Kepompong Itu Sudah Menjadi Kupu-kupu

Alexa – Jakarta

Pengantar: Para pembaca tentu ingat lagu Kepompong bukan….?

“Persahabatan bagai Kepompong”, nah baru juga si penyanyi melafalkan bait itu aku tidak pernah melanjutkan mendengar lagu ini… sebab merasa aneh menyamakan persahabatan dengan kepompong.

Sampai suatu saat aku aku sedang browsing syair-syair lagu di internet dan terbukalah lirik lagu ini…. Lha kok bagus juga ya maknanya.

Demikianlah cerita di bawah ini juga cerita mengenai metamorphosis “kepompong yang menjadi kupu-kupu” – indah pada waktunya.

Beberapa hari ini Bocahku selalu telat pulang sekolah – biasanya jika sesuai dengan jadwal belajar di sekolah , dia akan sampai rumah sekitar jam 4.00 – 5.00 sore tapi sudah beberapa hari dia sampai rumah menjelang Maghrib. Karena dia selalu menginformasikan schedulenya dan kami selalu online via HP maka aku tidak terlalu khawatir. Sehabis mandi dan makan malam, dia buka-buka koran (yang ini merupakan kebiasaan barunya).

Akhirnya pada hari ketiga dia sudah tidak tahan lagi dan membuka percakapan denganku mengenai isi koran itu…”Nda (dari kata Bunda), ternyata isi iklan baris ini bohong semua ya…”. Yang mana, tanyaku. “Itu yang isinya lowongan kerja, di situ ditulis syarat-syarat: pendidikan SMA atau SMK, tapi pas kita telpon eh dia bilang harus tamatan SMA/SMK – yang kelas satu belum boleh nglamar.” Kita? Kita itu siapa sih…, tanyaku. “Yah aku dan anak-anak Primitif, kita khan kumpul di rumah Susan salah satu anggota gank primitif yang terletak di depan sekolah terus kita cari-cari kerja lewat iklan baris di Koran”, sambungnya.

Note: Gank Primitif berisi 10 anggota yang terbentuk saat mereka mengikuti program Latihan Dasar Kepemimpinan dari sekolahnya dan diselenggarakan selama tiga hari di Puncak. Tiap sepuluh siswa ditempatkan di satu kamar dengan fasilitas minim – kasur digelar di lantai, berbagi satu kamar mandi untuk sepuluh anak sehingga akhirnya lahirlah kedekatan dan istilah Primitif itu.

“Memang maksud iklan itu adalah lulusan SMA atau SMK…kalau masih sekolah khan takutnya nanti terganggu waktu belajarnya, padahal rata-rata itu kerja full time khan. Trus kenapa harus cari kerja….emang siapa yang suruh, memang uang saku dari Nda masih kurang?” tanyaku.

Akhirnya Bocahku menjelaskan bahwa mereka sedang membantu salah satu anggota primitif yang ber nama Dinda; si Dinda ini orangtuanya bercerai dan bapaknya bekerja serabutan. Ibunya sudah menikah lagi tapi yah namanya bapak tiri: suka-suka dia mau kasih duit apa enggak. Dan kemarin bapak tirinya hanya memberi setengah dari uang SPP yang harus dibayar, seraya menyuruh Dinda untuk menutupi kekurangannya….ach so sad.

Belum lagi Dinda juga tidak mendapat uang saku untuk transportasi dan jajan. Akhirnya pacar Dinda yang sudah bekerja yang menanggung sisa SPP dan memberi uang saku pada Dinda. Dinda tidak mau berlama-lama hutang budi pada pacarnya dengan alasan mereka beda agama jadi tidak mungkin hubungan mereka akan bersatu dalam perkawinan. Whaaat…? Sedih banget dengarnya, kenapa anak-anak kecil jadi dipaksa berpikir dewasa gitu?

Foto01 Keesokan harinya, gank primitif itu merubah strategi job huntingnya. Kali ini usai sekolah mereka langsung datang ke toko-toko di pusat perbelanjaan Blok M Square yang baru saja dibuka. Banyak lowongan untuk menjadi penjaga toko dan umumnya sistim kerjanya adalah shift-shiftan.

Tapi timbul lagi persoalan, yakni masalah tinggi badan. Dinda dan si Bocah sama-sama mungil dan sampai sekarang tingginya belum mencapai 150 cm. Akhirnya si Bocah ingat pada Ajit- anak tetangga yang bekerja pada suatu café gaul ABG di daerah Tebet Utara, menurut Ajit masih ada tempat sebagai waitress disana. Lumayan juga ternyata pendapatannya untuk ukuran anak usia belasan tahun gitu.

Gaji Pokok sesuai UMR di DKI yakni Rp.900ribuan, ditambah uang transport Rp.25.000.-/hari dan mereka boleh makan sesuai dengan menu yang tersedia di café itu. Masalahnya adalah waktu kerja – dengan status sebagai pelajar maka berarti Dinda harus ambil shift malam – nah kalau pulang malam gitu khan kendaraan umum sudah tidak beroperasi padahal dari Tebet ke rumah Dinda di daerah Cilandak cukup jauh.

Akhirnya Dinda tidak jadi mengambil kesempatan kerja itu. Keesokan harinya aku menelpon kepala sekolah dan mencari kemungkinan beasiswa bagi Dinda, ternyata pihak sekolah memang menyediakan beasiswa bagi anak berprestasi. Untungnya Dinda merupakan siswa berprestasi – yah antara Bocah, Dinda dan Susan selalu bersaing dalam pelajaran dan mereka selalu menempati posisi tiga besar.

Beasiswa baru bisa diajukan untuk tahun ajaran baru yang waktu itu masih kurang dua bulan lagi. Ibu kepala sekolah yang bijak akhirnya memanggil mamanya Dinda yang merupakan alumni sekolah itu serta merupakan mantan murid dari Ibu Kepala Sekolah. Dengan mengadakan pembicaraan dari hati ke hati akhirnya mama si Dinda menyanggupi untuk membicarakan masalah biaya pendidikan Dinda dengan suami barunya.

Entah karena malu masalah ini sudah sampai ke pihak sekolah, si bapak tiri akhirnya menyanggupi untuk menanggung biaya pendidikan Dinda. Saat memasuki tahun ajaran baru ini, ibu kepala sekolah tetap memproses beasiswa bagi Dinda, beliau tidak ingin masalah biaya pendidikan Dinda akan mengemuka dan jadi batu ganjalan manakala ada masalah diantara mamanya Dinda dan si bapak tiri. Dinda sendiri walaupun sudah diberi uang jajan oleh bapak tirinya akhirnya mengambil kerja partime di café gaul Tebet itu tiap Sabtu-Minggu; hasil yang diterimanya disimpan untuk berjaga-jaga manakala “musim kemarau” tiba.

Foto02

Persahabatan bagai kepompong; mengubah ulat menjadi kupu-kupu, Persahabatan bagai kepompong; hal yang tak mudah berubah jadi indah, Persahabatan bagai kepompong; maklumi teman hadapi perubahan…

 

 

 

Ada seorang sahabat mengatakan bahwa Bocahku beruntung mempunyai Bunda sepertiku tapi terus terang aku yang merasa beruntung punya anak yang tumbuh menjadi makin baik…semoga seterusnya demikian, amin…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.