Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Tujuhbelasan: Panjat Pinang

Sunday, 9 August 2009

Viewed 1392 times, 3 times today | 11 Comments |

Nyai EQ – Di Bawah Pinang

Dear all readers…..apa kabar ?

Bulan Agustus telah tiba…….artinya sebentar lagi Negara Republik Indonesia ini akan merayakan hari kemerdekaannya (baca : hari pembacaan proklamasi kemerdekaan). Dan itu arti lainnya adalah adanya berbagai macam perayaan di seluruh pelosok Indonesia. Sejak dari bulan Juli kemarin pun sudah terlihat beberapa kegiatan yang tampaknya merupakan persiapan menyambut hari bersejarah tersebut.

Di beberapa kampung yang saya lewati, termasuk di kampung saya, digelar lomba badminton setiap malam. Ya, di banyak kampung, lomba badminton rupanya sudah menjadi semacam tradisi di bulan-bulan Juli dan Agustus (pantesan, Indonesia sering menang dalam ajang kompetisi bulu tangkis Internasional, lha wong olah raga yang satu ini tampaknya begitu mendarah daging bagi sebagian masyarakat Indonesia. Coba ada lomba sepak bola yang di adakan rutin di setiap kampung, setidaknya setiap tahun sekali, seperti bulu tangkis ini, niscaya persepakbolaan Indonesia akan mengalami kemajuan pesat. Mungkin)

Selain bulu tangkis, ada beberapa lomba yang sudah mulai di gelar awal bulan Agustus ini, misalnya lomba bola volley dan bersih desa.

Dua tahun yang lalu, saya melewatkan perayaan 17 Agustusan di Jakarta, sedang tahun lalu saya lewatkan di sebuah desa di Bantul, Jogjakarta. Selain berbagai macam lomba dan bazaar yang di gelar, ada satu hal yang menjadi ciri khas dari perayaan 17 Agustus ini, yaitu lomba panjat pinang. Yup, memanjat pohon pinang yang sudah di lumuri oleh minyak goreng atau oli, sehingga menjadi licin. Tujuannya adalah untuk mendapatkan berbagai macam hadiah barang yang di gantungkan di pucuk pohon pinang tersebut. Tentu saja pohon pinang yang di pakai adalah pohon pinang utuh yang sudah di tebang. Pohon tersebut di berdirikan di tengah lapangan, dilumuri minyak atau oli. Di beberapa kampung, di bawah pohon pinang tersebut berdiri, di beri kubangan lumpur. Tujuan lainnya adalah untuk memeriahkan perayaan dengan sesuatu yang lucu dan menggembirakan, Biasanya acara lomba panjat pinang ini di selenggarakan di bagian akhir dari keseluruhan acara perayaan 17 Agustus. Sebagai gong.

clip_image002 clip_image004

Pohon pinang siap di panjat & Berbagai macam hadiah di pucuk pohon pinang – siap untuk diperebutkan.

 

Cara lombanya sangat sederhana. Diperlukan beberapa tim atau regu, yang masing-masing regu terdiri dari beberapa orang. Biasanya 4 atau 5 orang. Orang pertama biasanya dipilih yang kekar, kuat dan gemuk, karena ia berfungsi sebagai pondasi yang akan menyangga anggota regu lainnya.

Sementara itu anggota regu lainnya akan naik susul menyusul dengan cara “memanjat “ rekannya, seperti sedang berakrobat atau sirkus. Acara saling memanjat ini dilakukan hingga sampai di atas, kemudian yang teratas bertugas mengambil hadiah yang telah tersedia. Kelihatannya sederhana dan gampang, tapiiiiiii…………….pada kenyataannya sangat sulit untuk di jalankan. Dan jelas sangat lucu ! beberapa kali mereka akan merosot turun ke bawah, jatuh ke kubangan lumpur dan belepotan minyak, hingga wajah mereka begitu “kumuh”, kotor dan, sekali lagi lucu banget !

clip_image006 clip_image008

Persiapan memanjat Ayo kang ! naik terus……!!!!

