Singapura Dalam Lensa: Unique

Josh Chen – Global Citizen

Hello GCNers,

Melanjutkan serial Singapura Dalam Lensa, kali ini aku ingin mengajak Pembaca sekalian untuk ikut mengintip apa yang ditangkap lensa kameraku di Singapura.

Mengambil thema Unique, menggambarkan apa yang ditangkap lensa kali ini adalah hal-hal yang unik, yang mungkin hanya bisa kita jumpai atau kita lihat di Singapura, tidak akan pernah di tempat lain.

Masih di dekat Raffles Palace, setelah janjian bertemu dengan teman kami, kami semua berjalan menuju ke arah Asian Civilizations Museum. Dan di pinggir sungai di sanalah, aku menjumpai 3 patung yang sangat ekspresif. Satu orang sedang duduk, nampak jelas dari penampakan kontur wajah dan cara berpakaiannya, menunjukkan bahwa dia ini adalah seorang Caucasian. Dua orang lagi yang sedang berdiri dan kelihatan sedang bercakap dengannya menunjukkan 2 etnis yang berbeda, yaitu etnis China dan etnis Melayu. Nampak dari dandanan mereka, yang satu berpeci dan bersarung sementara yang satu lagi berbaju dan bertopi khas China.

Diversity 01Diversity 02 

Apa yang aku tangkap adalah si pematung dan si pemajang patung di situ ingin menyampaikan bahwa Singapura adalah tempat di mana diversity dijunjung tinggi dan dihargai tanpa melihat perbedaan ras/etnis dan agama.

Jump to the River

Keunikan berikutnya adalah saat mata ini menangkap scene unik di pinggir sungai dekat jembatan yang hendak menuju Asian Civilizations Museum. Lima anak kecil sedang bermain di pinggir kali. Satu anak duduk santai sambil mengangkat tangannya, satu lagi di belakangnya, dan yang tiga entah bermain dorong-dorongan ke sungai atau memang sedang berlomba untuk menyeburkan diri mereka ke sungai. Sungguh unik!

Setelah capek berputar langkah di dalam museum (akan dituturkan terpisah), kami berjalan menuju ke arah Esplanade. Rute yang kami tempuh, karena ketidaktahuan kami, ternyata cukup jauh, melintasi jalan besar yang cukup ramai. Pedestrian di sepanjang jembatan menuju Esplanade ternyata sangat nyaman ditapaki.

Melangkahkan kaki sambil menikmati pemandangan sore hari menjelang senja, melihat kegiatan kumpulan manusia dari kejauhan, melihat aparat patroli sungai berputar-putar di bawah kami dengan pakaian serba hitam, merupakan pengalaman unik yang sangat asik.

Tiba-tiba, terdengar bunyi yang sangat khas dari kejauhan. Seketika ingatan melayang ke tahun 2004 – 2005 di Medan. Bunyi itu sangat khas dan sering sekali terdengar ketika itu. Bunyi baling-baling helikopter Chinook! Wow, dalam hatiku…Chinook! Ketika itu di langit Medan sangat sering terdengar dan melintas heli Chinook ini untuk misi kemanusiaan ke Aceh setelah dilanda Tsunami Besar 2004.

Benar! Sesosok Chinook nampak dari kejauhan dan dengan cepat terbang mendekat!

Chinook

Tak menunggu lama, reflek tangan bergerak mengabadikan sosok anggun nan unik ini. Unik karena Chinook adalah satu-satunya heli yang digerakkan oleh 2 baling-baling di depan dan belakang tubuhnya. Chinook dengan bendera Singapura tertangkap sempurna sosoknya.

Ternyata bukan hanya Chinook yang wira-wiri sore itu, ada beberapa kali pesawat tempur melintas di langit biru Singapura sore itu. Dalam posisi tiga, beberapa kali nampak dan terdengar desing dan deru yang khas silih berganti. Jenis apa pesawat tempur itu, tak jelas lagi. Pertama karena aku tidak akrab dengan model dan jenis pesawat tempur, dan kedua sungguh terlalu cepat untuk memerhatikannya.

