Melayu Bangka Dalam Tradisi Rebo Kasan

Aimee – Bangka


Note Redaksi: seperti yang sudah-sudah, artikel ini adalah tayang ulang artikel lama yang pernah tayang di bulan Juli 2009. Salah satu kekayaan budaya Indonesia.


Kepulauan Bangka yang indah permai..di sini aku bercerita untuk mu. Duduk lah sambil menatapku, ingin aku ceritakan semua yang kutau tentang mu….

Banyak sudah aku bercerita tentang pantai mu, tentang laut mu, tentang makanan mu. Tapi banyakkah sudah yang mengetahui tentang adat mu?

parai beach

Aku sebagai seorang anak dari kepulauan Bangka, banyak mengetahui tentang ritual adat masyarakat Cina Bangka. Wahai teman…tentu kau bertanya pada ku, mengapa aku menyebut kata Cina buka Chinese atau Tionghoa. Betul sekali….Cina.

Dalam peradaban masyarakat Bangka selama ini, tak pernah aku dengar ada orang menyebut dirinya Chinese atau Tionghoa di tanah Bangka. Kami hidup harmonis berdampingan layak nya saudara sedarah. Kami menyebut non-Cina dengan sebutan “Urang Pri”. Singkatan dari kata pribumi. Atau terkadang “urang melayu”Dan mereka menyebut kami ‘Urang Cin” dari kata Cina. Jangan lah tersinggung jika di sana, mendengar kata kata “Urang Cin” atau “Urang Pri/ Urang Melayu”

Memang begitulah kami mengenal sesama kami. Bahkan perkawinan campur antara Urang Cin dan urang melayu menjadi hal lazim dan sudah tak mengherankan lagi. Dahulu pernah kan saya cerita tentang sahabat saya Akon si Murai Malam? Nah, suami nya itu 12 bersaudara, di mana dari 12 bersaudara itu hanya 2 orang yang menikah dengan Urang Cin, yang lain nya menikah dengan Urang Melayu. Begitulah…tak ada yang heran dan mengherankan.

Selama ini saya banyak sekali bercerita tentang ritual yang biasa dilakukan Urang Cin kepada teman teman semua, namun kali ini saya ingin sedikit bercerita tentang ritual yang dilakukan oleh Urang Melayu.

Banyak hal ini saya ketahui karena memang semenjak kecil saya mendengar kadang bahkan ikut menonton ritual-ritual tersebut. Walau sesungguhnya saya hanya ikut ambil bagian menuh-menuhin tempat. Tanpa tau untuk apa, dan mengapa ritual tersebut dijalankan. Apakah yang melatar belakangi sebuah adat sehingga menjadi tradisi yang terus dijalankan hingga kini.

Semenjak saya mulai bisa melek internet, mulailah saya menjelajah ke sana sini untuk mengetahui lebih dalam tentang apa yang dulu saya tonton, saya lihat dan saya nikmati tanpa tau alasannya.

Hasil artikel ini secara rinci merupakan hasil searching pada pusat-pusat kebudayaan kepulauan Bangka.

Upacara Rebo Kasan

Tak pernah secara langsung ikut dalam ritual ini, namun Akon kemarin menceritakan dari semua ipar iparnya semua rata-rata pernah ikut ritual ini. Maklumlah, ipar-ipar Akon kan Urang Melayu semua. Jadi wajar saja jika mereka mengetahui lebih banyak tentang upacara Rebo Kasan.

Upacara ini adalah upacara tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Melayu di pesisir pantai. Upacara ini merupakan upacara tolak bala. Ritual biasanya dilakukan di Pantai Batu Karang Mas, tak jauh dari desa Air Anyir, kecamatan Merawang (asal usul nya Delon Idol neh..). tapi entah apa sebab musabab nya, sekarang berpindah ke Masjid Baitul Imam, masih di desa yang sama.

Yang unik dari tradisi ini adalah seluruh peserta rata-rata berpakaian serba putih, terkecuali tokoh agama Islam yang menambahnya dengan memakai sorban, dan juga aparat pemerintahan mengenakan seragam dinas nya.

Rebo Kasan berasal dari kata Rebo Kasat. Yang berarti hari Rabu terakhir di Bulan Shafar (bagi yang Muslim mungkin lebih mengerti penanggalan islam di banding saya, mohon bantu jika salah penulisan atau pengartiannya). Di mana menurut keterangan turun temurun para ulama, pada hari tersebut, Allah akan menurunkan bala yang besar dari terbitnya fajar hingga siang tengah hari. Jadi kebanyakan masyarakat melayu yang menjalani ritual ini jika hendak bepergian atau melakukan suatu niatan besar selalu diusahakan melewati jam 2 menjelang sore hari.

Pelaksanaan upacara biasanya diadakan dari ujung batas kampung dengan membawa makanan atau bubur merah putih disertai dengan ketupat tolak bala dan air wafaq. Ketupat tolak bala ini unik, karena anyaman janur nya akan bisa terlepas menjadi dua helai seperti sebelum di jalin, apabila ujung dan pangkal anyaman ditarik dalam satu tarikan. Bagaimana membuat nya…entahlah. Saya sampai saat ini diajarkan membuat ketupat biasa saja oleh guru dan teman saya sampai menghabiskan daun muda pohon kelapa dirumah saya juga gak bisa berhasil terus.

rebokasan2

Uniknya lagi, ketupat untuk ritual tersebut kosong tanpa isi, ini yang saya tau cerita nya dari ipar-ipar Akon.  Setelah jalinan ketupat tersebut ditarik oleh salah seorang tetua adat, maka diartikan semua bala tertarik dari dunia. Masyarakat yang ikut juga ikut menarik atau melepaskan anyaman ketupat tolak bala mereka masing masing sambil menyebut nama keluarga. Menarik anyaman itu harus berdua. Tentu disambi dengan pembacaan doa tolak bala.

Kemudian daun janur yang sudah tertarik dan lepas anyaman nya tersebut dikumpulkan, kemudian diarak ke pantai Batu Mas Air Anyir untuk di buang sebagai pertanda bala sudah dilepaskan dan dibuang.

Selanjutnya barulah proses untuk air wafaq. Air diambil dari sumur dan ditampung kedalam dua buah kendi besar. Kemudian dengan sehelai kertas putih yang bertuliskan ayat alquran dicelupkan kedalam kendi, kemudian di doakan oleh tetua adat. Oleh tetua adat, sehelai kertas putih yang sudah ditulisi berbagai ayat al Qur`an itu dicelupkan kedalam air dan selanjutnya didoakan. Air kemudian dibagikan kepada masyarakat.

rebokasan3

Prosesi selanjutnya kembali ke masjid dan makan bersama, makanan juga adalah hasil gotong royong masyarakat setempat yang menyediakan. Ada ketupat, lepet, buah-buahan dan berbagai macam lauk pauk. Biasanya warga masyarakat yang ikut akan membawa masing masing satu dulang (baki/nampan)tergantung kemampuan ekonomi nya.

rebokasan4

rebokasan5

Seperti nya begini dahulu ya..lagi malas ngetik nya..hehehe…nanti lanjut lagi dengan tradisi yang lain. Masih ada tradisi “Perang Ketupat” dan “Nganggung”. Entah mana yang duluan aku ceritakan. Itupun mudah mudah nunggu mood nya gak terlalu lama ya. Tetaplah duduk menatapku untuk menunggu cerita selanjutnya.

Sebuah cerita selayang pandang dari Bumi Sepintu Sedulang, Bangka Belitung.

Sumber foto: infobangka.com

50 Comments to "Melayu Bangka Dalam Tradisi Rebo Kasan"

  1. bangka.us  19 January, 2012 at 06:49

    Info yang bermanfaat. Semoga kita dapat lebih mencintai budaya daerah kita sendiri
    terima kasih

  2. akrie maulana  25 September, 2011 at 02:04

    tk’s postingannya, jadi ingat masa kecil… sebelum pindah ke Jakarta … dulu saya pernah ikut ritual ini saat masih di Bangka. sekalian minta izin copas untuk bahan postingan di web saya (http://variety-indonesia.blogspot.com)

  3. Kine Risty  16 January, 2011 at 09:39

    Adat yang uniqe..moodnya udah kembali blm ya?

  4. Lani  16 January, 2011 at 06:12

    MAS DJ : wakakkaka………njur koyok hormat bendera wae kkkkkkkkkkk

  5. Djoko Paisan  16 January, 2011 at 05:36

    Lani Says:
    January 16th, 2011 at 04:22

    MAS DJ : mrk tentu sj seneng merasa dihormati

    HOOOOORMAAAAAAT GRAAAAAK……!!!!

  6. Lani  16 January, 2011 at 04:22

    MAS DJ : mrk tentu sj seneng merasa dihormati

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.