Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Mbah Surip, I Love You Full… May You Rest in Peace…

Tuesday, 4 August 2009

Viewed 890 times, 1 times today | 28 Comments |

Redaksi Baltyra.com

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak donk, mantep donk
Daripada kamu naik pesawat kedinginan
Mendingan tak gendong to
Enak to, mantep to
Ayo.. Kemana
Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak tau…

Kenal dengan lagu di atas ? Bingung dengan lagu di atas?
Lagu di atas dengan judul Tak Gendong adalah milik Mbah Surip. Penyanyi yang sedang naik daun dengan lagunya.
Lahir dengan nama Urip Ariyanto di Mojokerto. Sebelum menjadi seniman, Mbah Surip menjalani berbagai macam profesi. Mulai pekerjaan di bidang pengeboran minyak, tambang berlian bahkan lelaki yang mengaku memiliki gelar Drs, Insinyur, dan MBA ini pernah mengadu nasib di luar negeri seperti Kanada, Texas, Yordania, dan California.

Mbah Surip selalu tampil di depan publik dengan gaya ”kebesarannya”, rambut gimbal serta topi, baju, dan celana berwarna bendera Jamaika. Gaya ”rastafarian” ini memang mengacu pada gaya pemusik reggae Bob Marley. Banyak yang menafsir, ia pengikut Bob Marley yang mencintai kebebasan berekspresi.

Mbah Surip telah mengeluarkan sekurangnya lima album rekaman nyanyi. Tahun 1997 ia mengeluarkan album Ijo Royo-royo. Disusul album Indonesia I (1998), Reformasi (1998), Tak Gendong (2003), dan Barang Baru (2004).

Untuk ukuran seorang penyanyi, prestasinya itu tentu cukup meyakinkan. Tapi apa boleh buat, industri rekaman negeri ini nyatanya lebih memilih artis-artis “wangi” ketimbang memilih Mbah Surip yang cuma beraroma parfume murahan dan wangi rinso yang meruab dari rambutnya nan gimbal sehabis keramas tiga hari sekali.

Sampai akhirnya Lagu Tak Gendong merubah nasib Mbah Surip, sejak bulan Mei 2009, menerobos dalam hamparan lagu mendayu-dayu yang umumnya dikumandangkan para anak band. Selain terdengar dalam ring back tone (RBT) ponsel, Mbah Surip—pencipta dan penyanyi lagu itu—hampir setiap hari muncul di televisi, menjadikan Mbah Surip sebuah fenomenal, menjadikan Mbah Surip kaya mendadak.

Sayangnya apa yang manusia dapat di dunia ini semuanya hanya fana semata. Ketenaran nama tidak dapat melawan panggilan Tuhan, penyanyi fenomenal Mbah Surip meninggal dunia, Selasa (4/8/2009) pukul 10.30 WIB. Penyanyi 'Tak Gendong' itu sempat dilarikan ke RS Pusdikkes, Jakarta Timur.

Nyawa Mbah Surip tidak bisa terselamatkan oleh dokter di RS Pusdikkes, Jakarta Timur. Penyanyi lagu 'Tak Gendong' itu telah meninggal saat tiba di rumah sakit tersebut. Meninggalnya Mbak Surip dikarenakan Gagal Jantung.

Menjelang kematiannya, Mbah Surip telah mengeluh bahwa badannya letih. Namun ia menolak dibawa ke rumah sakit karena takut dikerubuti penggemarnya. Mbah Surip meninggal dunia di kampung Makassar, di kediaman Mamik Prakoso. Mbah Surip sempat menyantap bubur ayam dan tidur. Tetapi Mbah Surip tidak pernah bangun lagi dalam tidurnya. Kata terakhir yang diucapkan Mbah Surip sebelum tidur adalah I Love You Full…

Salah satu keinginan Mbah Surip yang belum kesampaian adalah menikahkan putri sulungnya di kampung, Mbah Surip ingin pulang kampung dan berjiarah di makan orang tuanya. Masih banyak keinginan keinginan Mbah Surip, yang akhirnya dibawanya menuju liang lahat.

Manusia merencanakan tetapi Tuhan menentukan. Jika saatnya kita dipanggil, apakah kita sudah siap ? Apakah Mbah Surip telah siap ?

Salah satu sahabat lama Mbah Surip mengatakan, bukan gagal jantung yang menyebabkan kematian Mbah Surip.

