Nyai EQ – Di Bawah Pinang
Dear all readers…..apa kabar ?
Bulan Agustus telah tiba…….artinya sebentar lagi Negara Republik Indonesia ini akan merayakan hari kemerdekaannya (baca : hari pembacaan proklamasi kemerdekaan). Dan itu arti lainnya adalah adanya berbagai macam perayaan di seluruh pelosok Indonesia. Sejak dari bulan Juli kemarin pun sudah terlihat beberapa kegiatan yang tampaknya merupakan persiapan menyambut hari bersejarah tersebut.
Di beberapa kampung yang saya lewati, termasuk di kampung saya, digelar lomba badminton setiap malam. Ya, di banyak kampung, lomba badminton rupanya sudah menjadi semacam tradisi di bulan-bulan Juli dan Agustus (pantesan, Indonesia sering menang dalam ajang kompetisi bulu tangkis Internasional, lha wong olah raga yang satu ini tampaknya begitu mendarah daging bagi sebagian masyarakat Indonesia. Coba ada lomba sepak bola yang di adakan rutin di setiap kampung, setidaknya setiap tahun sekali, seperti bulu tangkis ini, niscaya persepakbolaan Indonesia akan mengalami kemajuan pesat. Mungkin)
Selain bulu tangkis, ada beberapa lomba yang sudah mulai di gelar awal bulan Agustus ini, misalnya lomba bola volley dan bersih desa.
Dua tahun yang lalu, saya melewatkan perayaan 17 Agustusan di Jakarta, sedang tahun lalu saya lewatkan di sebuah desa di Bantul, Jogjakarta. Selain berbagai macam lomba dan bazaar yang di gelar, ada satu hal yang menjadi ciri khas dari perayaan 17 Agustus ini, yaitu lomba panjat pinang. Yup, memanjat pohon pinang yang sudah di lumuri oleh minyak goreng atau oli, sehingga menjadi licin. Tujuannya adalah untuk mendapatkan berbagai macam hadiah barang yang di gantungkan di pucuk pohon pinang tersebut. Tentu saja pohon pinang yang di pakai adalah pohon pinang utuh yang sudah di tebang. Pohon tersebut di berdirikan di tengah lapangan, dilumuri minyak atau oli. Di beberapa kampung, di bawah pohon pinang tersebut berdiri, di beri kubangan lumpur. Tujuan lainnya adalah untuk memeriahkan perayaan dengan sesuatu yang lucu dan menggembirakan, Biasanya acara lomba panjat pinang ini di selenggarakan di bagian akhir dari keseluruhan acara perayaan 17 Agustus. Sebagai gong.
Pohon pinang siap di panjat & Berbagai macam hadiah di pucuk pohon pinang – siap untuk diperebutkan.
Cara lombanya sangat sederhana. Diperlukan beberapa tim atau regu, yang masing-masing regu terdiri dari beberapa orang. Biasanya 4 atau 5 orang. Orang pertama biasanya dipilih yang kekar, kuat dan gemuk, karena ia berfungsi sebagai pondasi yang akan menyangga anggota regu lainnya.
Sementara itu anggota regu lainnya akan naik susul menyusul dengan cara “memanjat “ rekannya, seperti sedang berakrobat atau sirkus. Acara saling memanjat ini dilakukan hingga sampai di atas, kemudian yang teratas bertugas mengambil hadiah yang telah tersedia. Kelihatannya sederhana dan gampang, tapiiiiiii…………….pada kenyataannya sangat sulit untuk di jalankan. Dan jelas sangat lucu ! beberapa kali mereka akan merosot turun ke bawah, jatuh ke kubangan lumpur dan belepotan minyak, hingga wajah mereka begitu “kumuh”, kotor dan, sekali lagi lucu banget !
Persiapan memanjat Ayo kang ! naik terus……!!!!
Para penonton akan bersorak sorai dan bertepuk tangan, sebagian mentertawakan para peserta yang memang lucu, baik ulahnya maupun penampilannya, sebagian lagi memberikan semangat untuk terus naik. Rame pol !! Seru !!
Pohon pinang yag di panjat sebenarnya tidak terlalu tinggi, tapi karena licin, jadi sulit untuk bisa mencapai ke pucuk pohon. Berbagai cara digunakan untuk mengatasi batang pinang yang licin. Misalnya dengan melumuri tubuh dan tangan dengan tepung atau pasir.
Sayang sekali saya tidak mendapatkan informasi tentang asal-usul lomba panjat pinang ini. Entah sejak kapan lomba semacam ini diadakan. Dan apakah di luar Jawa lomba panjat pinang semacam ini juga diadakan.
Lomba panjat pinang memang sebuah tontonan yang menarik. Sebuah intermezzo di tengah-tengah stress yang sekarang nampaknya menjadi penyakit sehari-hari masyarakat Indonesia. Yang jelas, lomba panjat pinang ini hanya lazim diikuti oleh para kaum pria muda. Saya belum pernah melihat peserta lomba panjat pinang yang terdiri dari kaum wanita atau pria-pria berumur lebih dari 40 tahun, hahhahaa………
Hadiah yang digantungkan di ujung pohon pinang sangat beragam. Ada tas, buku, pakaian, peralatan masak (panci, penggorengan), ember plastik, payung, sepatu bahkan kadang-kadang ada juga sepeda. Perjuangan untuk mendapatkan hadiah-hadiah tersebut tidaklah mudah. Para pemenang pantas diacungi jempol. Hadiah yang diperoleh akan dibagi sesama anggota tim. Kadang-kadang memang tidak sepadan dengan perjuangan untuk mendapatkannya, tapi setidaknya ada kegembiraan dan kebahagiaan yang harganya sungguh tak ternilai. Dan tentu saja kebersamaan serta gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.
