yang tidak akan aku lupakan tentang lukisan, aku pernah diajak Wak Cak (Paman dlm bhs Palembang, Papa-nya sista Maya), kira2 th 1986, saat itu masih SMA dan sedang liburan ke Jogja, Wak Cak dan keluarga memang tinggal dan bertugas di Jogja, Wak Cak ini orangnya baik banget dan senang bergaul, salah satu kenalannya yaitu Pak Widayat, dulu…aku tidak faham kalo Pak Widayat ini salah satu Pelukis Handal dari Jogjakarta.
Suatu sore, aku diajak Wak Cat ke daerah Muntilan dekat Borobudur, kata beliau, kita akan mampir ke salah satu rumah kawannya. Sampailah kami ke salah satu Rumah yg gedeee banget, rada nyeni pikir aku saat itu, taman2nya ditata model Taman Bali, masuk ke ruang tamu, aku sudah melihat, koq banyak lukisan, tapi nyusunnya sangat berseni, dari lukisannya yg sangat kecil, kira2 seukuran pas Photo ukuran 4×6 cm, trus..meningkat ke ukuran 1-3 kali diatasnya, disusun bertahap, sepertinya lukisan itu sedang bercerita ttg sesuatu kisah.
Tuan rumah menyambut kami dengan sangat ramah, bapak Widayat dan ibu bener2 welcome akan kehadiran kami, malah kami diajak berkeliling ke dalam rumahnya, yang menurut aku bener2 pantes disebut “Galeri Lukisan”, dari lukisan yg paling kecil sampe yg segede dinding rumah didisplay dengan sangat apik. Wak Cak aku hanya sekedar bertamu, tidak berniat untuk beli lukisan lho…tapi pemahaman aku tentang lukisan mulai bertambah. Lukisan Pak Widayat, beraliran semi abstrak, lebih mengarah ke impressionis. Garis lukisannya tegas dengan warna2 yang sangat natural tapi permainan warnanya sangat bagus, ada gradasi dari warna2 lembut ke warna2 keras. Indah dipandang mata, walaupun saat itu aku asli tidak faham sama tema lukisan abstrak.
Pada dasarnya aku menyukai lukisan yg naturalis, yang bertema pemandangan alam, hewan atau manusia dengan segala kesibukannya. Di awal th 2000-an, aku mulai mengkoleksi lukisan, walaupun itu aku dapat secara Gratisan dari Mba Siti (kakak iparku), oleh2 dari Bali berupa Lukisan burung2an. Langsung aku frame, saat itu aku pikir, ini lukisan bagus banget. Selanjutnya aku mulai seneng memperhatikan lukisan2 yang dipajang di Bank2 rekanan kerjaku. Ada salah satu Bank BUMN yang concern sama lukisan, di tiap sudut Bank tsb selalu ada lukisan, temanya Panen raya, Pasaran atau Pemandangan alam, jika aku pas kesana pasti ngebatin, kapan ya…bisa beli lukisan seperti gini, soalnya selama ini belum pernah beli lukisan, punya lukisan juga dikasih gratisan oleh kakak.
Ketertarikan pada lukisan juga diawali dari hobby aku yang senang membingkai apapun jenis gambar, baik Foto, Poster, Kaligrafi, Kruistik/Sulaman, Kain bahkan Potongan gambar dari Kalender bekas. Bagi aku, sesuatu gambar akan bertambah indah jika di bingkai dan diletakkan pada tempat yg tepat. Saat SD, sudah mulai seneng membingkai, aku panggil tukang jual bingkai foto keliling yang suka lewat di kompleks rumah, foto aku dan foto nenek yang di bingkai, uang jajan sekolah aku simpan buat ongkos bingkai foto itu, kalo tidak salah Rp.1500/bingkai, yah bingkai kayu yg murahan itu lho!
Dan hobby mem-Frame ini, semakin menjadi-jadi saat kuliah di Bandung. Di simpang Dago, arah ke Dago atas dikit, ada toko Dago Pigura, bagi aku bagus banget cara mereka buat Frame, tehnik cat semprot (duco) buat frame dg warna2 pastel dan agak mengkilat, aku rela menguras kocek demi membingkai macam2 foto, kaligrafi, kain, kruistik dan poster yang aku miliki.
Kini setelah aku bisa mencari uang sendiri, baru terpikir untuk membeli lukisan, awalnya beli lukisan yang biasa2 aja, asal sudah bisa diframe. Tapi kini, mulai merhatikan nilai dari suatu lukisan, tidak mau asal beli lagi, sudah mikir pantes atau tidak lukisan ini dibeli. Ada pengalaman beli lukisan saat aku berkunjung ke rumah teman di Bandung, kebetulan adikknya kuliah di seni rupa ITB, hoby ngelukis, setiap pojok rumah banyak lukisan dia, ada salah satu lukisan yang warnanya keren banget, temanya 3 Gadis Bali, saat lihat itu lukisan, di kepala aku sudah langsung berpikir, ini Lukisan jika aku bisa beli, akan aku kasih ke Kakak yang kebetulan baru aja selesai bangun rumah, dinding ruang tamunya serasi banget kalo di pasangi itu lukisan.
Kata temen aku, adiknya itu rada2 seniman, suka2 kalo sama lukisannya, kalo lagi baik mau aja dia jual, nah…dengan iseng, aku tanya mau dijual nggak lukisan 3 Gadis Bali itu, adik temen aku kelihatannya mikir sebentar, trus dia tanya buat siapa kalo lukisan itu dibeli, aku jawab lukisan itu mau di pasang di rumah , berapa nih harganya , sambil tertawa dia jawab kalo buat Mbak Adhe cukup 250.000 rupiah saja. Asli aku kaget….gila, itu lukisan bagus banget dengan Cat minyak di atas kanvas ukuran 50 x 75 cm. Tanpa mikir lagi langsung aku bayar itu lukisan sebelum dia berubah pikiran.
Well…..ini rejeki buat rumah Kakak , sempat sih di pajang di ruang tamu rumahnya tapi itu nggak berlangsung lama, my bro divorce, aku sempat kuatir duh kasian amat itu lukisan harus dipisah sama Kakak , ternyata……Kakak aku sayang sama itu lukisan, dia rela melepas semua isi rumahnya, tapi tidak dg “3 Gadis Bali” nya. Hehehehe…..sekarang lukisan itu menghiasi kamarnya.
Aku punya rasa penasaran terhadap lukisan, yang tidak jadi aku beli. Sejak itu, aku selalu ingat, jika aku suka dan merasa harga yang ditawarkan reasonable menurut kantong maka take and pay it!
Bukannya aku sudah bergaya kolektor lukisan beneran, hehehe…jauh lagi!!!, manalah mungkin aku bisa membeli lukisan para Maestro, paling juga beli lukisan repro mereka, hehehe…., kini yang aku sedang pikirkan kapan mulai belajar melukis???
Aku sempat menemani kakak kelas di Notariat Unpad, Mbah Arnisah Vonna, membeli alat2 lukis berupa kanvas, kuas dan cat minyak di Toko khusus menjual benda2 yang berhubungan dengan lukisan, di Bandung, katanya sih punya Pak Barli, Dosen di Seni Rupa ITB sekaligus Pelukis Kondang, ternyata…..bahan2 pembuat lukisan itu harganya mahal2 ya….!!!
Khusus yg bahan2 import dari UK (Inggris), bener2 bikin kantong anak kuliahan bisa cekak dah! Pantes kalo harga lukisan para Maestro itu mahal2, lha wong bahan dasar lukisannya juga ‘Larang’ hargane!!! Hehehe…makanya saat itu belum kepikiran mau belajar melukis. Les melukis juga tidak murah. Tapi aku sempat dapat kado Ultah dua lukisan cat minyak karya orisinal (maksudnya dibuat sendiri oleh yg memberi) satu tema Sun Flower dan satu lagi gambar diri yang sedang semedi, hahaha….yang ngasih itu arsitek lulusan IKIP Bandung, kebetulan sama2 ikut les seni pernafasan di lapangan ITB, Pandawa Padma (PP) namanya, berhubung suka ketemu saat les, sepertinya doski rada naksir, hehehe….aku sih happy2 saja dapat lukisan, tapi soal suka hanya gara2 dikasih lukisan tidak masuk dalam kamus perjodohan aku.
Hahaha…thanks..Reggy, aku simpan lukisan dariMu sampe sekarang! Sun Flower nya masih di pasang di Ruang Makan kantor.

Lukisan Sun Flower
Tidak banyak lukisan yang aku koleksi, kadang jika aku membeli lukisan yang harganya tidak terlalu mahal, terus ada kawan yang suka, ya sudah…ambil saja. InsyaAllah aku akan menemukan lukisan yang lebih baik lagi. Aku juga suka kasih lukisan jika ada temen yang baru pindah rumah. Bagi aku…dinding rumah akan mati jika tidak ada lukisan yang tergantung di situ. Sampai ada adik aku, yang protes…saat masuk ke kamar aku, ini waktu masih jadi anak kost, Adlien bilang, kepala dia pusing gara2 ngelihat dinding kamar penuh dengan aneka bingkai, baik itu Foto, Poster, Gambar, Kaligrafi, Kruistik dan Kain bermotif. Kata dia, berilah satu dinding yang kosong buat mata beristirahat, hahaha…..biarlah, aku bahagia dengan dinding kamar ku.
Setelah aku punya rumah sendiri, justru aku tidak berani memasang bingkai di semua dinding, walaupun sebenernya banyak juga bingkai yang sudah terpasang, mungkin aku agak bertoleransi sama mata hubby, biar tidak capek melihat begitu banyak frame di dinding.
Trus…saat aku sudah memiliki kantor sendiri, jangan harap itu ada dinding yang kosong, semua sudah penuh terisi, baik itu Frame Foto, Frame lukisan, Frame Kaca, Frame Kain Antik, Frame Kruistik dan Frame Kaligrafi. Yah…namanya juga hobby, sampai ada karyawan menanyakan, mau dipasang di dinding mana lagi Bu???
Hihihi….ya..dinding yang masih kosong lah…., moga2 aja aku segera bosan dengan hobby ini, kasihan itu frame2 yang lama, yang tersimpan di pojok ruang kantor, sudah waktunya aku hibahkan mungkin.
Rupanya hobby lukisan ini menurun ke Bocah2, saat aku beli lukisan2, mereka pada sibuk minta di pasang lukisan2 di kamar masing2, yah….demi sayang anak, aku relakan itu lukisan nangkring di dinding kamar mereka. Sepertinya memang tidak ada dinding kosong di rumah.
Ini dulu yang mau aku tulis tentang aku dan lukisan, dan di bawah ini ada beberapa lukisan dan hiasan yang memenuhi isi ruang kantor.