Chinook masih melayang-layang ke sana kemari. Tak lama moment yang unik kembali tertangkap. Chinook yang melayang menuju arah Singapore Flyer, kembali tertangkap kameraku.

Helicopter & Singapore Flyer

Kaki melanjutkan langkah dan sampailah kami di Esplanade. Gedung unik dengan atap berdesain unik ini sungguh meriah dan ramai dengan pengunjung. Di seberang kejauhan terlihat sosok gagah Merlion yang sedang memuntahkan air nampak kontras dengan para manusia yang bersantai di pelataran tempat Merlion berdiri (sudah ada di Singapura Dalam Lensa: Building).

Setelah sejenak beristirahat, kami melanjutkan penjelajahan lebih ke tengah lagi…

Suara ledakan keras menghentak telinga dan dada. Di kejauhan kami melihat ada sebentuk kapal perang sedang menembakkan artileri beratnya ke udara. Suaranya sungguh menggedor dada dan gendang telinga. Tak lama diselingi suara gemuruh di kejauhan dan dengan cepat mendekat, tenyata pesawat tempur lagi yang melintas di udara senja itu.

Sekonyong-konyong kami melihat para fotografer yang bertaburan di situ dan para penonton yang lain menengadahkan kepala dan memandang ke kejauhan dari arah kota. Penasaran kami dibuat, tanpa ditunda lagi, ikut lah kami semua menengadah ke arah yang sama. Empat titik nampak dari kejauhan. Satu sosok gagah di paling depan jelas Chinook yang tadi sempat aku abadikan. Mereka berempat kelihatan ‘menggondol’ sesuatu.

Parade Senja 01Parade Senja 02 

Latar belakang langit senja semburat berbagai warna, biru, abu, merah, oranye sangat kontras dengan empat titik yang terbang mendekat. Ternyata, mereka membawa bendera Singapura berukuran raksasa terbang melintas. Satu Chinook dan tiga Apache beriringan menjauh.

Masih belum semua, suara menggelegar luar biasa keras menyalak dari ujung artileri kapal perang yang berlabuh di depan Esplanade. Setelah aku bertanya ke security Esplanade yang berdiri di dekat situ, katanya saat itu adalah rehearsal untuk persiapan peringatan kemerdekaan Singapura. Jadi teringat Parade Senja tempo doeloe, tapi yang ini jauh lebih ciamik…

Setelah puas dengan Parade Senja, kami berjalan memasuki Esplanade. Beberapa toko seni, piringan hitam, memorabilia jadoel, dan beberapa toko alat musik hanya kami lewati begitu saja.

Sayup-sayup suara instrumen musik menyeruak telinga. Tidak menunggu lagi, kami mencarinya. Makin mendekati sumber musik, makin jelas bahwa yang dimainkan adalah dominan alat musik gesek dalam irama klasik. Dan benar memang, di tempat terbuka yang di’setting menjadi semacam panggung dengan latar belakang berwarna warni, kontras sekali dengan kesahajaan anak-anak remaja yang sedang bermain di situ.

Tiga remaja putri dan satu remaja putra duduk sambil bermain alat gesek, biola dan cello (kalau tidak salah namanya). Irama cepat-lambat, naik-turun, dinamis-mendayu silih berganti terdengar. Rupanya kedatangan kami sedikit terlambat. Setelah bermain 2 komposisi, si remaja putra berdiri dan menyampaikan pengantar singkat komposisi terakhir yang akan mereka bawakan. Lagu soundtrack dari satu film kartun Jepang dan soundtrack dari Dora Emon susul menyusul menutup penampilan mereka malam itu.

Esplanade Classical Show

Irama musik soundtrack Dora Emon yang rancak sungguh apik dan harmonis menutup pertunjukan singkat malam itu.

Satu hari kembali berlalu di Singapura…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *