Soekarno puasa ‘gak ya, waktu baca Proklamasi 1945?


Selamat Ulang Tahun Indonesiaku 1: Soekarno puasa 'gak ya, waktu baca Proklamasi 1945?

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

Redaksi: Terima kasih Bung Iwan untuk tulisan ringannya menyambut hari kemerdekaan RI. Pembaca, mulai hari senin tgl 10 Agustus 2009, tulisan Bung Iwan akan dimuat berkesinambungan setiap hari sampai tgl 17 Agustus 2009. Dirgahayu Republik Indonesia.

PENGANTAR. Halo pembaca Baltyradan para pemandang di manapun berada. Saya ingin berbagi cerita ringan. Perintilan, kata orang, tentang hari suci 17 Agustus 1945. Hari lahir negara kita, rumah kita, perahu kita dan harapan kita semua. Tulisan ini ada 8 (delapan) seri tulisan pendek, yang ceritanya ringan dan dijamin ‘gak bikin pusing. Mudah-mudahan senang. Baca ‘gak baca, yang penting pelototin saja tulisan ini, untuk meramaikan ulang tahun Indonesia. Penulis.
 
KOK judulnya aneh sih? Ngapain ngurusin orang puasa atau nggak? Emangnya itu penting? Soal puasa, cuma Tuhan yang tahu. Dan memang, puasa adalah satu-satunya ibadah dalam agama Islam, yang khusus dijalankan manusia untuk Tuhan. Sangat personal dan penuh kejujuran. Kalau ibadah lain, kita bisa pura-pura melakukannya biar dilihat orang. Pura-pura sholat, biar disayang mertua atau bos. Pura-pura haji, biar dianggap kaya di kampungnya dan dianggap “naik kelas” oleh orang lain. Pura-pura bayar zakat, agar dipandang sebagai orang berada (ingat ‘gak waktu pembagian zakat hingga menewaskan puluhan orang penerimanya, karena mati terinjak –injak berdesakan berebut zakat 20 ribu perak beberapa tahun lalu?) Pokoknya semua ibadah lain bisa pura-pura deh, kecuali puasa. Siapa yang mau pura-pura lapar biar dianggap hebat?
 
Nah, mungkin sebagian dari kita sudah tahu bahwa proklamasi Indonesia 17 Agustus 1945, kebetulan bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Bulan saat umat Islam harus berpuasa. Dalam beberapa kesempatan, Soekarno, orang yang berperan penting dalam hari keramat itu, begitu bangganya dengan proklamasi di bulan puasa. Menurut di buku otobbiografinya, dia seakan menepuk dada. “Tuh, lihat hari lahir Indonesia bertepatan pada bulan suci Ramadan. Bulan penuh kemuliaan”. Soekarno yang berasal dari budaya Jawa, bahkan menggunakan “ilmu cokgalicok”. Mencocok-cocokan dengan paksa antara 17 Agustus 1945 dengan bulan puasa.
 
“Tanggal 17 itu angka keramat. Bukankah kita sholat sehari berjumlah 17 rakaat?”, katanya. Rakaat itu artinya sistem gerak dalam sholat. Berdiri, membungkuk, lalu sujud dan berdiri lagi, itu dikatakan satu rakaat. Dan kebetulan juga, kitab suci umat Islam Quran, pertama kali turun (bukan dari atas ke bawah, tapi pertama kali diterima oleh Nabi Muhammad) pada tanggal 17 Ramadan. Nah, cocok deh dengan cokgalicoknya Soekarno.
 
Kalau tidak salah, 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadan 1365 hijriyah (lunar calendar). Gimana Soekarno pada saat itu? Puasa ‘gak? Kalau ‘gak puasa ‘gak enak dong dilihat orang. Dia ‘kan seorang tokoh Islam (Soekarno pernah mengaku sebagai seorang Muhammadiyah, sebuah organisasi kemasyaratan Islam). Masak sih ‘gak puasa? Apalagi sewaktu di buang Endeh, Flores, dia berpolemik hebat tentang masa depan Islam dengan A. Hasan, ulama terkenal Jawa Barat. Dan waktu di buang di Bengkulu, dia berkawan akrab dengan Buya Hamka dan Abdul Karim Oei (tokoh Tionghoa dan aktivis Muhammadiyah di Bengkulu).
 
Waktu menyusun naskah proklamasi dari malam hingga hampir dini hari di rumah pribadi Laksmana Maeda (pernah jadi rumah kediaman duta besar Inggris dan sekarang jadi Museum Persiapan Proklamasi), Soekarno sempat sahur yang disiapkan oleh seorang wanita Jepang yang berkerja di rumah itu. Bagaimana waktu pagi hari?
 
“Saya masuk ke kamarnya. Ternyata dia (Soekarno) masih tidur, tapi terbangun oleh sentuhan tangan saya”, kata dr. Soeharto dalam otobiografinya mengenang hari 17 Agustus 1945. Ia adalah dokter pribadi Soekarno.
 
soekarno
 “Pating greges”, kata Soekarno setelah membuka mata. Badannya panas. Meriang. Atas persetujuan Soekarno, Soeharto menyuntikkan cairan chinine urethane intramusculair. Lalu Soekarno menenggak pil broom chinine. Setelah itu, Soekarno tidur lagi. Zzzzzzzzzz…..  Lho? Padahal dua jam lagi dia harus membaca proklamasi!
 
Beberapa jam lalu Soekarno sempat makan sahur. Lalu apakah Soekarno berpuasa? Secara fiqh (ilmu hukum), pengakuan dokter pribadinya itu menyatakan Soekarno tidak berpuasa. Puasanya batal, karena telah memasukkan zat (makanan) ke dalam rongga mulut. Tapi sebuah ibadah tidak bisa hanya dilihat secara hukum. Ada ketentuan di atas hukum yang lebih mulia dan itu hanya Tuhan yang tahu.
 
Bagi saya pribadi, Soekarno saya anggap berpuasa dan mendapat imbalannya (pahala). Dia telah melakukan sesuatu yang mulia untuk orang banyak pada hari 17 Agustus 1945. Bukan untuk dirinya pribadi! Ini adalah inti ajaran dan ibadah Islam yang lebih mementingkan kebersamaan (sosial). Bukankah orang yang memberikan semua bekal dan biayanya untuk fakir miskin yang dilihatnya saat perjalanan ke Tanah Suci, sudah bisa disebut haji meskipun dia gagal ke sana. Dibanding dengan orang yang bertitel haji, tapi malah korupsinya lebih dahsyat.
 
‘Gak penting mempersoalkan apakah Soekarno puasa apa tidak saat membacakan naskah prokalamsi 17 Agustus 1945. Yang penting kita sudah merdeka dan bebas, meskipun kita ‘gak semuanya harus berpuasa.

38 Comments to "Soekarno puasa ‘gak ya, waktu baca Proklamasi 1945?"

  1. Oscar Delta Bravo USA.  19 July, 2011 at 23:58

    Mas Iwan,dalam komen #27,saya prediksikan Mas Iwan lahir sekitar th 70an,,karena 1978,1979…ketika SD(usia sekolah 6thn untuk SD)kalau salah bisa diclaim ke Bu GUru yang CANtik
    alinea berikutnya….2043 sudah jadi belatung …… dikurangi 1970 umur Mas Iwan baru 73,Dengan kemajuan teknologi kedokteran umur rata2 manusia akan menjadi sekitar 80 an,Jadi matematik saya Mas Iwan masih bisa menulis artikel di Baltyra,bukannya jadi belatung.Dan juga saya merasa bangga lhoo bisa difoto bersama oleh Prof.Sejarah kita,tahun yl,sayang saya belum pernah melihatnya sampai saat ini.Salam buat keluarga semua dari Florida

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  19 July, 2011 at 20:18

    Halaaaaah….terlalu jauh dan kurang baik. Cuma baru menyadari dari komentarmu, ternyataaaa…udah 2 tahun di sini. Rasanya seperti lamaaaaa sekalii…

  3. DS  19 July, 2011 at 20:14

    iwan,bilang aja ke teman2 yang sama sama awalnya di baltyra trus bikin dong tulisan tentang kiprah mu di baltyra….

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  19 July, 2011 at 19:54

    Terima kasih DS… sekali terima kasih.. Anda sangat perhatian sampai memperhatikan hal ini. Inilah ARTIKEL PERTAMA saya di Baltyra, ketika Baltyra masih merah, kecil dan baru lahir. Tak dirasa sudah2 tahun saya “lintang pukang’ di sini hingga menulis 156 atau berapa jumlahnya saya tak tahu persis… Hahahahaha…

    Saya bingung sehausnya ada tulisa pribadi untuk meayakan saya di Baltyra.

    Sekali lagi terima kasih…

  5. DS  19 July, 2011 at 15:00

    Wan,ga terasa ya tulisan pertamamu udah mo dua tahun…..udah mo kemerdekaan indonesia lagi…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *