Marto Sapi

Handoko Widagdo – Solo

Kami memanggilnya ‘Marto Sapi’. Orangnya kurus. Sudah tua. Garit-garit di wajahnya yang hitam tampak jelas. Rambutnya yang sudah dua warna dikuncir di belakang. Tulang kakinya seakan hanya terbungkus oleh kulitnya yang juga hitam. Namun kaki itu sangat kokoh. Bahu dan iganya tak lagi terlihat kekar. Namun bahu dan iga-iga itu masih menyisakan bekas-bekas otot yang dua puluh tahun yang lalu pasti gempal.

Aku bertemu pertama kali dengannya saat aku menengok calon rumahku setahun yang lalu.

sapi Lemb

Sore itu, seperti biasanya, aku datang ke lokasi calon rumahku yang masih berupa pondasi dan dinding bata yang baru setengah meter tingginya. ”Kiki hati-hati” kata istriku. ”Awas nanti digigit sapi!” Aku tertawa dalam hati. Dasar orang kota. Sapi hanya bisa menggigit rumput, tidak menggigit manusia. Kiki anakku tetap saja nyelonong mendekati sapi yang dipancang diantara tumpukan batu bata dan gundukan pasir. Setelah memindahkan Astrea ke bawah pohon nagka, akupun menyusul anakku. Truk pasir datang dengan asap knalpot yang hitam. Segera saja para pekerja menurunkan pasir. Tak lebih 15 menit pasir dari Gunung Merapi telah pindah dari bak truk ke ledokan sawah di depan calon rumahku. Marto Sapi segera menuju ke sapinya. Mencabut pathok. Dan menuntun sapinya menjauh dari truk yang mesinnya masih tetap menyala. ”Sapinya Pak?” sapaku. ”Inggih Mas” jawabnya tanpa menoleh kepadaku. Sejak saat itu aku selalu mendapatinya memindahkan sapi dari dekat rumahku begitu aku datang menengok rumahku. Setiap kali aku datang ia mencabut pathok dan menuntun sapinya menjauh dari calon rumahku.

Setahun sudah kami menempati perumahan ini. Saya sendiri mulai menempati rumah ini begitu akhad kredit di BTN selesai. Pada mulanya hanya ada empat keluarga yang menempati perumahan bekas lahan sawah ini. Saya dengan istri dan Kiki anak saya; Pak Musyafa dengan istrinya dan bayinya yang baru berumur enam bulan. Ia adalah seorang guru Bahasa Inggris di SMA swasta. Pak Marcel satpam sebuah bank swasta yang istinya baru mengandung. Pak Marcel berasal dari Flores dan menikahi gadis Jawa. Serta Pak Pensiunan yang tinggal bersama istrinya. Kami memanggilnya Pak Pensiunan. Dia lebih senang dipanggil demikian. Namanya adalah Raden Rekso Negoro. Beliau adalah pensiunan salah satu kesatuan. Diantara kami, Pak Pensiunan adalah yang paling tidak pernah berkumpul. Dia hanya tinggal di dalam rumah. Hanya kadang-kadang ia membersihkan kebun bunga di halaman yang hanya 2 X 1 meter itu.

Kami memanggilnya Marto Sapi. Seingatku nama itu diberikan oleh kami para penghuni perumahan. Seperti nama-nama lain yang kami berikan kepada ’tetangga baru kami’, demikian juga kami memberi nama baru bagi Marto Sapi. ’Darto Uruk’, karena kami mengenalnya sebagai orang yang bisa membantu kami untuk mencarikan tanah uruk. ’Suminah Cuci’, karena membantu kami-kami mencuci pakaian. ’Mbok Nah Soto’, si penjual soto di simpang perumahan kami. ’Yu Par Pijat’, tukang pijat yang sering kami pakai jasanya jika otot-otot kami penat karena kerja. Dan ’Manto Laut’, si penjual ikan laut. Mereka semua kami beri nama baru sesuai dengan fungsinya bagi kami para penghuni perumahan.

Orang-orang kampung tetangga kami tersebut banyak yang beralih pekerjaan. Sawah mereka telah dijual kepada developer untuk membangun perumahan ini. Mereka tidak lagi bisa bertani -menanam padi. Jadi mereka beralih pekerjaan untuk melayani kami para pendatang yang menempati bekas sawah mereka.

Marto Sapi, demikian kami memanggilnya. Bukan karena ia adalah penjual daging sapi. Namun karena dia adalah satu-satunya warga kampung yang masih memelihara sapinya. Ia adalah satu-satunya yang tidak menjual sapinya ketika sawah mereka telah beralih fungsi menjadi perumahan.

sapi dicancang

Sebenarnya ketika kami mulai menempati perumahan ini setahun yang lalu, masih ada tiga warga kampung yang memelihara sapi. Namun Darto Uruk menjual sapinya beberapa bulan lalu. ”Sulit mencari pakan Mas” ia memberi penjelasan mengapa sapinya dijual, ’Lagian kotor. Bau. Malu kami kepada panjenengan-panjenengan para priyayi yang sudah membuat desa kami menjadi kota.” Tak lama setelah Darto Uruk menjual sapinya, Mbah Kartimin, suami Mbok Nah Soto, juga menjual sapinya. Hasil penjualan sapi Mbah Kartimin dibelikan Honda GL dan dipakai oleh Kenthos, anaknya, untuk mengojek. Jadilah kami memanggilnya Kenthos Ojek.

”Kapan sapinya dijual Lek?” tanya Manto Laut suatu sore. Sambil menuntun sapinya Marti Sapi menjawab kethus: ”Tidak akan saya jual!”

”Lek Marto apa ndak malu sama priyayi-priyayi itu.” sambung Manto Laut.

”Lagian sekarang rak sulit mencari pakan tho Lek?” Cempluk, istri Manto Laut menimpali.

”Lha kalau cuma cari pakan untuk dua ekor sapi saya masih sanggup.” jawab Marto Sapi.

”Wis tho Kang, sampeyan rak wis tua. Jual saja. Duitnya untuk beli Honda. Kan Wibowo cucumu itu bisa lebih gagah kalau naik Honda.” Mbok Nah Soto ikut nimbrung.

”Atau beli Tipi Kang. Kan sampeyan bisa nonton Pak Manteb atau kethoprak di Tipi.” usul Mbah Kartimin.

Ia tidak menjawab. Segera saja ia nyelonong pergi meninggalkan tetangga-tetangganya yang mencoba membujuknya untuk menjual sapinya. Sejak saat itu Marto Sapi jarang terlihat bercengkerama bersama tetangga-tetangganya. Kegiatan sehari-harinya selalu sama. Menuntun sapinya ke bekas sawah yang belum ditumbuhi rumah. Setelah memancang pathok dan mengikat sapinya, ia pergi mencari rumput. Di sore hari, saat saya pulang kantor, saya selalu berpapasan dengannya sambil menuntun sapi di simpang perumahan.

Dari 38 rumah di gang saya, baru 12 rumah yang sudah ditempati. Yang lain masih kosong. ”Sebagai investasi Dik” kata ibu yang rumahnya di Surabaya pada suatu hari. ”Tolong titip ikut diawasi ya Dik. Kalau ada apa-apa tolong tilpon saya. Ini nomor tilponnya.” ia menyodorkan kartu nama dengan nomor tilpon kantor suaminya.

Marto Sapi kadang menyabit rumput di halaman rumah-rumah yang belum berpenghuni tersebut.

Sore itu, seperti biasanya, saya berpapasan dengan Marto Sapi. Ditambatkan sapinya di rumah kosong depan rumah saya. ”Maaf ya Mas, saya tak sempat cari rumput tadi siang. Masuk angin.” Setelah tali diikatkan pada pagar rumah kosong di depan rumah saya, ia menuju parit depan rumah saya untuk menyabit rumput yang sudah terlihat tinggi.

Entah karena terburu-buru atau karena tali pengikat sudah rapuh, sapi itu lepas dari ikatannya. Sapi itu nyelonong ke halaman rumah Pak Pensiunan yang penuh bunga. Dan memakan bunga begitu saja. ”Hei! Kurang ajar!” terdengar teriakan dari dalam rumah Pak Pensiunan. ”Sapi siapa ini?” Pak Pensiunan keluar sambil membawa tongkat. Dipukulnya sapi tersebut sambil mengumpat-umpat. Sapi itu segera saja lari meninggalkan halaman Pak Pensiunan. Marto Sapi terhenyak. Digapainya tali yang masing terpasang di sapi tersebut.

Dapat….

Terpegang…..

Namun sapi itu terlalu kuat bagi Marto Sapi yang sudah uzur. Marto sapi terpelanting dan terjatuh. Ia terseret sapi yang lari kesetanan. Kami semua mengejar sapi tersebut. Sampai akhirnya kami bisa menghentikannya. Marto Sapi pingsan. Darah mengalir dari sekujur tubuhnya. Tubuhnya lunglai. Tangan yang keriput itu tetap saja mencengkeram tali yang menghubungkannya dengan sapinya.

Jakarta, Juli 2009

Handoko Widagdo

 

Ilustrasi foto:

http://tabulampot.files.wordpress.com/

http://lembayungsolo.wordpress.com

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.