Fitri Tersenyum Kembali

Adhe Mirza Hakim – Bandar Lampung

Jangan menilai sesuatu dari sampulnya….

Mas Anung biasa kami memanggilnya, seorang bapak muda dengan seorang istri dan 7 (tujuh) anak yang masih kecil-kecil, yang bungsu baru berumur3 bulan, sedang yang sulung baru saja lulus Sekolah Dasar. Mas Anung telah kami kenal hampir 6 tahun yang lalu, seorang yang sederhana dan jujur, dia telah membantu merawat, memelihara dan menjaga kebun kami selama ini. 

Dua minggu yang lalu, aku dengar Fitri, anaknya yang tertua tidak diterima di SMP Negeri pilihannya, karena nilainya yang tidak mencukupi untuk masuk ke sana, ada alasan yang dapat dimaklumi kalau dia tidak memperoleh nilai yang cukup untuk menembus masuk ke SMPN, karena dia harus membantu ibunya mengurus 6 orang adiknya yang masih kecil-kecil.

Selanjutnya Fitri mencoba mendaftar di satu Sekolah Madrasah Tsanawiyah milik Yayasan Swasta yang letaknya tidak jauh dari kantorku. Awalnya aku pikir Fitri pasti bisa diterima, ternyata Madrasah tersebut telah menutup pendaftaran penerimaan murid baru jauh hari sebelum Pengumuman Penerimaan Murid SMPN keluar. Fitri sempat bersedih karena teman-temannya sudah mulai masuk sekolah, sedang dia belum mendapat kejelasan apakah bisa sekolah atau tidak.

Sekolah Madrasah yang dipilih Fitri, menurutku tidak nampak bagus dipandang mata, bangunannya lusuh, bahkan kalau diperhatikan lebih dekat bangunannya sudah banyak yang retak-retak, duh…ngeriii kalau ambruk aja. Aku jadi penasaran, kenapa sekolah yang menurutku nyaris ambruk itu ternyata jadi favorit anak-anak lulusan SD, jika mereka tidak diterima di SMP Negeri. Aku yang masih menganggap remeh sekolah tersebut, meminta salah satu pegawaiku untuk mengecek ketersediaan tempat untuk Fitri masuk kesana. Jawaban yang didapat “Sekolah sudah tutup! Tidak menerima murid baru lagi!”.

Aku jadi tambah penasaran koq sekolah swasta yang lusuh ini berani menolak penerimaan murid baru yang sebenarnya jelas-jelas dapat mendatangkan income buat kas sekolah. Setelah tanya sana sini, termasuk mengorek informasi mengenai sekolah MTs ini, dapatlah jawabannya, sekolah ini menghasilkan lulusan-lulusan yang memiliki nilai yang baik dan dapat diterima di SMA Negeri, dan legalisasi Ijazah yang dikeluarkannya dapat diterima oleh semua pihak.

Sebenarnya ada beberapa sekolah SMP Swasta yang berada di dekat wilayah tempat tinggal Fitri, malah ada yang gedungnya sangat mentereng 3 (tiga) lantai dengan embel-embel sekolah standart nasional, lalu ada SMP Swasta yang lebih kecil gedungnya dan levelnya tidak jauh beda dengan MTs dekat kantorku itu, tetapi kabarnya legalitas SMP Swasta yang kecil ini masih diragukan karena legalisasi Ijazah dari sekolah itu tidak dapat diterima oleh pihak lain.

Sedang untuk memasukkan Fitri di sekolah yang mentereng itu jelas tidak akan diterima oleh Mas Anung, karena sekolah nasional itu milik Yayasan non muslim, walau dia hanya seorang petani kecil Mas Anung mempunyai idealisme dan keyakinan yang kuat soal Agama yang dianutnya, bahkan dia tidak mau ber-KB, kami sudah ingatkan bahwa anaknya sudah 7 (tujuh) malah kami mau minta 1 anaknya yang masih bayi , dia tidak beri.

Akhirnya jalan satu-satunya, aku harus menemui Kepala Sekolah MTs, untuk merundingkan kembali kemungkinan Fitri agar diterima masuk kesana. Aku minta ditemani salah satu karyawanku (As), yang dulunya alumni dari MTs tersebut, biar lebih cepat tahu siapa yang mau dihubungi.

 

Saat memasuki halaman sekolah, aku perhatikan ada sekitar 100-an siswa-siswi baru yang sedang mengikuti MOS (Masa Orientasi Sekolah). Hm…gimana nih acara MOS sudah mulai, sedang Fitri belum terdaftar disini, batinku.

As bertanya kepada salah satu guru yang ada di halaman, di mana kami bisa menemui Kepala Sekolah, guru tersebut menunjuk ke ruangan guru, di sana merangkap ruang KepSek juga. Aku masuk ke dalam, kulihat ada beberapa guru didalamnya, penampilan mereka sangat sederhana, salah satu dari mereka menunjukkan kepadaku di mana Pak KepSek duduk.

Ruangan KepSek itu ternyata hanya satu ruang kecil yang disekat oleh lemari-lemari buku dan arsip, yang juga tampak lusuh dan tua, ada meja kerja dan beberapa kursi plastic, segelas teh manis teronggok di atas meja, tampaknya belum diminum. As sudah mengenal Pak KepSek, yang biasa dipanggil Pak Karim, beliau menyambut kedatangan kami dengan sambil lalu, hehehe….dia pasti sudah faham betul dengan maksud kedatanganku, sudah jelas ini pasti mau ngerayu agar bisa meloloskan satu murid untuk diterima lagi.

halaman sekolah

Kondisi halaman sekolah

Pak Karim masih sibuk menulis saat aku mulai menjelaskan maksud kedatanganku ke sana. Beliau mendengarkanku sambil terus sibuk menulis, beliau sebenarnya menyimak semua yang aku sampaikan. Hanya beliau tidak bisa memutuskan apakah Fitri bisa diterima atau tidak, karena penerimaan murid baru sudah lama ditutup.

Beliau bertanya padaku, Fitri itu siapa? Aku jelaskan bahwa Fitri masih kerabatku, lalu Pak Kasim memancing pertanyaan, kenapa aku tidak memasukkan Fitri ke sekolah lain yang jelas-jelas masih bisa menerima murid baru, sedang MTs ini quotanya sudah mencapai 123 Murid, itupun sudah terlalu penuh kalau untuk jadi 2 kelas, sedang untuk buka satu kelas lagi ruangannya tidak memenuhi syarat. Sekolah MTs ini sekolah kecil, kelas 1, 2 dan 3 masing-masing hanya menempati 2 lokal/ruang kelas. Jumlah siswa baru yang mencapai 123 Murid itu harus di bagi jadi 3 kelas, agar para siswa bisa belajar dengan nyaman, masing-masing kelas menampung 41 siswa/kelas.

Tampaknya aku gak bisa merayu Pak Karim, beliau jelas-jelas memperlihatkan bahwa ini sekolah sudah full house! Akhirnya aku dengan upaya terakhir ngomong dengan jujur, sesungguhnya aku bisa saja memasukkan Fitri ke sekolah lain, tetapi aku merasa hal itu justru akan membuat diriku dan Fitri sama-sama tidak nyaman. Secara financial, aku mampu memasukkan Fitri ke sekolah yang lebih bagus secara fisik bangunannya, tetapi secara keyakinan, apakah itu akan membuat orang tuanya senang?

Aku yakin orang tuanya malah akan terusik. Aku jelaskan kenapa aku ngotot ingin Fitri sekolah di sini, karena sekolah ini paling dekat sama rumahnya (jadi gak perlu ongkos kendaraan, bisa jalan kaki) selain itu sekolah ini berbasis agama Islam, ini yang dikehendaki oleh Mas Anung dan Fitri. Selain itu aku juga merasa lebih nyaman untuk membantu sekolah MTs ini.

Aku jelaskan, seandainya harus bicara kasar, aku mau beli ‘bangku/kursi’ sekolah tersebut untuk Fitri. Aku perhatikan sekolah ini perlu semen, pasir, batu bata, dan cat untuk sedikit merehab sekolah ini agar bisa sedikit rapih dari wajahnya yang tampak lusuh termakan usia, sedang dana bantuan sosial dari Kanwil Departemen Agama belum juga turun, terakhir dapat bantuan seadanya itu 8 (delapan) tahun yang lampau, selebihnya sekolah ini berjuang sendiri. Kuakui murid-murid yang sekolah di sini kebanyakan anak petani dan pedagang kecil di pasar.

Mana ada anak orang mampu mau sekolah di sini, pasti milihnya ke sekolah yang mentereng. Tapi hebatnya guru-guru yang mengajar disini semua ikhlas lahir bathin mengabdi di sekolah kecil dan lusuh ini, sehingga para lulusannya justru mampu diterima di SMA Negeri. Aku bertanya pada Pak Kasim, berapa iuran/sumbangan buat sekolah dari siswa perbulannya, jawabnya hanya Rp. 15.000/bulan (Rp.10.000 buat spp sekolah dan Rp.5.000 buat les computer). 

Aku tercenung….uang sebesar itu paling juga buat beli 1 nasi bungkus dengan lauk ayam goreng atau malah Cuma lauk ikan. Bahkan kalaupun aku langsung bayar iuran sekolah itu full selama 1 tahun, masih kurang jauh dari SPP bulanan kedua anak-anak ku.

Duh…begitu besar perbedaan nilai uang yang terlihat, sesuai juga dengan penampilan sekolah anak-anakku dengan sekolah ini, ibarat langit dan bumi, tapi ada sesuatu yang ‘kuat’ kurasa disini, ada ‘nafas keihklasan’ dari para guru untuk mentransfer ilmu kepada para siswanya, walaupun dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Jadi kebayang deh kisah Ikal dan kawan-kawan dalam tetralogy Laskar Pelangi, serta keihklasan mengabdi sebagai guru dari Ibu Muslimah.

kondisi sekolah

Aku belajar dari sekolah lusuh ini, “Jangan hanya melihat dari rupa, tetapi lihatlah dari Niat dan Essensinya”.

Pak Kasim sudah jelas melihat maksudku, bahwa aku mampu membeli bangku untuk Fitri, tetapi beliau ingin menjelaskan ke aku bahwa uang bukan segalanya, beliau ingin kalau aku bisa membantu bukan semata-mata agar Fitri bisa diterima di sekolah ini, tetapi membantu karena ALLAH.

Yah….aku tahu, ini adalah salah satu cara ALLAH untuk ‘mengingatkan’ aku, agar melihat ke sekolah ini, yang selama ini aku lalui tapi tidak pernah aku perhatikan. Ini adalah sekolah kecil, tetapi walaupun kecil, sekolah ini telah menghasilkan murid-murid yang baik, yang dapat bermanfaat minimal untuk diri murid itu sendiri. Jujur aku akui, As yang kini sudah bergelar Sarjana Hukum dan sudah hampir 9 tahun mendampingiku di kantor, dulunya lulusan sekolah kecil ini.

Akhirnya…walau agak sedikit alot awalnya, Fitri bisa diterima juga disini, mengenai sumbangan yang sudah aku niatkan, Pak Karim tidak akan memintanya secara langsung, tetapi akan disesuaikan dengan apa yang mereka butuhkan. Aku bersyukur ternyata tidak ada kesan aji mumpung dalam diri Pak Karim.

Walau terlihat kesannya cuek, tapi dia tulus bekerja dan mengabdi buat sekolah kecil ini. Semoga masih banyak guru-guru seperti Pak Karim, yang tetap menjaga niat ikhlasnya untuk mendidik dan menghasilkan siswa-siswa yang bermanfaat buat diri mereka sendiri maupun lingkungannya, ditengah gempuran kebutuhan hidup yang semakin menggila. Hanya dengan selalu bersyukur kepada-NYA maka hidupmu akan selalu cukup, mungkin guru-guru yang ikhlas mengabdi ini telah ALLAH cukupkan 'kebutuhannya' karena mereka pandai bersyukur.

Kini Fitri bisa tersenyum kembali….dia sudah masuk sekolah hari Rabu kemarin…..akupun lega Alhamdulillah….

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.