Hatiku Tertaut Di Sini

Saw – Bandung

Hallo pembaca semua…

Saya ingin berbagi tentang sebuah rasa hati, yang berangkat dari kesederhanaan berpikir. Sederhana karena saya tidak berusaha mengaitkannya dengan berbagai sebab dan akibatnya.

Logo-Cimahi

Adalah Cimahi, kota yang awalnya hanya sekedar Kota Administratif, pada tahun 2001 mencoba mandiri sehingga dengan otonomi daerah lahirlah Kota Cimahi yang hanya memilki 3 kecamatan. Secara pribadi, saya menganggapnya terlalu kecil untuk sebuah kota yang mandiri, karena jumlah kecamatannya hanya tiga. Setahu saya, untuk sebuah kota, minimal harus ada empat kecamatan. Tapi begitulah, … saya pun tidak peduli.

Saya hanya melihat, begitu Cimahi mandiri, … banyak mall-mall bertebaran. Setahun bisa dua atau tiga maal diresmikan. Bingung saya. Karena banyak teman-teman, tetangga bahkan sahabat yang mengelola toko kecil di rumahnya makin terlindas dan akhirnya gulung tikar. Belum lagi maraknya toko-toko berwaralaba, yang nama belakangnya tak beranjak dari ‘mart-mart’ gitu…

Tapi, akhirnya saya pun tak peduli.

Dan ketidak pedulian saya lebih pada tidak berdayanya saya menghadapi itu semua. Apalah arti seorang saya.

Syahdan…

image

Jauh sebelum Cimahi berkembang pesat seperti ini, ia adalah hunian yang nyaman dengan udaranya yang menyegarkan. Supermarket masih jarang. Warung/toko-toko kecil bertebaran. Jika ingin belanja bulanan, bisa dipastikan berbondong-bondong masyarakat Cimahi dan sekitarnya datang supermarket yang tidak banyak tersebut. Termasuk saya. Pilihan belanja yang bijak, mengingat jika harus ke Bandung, waktu, tenaga dan biaya bisa-bisa malah membengkak. Kecuali jika memang diniatkan untuk tujuan yang lain, sehingga belanja hanyalah sebuah aktifitas sampingan.

Tapi, meski kini banyak pilihan tempat belanja, hati saya tak bergeming. Saya tetap setia pada pusat perbelanjaan lama. Meski sekedar belanja seratus duaratus ribu, saya tetap memilih ke sana, padahali supermarket yang lebih dekat ada lebih dari satu.

Kesetiaan saya di sana bukan tanpa sebab. Hati saya benar-benar tertaut di supermarket itu. Padahal dari segi kelengkapan, ada yang jauh lebih lengkap. Dari segi murahnya, ada yang lebih murah. Dari segi jarak, ada yang lebih dekat. Belum lagi jalan menuju ke sana, banyak lobang-lobangnya.

Beginilah awalnya :

Pada suatu hari, ketika saya sedang asyik memilih dan memilah barang kebutuhan, tiba-tiba karyawan di depan saya terjatuh. Kemudian ada gerakan-gerakan yang tidak teratur seperti kejang-kejang begitu. Kemudian dengan sigap para karyawan yang lainnya melakukan aktifitas ‘penyelamatan’ dengan cara menggotong masuk ke dalam sebuah ruangan tertutup. Dengan penuh keingintahuan, saya bertanya pada salah seorang karyawan yang masih stand by.

“Oh, … si AA’ tadi punya sakit epilepsy, bu.” Terangnya dengan ekspresi yang wajar sekali.

“Oh, …” justru kelihatan sekali saya yang terbengong-bengong. Saya miris, bisa-bisa setelah ini si AA’ barusan akan kena PHK.

Tetapi, ketika pekan berikutnya saya belanja lagi, saya melihat si AA’ masih tetap bekerja di supermarket tersebut. Sejak saat itu, saya sendiri tidak paham, ada semacam kedekatan rasa ketika saya berbelanja. Yang jelas, sepenuh penghargaan dari saya kepada pengelola supermarket tersebut, karena tetap bisa mempekerjakan seseorang yang mungkin, ketika terjadi hal yang sama di tempat yang lain, si AA’ tersebut akan langsung kena PHK.

Selain itu, ada tukang parkir yang tuna rungu sekaligus tuna wicara. Dia bekerja di sana dari usia lulus SD sampai sekarang dia sudah dewasa. Kepiawaiannya dalam mengelola perparkiran tak diragukan lagi. Sepertinya orang-orang yang berinteraksi dengannya setiap hari tak kesulitan dengan keterbatasannya. Komunikasi terjalin demikian lancarnya. Subhanalloh…

Ada juga pegawai kasirnya yang saya lihat punya cacat menetap di wajahnya, -maaf- dengan kondisi begitu, saya yakin di tempat lain tak akan ditempatkan di posisi ‘strategis’ semacam itu. Point tersendiri bagi saya, ketika ada pihak yang menilai seseorang tidak semata-mata pada penampilan fisiknya.

Dan yang lebih utama, ternyata dengan keterbiasaan saya berbelanja di sana, saya bisa menghemat waktu, meski jarak terhitung lebih jauh, tapi dengan keterbiasaan, saya tidak membutuhkan waktu banyak untuk mencari-cari barang yang saya perlukan. Tata letak barang sudah saya hapal.

Jadi, meski Cimahi sudah berdandan dengan mall dan supermarket yang bertaburan, … hati saya tetap terpaut di sini. Untuk memenuhi kebutuhan bulanan, sekedar mengajak anak-anak beli jajanan, bahkan sesekali mencari bumbu dapur yang kehabisan stok.

Ada kedekatan rasa yang susah dijabarkan….

Sepenuh penghargaan bagi pengelola Supermarket tersebut. Semoga diberikan keberkahan atas apa yang sudah dilakukannya.

Ilustrasi foto:

http://kun.co.ro

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/f/f6/Logo-Cimahi.png

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.