Ideologi di Atas Bus dan Pecel Lesehan

Handoko Widagdo –  Solo

Solo-Kediri 21-23 Juli 2009

Perjalanan ke timur selalu jadi masalah. Tidak ada maskapai yang mau terbang dari Solo ke Surabaya atau Denpasar. Kalau harus lewat Jogja, kita harus berangkat subuh. Jadi kalau hanya ke Jawa Timur, lebih baik naik kereta atau bus. Kereta Turangga berangkat pagi dari Solo Balapan dan sudah sampai di Gubeng Surabaya jam 12 siang. Bus Surabaya-Jogja dikenal cepat dan nyaman, tapi sering kurang aman.

Kalau mau cepat dan tidak diikat waktu, bus Jogja-Surabaya adalah alternatif terbaik.

Setelah menurunkan anak-anak di sekolah, saya diantar ke terminal Tirtonadi. Sesudah membayar peron (tanpa karcis), saya segera menuju ke jurusan Surabaya. Saya membeli Jawa Pos yang dijajakan di atas bus. Baru membaca beberapa judul dihalaman muka -salah satunya adalah ketenaran Mbak Surip, bus sudah berangkat.

Ideologi di atas Bus

Keluar dari pintu terminal, seorang pengamen dengan ukulele mendendangkan lagu-lagu gaya Didi Kempot karangan dia sendiri. Lagunya berisi kondisi sosial masyarakat, seperti kenaikan BBM, pengangguran, bahkan negara yang tergadai. (Dari dulu Solo memang terkenal dengan intelektual jalanan). Lagu terakhirnya memberi penjelasan mengapa dia mengamen. Berikut adalah beberapa syair yang aku ingat, yang aslinya didendangkan dalam Bahasa Jawa:

Kami mengamen bukannya malas

Kami mengamen karena terpaksa

Ijasah SMA tak berguna

Di luar sana

Tak lagi ada lowongan kerja

Setelah dua lagu, dia mengucapkan terima kasih kepada kru bus dan mengedarkan topinya ke setiap penumpang. Begitu si pengamen pertama turun, pengamen kedua naik. Kali ini bukan seorang, tetapi rombongan tiga orang. Alatnya pun lebih komplet. Dua gitar dan satu ketipung. Lagu-lagu kenangan dinyanyikan. Lagu terakhirnya menyentil para penumpang. Berikut syairnya:

Ketika kami berdendang

Jangan pura-pura tertidur tuan

Yang kami hanya inginkan

uang recehan tuan

Atau yang ini:

Mbok Darmi kloloden tahu

Yen ora menehi

Jok ethok-ethok turu

 

Pengamen berikutnya mendendangkan lagunya Cak Nun: Tombo Ati. Sebelum mengedarkan kantong bekas bungkus permen, tak lupa dia membaca salawat dan membuat doa bagi Pak Sopir, Pak Kondektur dan Pak Kernet serta perjalanan bus supaya selamat sampai Surabaya.

Yang terakhir adalah seorang lelaki muda yang pura-pura bisu dan bertepuk tangan tanpa irama. Setelah turun dia berbincang dengan temannya sambil tertawa-tawa.

Mendekati terminal Madiun, seorang ‘dai’ berbaju batik dan berkopiah, sambil menenteng tas, naik ke bus kami. Pertama-tama dia berdoa, menjelaskan bahwa ia sedang mengemban tugas untuk mengumpulkan dana untuk pembangunan masjid. Dia menunjukkan surat-surat rekomendasi dari Kepala Desa, Camat, dari Kapolres, Koramil dari Kiai Pondok Pesantren X. (Aku heran, Koramil kok ikut mengurusi pengumpulan dana pembangunan rumah ibadah). Sambil bersalawat ia meminta keridhaan para penumpang untuk mengumpulkan harta di surga. Setelah sampai di terminal Madiun dia turun dan langsung ke warung soto.

Saya merenung, betapa kayanya budaya di atas bus antar kota ini. Ada yang sosialis, individualis, dan agamis. Namun ada juga yang bermental pengemis dengan menggunakan berbagai tipuan. Hanya dengan lima ribu rupiah anda bisa belajar berbagai ideologi tanpa harus berkerut kening. Bahkan sering harus terceguk karena menahan geli. Hal yang demikian tak akan kita dapatkan di atas pesawat.