Lukisan teman pasar, membuat aku penasaran selama setahun

Masih berada di tempatnya

Kruistik karya adikku, Drg Dul, dikerjain saat PTT di Lemito, Gorontalo. Rebutan sama Rama, buat dipasang di kamarnya
tapi ngalah juga saat dibilang ini mau di pajang di ruang pengajian kantor.

Salah satu sudut ruang terima tamu di kantor

Frame Kaca dan Kursi jati ini sebenarnya tidak satu set, tapi yg melihat menganggap dibeli satu set.

Nasib harus terpental ke ruang belakang

Kaligrafi kayu nggak bakalan pindah tempat

Lukisan ini dibeli saat ada pameran INA Craft. Tadinya dia mejeng manis di ruangan aku, sekarang sudah terpental keluar ruang, setelah ada New Comer

Ruanganku, di meja bulat itu aku suka membacakan akta

Lukisan ini kubeli di Beijing setelah kutawar dengan harga yang kejam

Bahan kruistik ini aku beli saat SMA, yang mengerjakan tante dan adik sepupu, selesai saat aku tamat S1. Sampai saat ini masih setia menemaniku

Frame Kain Songket
April 25th, 2010 at 10:08
Jeng, aku juga suka melukis, tapi kurang produktif..jadi lukisan ya buat menuh2in dinding rumahku saja.. Seandainya ada yang mau membelinya ya ?? kan bisa buat beli cat dan alat2 lukis lagi biar aku produktif lagi… Coba deh lihat2 lukisanku di akun facebook ku .. di koleksi foto2ku, ada album aku dan lukisanku.. Thanks ya kalau berkenan mengapresiasi lukisanku..
July 24th, 2009 at 23:37
All….thanks ya buat comments nya…
@Saras…..serius nih?? iya ntar aku sms ya….nggak nolak buat yg gratisan. hehehe….
@Ilhampst…waduh..lukisan pasar terapung, dengernya aja aku sudah tertarik, kemarin sempat lihat tema tsb di Bangkok, tapi lum sempat beli…kalo di Kalimantan ada yang bagus napa lagi harus beli di Bangkok, hehehe….ke Kalimantan aja.
@Sophie….,berbahagialah dengan hobby lukis hubby dan anakmu, jadi bisa belajar melukis sekalian, lukisan buatmu…ada…bunga cempaka! mau????
@Jonleung..harga lukisanku gak semuanya mahal, malah ada yg gratisan.
@Iwan….nasib lukisan itu ternyata lebih beruntung dari Gedung UI, hiks….
@Lida, Sirpa dan Elia….thanks udah mampir ke artikel ini.
July 24th, 2009 at 18:42
Paling seneng lihat lukisan….tapi kalau lukisan absrak gak ngerti cara melihatnya….
July 23rd, 2009 at 11:00
TOPS banget jeng Adhe…mau aku tambahin gak lukisanmu??? monggo alamate kirim ke Inbox yahhh…
July 23rd, 2009 at 06:38
Adhe : Thx sudah sharing …
Dulu juga pernah punya lukisan pemandangan diatas piringan hitam yg LongPlay
July 22nd, 2009 at 23:23
Cik Dhe, lukisan e sedap di mata….
July 22nd, 2009 at 21:49
Saya pernah merasa direndahkan harga diri saya oleh sebuah lukisan. Ketika saya menjadi mahasiswa baru di kampus baru UI Depok, saat itu lukisan ‘Sunflower’ karya van Gogh laku dibeli oleh seorang warga Jepang seharga sekitar 60 milyar rupiah. Harga itu setara dengan biaya total pembangunan kampus baru UI di Depok seluah 240 hektar.
July 22nd, 2009 at 16:13
Salah satu paman saya juga pandai melukis. Jaman kuliah beliau sering bikin kartu ucapan dari kertas film yang digores *lupa namanya apa* buat nambah uang jajan. Karyanya yang paling bagus dan besar temanya Pasar Terapung di Banjarmasin. Bagus banget..detil…dipajang di ruang keluarga nenek saya di Kalimantan. sekarang bakatnya malah turun ke adik saya yang no 2
July 22nd, 2009 at 15:57
Cik Dhe,dinding rumahku juga semuanya penuh soalnya suamiku suka melukis,yg dipajang kebanyakan hasil lukisan dia. Anakku juga suka mengambar, tembok kamarnya ditempel hasil coret2an.
Kalau memang hobby yah begitu deh, puas dan suka melihatnya.
Oh ya lukisan yg mau dihibahkan tolong kirim kesini ya hihihihi.
July 22nd, 2009 at 11:18
Wah Dhe, lukisannyo bagus 2 yo, sayang kadang harganyo itu lho dak terbeli hehehehe