Fun With Fan

EQ – Di Balik Dedaunan

clip_image002

Udara panas menyelimuti kota Jogja seharian penuh. Di dalam dunia kecilku, udara panas pun serasa memanggang tubuh dan otakku. Maklum, kamar pribadiku berada di bawah tanah, seperti bunker, jadi akses udara untuk wira-wiri sangat terbatas, sedang AC memang sengaja tidak di pasang. Menghindari pemborosan dan kecemburuan sosial, begitu alasan papahku.

Walhasil begitu keluar kamar benar-benar berasa like fresh from the oven. Parahnya udara di luar rumah lebih panas lagi. Matahari menyengat dengan tanpa sungkan-sungkan. Mak nyas !!!! Akibatnya meskipun dalam kamarku panas, tetap saja saya berusaha menyamankan diri dengan fasilitas seadanya. Fan ! yup, menghidupkan fan atau wayer atau kipas angin yang besarnya tidak seberapa tapi lumayan menolong juga.

Fan hijau kecil kuno yang sudah berumur entah berapa tahun itu di paksa bekerja tanpa cuti. Mencoba sekuat tenaga untuk mengurangi hawa panas, dan saya sangat berterimaksih dengan setulus hati dan penuh rasa syukur atas bantuan fan tersebut.

Jika saatnya harus dibersihkan dari debu, maka dengan suka rela saya akan kutak-katik membersihkannya dengan cairan pembersih kaca yang berbau wangi lavender.

Well….ngomong-ngomong soal fan, saya jadi terusik (seperti biasanya) untuk sedikit menengok dan membongkar kisah di balik benda penangkap angin tersebut.

Fan atau kipas adalah sebuah alat penggerak angin, yang berfungsi untuk membuat udara di sekitarnya menjadi lebih sejuk. Jika kita mencoba meraba sejarahnya, maka kita harus menengok jauh ke belakang. Ribuan tahun silam. Melihat sejarahnya, kipas memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai sebuah symbol atau lambang dan sebagai barang ornamental yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari atau sebagai benda pakai. Sejak dari jaman dahulu, kipas di buat dari berbagai macam jenis bahan. Kipas yang paling sederhana terbuat dari dedaunan, yang di gerak-gerakkan untuk menghasilkan angin guna mendinginkan/ menyejukkan udara di sekitarnya.

Kipas pertama di sebut sebagai “daun yang bergerak” yang fungsinya untuk mendinginkan badan dari udara gerah serta mengusir serangga (misalnya nyamuk). Kipas pertama di ketahui di buat dari daun palem yang lebar, dan hal ini bisa di lihat dari bekas-bekas makam di Syria dan makam-makam kuno Mesir.

Sedangkan dalam sejarah Amerika kuno, kebudayaan Maya, Aztec, dan Amerika Selatan, kipas yang di gunakan terbuat dari bulu burung.

clip_image004 clip_image006

Kipas kuno berusia lebih dari 3000 tahun

 

Di Cina, kipas pertama kali di buat dari sepasang potongan bamboo yang diraut tipis dan dijalin berhadapan menjadi satu. Kipas tertua di Cina ini di temukan berasal dari abad 2 Masehi. Dalam karakter huruf Cina, kipas di tulis : 扇, etimologinya adalah mengambil asal gambar bulu di bawah naungan atap. Kipas satu bagian (rigid fan), yang dalam bahasa Cina disebut pien-mien, berarti adalah menggerakkan udara.

Dalam masyarakat Cina, kipas adalah bagian dari simbol status sosial. Kipas lipat di bawa ke Jepang pada abad ke 8 dan di populerkan di Cina satu abad kemudian. Kipas lipat dalam bahasa Jepang di sebut Akomeogi, (衵扇; Hiôgi) yang di pakai sebagai pelengkap berbusana resmi kaum bangsawan pada masa periode Heian. Kipas ini terbuat dari potongan-potongan tipis kayu Hinoki (Japanesse cypress) yang disatukan dengan benang. Jumlah potongan kayu tipisnya di bedakan berdasarkan tingkat social dan kebangsawanan di empunya kipas.

Kipas jenis ini sampai jaman sekarang masih di gunakan oleh para pendeta Shinto. Juga di gunakan dalam upacara pelantikan (pemberian mahkota) bagi raja dan ratu Jepang.

clip_image008

Kipas lipat Jepang (Akomeogi) dari abad ke 9

 

Di Cina, kipas lipat menjadi populer sebagai sarana fashion sejak periode Dinasti Ming, sekitar tahun 1368- 1344. Hangzhou adalah pusat penghasil kipas lipat pada masa itu. Ada sebuah kipas lipat yang di sebut dengan nama Mai Ogi (kipas untuk menari tarian kipas Cina), yang terbuat dari sepuluh keping stick dengan kertas tipis yang memuat gambar lambang keluarga.

Kipas lipat (yang dalam bahasa Jepang di sebut sebagai sensu dan dalam bahasa Cina di sebut sebagai shān zi), pada masa sekarang sering di pakai sebagai salah satu suvenir khas dari negara Asia Timur. Sementara itu di Jepang, Geisha adalah salah satu pengguna kipas yang khas. Biasanya kipas lipat yang di bawa para Geisha adalah jenis maiko atau kipas khusus untuk menari.

Sementara itu di Eropa, pada abad pertengahan, kipas lenyap dari sejarah. Kipas dari Eropa masa katolik awal disebut sebagai Flabellum (kipas seremonial), yang berasal dari abad 6. Kipas ini lebih sering berfungsi sebagai pengusir serangga yang sering mengerubuti roti dan anggur. Setelah sempat menghilang dari peredaran, kipas kembali di perkenalkan oleh bangsa Portugis yang membawanya dari Cina dan Jepang, pada abad ke 15 dan menjadi popular di Eropa.

Tahun 1600 an, kipas lipat di bawa dari Cina dan menjadi terkenal di Eropa. Semenjak saat itu, banyak sekali jenis bahan yang digunakan dalam pembuatan kipas lipat. Bahan rangkanya di buat dari tulang, gading, batok kura-kura, kerang, kayu dan logam yang diukir, sedangkan bahan kipasnya terbuat dari sutra, satin, kulit, renda, kertas tipis dan bahan lain yang di beri ornamen sangat indah. Bulu burung masih digunakan sebagai bahan pembuat kipas lipat. Bahkan ada juga kipas yang diberi hiasan dari batu-batu mulia seperti mutiara, intan, berlian, safir dan sebagainya.

clip_image010 clip_image012

Para wanita bangsawan Eropa yang memegang kipas

 

 

 

 

 

 

 

Ada beberapa jenis bentuk dasar kipas, yaitu :

clip_image014 clip_image016

Bentuk dasar kipas Anatomi dasar kipas

clip_image018clip_image020clip_image022

Kipas Jepang, Kipas Korea dan Kipas Palembang

 

Selain sebagai pengusir hawa panas, kipas juga memiliki fungsi lain, yaitu sebagai pengusir serangga, sebagai sarana fashion, lambang status social dan juga sebagai senjata.

Ada jenis kipas lipat yang kerangkanya terbuat dari besi, dan di gunakan sebagai senjata. Kipas semacam ini di sebut sebagai “kipas besi “. Dalam bahasa Jepang di sebut sebagai Tessen. Ada juga yang di sebut dengan nama Harisen, yaitu kipas lipat yang terbuat dari kertas tipis dan berbentuk sangat sederhana, yang pada masa sekarang sering di jumpai dalam gambar-gambar novel grafis sebagai salah satu jenis senjata mematikan. TiÄ› shān adalah sebutan kipas senjata dalam bahasa Cina.

TESSEN

Tessen adalah kipas besi yang sangat terkenal di Jepang, di gunakan sebagai senjata semasa perang. Kipas ini terbuat dari kerangka besi solid dan daun kipas yang menyerupai kipas lipat, namun terbuat dari bahan yang sangat kuat. Kipas ini di bawa dengan tangan atau di selipkan di dalam obi. Kipas lipat memainkan peran penting dalam etika formal budaya Jepang. Para samurai jarang sekali bisa terpisah dengan benda satu ini, di samping tentu saja pedang panjang mereka.

Bagian depan Tessen, yang di sebut sebagai gunbei-uchiwa yang berbentuk setengah lingkaran dan solid seringkali di gunakan sebagai tanda/ sinyal bagi sebuah pasukan dalam perang.

Selanjutnya, gunsen atau senjata kipas lipat seringkali di bawa oleh para bushi sebagai sebuah senjata utama. Belakangan Tessen yang terbuka lebih sering di gunakan bahkan di pakai sebagai pelengkap pakain sehari-hari dan menjadi populer di kalangan para Samurai. Seorang Samurai kadang kala harus meninggalkan pedangnya jika berada dalam kondisi-kondisi tertentu, seperti misalnya sedang bertamu, dalam pertemuan penting dengan pembesar/ pejabat, dalam upacara keagamaan atau upacara tertentu lainnya, saat-saat itulah, seorang Samurai memerlukan Tessen untuk di selipkan di dalam Obi-nya. Tanpa Tessen, mereka akan merasa tidak nyaman dan tidak aman. Tessen yang kemudian menjadi terkenal adalah Tessen yang memilki delapan atau sepuluh batang kipas yang tebuat dari besi solid.

Ada banyak kisah seputar Tessen pada masa perang. Salah satu pahlawan dari Jepang saga, Yoshitsune, dengan penuh kesetiaan dan ketekunan mempelajari ilmu pedang dan tessen jutsu dari tengu. Para pelatih Kendo terkenal pada masa Shogun Tokugawa, Yangyu Ryu, juga di kenal sebagai ahli menggunakan kipas lipat besi sebagai senjata. Mereka memperagakan betapa sebuah Tessen bisa menyebabkan kematian hanya dengan kibasan anginnya, ketika di adu dengan pedang telanjang. Seorang ahli pedang pada abad 16 bernama Ganryu, mengkhususkan dirinya dengan hanya menggunakan Tessen sebagai senjatanya. Bagi seorang ahli pedang, memilki kemahiran menggunakan Tessen adalah nilai lebih. Bahkan kemudian ada pula tata cara khusus untuk membawa dan meletakkan serta menghormat dengan menggunakan Tessen.

Sementara itu dalam kisah “Journey To The West”, salah satu siluman sakti yang kemudian membantu Sun Go Kong, yaitu Siluman Kerbau, memiliki istri yang bersenjatakan kipas besi raksaa, yang apabila di kibaskan mampu meinmbulkan badai besar

Jika di Jepang kipas lipat bisa menjadi senjata yang mematikan, maka di Eropa, kipas lipat memiliki fungsi-fungsi yang lebih “romantis”. Perkembangannya pun cukup pesat. Sekitar pertengahan abad 17, muncul untuk pertama kalinya kipas yang di gerakkan dengan mesin. Mungkin itu nenek moyangnya kipas angin yang ada di dalam kamar saya. Kipas ini bergerak otomatis searah jarum jam. Mulai di perkenalkan pada pertengahan abad 17 dan menjadi terkenal sejak abad 19. Budaya Eropa yang fashionable menyebabkan muncul bentuk dan ukuran kipas yang beragam.

Sebagaimana telah di ketahui bahwa di Inggris, Spanyol dan beberapa negara lain, sedikit banyak kipas di gunakan sebagai alat untuk berkomunikasi secara rahasia. Ada bahasa-bahasa isyarat tertentu yang menggunakan kipas.

Bahasa kipas yang masih di gunakan saat ini diantaranya adalah :

1. Kipas yang dipegang di dada : “ kamu telah memenangkan cintaku “

2. Kipas tertutup yang di sentuhkan di ujung mata sebelah kiri : “ kapan aku boleh menjumpai dirimu ? “

3. Sejumlah batang kerangka kipas di perlihatkan untuk menjawab pertanyaan : “ pada jam berapa ? “ (jumlahnya tergantung dari jam yang ingin di tunjukkan).

4. Gerakan mengancam dengan kipas tertutup : “berhatilah-hatilah, jangan bertindak bodoh ! “

5. Kipas yang setengah terbuka, di tekan pada bibir : “ kau boleh menciumku “

6. Bertepuk tangan (satu kali tepukan) sambil membawa kipas terbuka : “ maafkan aku “

7. Menutupi telinga sebelah kiri dengan kipas terbuka : “jangan bocorkan rahasia kita “

8. Menutupi mata dengan kipas terbuka : “ aku mencintaimu “

9. Menutup kipas terbuka dengan perlahan-lahan : “ aku berjanji untuk menikahimu “

10. Menggerakkan/menghela/ menarik kipas melewati mata : “ maafkanlah “

11. Menyentuh ujung kipas dengan jari : “ aku berharap untuk dapat bicara denganmu “

12. Menyentuhkan dan mendiamkan kipas ke pipi sebelah kanan : “ ya “

13. Menyentuhkan dan mendiamkan kipas ke pipi sebelah kiri : “ tidak “

14. Membuka dan menutup kipas beberapa kali : “ kau kejam “

15. Menjatuhkan kipas : “ kita berteman “

16. Mengipas-ngipas pelan penuh arti : “ aku sudah menikah “

17. Mengipas-ngipas dengan cepat : “  aku bertunangan ! aku bertunangan ! "

18. Meletakkan handel kipas ke bibir : “ciumlah aku “

19. Membuka kipas dengan lebar : “ tunggulah aku “

20. Meletakkan kipas di belakang kepala : jangan lupakan aku “

21. Menempatkan kipas di belakang kepala dengan jari terbuka : goodbye “

22. Kipas dipegang di depan muka dengan tangan kanan :” ikuti aku “

23. Kipas di pegang di depan muka dengan tangan kiri : “ aku ingin berkenalan denganmu “

24. Kipas di pegang melewati telinga kiri : “ aku berharap bisa bebas darimu “

25. Menggerakkan/ menarik kipas melalui dahi : “ kamu sudah berubah «

26. Memutar kipas dengan tangan kiri : “ kita sedang di awasi “

27. Memutar kipas dengan tangan kanan : “ aku mencintai orang lain “

28. Membawa kipas terbuka di tangan kanan : “ Ah, kamu terlalu berharap “

29. Membawa kipas terbuka dengan tangan kiri : “ kemarilah, dan bicaralah padaku “

30. Menarik kipas : “ aku benci padamu “

31. Menarik kipas melewati pipi : “ aku mencintaimu “

32. Memperlihatkan kipas tertutup : “ apakah kau mencintaiku ?”

Nah, bahasa kipas tersebut jaman sekarang sudah jarang di gunakan, karena selain sulit dan tidak terlalu praktis (harus membawa kipas kian kemari) juga tidak lagi menjadi popular, karena kemajuan teknologi. Hanya di beberapa negara, seperti Spanyol, bahasa kipas masih digunakan, meskipun tidak lagi terlalu sering seperti dulu, hanya untuk hal-hal tertentu saja, khususnya yang berhubungan dengan hal-hal yang sifatnya romantisme.

Dalam perkembangannya, kipas lipat lebih sering digunakan sebagai barang souvenir dan kenang-kenangan pada acara-acara tertentu, termasuk diantaranya sebagai souvenir pengantin (di Indonesia)

.clip_image024

Kipas Suvenir pernikahan a la Jogjakarta

 

Dalam banyak kesempatan, kipas lipat juga di gunakan sebagai alat untuk promosi atau barang koleksi. Salah satunya adalah kipas yang di gunakan oleh produk Coca Cola. Juga Kipas yang di buat sebagai kenangan Oloimpiaade 1932 Los Angeles dan Olimpiade 2008 di Beijing.

clip_image026 clip_image028

Kipas Olimpiade 2008, Beijing Kipas Olimpiade 1932, Los Angeles

 

Kipas Olimpiade 2008 Beijing memiliki beberapa tanda khusus, seperti warna merah yang artinya adalah keberhasilan dan kemegahan. Kerangkanya terbuat dari bambu yang diberi warna. Sembilan bilah bamboo warna gelap dan delapan bagian bilah bamboo warna terang. Angka 8 dan 9 adalah warna keberuntungan dan kebahagiaan bagi tradisi Cina. Lebar kipas bila di bentang adalah 16, 5 inci atau 41, 25 cm. Besar !

Saya sendiri adalah salah seorang penyuka kipas, meskipun tidak mengkoleksinya. Saya hanya menyimpan beberapa buah kipas milik mamah saya alm. Salah satunya yang paling saya suka dari koleksi kecil tersebut adalah sebuah kipas dari kayu cendana berwarna coklat natural, yang berbau wangi, dengan ornament krawangan kecil-kecil, rumit dan cantik. Kipas tersebut adalah kipas yang di beli beberapa belas tahun lalu di Bali.

clip_image030 clip_image032

Kipas Bali dari kayu cendana Kipas kecil dari batik seharga 2000 IDR

 

Oh ya, ada satu informasi, bahwa di Amerika dan banyak Negara Eropa memiliki museum kipas. Sayangnya di Indonsia saya belum pernah menemukan informasi tentang museum kipas, padahal Indonesia juga punya kebudayaan yang berhubungan erat dengan kipas. Diantaranya adalah kebudayaan mengipasi pengantin dengan kipas besar yang terbuat dari bulu burung (imitasi) atau bahkan bulu burung merak yang cantik dan mengilap indah, sang pembawa kipas adalah sepasang gadis kecil yang di dandani komplit, dan disebut sebagai Patah Pengantin (khususnya di Jawa) . Kebiasaan itu nampaknya sekarang sudah di gusur dengan AC atau kipas angin bertenaga mesin. Selain itu juga ada kipas yang disebut dengan nama Tepas (jawa). Kipas berbentuk persegi panjang atau bujur sangkar, yang di buat dari anyaman bamboo dan di beri gagang agak panjang dari bahan bamboo juga. Kipas ini biasanya di gunakan tukang sate untuk membuat api arang. Juga oleh masyarakat pedesaan yang masih mempergunakan tungku berbahan bakar kayu.

clip_image034

Bentuk dasar tepas jawa

Jaman sekarang juga ada kipas-kipas lucu dari bahan plastic yang bisa di lipat menjadi kecil dan di simpan dalam kantong, dengan ornament modern, seperti Barbie, Strawberry Shortcake, Hello Kitty dan sebagainya.

Udara masih cukup gerah meskipun kipas angin kecil saya sudah berusaha dengan sungguh-sungguh mendinginkannya. Namun begitu sudah saatnya saya menghentikan tulisan ini sampai di sini. Kisah kipas cukup sampai di sini saja. Salam kipas-kipas ^^v

clip_image035

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.