Tetapi ketenaran dan kepadatan jadwal yang menyebabkan semuanya. Sejak lagu Tak Gendong menjadi Hit, Mbah Surip menjadi terkenal, jadwal panggung siap dan malam dan diberbagai pelosok telah menjadikannya sebagai pencari uang.

Selamat jalan Mbah Surip…so long…may you rest in peace…


About Mbah Surip


MBAH Surip, alias Urip Ariyanto, kini mendadak ngetop setelah lagu nyentrik “Tak Gendong” itu melejit. Dia rajin nongol di televisi. Ring back tone-nya laris manis, diunduh jutaan orang. Kantungnya mendadak buncit oleh duit. Milyaran? “Itu versi quick count,” katanya, sembari terbahak.

Dulu, dia lama mengamen di jalan. Berkali-kali gagal, kini Surip jadi penyanyi beken. Berubahkah si Mbah? Wartawan VIVAnews Edy Haryadi mengikuti kegiatan Mbah Surip seharian di Jakarta. Di tengah kesibukan syuting, Surip menuturkan apa arti popularitas dan rezeki itu baginya. Berikut petikan obrolan kami pada Rabu, 9 Juli 2009.

Bagaimana proses penciptaan lagu ‘Tak Gendong’?
Hahahaha… Saya bikin lagu di sana. Di Amerika. Tepatnya di California. Tempat manusia dengan kehidupan yang baik.

Sedang apa saat itu sehingga dapat inspirasi lagu ‘Tak Gendong’?

Saat itu saya bekerja di pengeboran minyak. Saya melihat ada orang sakit, ada orang pingsan, ada orang keseleo. Saya lihat ada tolong-menolong. Gotong-royong. Sifat manusia. Akhirnya di dalam hati muncul, ah tak gendong saja. “Tak gendong ke mana-mana… Enak toh, mantep toh...” Hahahaha…

Sudah berapa album yang dikerjakan sampai sekarang?
Ada tujuh. Ijo Royo-royo, Siti Maelan, Ada Barang Baru, Indonesia Satu, Bonek, Tak Gendong.

Tak Gendong itu lagu lama?

Iya lagu lama. Tapi musiknya musik baru, hahahaha… Dan ada syair yang baru. “Where are you going? OK my darling.”

Katanya penghasilan dari ring back tone (RBT) telepon bisa menghasilkan 4,5 milyar?
Ya, bisa lebih. Bisa lebih banyak lagi. Pokoknya milyaran lah…hahahaha.

Uang sebanyak itu buat dibelikan apa?

Kalau Anda mau dibuat beli apa? Hahaha. Saya belum berani ngomong, kecuali kalau saya sudah beli saya berani ngomong. Tapi cita-cita saya mau beli helikopter. Saya sering malu membaca dikatakan artis tidak ada yang punya pesawat. Kalau ada helikopter seken, saya mau beli… hahahaha.

Ada berapa provider yang mengusung lagu ‘Tak Gendong’?
Sembilan provider. Di Fleksi kabarnya peringkat satu. Sedang di provider lain selalu masuk lima besar yang paling banyak diambil.

Mulai kapan uang masuk sebanyak itu?
Saya bingung kalau ditanya mulai kapan. Yang tahu manajemen.

Mbah Surip lahir di mana?
Mojokerto. Tanggal 6 Mei.

Tahun?
Pokoknya umur saya baru 20 tahun lebih… hahaha. Saya sudah melewati enam sampai tujuh presiden, sejak Bung Karno.

Bisa diceritakan kapan Mbah Surip masuk dapur rekaman?
Saya membuat album dengan uang tabungan Mbah sendiri. Saya lupa habis berapa. Tapi Rp 50 juta lebih. Zaman dulu kan lebih mahal. Album pertama saya keluar tahun 1996, ‘Ijo Royo-royo.’ Saat itu saya rekaman sendiri. Kasetnya lalu saya titip ke warung-warung, ke toilet-toilet. Kebetulan yang jaga teman saya sendiri.

Album kedua juga biaya sendiri?
Semua. Semua album saya buat dengan biaya sendiri. Saya senang saja merekam kaset saya sendiri.

Bagaimana hasil penjualan kaset Mbah Surip?

Alhamdulilah, meledak. Laku banyak. Malah untung. Bisa kalau cuma buat beli helikopter seken.

Uang tabungan hasil kerja di perusahaan minyak?

Sebagian iya.

Kenapa berhenti di perusahaan minyak?
Ya berhenti saja. Bukan karena bosan. Saya bekerja mengalir saja seperti air.

Mbah Surip tadi memberi pengemis dan pengamen uang Rp 50 ribu, kenapa?
Biar merasakan rejeki Mbah. Mbah kan kedengarannya sudah sukses. Mereka kan tidak tahu apakah uangnya sudah turun atau tidak. Memang beli cabai uangnya langsung dapat? Nah, Mbah ada uang terkumpul. Lalu apa salah saat saya shooting saya turut memberi uang jajan. Mereka sebagian kan keluarga saya. Hahahaha… Jadi, ya biar merasakan keringat saya. Siapa tahu doanya.

Bukankah semakin kaya seseorang biasanya semakin pelit?

Hahahaha… Kaya itu kaya apa sih? Nggak ada. Kaya perasaaan. Berkat persaudaraan Mbah merasa berkeluarga, berteman.

Mbah Surip sepertinya sudah kenal dengan wilayah Blok M?
Mereka memang bagian dari keluarga saya. Tidak berpikir apa-apa. Yang penting persaudaraannya itu. Saya nongkrong di daerah Blok M sejak 1989. Saya aktif di teater, drama-drama. Sanggar Populer, Teguh Karya, Arifin C. Noer, Renny Djajusman, Didi Petet, Lenong Rumpi dan masih banyak lagi.

Mulai kapan Mbah bermusik?

Saya ini bisanya nyanyi. Kalau musik teman-teman.

Pernah menyangka pada usia tua seperti sekarang Mbah berada di puncak popularitas?

Hahahaha. Mbah sekali lagi hanya berjalan ke arah jarum jam melangkah, dari waktu ke waktu. Apabila terjadi ya baru bisa ngomong. Kalau tidak terjadi kan tidak bisa ngomong. Seperti mendapat rejeki. Kalau angan-angan kan tidak terduga. Bukan karena rejeki ring back tone (RBT) saja.

Kalau dari ring back tone Mbah Surip, berapa jumlah uang yang didapat?
Saya belum berani bicara. Sebab sekarang ini baru sebatas perkiraan orang-orang. Itu realita yang tercatat. Tapi yang di tangan belum. Jadi belum bisa ngomong berapa pastinya. Beritanya sekian. Jadi ini seperti quick count. Keputusan KPU-nya belum… hahahaha.

Jadi angka milyaran baru kata orang?

Iya, versi quick count.

Mbah sendiri belum menerima uangnya?

Belum. Uangnya belum ada di tangan. Saya belum bisa ngomong kapan uang itu sampai di tangan Mbah. Mungkin baru di tangan manajemen. Jadi, masih di provider.

Bagaimana rasanya? Deg-degan tidak mau terima uang milayaran rupiah?
Tidak. Saya sudah biasa megang uang milyaran rupiah sebelumnya. Saya pernah pegang Rp 10 miliar, saat bersama artis-artis.

Mbah Surip ini gelarnya apa ya?
Mau minta gelar apa? Hahahaha…

Katanya Mbah juga Master Filsafat?
Iya. Menurut anda gelar master Filsafat ada di mana? Di UI dan UGM. Saya mengambil gelar ini di Universitas Terbuka. Gelar ini baru saja saya saya ambil.

Kalau informasi soal RBT jumlahnya berapa Mbah?

Ya, yang ngomong kan wartawan. Ngomongnya macam-macam. Katanya berjuta-juta yang di-download.

Tapi mobil yang dinaiki ini baru Mbah?
Baru. Baru seminggu. Sebelum naik mobil, Mbah sering naik motor buat operasional. Karena mobil macet. Saya tidak tahu berapa harga mobil ini. Yang beli manajemen atas nama Mbah.

Kalau uang RBT itu pernah Mbah rasakan?

Pernah merasakan. Jumlahnya Rp 100 juta. Itu bukan uang RBT. Tapi uang master RBT. Saya menerimanya dari provider Telkom. Saya lupa bulan apa saya menerimanya.

Buat apa uang Rp 100 juta itu Mbah?

Buat ngopi saja. Rokok dan jajan… hahahaha.

Siapa yang mengajak kerjasama RBT?
Namanya Adik OB. Dia bilang Mbah kan punya master, ayo dibuat RBT. Akhirnya saya dapat uang persekot Rp 100 juta.

Kapan Mbah membentuk manajemen?

Hampir sebulan ini. Manajemen Kampung Artis.

Mbah punya banyak lagu hit, apa punya rencana akan dibuat RBT juga?
Iya lah. Yang penting di-RBT kan. Kalau diterima masyarakat lagi kami bersyukur. Rencananya terus dilepas. RBT yang mau kita lepas judulnya ‘Bangun Tidur.’

Apa arti popularitas buat Mbah?
Ya arti popularitas adalah sebuah nama yang disebut-sebut orang. Artinya senang saja. Saya sendiri tidak terkejut, tapi juga tidak bersikap biasa saja. Tujuannya menambah persaudaraan. Banyak kenalan, senang dapat banyak saudara.

Mbah sedang kerja apa saat di Amerika?

Kerja di pengeboran minyak. Pertambangan. Jadi kerja cari minyak. Di mana tempat minyak saya dikirim. Lalu kita ikut ngebor minyak. Senang saja bisa menghasilkan minyak. Perusahaan saya mulai Union, Medco, Phillips, terakhir saya bekerja di Sekayu.

Waktu kecil Mbah sudah biasa bekerja?

Sudah. Kadang saya jualan es, sayur. Jaman dulu kalau kita ngerepotin orang tua kan tidak enak.

Mbah kabarnya suka sekolah?
Iya. Katanya kalau mau jadi orang pintar harus sekolah. Harus rajin, nabung. Saya sekolah macam-macam. Mulai SMA, SMEA dan STM. Saya ambil menurut persamaan. Jadi begitu STM saya sudah lulus, saya ambil SMA dan SMEA persamaan. Pertimbanganya kalau teknik tidak laku siapa tahu ekonomi laku. Ternyata ijazah saya itu hanya jembatan. vivanews.com

Sumber: BLOGKITA

Share This Post

Posted by Tuesday, 4 August 2009 on 14:23.

Categories: Nusantara. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

28 Responses to “Mbah Surip, I Love You Full… May You Rest in Peace…”

Pages: [3] 2 1 »

  1. 28
    sunrise Says:

    MORNINGTINTING : pada dasasrnya manusia tuh bertopeng

  2. 27
    EA.Inakawa Says:

    Pastilah TUHAN sayang Mbah Surip,bertahun bilang IYA hidup bergelandangan dan tiba tiba NIKMAT datang tak terbilang,semuanya pastilah rahasia TUHAN.Saya jd ingat nasib nya sama dgn Gombloh yang kemudian populer dengan tiba tiba di usia senjanya lalu terpanggil jua oleh Sang Khaliq. Smg iya damai disana…amin

  3. 26
    NYAI EQ Says:

    Lagunya mbah Surip..sempat bikin saya mengernyitkan alis..maklum, saya emang suka risih dengan lagu-lagu ” ajaib ” semacam itu…..tapi karena kemudian keseringan mendengar, ya jadi biasa aja….tapiiiii…setelah lihat video klip-nya..duh ! saya gak suka tuh….gak tahu ya……leluconnya gak lucu blash…tapi ya sutralah..masing-masing orang khan berbeda pendapat ya..jadi buat saya lebih baik mendengar lagunya saja, tanpa harus melihat vidoe klipnya…hehhehehe..peace !

  4. 25
    NYAI EQ Says:

    @IWAN SATYANEGARA KAMAH

    wah Pak Iwan….kita sama -sama cari suaka rupanya…mari jadikan kost-kost’an baru ini lebih indah, ceria dan rapi…….berdoa..mulai…..

  5. 24
    lembayung Says:

    Originally Posted By : Gandalf the GreySemoga mbah Surip tenang di sana,
    dan semoga pak Iwan Satyanegara Kamah tenang dan betah di sini…

    Hahaha… smoga Tukang Cat bisa mengecat hari-harinya pak ISK juga… supaya warna warniiiiiii…..bukan cuma merah,putih, hitam aja, tapi juga ijo,biru,kuning,unguuuuuuuu!!!!!

  6. 23
    Gandalf the Grey Says:

    Semoga mbah Surip tenang di sana,
    dan semoga pak Iwan Satyanegara Kamah tenang dan betah di sini…

  7. 22
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Iya Sirpa. Kasihan mBah Surip. Syairnya lagunya membuat saya dibuat mati dari keanggotaan sebuah komunitas maya, di “rumah lama” saya. Kalau mBah Surip tak mungkin kembali lagi, saya pun begitu.

  8. 21
    elnino Says:

    Mbah Surip kecapekan, lha sopo2 digendong… Semoga tenang di alam sana ya mbah…

Pages: [3] 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)