Tammy – Sydney
Waktu tau kalau artikelku ditayangkan di Baltyra, suamiku langsung buka Google untuk men-translate artikel tersebut ke bahasa Inggris. Tentu saja hasilnya kacau balau, tapi sedikit banyak dia ngerti deh isinya. Cuma ada satu statementku yang bikin dia sewot.
Di situ aku bilang kalau kami ke City belum tentu sebulan sekali. Suamiku protes: ”I take you to the city more than once a month!” Lah kan aku cuma ngomong gampangnya aja.
Masa semuanya harus detail banget sih. Ya sudah, daripada diprotes lagi, aku ralat deh. Kadang-kadang dalam sebulan kami nggak ke City sama sekali. Tapi ada kalanya dalam sebulan kami bisa lebih dari sekali ke City.
Boat Show
Dua weekend kemarin, kami berturut-turut ke City. Kali ini nggak nginep. Kebetulan lagi ada boat show di Darling Harbour. Perusahaan tempat suamiku bekerja ikut partisipasi, buka stand di situ, jadinya kami dapat tiket masuk gratis. Terus terang sih aku nggak tertarik sama sekali. Nggak ada rencana kepingin punya boat. Naik boat aja takut, karena aku gampang mabuk laut. Tapi walaupun sama sekali nggak minat, aku ya ngintil suami keliling boat show sambil foto sana sini.
Ternyata peminatnya buanyak banget! Memang di sini nggak jarang orang punya boat. Bukan hanya orang-orang yang tinggalnya di tepi pantai atau danau saja yang punya boat. Boat yang ukurannya kecil nggak harus diparkir di dock. Habis nge-boat, bisa dibawa pulang. Kadang di jalan raya bisa ditemui mobil yang lagi ngerek boat. Jadi boat-boat itu diparkir di garasi atau halaman rumah.
Bisa dimaklumi deh kalau banyak orang Australia yang punya boat. Mereka terkenal sebagai orang yang suka the outdoors. Apalagi alam dan iklimnya mendukung. Bagi sebagian orang, a perfect weekend adalah boating away on a nice sunny day. Sambil makan siang ikan bakar hasil tangkapan sendiri. Di atas kapal sendiri. Habis gitu renang dan berjemur, leyeh-leyeh sambil baca buku.
Di sini, untuk beli boat nggak harus jadi orang kaya raya. Banyak pilihannya, mulai dari yang paling sederhana sampai yang extravagant. Yang sederhana cuma beberapa ribu dollar. Sementara luxury boat bisa sampai jutaan dollar. Tinggal pilih menurut selera dan kemampuan kantong.
$7000
$ Puluhan Ribu
$ 2.500.000
By the way, selain lihat-lihat boat, kami ikut duduk “mendengarkan” orang yang lagi memarketkan alat-alat pancing. Di belakang panggung ada fish tank berisi beberapa ikan. Kami pikir mereka habis “ceramah” bakal memperagakan memancing ikan menggunakan salah satu alat pancing yang bermacam-macam ragamnya itu. Walah… udah duduk lamaaaa nunggui mereka ngoceh ngalor ngidul tapi nggak mincang-mancing. Ternyata cuma NATO (No Actions Talks Only) toh!
Demonstration
Habis dari boat show, kami rencana ke Sichuan restaurant favorit kami di China Town. Cuma jalan beberapa menit. Eh tiba-tiba di jalan ketemu serombongan orang yang lagi demonstrasi. Seumur-umur baru kali itu aku ngelihat orang demo live. Setelah agak dekat baru tau mereka lagi demo persamaan hak untuk kaum homoseksual. Aku berusaha bergegas ambil foto mereka dari atas jembatan biar kelihatan banyaknya orang yang ikut. Tapi belum keburu sampai jembatan mereka sudah bergerak dulu nyampai jembatan.
Alamat aku jadi tertabrak arus mereka. Akhirnya aku putar balik deh, menepi dan motret seadanya. Aku lihat banyak juga turis yang ikut-ikutan motret.
Sambil marching on the street, mereka terus menerus teriak, ”Gay, straight, black, white, marriage is a civil right!“ Banyak banget yang ikut marching. Ada yang dandan nyentrik (walaupun nggak senyentrik Mardi Grass), pakai kerudung pengantih, tapi cewek sama cewek gandengan. Banyak banget yang jelas kelihatan gay, tapi banyak juga yang nggak kentara. Tentu nggak semua yang ikut marching adalah kaum gay. Pastinya banyak juga yang straight ikut marching sebagai dukungan. Tapi apa daya, karena desakan perut, kami nggak ikut marching. Lah sudah jam satu lebih perut belum diisi.
Demo
Sichuan Restaurant
Aku merasa beruntung sekali suamiku bisa makan pedes. Aku bayangkan betapa susahnya kalo dapat suami nggak bisa makan pedas, sementara aku suka banget pedas. Masaknya bisa ribet deh. Belum lagi kalau ke restaurant, juga bingung.
Kebetulan dia juga suka masakan Sichuan yang ciri khasnya adalah: pedas! Dan di City kami nemu resto Sichuan yang lumayan otentik. Cuma satu yang masih aku cari-cari: teman yang bisa diajak ke restaurant ini.
Karena tiap kali ke sana hanya berdua saja, kami pesannya selalu sama, yaitu yang jadi favorit kami. Jadinya nggak pernah nyobain yang lain, karena biasanya pesan tiga masakan aja pasti ada sisanya. Seandainya makan sama banyak teman kan pesannya bisa lebih bervariasi. Parahnya, nggak banyak bule yang bisa makan pedas. Ada beberapa teman suamiku yang doyan pedas, tapi susaaahhhh banget ngajak mereka untuk ke City. Kejauhan for a night out katanya.
Butuh kekuatan besar untuk ambil foto dulu dan nggak langsung nyosor. Dari rumah sudah terbayang enaknya makan shuizhuyu (水煮鱼), yaitu ikan yang direbus di hot chilli oil. Pedesnya bener-bener nendang. Shuizhuyu biasanya dihidangkan dalam mangkuk yang besar sekali. Cocoknya memang untuk makan beberapa orang.
Di bagian bawah, biasanya terdapat sayuran, entah itu taoge atau Chinese cabbage. Selain ikan, mereka juga punya daging yang dimasak seperti ini (shuizhurou 水煮肉), tapi shuizhuyu adalah favoritku.
Shuizhuyu (水煮鱼)
Sementara favorit suamiku adalah laziji (辣å鸡), yaitu potongan ayam yang digoreng pakai cabe. Sebenarnya banyak cabenya daripada ayamnya. Jadi kalau makan mesti mengais-ngais kayak nyari harta karun.
Kalo di China biasanya potongan ayamnya masih bertulang. Dan ada kacang gorengnya. Tapi di Red Chilli ini kayaknya sudah disesuaikan dengan kemauan orang bule yang ogah makan ayam bertulang. Menurutku sih lebih enak memang nggak pake tulang. Sayangnya di Red Chilli ini laziji-nya nggak pakai kacang goreng.
Laziji (è¾£å鸡)
Seperti biasa, masakan ketiga adalah coba-coba. Kali ini kami pilih salt and pepper squid. Biasa aja menurutku. Lebih terasa ala bule daripada Sichuan. Tapi mungkin karena aku memang nggak seberapa suka cumi. Menurutku lebih enak kepiting, udang, kerang atau ikan.
Squid
Waduh, padahal baru beberapa hari lalu makannya, sekarang kok sudah kepingin lagi ke Red Chilli! Terbayang-bayang juga resto favorit yang khusus jual Sichuan spicy crabs di Shanghai. Slurp!!

Posted by
Tammy
Thursday, 6 August 2009 on 08:16.
Categories: Jalan-jalan.
Follow the comments to this article via the RSS 2.0.
You can leave a response or trackback to this entry
August 10th, 2009 at 07:40
Linda: Silakan loh kalo kamu.
Sumonggo: nano2 deh.
JL: Khungpao chicken (=gongbao jiding) tuh lain lagi. Itu kan stir-fry, pedes asem manis gitu. Kalo laziji digoreng kering. Sama2 enak kalo menurutku.
Jangan ngomongi tahu telor dimakan pake cabe ah. Di sini gak ada cari cabe ijo. 
Puput: Wah sering ke boat show. Berarti bisa cerita detail dong! Bagi2 dong!
Handoko: Sering ke Australia ya?
August 7th, 2009 at 18:13
Tammy, hikz..aku gak sempat coba naik boat waktu ke Sydney. Tapi foto dan ceritamu membuat aku merasakannya
August 7th, 2009 at 15:54
yah saya jg pernah menghadiri boat show bbrp kali…krn suami saya ikut boat club….sebulan sblm show undangan sdh landing di kotak surat kami…isinya pameran boat smuaaaaaaaaaaaaaaaaaaa dan bisa mencoba naik keliling bagi yg mau mencoba…