Gyeong Bo Museum Fossil Korea

EQ ( sekar ) – Di Balik Dedaunan

Hallo GCNers all over the world, How r u today?

Saya punya cerita ringan nih, sebagai selingan dan cemilan, dari pada nyemil gossip mulu. Sangat terlambat memang, karena ini oleh-oleh dari jalan-jalan saya bulan Februari, tahun lalu.

Hadiah paling indah yang saya dapat untuk Valentine's Day saya. Makanya saya mau membagi pada all GCNers yang saya cintai, meskipun sangat-sangat telat juga, tapi semoga bisa bermanfaat, setidaknya buat menambah koleksi pengetahuan. Siapa tahu ada GCNers yang juga tinggal di Korea, dan ingin jalan-jalan ke tempat yang "lain" dari pada yang lain. Nah inilah cerita saya.

clip_image002

(Peta Perjalanan kami)

Saya di ajak jalan-jalan oleh keluarga Korea saya ( tapi bukan keluarga yayang saya lho) ke daerah-daerah pantai di Korea, liburan akhir musim dingin. Mulai dari Yeongdeok, Yeongyang, Pohang, Ganggu, Andong dan daerah-daerah sekitar itu.

Kami, omma (mom), appa (dad) dan adik perempuan Korea, bepergian naik mobil pribadi, supaya lebih bebas kalau mau pergi ke mana-mana. Kami menghabiskan waktu selama 5 hari. Salah satu tempat wisata yang paling menarik, yang kami kunjungi adalah Gyung Bo Museum Fossil di daerah Ganggu, wilayah Gyeongsang-Buk-Do, diantara Yeongdeok dan Pohang. 5 Menit dari Pantai Jangsa.

clip_image004

(Gyeong-Bo Museum Fossil – Pintu Depan)

Di museum ini, kita bisa melihat banyak sekali fosil dari berbagai jaman. Menurut informasi, jumlah fosilnya mencapai 2500 buah, dari 30 negara, termasuk Korea tentu saja. Koleksinya terdiri dari fosil mineral, batu-batuan mulia, tanaman, kayu, binatang laut, sampai gading mammoth dan telur dinosaurus.

clip_image006clip_image008

(Fosil telor dinosaurus & Fosil gading mammoth)

Dalam museum yang lumayan luas dan bersih sekali ini, ruangannya di bagi menjadi 2 pavilion dan satu outdoor area. Pavilion 1 isinya berupa fosil-fosil dari masa Paleozoik, Mesozoik dan Cenozoik. Terdiri dari berbagai macam fosil mineral, binatang laut, termasuk diantaranya kerang raksasa, dan berbagai batuan.

clip_image010

(Giant shell fossil)

Saya juga melihat ada fosil binatang yang menurut saya seperti mimi lan mintuna (binatang laut yang dalam cerita Jawa termasuk binatang yang sangat setia pada pasangannya, sehingga kalau ada yang menikah, selalu disertai doa semoga selalu rukun seperti mimi dan mintuna, yang maksudnya semoga selalu rukun dan setia pada pasangan sampai akhir hayat ). Koleksi tersebut didisplay rapi dalam lemari kaca, dengan spot light dan keterangan yang sangat lengkap. Kerang raksasa dan beberapa fosil batu di letakkan di luar lemari kaca, namun diberi tali pengaman, sehingga tidak bisa disentuh.

Ruangan yang sejuk, terang dan nyaman membuat saya betah mengamati setiap koleksi dengan cermat dan membuat foto-foto serta mencatat berbagai keterangan. Tidak ada petugas yang membuntuti kami, sehingga kami dengan bebas bisa berkeliling. Sementara lagu klasik mengiringi langkah kami.

Dan karena tidak ada larangan untuk  memotret, jadi saya bisa dengan leluasa memotret. Ada juga satu bagian yang menunjukkan perbedaan  fosil asli dengan fosil buatan yang sangat sempurna. Bagi saya yang orang awam dengan fosil, tentu saja tidak bisa membedakan, kalau tanpa keterangan.

clip_image012clip_image014

(Fosil Amethys) (Fosil binatang laut)

Di pavilion ini kita juga bisa melihat beberapa macam jenis mata uang, termasuk diantaranya mata uang kertas dari Papua New Guinea, Bermuda, Zaire dan negara lainnya. Ada 16 jenis mata uang kertas dari 8 negara Eropa, 4 negara Asia dan 4 negara Amerika. Pavilion 2 isinya berupa fosil tanaman. Yang terdiri dari 150 item.

Terdiri dari berbagai ukuran dan jenis. Ada yang besar-besar, ada juga yang sepotong kecil, di letakkan dalam lemari kaca. Juga berbagai jenis amber, amethys ada juga fosil daun, bunga dan buah. Seperti misalnya buah pinus. Out door Pavilion berisi segala macam jenis fosil kayu dalam ukuran yang lumayan besar, sebanyak 100 jenis.

Yang menarik adalah karena fosil kayu tersebut berupa perbandingan fosil kayu dari daerah Pohang ( Korea Selatan ) dengan fosil kayu dari berbagai negara lain. Dan di tata dalam display yang serupa dengan karya pameran patung. Bagus sekali. Udara dingin winter tidak mempengaruhi saya untuk menikmati fosil-fosil kayu yang menarik tersebut. Bahkan tentu saja berfoto-fotoria di antara para fosil tersebut.

clip_image016

(Koleksi fosil pohon di out door area)

Harga tiket masuk museum ini tidak terlalu mahal, yaitu 3000 won untuk dewasa perorangan ( jika kelompok hanya 2500 won), 1500 untuk pelajar smp dan smu ( jika rombongan hanya 1000 won ), dan anak-anak di bawah usia 5 tahun atau anak sd tiketnya seharga 1000 won ( jika rombongan hanya 700 won). Murah sekali, mengingat koleksinya yang luar biasa, penataan dan pemeliharaan yang teliti dan sungguh-sungguh serta manfaat yang bisa di dapatkan dari museum tersebut.

Para pegawainya masih muda dan ramah, murah senyum dan siap menerangkan segala sesuatu jika kita menanyakan sesuatu. Di luar pavilion ada restauran kecil, di mana kita bisa menikmati berbagai macam makanan, dan juga menjual makanan ringan, minuman, ice cream dan souvenir. Makanan tidak boleh di bawa masuk ke dalam pavilion. Dan harga souvenir sangat mahal.

Terus terang saya tidak tertarik membelinya. Karena harga satu pin kecil saya 6000 won. Wah, tidaklah. Foto-foto yang saya buat cukup jadi souvenir berharga buat saya. Menurut sejarahnya, museum ini awalnya adalah koleksi pribadi dari Mr. Kang-Hae Jung, yang menjadi kolektor fosil amatir selama 30 tahun. Pada mulanya, mengkoleksi fosil adalah sekedar hobi saja, namun kemudian berkembang menjadi lebih serius.

Dari museum pribadi, berubah menjadi museum untuk kalangan umum, yang di buka pada 26 Juni 1996.  Bahkan pavilion 2 baru di buka pada tanggal 6 Juni 1998. Museum ini termasuk dalam kategori museum fosil kelas utama ( Registration No. 84) dan termasuk sebagai private museum, meskipun terbuka untuk umum. Slogan museum ini adalah : "The globe history which is sees with the fossil".

Museum ini tidak punya hari libur, artinya buka sepanjang masa. Jam bukanya adalah jam 8 pagi sampai jam 7 malam, di hari-hari biasa. Sedangkan di akhir pekan buka dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam. Untuk musim liburan ( sekitar tanggal 20 Juli sampai 15 Agustus setiap tahunnya ) malah lebih panjang lagi jam bukanya, yaitu  mulai dari jam 7 pagi sampai jam 8 malam, pagi banget ya….

Wah, pokoknya menikmati museum ini adalah kesenangan tersendiri buat saya, yang memang pada dasarnya menyukai kunjungan museum. Jaman saya masih kecil dulu, sering diajak mamah almarhumah mengunjungi museum Sono Budaya di Jogja, museum Radya Pustaka di Solo, museum Wayang, museum Batik, museum Biologi, dan lain-lain. Setelah saya bertambah usia, dan sering jalan-jalan sendiri, semakin banyak museum yang saya kunjungi, baik di dalam negeri, maupun di luar negeri (di antaranya Mercedes-Benz Museum di Stuutgart, Jerman, museum patung Lehmbruck-Museum di Duisburg, Jerman dan National museum = National Museum of Fine Arts di Stockholm yang tiga-tiganya pernah saya kunjungi).

Di Korea kegemaran saya mendatangi museum pun terpuaskan. Di antaranya museum Kimchi (karena Korea memang identik dengan kimchi, makanya saya sempatkan mengunjungi museum kimchi, lain kali saya pasti berbagi cerita tentang museum ini).

Pada waktu saya mengunjungi museum fosil ini, ada juga dua keluarga yang datang mengunjungi. Salah satu keluarga terdiri dari ayah, ibu dan dua orang anak kecil usia sd, yang dengan antusiasnya bertanya ini-itu kepada orang tuanya. Si bapak dengan sabar menjawab satu persatu pertanyaan ke dua anak tersebut, yang kadang-kadang lucu dan sulit dijawab.

Saya yang sempat nguping, jadi suka geli sendiri mendengar pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sedang rombongan keluarga lainnya terdiri dari ayah, ibu, dua anak perempuan remaja, satu sepupu perempuan juga, usia anak smu ( kira-kira ) dan ayah si sepupu – wah ternyata saya ini mau tahu urusan orang juga ya, sampai segitu telitinya merhatiin mereka, hihihiiii…habis mereka ngomongnya rame banget sih, jadi saya nggak nguping pun tahu.

Rasa ketertarikan mereka terhadap isi museum itu lah yang sebenarnya mula-mula menarik perhatian saya terhadap ke dua rombongan tersebut. Tapi ternyata rombongan kami pun cukup menarik perhatian mereka, karena kebetulan rombongan kami yang ayah-ibunya punya 2 anak dewasa yang salah satunya orang asing (saya) hehheeee……….

Kunjungan selama hampir 2 jam itu benar-benar mengesankan buat saya. Selama ini saya lebih banyak mengunjungi museum-museum budaya atau yang berkenaan dengan seni. Dan baru sekali ini mengunjungi museum fosil seperti itu.

Thanx mom and dad ^^v

Seusai kunjungan ke museum, kami pergi ke tempat lain untuk mencari makanan khas daerah tersebut, sea food. Kami mendapatkan seporsi besar sushi yang lezat sebagai makan siang kami. Lokasi restaurannya di tepi pantai berbatu karang besar.

Sayangnya saat itu musim dingin, jadi saya gak tega juga mau main air. Duingiiiin byanget. Makan malam kami di daerah Yeongdeok, berupa kepiting raksasa rebus yang juga yummy. Akhir katanya adalah puas. Dalam perjalanan pulang dari lokasi makan malam ke tempat penginapan kami, saya menyaksikan bintang-bintang bertaburan yang indah sekali di langit yang biru beku.

Dan saya baru ingat, saat itu adalah tepat Valentine's Day. Hadiah terindah yang saya terima dari "keluarga" saya di Korea. Meskipun saya gak bisa melewatkan Valentine's Day dengan si mas saya, tapi kenangan ini sungguh sangat berharga (malamnya saya sempet ditelpon si dia yang juga lagi sibuk dengan kerjaannya di Seoul, sekali lagi kenangan Valentine's Day saya yang terindah).

Ya begitulah cerita jalan-jalan saya, di hari-hari menjelang akhir liburan musim dingin. Salam damai buat semuanya.

Peace

ps. Beberapa keterangan dalam tulisan saya ini saya ambil dari sumber : http://www.hwasuk.com, website yang memuat keterangan tentang Gyung Bo Fossil Museum, sebagai tambahan dari catatan harian perjalanan pribadi saya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.