Cermin Sang Nyonya 2

Urip Herdiman Kambali

Dari Shadow Dancing Hingga Epitaph
 
1/
Sebenarnya ia sudah bosan melihat album-album fotonya. Namun apa daya, jika sedang kosong dan tidak ada yang bisa dikerjakan lagi, maka ia pun menoleh kepada album-album fotonya.
 
2/
Tentu ia senang melihat foto dirinya, apalagi ketika masih remaja. Cantik, kenes, dan seksi. Siapa cowok yang tidak suka meliriknya? Hampir semua cowok di sekolahnya, pasti pernah meliriknya. Tetapi tidak semua cowok dilihatnya kecuali yang datang naik Mercy atau Volvo. Tak apa disebut piala bergilir, yang penting hati senang.
 
Dan ia akan selalu mengingat dengan cowok mana ia pergi ke langit ketujuh pada malam perpisahan SMA dulu. Dulu yang jauh sekali. Malam yang penuh gairah, malam yang tak akan dilupakan.
 
3/
Ia akan tersenyum sendiri melihat album foto berikutnya, album masa kuliah. Ia adalah ratu di kampusnya. Tetapi akhirnya lelaki yang menggiringnya ke pelaminan adalah bandot tua teman bapaknya, yang menghadiahi rumah mewah, lengkap dengan semua isinya, termasuk mobil dan rekening di bank.
 
Ia masih bisa tersenyum walau pernikahannya kandas. Hidup jalan terus. Malam-malamnya tidak pernah sepi, habis di lantai dansa hingga pagi.
 
“Do it light, taking me through the night
Shadow dancing, baby you do it right
Give me more, drag me across the floor
Shadow dancing, all this and nothing more…”*
 
4/
Dan setelah itu, tiga kali pernikahan dilalui, seperti pelesiran saja. Empat kali pernikahan, menghasilkan empat anak. “Lalu buat apa orang menikah ya, kalau akhirnya seringkali harus kandas?” pikirnya geli.
 
5/
Ia selalu melihat foto-fotonya itu di kala senggangnya kini. Apalagi yang harus diurus sekarang di usia yang tidak muda lagi menjelang senja? Anak-anak sudah besar, semua punya rumah sendiri. Cucu-cucu ada yang rajin datang, tetapi ada juga yang tak pernah dilihatnya. “Tidak masalah, emang gue pikirin!”
 
Arisan? Ia sudah bosan ikut arisan. Ada sebelas arisan yang ia ikuti. Dari arisan uang jutaan perak sampai arisan brondong muda pernah ia jelajahi.
 
Kegiatan sosial? Ah, itu sih kecil. Sederet jabatan ketua, sekretaris dan bendahara di berbagai yayasan pernah ia pegang. Nombok sudah biasa, yang penting namanya dikenal luas. “Apa iya kalau aku mati nanti masuk surga?”
 
6/
Kini ia ikut latihan meditasi dan rajin datang ke pengajian. Tetapi sesekali ia juga datang ke kebaktian minggu pagi. Ia pindah agama karena suami keduanya, tetapi ia tidak bisa melupakan Tuhan yang Disalibkan yang ada di gereja tua dekat rumahnya dahulu, ketika ia masih kanak-kanak.
 
7/
Apalagi ya? Ah, ini dia. “Apakah aku yang dahulu dengan aku yang sekarang masih orang yang sama?” katanya setengah bertanya.
 
Ia bertanya di atas ranjangnya yang sepi, sambil mendengarkan sebuah lagu dari zaman psychedelic yang sudah membatu.
 
“Confusion will be my epitaph
As I crawl a cracked and broken path
If we make it we can all sit back and laugh
But I fear tomorrow I’ll be crying
Yes I fear tomorrow I’ll be crying …”
 
 
Jakarta, 28 – 30 Juli 2009
Urip Herdiman K.
 
Catatan :
* Shadow Dancing, lagu dari The Bee Gees.
** Epitaph, lagu dari King Crimson
 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.