Bus Sumber Kencono memang cepat. Dari Solo jam 7 pagi, sampai Nganjuk jam 10.30. Sama cepatnya dengan kalau membawa kijang sendiri. Saya menunggu sopir yang akan menjemput saya di Terminal Nganjuk sambil sarapan pecel dan teh hangat. Warung pecel di terminal ini bersih dan jauh dari asap knalpot. Sebab warung-warung ini diletakkan sejajar dengan jalur bus.

Kota Kediri

kediri

Kota Kediri adalah salah satu kota kenangan bagi saya. Ketika saya terancam tidak bisa melanjutkan ke SMP, Pak Dhe saya yang tinggal di Kediri mengundang kami untuk datang dan memberi sejumlah uang dan mesin genset. Dengan uang tersebut saya bisa masuk SMP, bahkan membeli sepeda. Genset pemberian Pak Dhe disewakan oleh ayah saya untuk penerangan acara pernikahan atau sunatan. Saat itu belum ada listrik di kecamatan kami. Kembali ke Kediri adalah kembali mengunjungi mile stone dalam hidupku.

Kali Brantas menyambut kami di gerbang kota. Bedanya, tahun 1976 lalu, di seberang jembatan adalah rawa; sekarang Pabrik Rokok Gudang Garam berdiri megah. Jika dulu pohon randu berjajar di kanan-kiri jalan, kini gedung dan toko menggantikannya. Jalanan sudah terlapisi aspal hotmix. Tak ada sampah yang mengganggu pemandangan. Hotel megah pun tersedia. Grand Surya.

Kantor Kabupaten Kediri

Kantor Kab Kediri

Hotel berbintang 4 ini membuat Kediri tak tertinggal dari kota-kota lain di Jawa. Kita bisa berseminar dengan nyaman. Kamarnya nyaman dengan fasilitas peralatan toilet American standart dan TV 21 channell. Hi-fi pun tersedia, meski harus membayar Rp 10.000,00 per jamnya. Ruang seminar cukup untuk menampung 100 peserta dan bisa disekat menjadi tiga ruang yang lebih kecil. Audionya baik, AC-nya bisa diatur sesuai dengan kenyamanan peserta seminar. Cafe-nya menyediakan berbagai minuman sambil ditemani biduan yang diiringi piano klasik.

Pecel Lesehan

Karena makan malam tidak disediakan oleh panitia lokakarya, saya mencari makan keluar. Sambil menikmati Kediri diwaktu malam. Setelah jam 8 malam, sepanjang emperan toko di Jalan Dhaha dipenuhi lesehan yang semuanya menyajikan pecel. Benar….semuanya berjualan pecel! Berbagai merek mobil dan sepeda motor parkir didepan lesehan. Kami harus menunggu beberapa saat untuk mendapatkan tikar untuk duduk.

Nasi pecel hangat disajikan diatas pincuk daun pisang. Kita bisa memilih berbagai lauk. Ada ayam goreng, tahu, tempe, sate jerohan, krupuk dan telur asin. Minuman tersedia aqua gelas, teh panas dan dingin, kopi, es jeruk dan jeruk panas. Bayarnya? Kami berenam hanya menghabiskan 52 ribu saja. Lezat, bersih dan nyaman.

Ada dua tempat makan bakso yang dua-duanya enak. Bakso Barokah menyajikan secara tradisional dan di Bakso Raja kita bisa memilih sendiri jenis bakso yang akan kita santap. Kalau mau yang kelas restoran, Kota Kediri juga menyediakan beberapa tempat yang menerima pembayaran dengan MASTERCARD atau VISA.

Masih banyak yang bisa dinikmati di Kediri. Namun sayang lokakarya ini menyerap seluruh waktu. Wisata kulinernya belum semua aku nikmati. Masih ada tahu taqwa, tahu pong dan gethuk pisang. Ada juga martabak dan pisang bakar depan Stasiun Kereta yang pernah muncul di acara kuliner TV nasional. Candi-candi dari jaman Kediri, Dhaha, dan Singasari di sekitar Pare juga menarik untuk dikunjungi. Suatu saat saya akan kembali hanya untuk berlibur di Kediri.

kelud-depan

 

Ilustrasi:

http://farm4.static.flickr.com/3079/3184530854_67c9d6216a.jpg

http://www.kedirikab.go.id

http://janiansyah.wordpress.com

http://nherdiyanto.wordpress.com

http://www.eastjava.com

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *