Keramahan Ibu Nani

Saw – Bandung

Dingin pagi ini, menyeretku pada kenangan tentang seseorang yang padanya ada setumpuk penyesalan. Karena pada pagi yang sama beberapa hari yang lalu, sosoknya telah menoreh prasasti, yang jika terbaca selalu menghadirkan rasa sesal yang dalam.

Rasanya baru kemarin…

Setiap pagi sosoknya selalu melintas, bolak balik di depan rumahku… senyumnya selalu terkembang dengan sapaannya yang tulus, meski wajahnya pias pucat pasi. Langkahnya pelan, tangan terayun ayun terkesan memaksakan diri untuk berolahraga di setiap pagi. Terus terang, sebagai penghuni lama, aku sangat mengenal sosok persosok penghuni perumahan ini. 
 
Tapi, pada ibu yang satu ini, aku sama sekali belum mengenalnya. Biasanya aku akan proaktif menyapa dan menanyakan banyak hal pada orang yang sudah jelas ramah seperti itu. Tapi, berhubung ketemunya hanya tiap pagi di saat aku harus berjibaku dengan setumpuk kerjaan berkaitan dengan urusan anak-anak sekolah sama suami yang berangkat kerja, maka keinginanku untuk mengenalnya lebih dalam tidak pernah kesampaian. 
 
Hingga pagi itu, di dingin yang sama … 
 
Pengumuman dari masjid belakang rumah menyebutkan ada warga yang meninggal. Aku kurang begitu jelas namanya. Tapi segera aku bersiap,… panggilan pasti sebentar lagi datang. 
 
Benarlah, ibu-ibu pengajian sudah berkerumun di depan rumah, … segera kami bersama datang ke rumah duka. 
 
Lhoh… aku bingung, ternyata yang meninggal adalah ibu yang setiap pagi jalan kaki di depan rumahku dan selalu menyapaku dengan senyum tulusnya. 
 
Siapa beliau? Tanyaku tertahan sementara di dalam hati. Yang jelas, aku harus segera memenuhi haknya. Dengan intruksi yang sesopan mungkin, aku minta pada seseorang yang aku pikir tuan tumah untuk menyiapkan peralatan dan tempat memandikan jenazah. Sebagian ibu-ibu sudah pergi ke masjid mengambil stok kain kafan. 
 
Namun, aku bingung, seseorang yang aku pikir tuan rumah tersebut ternyata gamang dalam menyiapkan apa yang aku minta. Kesannya dia tidak familiar dengan rumahnya. Masa, hanya untuk mencari gayung saja dia harus bolak-balik sana sini. 
 
Tanyaku pun tertunda untuk mendapatkan jawab. 
 
Dengan segala keterbatasan, akhirnya aku bisa menuntaskan tugas. Ibu yang ramah tersebut sudah terbungkus rapi, dengan aromanya yang khas. Bergegas aku mandi dan berganti pakaian untuk segera bergabung dengan ibu-ibu guna menyolatkannya.
 
Selesai sholat jenazah, biasanya para bapak akan segera berkoordinasi dengan tuan rumah untuk pemakamannya. Namun, hingga beberapa saat belum terlihat aktifitas itu. Akhirnya, karena aku ada keperluan lain, aku pamit dulu. Demikian juga beberapa ibu-ibu yang lain. 
 
Di sore hari sesampainya aku di rumah, aku mendapat kabar bahwa jenazah sudah dikebumikan. Segera aku kontak ibu-ibu majelis taklim untuk menyiapkan makan buat keluarga yang ditinggalkan, mengingat waktu sudah sore. Biasanya keluarga tidak akan sempat memasak, maka di lingkungan kami, jika ada yang meninggal, ada dana untuk menanggung kebutuhan makan pokoknya selama 2 hari. Kami bergotongroyong memasaknya. 
 
“Tapi, Ummi…, rumahnya kosong. Tidak ada keluarganya sama sekali…” suara dari seberang telepon membuatku bingung. 
 
“Tadi waktu mau dimakamkan juga inisiatif Bapak-bapak aja kok, karena ditungguin lama tidak ada keluarga yang harus bertanggungjawab. “ 
 
Ya Robb, … siapa sebenarnya si Ibu yang ramah tersebut? 
 
Guna memastikan, aku datangi rumah Ibu yang ramah tadi. Benarlah, … rumahnya kosong, berkunci rapat. Lampu depan menyala. Tapi, dasarnya memang aku penasaran, aku ketok juga pintu rumahnya. Jelas, tak akan ada yang keluar membukakannya. Namun, rupanya ketokanku telah menjadikan tetangga sebelah almarhumah keluar. 
 
“Tos teu aya nu gaduh bumina oge, Ummi…” jelasnya. 
 
Selanjutnya dengan bahasa Sundanya yang halus, … tetangga terdekat almarhumah bercerita. 
 
 
Ibu Nani, begitu almarhumah pernah memperkenalkan diri. Seorang ibu dengan 3 orang anaknya yang semuanya sudah menikah, bertempat tinggal terpisah. Ada yang di Lampung, ada yang di Tangerang dan yang terdekat di Lembang.
 
bu Nani tak bersuami. Sekitar dua bulan sebelum kepergiannya ke alam baka, beliau numpang pada saudara jauhnya di rumah tersebut. Saudaranya juga hanya berstatus mengontrak, yang kebetulan sedang tidak ada di rumah pada waktu kejadian. Saudaranya sedang pergi ke luar kota. Hingga aku datang sore itu pun, saudara Ibu Nani belum pulang. 
 
Lhoh…, lantas siapa seseorang yang sempat aku anggap tuan rumah tadi ? 
 
Ternyata dia hanya teman anaknya, yang kebetulan mendapatkan pesan dari si anak untuk menengok ibunya yang katanya sedang sakit. Rupanya kedatangannya adalah untuk menyaksikan sakaratul maut ibu dari temannya. 
 
Oh, … pantas saja kelihatan tidak familiar dengan kondisi rumah. Lantas, bagaimana dengan anak-anaknya? 
 
Rupanya 3 orang anaknya yang dihubungi oleh Pak RW, menyatakan tidak bisa datang ke pemakaman ibunya karena tidak ada waktu. Kesan saling lempar antara anak yang satu dengan yang lain, menjadikan warga marah. Maka dengan kondisi tersebut, aparat yang berwenang di lingkungan mengambil langkah untuk segera memakamkannya. 
 
Dengan hati basah aku pulang ke rumah. 
 
Duuhh… Gusti… 
 
Sejauh apakah jarak Lembang – Cimahi? Dengan kendaraan umum juga sejam sampai. Apalagi dengan motor, … pasti akan lebih cepat lagi. Jika yang di Lampung dan Tangerang terlalu jauh untuk datang. 
 
Hatiku basah…
  
Seorang ibu yang melahirkan ketiga anaknya, berpulang tanpa ada seorang anakpun menginginkan bertemu. Tak ada seorang anak pun yang memaksakan diri untuk mengantar jenazahnya. Tak ada seorang anakpun mendampinginya ketika tersengal melepas ruhnya. 
 
Ibu Nani yang ramah… 
 
Ternyata pias wajahmu yang aku pandang di tiap pagi, meski hanya selintas-selintas adalah penderitaanmu menahan sakit karena fungsi hati yang tinggal sekian persen lagi. Hingga akhir hayatmu, aku belum sempat bersilaturrahmi, sementara dengan melihatmu terakhir kali, cukup membuatku mengerti. Berapa hari engkau tidak menjumpai nasi? 
 
Hatiku basah… 
 
Mengguman tanya yang tak perlu dicari jawab, karena siapapun dan di mana pun, pasti ada alasan terhadap apa yang dilakukannya. Namun akupun tak perlu memahami. Atau aku tak mau untuk memahami. Apa alasan anak-anaknya ketika seorang ibu harus menitipkan diri, seorang diri di jemput mati. 
 
Allohumaghfirlaha, warhamha, wa’afihi wa’fu’anha… 
 
Jika akhir harapku masih ada arti, semoga anak-anaknya tak lupa mendoakannya. Bukankah untuk itu tak perlu banyak waktu? Juga tak perlu ijin tertentu. Apalagi mengeluarkan biaya sepeserpun. 
 
Ibu Nani yang ramah, … Semoga Alloh memberikan tempat yang lebih layak di sisi-Nya. Amiin… 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Ilustrasi:
http://nugrohotech.wordpress.com
http://www.snapdrive.net
http://inspirasikumu.wordpress.com

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.