Apabila sore sudah menjelang. Sebentar lagi Adzan Maghrib dikumandangkan dan matahari sudah berjalan menuju bagian dunia yang lain, sedangkan hadiah masih juga belum ada yang diturunkan, maka tim terakhir berhak menggunakan berbagai cara untuk mendapatkannya. Salah satu cara ialah dengan memanjat tali yang digunakan sebagai penyangga (penguat) pohon pinang agar bisa berdiri kokoh. Tali tersebut cukup besar, kuat dan tentu saja tidak licin. Akan lebih mudah mencapai puncak pohon dengan memanjat tali tersebut.
Adakalanya di tempuh jalan lain, yaitu dengan merobohkan pohon pinang dan membagi rata hadiahnya kepada semua peserta lomba panjat pinang. Jika ada hadiah yang berharga cukup mahal, misalnya sepeda, maka hadiah tersebut akan “diuangkan”, lalu uangnya dibagi rata. Cukup adil. Hadiah didapat, kegembiraan dan kebahagiaan tetap diperoleh dan kerukunan bertetangga tetap terjaga. Merdeka !!
Keburu sore…panjat talinya aja, akhirnya dapat hadiahnya juga !!
Di samping lomba panjat pinang, masih banyak lomba yang menjadi ciri khas perayaan 17 Agustus, di antaranya adalah lomba balap karung, tarik tambang dan sebagainya. Lomba-lomba yang lainnya akan saya ceritakan pada bagian ke dua serial peringatan 17 Agustus.
August 10th, 2009 at 23:32
Wah jadi inget kenangan pertandingan volley antar RT dimana salah satu adikku menjadi pemainnya. Seisi rumah menjadi supporter, rumah dikunci penghuni ke lapangan diujung gang, seru banget dan akhirnya RT kami memenangkannya.
August 10th, 2009 at 16:27
Kalo yang digantung di puncak pinang adalah cowok guanthenggg… daku bakalan ikyuuttt……
August 10th, 2009 at 15:17
@ Ning-Jatim…itu namanya bukan manjat…hahhahaa..itu mrambat bambu…..
@ Imeii….iya, saya juga kok, dah lama gak ikutan, nonton aja, baru 2 kali ini, sejak balik ke Indonesia, seru juga
@ Ninut..lha kalo celana mlorot itu baru namanya hiburan ekstra, hahhahahaa…………
Om Bagjul…tunggu di serial berikutnya…masih ada 2 kisah 17an lagi…pasti seru juga kok…gak cuma lomba makan jajan pathuk yang bikin manthuk2….tapi juga ada drama-dramanan……
@Om Hand….wah kalo aku ikutan manjat dapetnya penonton sak kampung, hahhahaha……
@ saw….ya hadiah khan gak harus mahal…yang penting acaranya seru !
Pokoknya MERDEKA deh !!!
August 10th, 2009 at 12:59
acara 17 an memang merupakan hiburan buat semua rakyat, tergantung bagaimana kita menikmatinya aja..
thanks Nyai EQ buat ceritanya, udah lama saya ngga menghadiri langsung pesta rakyat ini, ngangenin deh
August 10th, 2009 at 10:50
Jeng Sekar, kemarin di lingkungan RT-ku Panjat pinangnya da diganti panjat bambu yang ditidurkan di atas sungai (pohon pinang sdh susah carinya)tak kalah seru lho karena mereka laki/perempuan boleh ikut kalo gagal jatuhnya pasti kecebur sungai lucu banget pokoknya…. aku aja ikut teriak2 bereng anakku. memang bener kadang hadiahnya nggak sebanding ma capeknya tapi seneng lho bisa andil dalam HUT RI begitu sanggah ibu2, bahkan yang lomba pukul periuk khusus ibu2 hadiahnya cuma uang tunai Rp 5.000,- nyatanya cukup banyak yang ikutan apalagi yang nonton bukan hanya warga setempat, pengendara motor yang kebetulan lewat pasti ikut menambah jumlah penontonnya. pokoknya seru banget…. rencananya puncak lomba akan berakhir hari minggu 16 Ag. yaitu lomba jantung sehat dengan hadiah yang lebih menarik.
August 10th, 2009 at 09:30
Yang ikutan celananya musti disabuki kuat2…kalo gak bakalan melorot dipancal temen yang memanjat, hehehe…
August 9th, 2009 at 23:37
Ni Roro Pangudhar Roso,…. lomba kebaya apa cuma saat Kartini’an? Drama Patah Tumbuh Hilang Berganti, Selendang Sutra, Gugur Bunga? Lomba Gapuro? Kalau lomba makan krupuk, bosen…. Kalau makan jajanan Pathuk, aku manthuk-manthuk…. ngantek tuwuk…..
August 9th, 2009 at 19:25
Hai. Sudah lama banget ga nonton yang beginian. Dulu sih perayaannya dibelakang rumah orang tua. Sy pernah ikutan lomba makan kerupuk dan kelereng. Tapinya kalah
August 9th, 2009 at 17:56
Sekar ikutan manjat ya? Dapat apa diatas pinang? Dapatkan ‘Map Of Love?’
August 9th, 2009 at 14:45
Mbak Sekar, … barusan aku keliling warga se RT (ga banyak, cuma 40an warga), kena giliran ngambilin iuran tujuhbelasan …
berhubung ngumpulnya ga banyak (satu juta juga ga nyampe), ga mungkin deh bisa bikin acara panjat pinang dengan hadiah macam sepeda seperti itu…
Sepertinya mending buat acara jalan sehat keluarga aja deh…, pulangnya bisa makan bareng2…