Para penonton akan bersorak sorai dan bertepuk tangan, sebagian mentertawakan para peserta yang memang lucu, baik ulahnya maupun penampilannya, sebagian lagi memberikan semangat untuk terus naik. Rame pol !! Seru !!

Pohon pinang yag di panjat sebenarnya tidak terlalu tinggi, tapi karena licin, jadi sulit untuk bisa mencapai ke pucuk pohon. Berbagai cara digunakan untuk mengatasi batang pinang yang licin. Misalnya dengan melumuri tubuh dan tangan dengan tepung atau pasir.

Sayang sekali saya tidak mendapatkan informasi tentang asal-usul lomba panjat pinang ini. Entah sejak kapan lomba semacam ini diadakan. Dan apakah di luar Jawa lomba panjat pinang semacam ini juga diadakan.

Lomba panjat pinang memang sebuah tontonan yang menarik. Sebuah intermezzo di tengah-tengah stress yang sekarang nampaknya menjadi penyakit sehari-hari masyarakat Indonesia. Yang jelas, lomba panjat pinang ini hanya lazim diikuti oleh para kaum pria muda. Saya belum pernah melihat peserta lomba panjat pinang yang terdiri dari kaum wanita atau pria-pria berumur lebih dari 40 tahun, hahhahaa………

Hadiah yang digantungkan di ujung pohon pinang sangat beragam. Ada tas, buku, pakaian, peralatan masak (panci, penggorengan), ember plastik, payung, sepatu bahkan kadang-kadang ada juga sepeda. Perjuangan untuk mendapatkan hadiah-hadiah tersebut tidaklah mudah. Para pemenang pantas diacungi jempol. Hadiah yang diperoleh akan dibagi sesama anggota tim. Kadang-kadang memang tidak sepadan dengan perjuangan untuk mendapatkannya, tapi setidaknya ada kegembiraan dan kebahagiaan yang harganya sungguh tak ternilai. Dan tentu saja kebersamaan serta gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Apabila sore sudah menjelang. Sebentar lagi Adzan Maghrib dikumandangkan dan matahari sudah berjalan menuju bagian dunia yang lain, sedangkan hadiah masih juga belum ada yang diturunkan, maka tim terakhir berhak menggunakan berbagai cara untuk mendapatkannya. Salah satu cara ialah dengan memanjat tali yang digunakan sebagai penyangga (penguat) pohon pinang agar bisa berdiri kokoh. Tali tersebut cukup besar, kuat dan tentu saja tidak licin. Akan lebih mudah mencapai puncak pohon dengan memanjat tali tersebut.

Adakalanya di tempuh jalan lain, yaitu dengan merobohkan pohon pinang dan membagi rata hadiahnya kepada semua peserta lomba panjat pinang. Jika ada hadiah yang berharga cukup mahal, misalnya sepeda, maka hadiah tersebut akan “diuangkan”, lalu uangnya dibagi rata. Cukup adil. Hadiah didapat, kegembiraan dan kebahagiaan tetap diperoleh dan kerukunan bertetangga tetap terjaga. Merdeka !!

clip_image010 clip_image012

Keburu sore…panjat talinya aja, akhirnya dapat hadiahnya juga !!

 

Di samping lomba panjat pinang, masih banyak lomba yang menjadi ciri khas perayaan 17 Agustus, di antaranya adalah lomba balap karung, tarik tambang dan sebagainya. Lomba-lomba yang lainnya akan saya ceritakan pada bagian ke dua serial peringatan 17 Agustus.

Share This Post

Posted by Sunday, 9 August 2009 on 13:45.

Categories: Nusantara. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

11 Responses to “Tujuhbelasan: Panjat Pinang”

Pages: [2] 1 »

  1. 11
    EA.inakawa Says:

    Panjat Pinang…wah ini kenangan masa kecil tak terlupakan Nyai luapan kegembiraan mengenang Dirgahayu RI,Merdeka

Pages: [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)