Ulat Bulu & Naga

Nyai EQ – Yogyakarta

ulatbulu
Nun di tengah-tengah rerumputan yang menguning di bakar teriknya matahari, pada suatu siang di halaman belakang sebuah rumah tua berpintu kayu lapuk, berjalan pelan-pelan seekor ulat bulu gemuk. Badannya yang gendut di penuhi oleh bulu-bulu lebat berwarna coklat dan kuning kunyit. Kepalanya besar berwarna hijau tua dengan hiasan mahkota merah darah di kontur oleh warna keemasan. Sungguh mahluk cantik menawan ulat bulu itu. Namun, meski ia megah oleh warna-warni yang mencolok diantara rumput-rumput kering, tetap saja ia seekor ulat bulu. Mahluk Tuhan yang di takdirkan untuk memiliki perpanduan ganjil antara menggemaskan lucu dan unik bagi sebagian orang, dengan rasa menjijikkan, menakutkan dan menimbulkan hawa membunuh, bagi sebagian besar orang lain, terutama kaum gadis. 
 
Sang ulat bulu sebenarnya bukan tidak perduli dengan perasaan orang terhadapnya, namun tak bisa dia membelokkan arah pikiran mahluk mana pun. Jadi dibiarkan saja apa kata hati mereka yang memandangnya. 
 
Dengan hati-hati dan lambat ia menyusuri tepian-tepian rumput yang panas. Di bawahnya tanah bagaikan kerak tungku raksasa. Tanah kelabu campuran debu dan bebatuan yang berpendar-pendar oleh garangnya api mainan Betara Surya. Sang ulat bulu terus melanjutkan perjalanannya yang seolah tanpa ujung. 
 
Halaman belakang rumah tua itu memang amat luas. Ada pohon mangga besar tempat bernaung perdu-perdu berbunga ungu seperti terompet. Dan pohon jambu biji merah yang tumbuh gagah di antara bunga-bunga rumput kuning kecil bertangkai panjang yang sering di rangkai menjadi mahkota gadis-gadis kecil. Memang halaman belakang rumah tua itu sering di pakai untuk bermain aneka macam mahluk hidup, termasuk anak-anak manusia.
 
Burung kecil berwarna coklat, kupu-kupu aneka rupa, capung, semut dan ayam liar adalah penghuni tetap di samping sepasang manusia tua yang setiap pagi membuka jendela-jendela dan pintu-pintu rumah tua, menyilakan sinar matahari singgah untuk turut menikmati sarapan bubur nasi dan segelas teh panas, sembari mendengar nyanyian burung yang mengantar embun pulang ke haribaan alam. 
 
Kembali sang pencerita menoleh pada perjalanan terbata-bata ulat bulu, mencari sejumput daun hijau untuk melanjutkan titah kehidupannya. 
 
Di tengah perjalanan yang serba pelan namun pasti, tiba-tiba sebatang ranting kering kurus di sodorkan di bawah perut. Mendadak ia merasa dirinya di ayun naik dan semakin meninggi. Entah takut, marah, bingung atau waspada, sang ulat bulu diam menegakkan bulu dan mahkotanya. 
 
Jerit anak-anak perawan membelah udara panas diikuti sorak tawa jejaka-jejaka kecil yang kegirangan karena usaha jahilnya sukses belaka. Tak antara lama, ulat bulu bermahkota merah darah itu sudah di kerubuti oleh beberapa pasang mata. Sinar menyala penuh rasa ingin tahu di susul sahut menyahut komentar. Anak-anak membawa sang ulat bulu diatas ranting kering, menuju bawah pohon mangga yang cukup rindang. 
 
“ Ah, lihatlah badannya yang besar gendut, pasti banyak sekali dia makan daun-daun jambu itu “, Seru seorang anak laki-laki yang berbaju kaos putih lusuh. 
 
“ Lihat ! Lihat ! Dia punya mahkota merah di pelisir emas, seperti raja “, Teriak girang anak lainnya. 
 
“ Ah ! dia itu raja ulat bulu barangkali “, Sambut seorang anak gundhul pacul sambil mencibir, iri dia karena tak selembar rambut pun tumbuh memahkotai kepala peyangnya. 
 
“ Bukan ! dia ini pasti jelmaan naga timur “, Kata anak kecil bermata sipit seperti bulan sabit, penuh imajinasi. 
 
Ide naga berkembang tanpa terkira. Sekarang si ulat bulu telah menjelma menjadi naga. Bahkan raja naga yang bertanduk dan bermahkota manikam. Dia bukan lagi seekor ulat bulu coklat kekuningan, melainkan naga yang bernafas api, dengan hiasan tubuh berupa pedang-pedang baja tempaan para empu langit. 
 
Wuah ! Naga raja kini terbang diantara awan dan petir. Hembusan nafasnya mampu membakar matahari sekalipun. Kibasan ekornya mampu mengatasi angin yang kadang mendadak lewat. 
 
dragon
Hebat dia sebagai sang Naga Timur. Dan ramailah anak-anak berceloteh hendak menggambarkan betapa perkasanya Naga Raja. Sebagian mengatakan betapa menakutkan ia. Bukan itu saja, teriknya matahari dan derasnya hembusan angin kelana di kaitkan pula dengan kehadiran si Naga Maia. 
 
Kemudian entah dari mana, tiba-tiba ada yang mengucap keras bahwa dia membawa petaka bagi surga padang rumput halaman belakang rumah tua, memberikan ancaman karena lidah-lidah api dan bulu-bulu pedangnya penuh racun. Yang lainnya menyambut dengan penuh semangat dan geram. Menyetujui gagasan tersebut, tanpa menyadari bahwa gagasan tersebut sebenarnya adalah racun yang sesungguhnya. Racun yang keluar dari hati dan membunuh kata hati. 
 
Beramai-ramailah kemudian anak-anak yang sudah berlumuran noda ide keji, mulai meludahi dan menyebut sang Naga dengan kata-kata malaikat tersesat jalan. Tak seorang pun mampu melihat, bahwa perkaranya hanya seekor ulat bulu, bukan Naga Api. 
 
Ulat bulu yang semula di sanjung puja sebagai Naga perkasa itu tiba-tiba di campakkan, terpuruk oleh gagasan-gagasan aneh yang di munculkan oleh mulut-mulut yang itu-itu juga. Mulut dan kepala yang menerbitkan asal mula keributan dengan sejumput impian yang dianggap terlalu hebat. 
 
Akan tetapi, meskipun ribut kisruh saling menghujani dengan umpatan deras, tak satupun yang benar-benar berani menjamah sang terpidana yang kini telah di kembalikan ke atas rumput-rumput kuning kecoklatan, tempatnya bisa bebas bergerak. Ya, tak ada seorang anak pun yang berani menyentuhnya langsung, apalagi menggencet gepeng. Entah takut oleh bulu-bulunya yang bisa menyengat atau takut hukum alam akan menuntut penganiayaan aneh ini. 
 
Namun, sungguh si ulat bulu tak perduli dengan celoteh yang sumbang terdengar. Pun dia tak perduli apakah dia Naga megah bermahkota merah keemasan atau Naga berapi dengan bulu-bulu pedang beracun yang jahat. Baginya, dia tetap seekor ulat bulu coklat kekuningan yang sedang menjalani karmanya. 
 
Pelan. Lagi-lagi pelan dia berjalan tanpa menengok kepada gerombolan yang sebagian masih membicarakan dirinya, sementara sebagian lain sudah melupakannya dan bermain-main dengan mainan baru. Sebagian masih menggunggatnya dengan muka masam, jijik, takut, mencemooh. Sebagian dengan mata bersinar iri penuh dengki. Sebagian yang lainnya dengan pandangan layu, haru dan murni. Selebihnya sungguh tidak lagi perduli. Satu dua anak tetap nekat mencoba mencari ranting untuk mengusik si ulat bulu yang diam menjalani kehidupan merdekanya. 
 
Ya, ia mahluk merdeka. Yang tenang berjalan dan mengunyah tiap helai dedaunan di halaman belakang rumah tua itu. Tiap lembar kehidupan yang dinyanyikan siang malam, di cerna oleh perutnya yang tak pernah di biarkan kosong dan hanya diisi oleh angin busuk. Ya, ia sungguh mahluk merdeka yang bebas. 
 
Sang penghuni rumah tua, sepasang manusia di ambang usia senja hanya tersenyum arif memandang pada segala kegaduhan. Bijaksana mereka, dengan tidak turut campur dalam euphoria ulat dan naga, sebab sebagai orang yang wicak, sudah weninglah jiwa mereka. Mana ulat bulu, mana naga, bukan hal sulit untuk membedakannya. Mana benar mana tidak benar, tidak susah untuk memilahnya. Mereka mengenal dengan baik kehidupan ritual sang ulat bulu sejak anak-anak tobil itu belum lahir. Mereka, sang tua renta itu, mencintai kehidupan dan impian, sebagai kembang-kembangnya. 
 
Panas terik sudah mulai menyurut. Sore lembayung semburat di kaki langit. Tampak indahlah alam bermandikan cahaya emas jubah sang Raditya. 
 
Anak-anak lusuh di balut keringat, pulang satu-persatu. Bermuatan debu mereka itu. Debu halaman belakang rumah tua yang berwarna abu-abu dan berbau matahari mangkak. 
 
Debu kegelisahan karena gagasan mereka soal ulat bulu yang di jelmakan menjadi Naga api. Debu iri hati yang membuat mata kelilipan menjadi merah berair dan pedih. Debu kebencian yang berwarna radang kusam. Juga debu keingintahuan, debu-debu jahil, debu apalagi yang menempel lekat di badan dan otak, minta untuk segera di basuh bersih dengan air pancuran yang bening dan segar. 
 
Dan Radite benar-benar meninggalkan pangkuan siang. Menyisakan jejak di ujung-ujung langit. Sudah satu jaringan waktu terlewati. Satu masa yang terik dan garang. Kesejukan telah mampir sejenak, namun belum begitu cukup mampu untuk menggantikan udara panas yang masih mengambang di atas permukaan tanah. Melayang-layang. Semoga segera lenyap panas menyengat ini, batin doa siapa pun. 
 
Sang ulat bulu tetaplah ulat bulu yang diam dan rajin melanjutkan jalan hidupnya. Mencari pucuk daun, membangun pesanggrahan kecil yang dianyam dengan air kehidupannya sendiri. Di sanalah dia mulai memainkan gatra nung, ning dan nangnya. Sendirian hanya di temani segaris warna lembayung di ujung horizon yang mulai menua, seperti pasangan renta nan bijaksana. 
 
Dia akan terus di situ, dalam puri kecilnya, sampai waktu tiba. Untuk menjalani karma berikutnya. 
 
Written by :
Sekar Hudie
Sanet’s Room, Jogja, 2008/08/24
Diawali jam 11 : 23 pm wib. Diakhiri jam 11 : 06 am wib. 
 
I dedicated this story to Choky, my dear lovely caterpillar, who gonna be a prettiest butterfly I’ve ever knew. Fly away my Choky, fly away, as high as u can fly. You’re always inspiring me. You gimme a lesson how to face this world. You gimme a line, so i know when i must step, when i must stop. 
 
Catatan :
Gatra nung = merenung
Gatra ning = hening, wening, bening
Gatra nang = tenang
  
 
 
Ilustrasi:

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.