Tibetan Buddhisme & Dalai Lama

Pengantar Redaksi:

Oom Ronny, demikian saya memanggil beliau ini, adalah teman sekolah mendiang Papa. Beliau pindah ke Negeri Kincir Angin berpuluh tahun lalu yang tidak bisa saya ingat lagi sejak kapan. Lima dasawarsa mungkin ada, tepatnya berapa lama, entahlah… Sewaktu saya kecil, sekali-dua, beliau mampir ke rumah kami di Semarang, membawakan beberapa oleh-oleh dan mainan yang waktu itu tidak ada di Indonesia. Hanya sebatas itu yang dapat saya ingat.

Kemudian…

Berpuluh tahun kemudian, bertemulah saya dan Oom Ronny ini di satu milis almamater sekolah mendiang Papa. Lah, pasti pembaca bingung, kok bisa saya ikutan milis Papa…hehe…karena keterbatasan teknologi mendiang Papa dan juga di rumah Semarang tidak terpasang internet, saya dan kakak memutuskan untuk bergabung di milis tsb. Milis ABG (Angkatan Babe Gue) yang berusaha menjalin tali silaturahmi yang terputus berpuluh tahun. Isinya bertukar kabar, bertukar sapa, bertukar cerita tentang keluarga dan anak-cucu. Dan tentu saja tentang reuni di sini dan di sana.

Walaupun Papa sudah mendahului kami, tapi saya tidak keluar dari milis tsb. Sampai suatu hari saya membaca beberapa postingan menarik dari Oom Ronny ini. Postingan artikel yang dalam, luas dan mencerahkan, tentang apa saja…filosofi kehidupan, pengetahuan, jalan-jalan, kebudayaan dan masih banyak lagi.

Tak ragu saya menyapa beliau di japri dan komunikasi terjalin. Tidak ragu untuk mengundang beliau supaya bersedia sharing di sini.

Dan ternyata sambutan beliau sangat positif.

Tulisan-tulisan beliau dimulai dari pendalaman tentang Buddhisme di Tibet dan Dalai Lama’nya, kemudian perjalanan keliling Pacific dan yang lainnya, semoga dapat menjadi pencerahan buat kita semua.

 

Tibetan Buddhisme & Dalai Lama

Mpek DuL – The Netherlands

Di dunia ada jutaan domine, pastur, rabbin, imam, pandit Hindu, dan pemimpin Buddhisme, Shintoisme. Taoisme, dll.

Mengapa di antara semua pemimpin agama dan isme yang ada didunia ini hanya satu yang “dipilih” menjadi satu simbol, sorotan yang berlebihan dari media: Dalai Lama, seorang pemimpin Tibetan Buddhisme? Apakah sebenarnya Buddhisme itu?

Buddhisme sebenarnya adalah satu “isme” falsafah kehidupan dan bukan satu agama meskipun sering dinilai demikian. Ajaran dari Buddhisme adalah “dharmistis non-theïstis” yang timbul antara tahun 450 – 370 SM. Terjemahan yang tepat dari dharmatis dalam bhs Indonesia maupun Latin tidak ada, tetapi terjemahan bebasnya kira-kira adalah: “Kenyataan sesuatu dari alam”. Non theïstis bukan atheïs, karena aliran ini tidak anti Tuhan atau mengingkari adanya Tuhan, melainkan TIDAK menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan.

Pengertian keTuhanan dalam agama Buddha bukanlah tujuan akhir dari hidup manusia yang kembali ke Nirvana yang kekal, melainkan hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi) di mana roh manusia tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir. Tidak ada dewa – dewi yg dapat membantu memungkinkan mencapainya taraf ini, melainkan usaha manusia itu sendirilah yang memungkinkan kebuddhaan yang dapat dicapai. Buddha sendiri hanya juru guru petunjuk dan bukannya Tuhan atau nabi.

Dunia Buddhisme sendiri mengenal tiga aliran yang berlainan: Buddha Theravada, Buddha Mahayana dikenal sebagai Zen, dan Buddha Vajrayana, namun ajaran mereka semuanya mempunyai dasar yang sama berdasarkan “Tipitaka” (bhs Sansekerta = Sanskrit), yaitu Vinaya Pitaka, yang berisikan tata-tertib bagi para bhikkhu/bhikkhuni. Sutta Pitaka, yang berisikan khotbah-khotbah Sang Buddha, Abhidhamma Pitaka, yang berisikan Ajaran tentang metafisika dan ilmu kejiwaan.

clip_image003Seperti juga agama Islam dan Kristen, ajaran Buddha mempunyai ajaran2 dasar moral yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemoralan, saling mencintai sesama, sosial, tidak irihati, tidak rakus, jujur. Semua agama itu mengajarkan perbuatan2 baik yang harus dilakukan oleh para penganutnya.

Sayang sekali didalam praktiknya harian saja manusia2 itu sendiri, yang tidak menerapkan sebagaimana seharusnya, melainkan menyalah gunakan ajaran2 baik ini, atau mengartikan intinya yg lain, sehingga sering ada pertikaian antara sesama penganutnya, atau agama dipakai sebagai satu alat untuk menakuti, menutupi tingkah laku mereka

NORBULINKA sehingga dpat mencapai tujuan buruk mereka sendiri yg pada hakekat istana musim panas nya sama dengan orang2 yg tdk beragama, yang rakus, irihati, curang, dan sangat materialistis dalam bidang ekonomis.

Bilamana seorang pemimpin “agama” yang dengan sengaja menyerukan penganut2nya agar berdemonstrasi menentang pemerintah atau secara tidak langsung menghasut mengacau ketenangan masyarakat dan keadaan dalam satu negeri sehingga membawa konflik dan membuat stabilitas dinegara itu, bahkan sampai ada yang menjadi kurban, saya kira tidak ada diantara kita yang akan mengatakan bahwa seorang pemimpin agama seperti ini patut menjadi contoh dan dihargai.

Sudah sejak ber-abad2 Eropa menyadari dengan susah payah, apakah akibat2 yang terjadi bilamana agama dijadikan dasar ideologi satu negara, sehingga negara2 barat pada umumnya memutuskan untuk memisahkan negara dan agama didalam ke tata negaraan, termasuk AS, Canada, Australia. Eropa yang menganggap negara2 mereka sebagai “negara2 yang beradab”, (meski penilaian “beradab” ini dapat di diskusikan).

Salah satu factor tercetusnya Trias Politica juga karena disebabkan oleh pemimpin2 agama pada waktu itu, terutama di Perancis, terlalu banyak ikut campur dalam persoalan politik ke tata negaran, dgn menerapkan hukum2 agama didalam kehidupan harian. Salah satu contoh yg jelas adalah Jean d’Arc yg menjadi kurban hukuman mati, dan akirnya di rehabilisasi. Dengan demikian timbullah satu gagasan politik yg memisah kan antara agama dan politik negara. Pertimbangan lain yg dipakai adalah karena agama itu satu kebutuhan rohani pribadi masing2, sehingga negara tidak usah ikut mencampuri hal ini. Dasar peraturan umum hukum negara itu berlaku untuk seluruh penduduk tanpa membedakan suku dan agama, sehingga lebih mudah diterima dan memperkecil timbulnya konflik antara penduduk dinegara itu sendiri.

Mengapa banyak negara2 barat justru memberi kritik politik berlebihan kepada Tiongkok dalam mengatasi konflik di Tibet dan SinKiang yg tdk lain adalah karena menerapkan prinsip adanya perpisahan antara negara dan agama? Tidak adanya kebebasan agama dalam ikut campur politik bukanlah berarti bahwa agama di sana ditekan. Bukankah ini politik dalam negeri China sebagai satu negara berdaulat penuh yang telah diakui oleh negara2 barat itu sendiri? Mengapa penerapan “terpisahnya agama dan politik” ini tiba2 merupakan satu persoalan untuk China? Bukankah didunia ini juga tidak ada satu negara baratpun yang menerapkan agama sebagai dasar ideologi negara mereka?

Tentu saja kita harus membedakan antara kritik membangun dan kritik negatip yang hanya bersifat mengadu domba. Siapakah diantara pendukung2 Dalai Lama, termasuk media yang betul2 mengenal dan menyelami latar belakang ideologi sesungguhnya dari pemimpin yang murah senyumnya dan penuh karisma itu pada hakekatnya ?

Padmasambhawa – lambang Tibetan Buddhisme

clip_image005Lewat kesempatan ini saya coba memberikan sedikit uraian berdasarkan dokumentasi literatur yang justru banyak ditulis oleh penulis2 dari negara barat sendiri dimasa lampau.

Sejarah Tibet itu sendiri kembali sampai tahun 126 S.M. ketika raja Nyatri Tsenspo menaiki tachta. Selama 27 generasi raja2 negara ini, tidak ada satu dokumen yg penting dan berarti untk Tibet sendiri. Ketika pada abad ke 5 Buddhisme masuk di Tibet dan abad ke 6 Yarlung dinasti memegang kekuasaan, belum begitu berpegang peranan penting. Pada abad ke 8 Tibetan Buddhisme sendiri dikembangkan oleh Padmasambhawa,yang agak berbeda dari Buddhisme yg kita kenal di Thailand, Singapore, Taiwan, HongKong, Vietnam dll, karena Buddhisme di Tibet didirikan oleh Padmasambhawa pada abad ke 8,meski didalam ajaran nya sendiri ada persamaan dgn Buddhisme yg lain karena memegang prinsip “Tipitaka”seperti yg telah saya uraikan diatas. Orang ini dianggap sebagai Buddha kedua. Sebab itulah patung Buddha yang seperti kita lihat di Thailand dll tidak sama dengan patung Buddha yang kita lihat di Tibet.

Baru sejak saat ini peranan Buddhisme berkembang pesat sekali mencakup seluruh kehidupan di Tibet. Di bawah kekuasaan kerajaan Monggol yg dipimpin Godan Khan, akirnya negara ini terpecah belah. Kubilai Khan menduduki China utara pada th 1279 dan mengangkat dirinya sendiri sebagai kaisar Yuan di China. Tidak lama kemudian Tibet dan China terpisah lagi dan mendapatkan “kemerdekaan” sendiri2.

Ketika dinasti Qing jatuh tahun 1911, Tibet meraih kesempatan melewati perjanjian Urga untuk memproklamasikan diri lepas dari pengaruh Mantsjoeria pada tahun 1912. Peranan China sendiri saat itu hampir tidak berarti mengingat kekacauan2 di China sendiri yang masih terpecah akibat penjajahan dari Inggris, Itali, Jerman, Inggris, Jepang. Portugis.

Dalai Lama

Dalai Lama 達 è³´ å–‡ 嘛, yang sekarang ini adalah yang ke 14. Nama aslinya adalah Tenzin Gyatso dilahirkan pada tahun 1935. Sejak Dalai Lama ke 5 mencetuskan gagasan ikut memiliki kekuasaan ikut campur dalam bidang politik, mungkin karena pandangan ”might is right – knowledge is power”, (Pengetahuan adalah simbol kekuataan atau lambang kekuasan) inilah yang dinilai oleh P.R.China yang baru 1 oktober 1949 berdiri, sebagai satu potensi politik yang membahayakan sehingga China kembali menduduki Tibet pada pada 7 Oktober 1950.

Tibetan Buddisme adalah agak lain dengan Buddhisme yg lain karena Tibetan Buddhisme mengenal empat unsur2 yaitu:

1. Buddha sendiri reincarnasi kedunia ini sebagai seorang manusia seperti Padmasambhava, pendiri Tibetan Buddhisme.

2. Kelahiran seorang “Tulku” atau “guru” seperti Dalai Lama

3. Mereka mengenal "Terma”, atau tulisan2 yang disimpan dan baru dipublikasi bilamana dunia ini sudah “siap” untuk menerima pesan2 yg tertulis disitu.

4. Percaya bahwa manusia dapat aktif mempengaruhi kwalitas hidup bila mereka re-incarnasi lagi ke dunia ini

Menurut kepercayaan Tibetan Buddhisme, Dalai Lama adalah re-incarnasi dari Chenrezig, sang Buddha sendiri yg karena “berbelas kasihan”, kepada manusia, memutuskan untuk turun di dunia ini lagi sebagai manusia lain (Nimanakaya). Dia adalah Buddha sendiri yg tdak saja pemimpin spiritual dari Tibetan Buddhisme.

Dalai Lama ingin bahwa kehidupan di Tibet berdasarkan “sharia” Tibetan Buddhisme, undang-undang dasar dari Tibet berdasarkan Buddhisme–theocratie, dan harus diterapkan secara mutlak di Tibet dan berlaku untuk semua penduduk, tanpa terkecualian, termasuk penduduk yg bukan Tibetan yg sudah berabad-abad tinggal di Tibet, seperti minoritas lain Hui (Islam), Lhopa, Monpa, dan Khampa di sebelah timur yang mempunyai agama dan latar belakang kebudayaan minoritas lain di China, dan bukannya undang2 dan hukum P.R.China.

Dalai Lama tidak mempedulikan bahwa di China ada sekitar 55 suku2 dan ras lain, dan rupa2nya dia tidak pernah mempelajari sejarah bahwa Tibetan Buddhisme itu baru sekitar tahun 1050 disebarkan oleh Atisha Vajrayogini (lahir pada th 980) yang berasal dari Bengal, (sekarang Bangladesh), dan di Tibet baru menulis “A Lamp for the Path to Enlightenment”

“Lampu yang menyinari jalan keringanan” Geografis Tibet termasuk wilayah China meski baru pada tahun 1950 resmi menjadi bagian teritorial China. Sampai waktu semua penduduk termasuk ras Tionghoa Han sudah tinggal di Tibet.

Untuk sedikit memberikan gambaran sebagai satu perbandingan, ingin saya coba memberikan beberapa perumpamaan sebagai berikut: Bagaimana seandainya kalau orang2 Islam dinegara bagian Illinois menginginkan agar hukum sharia diterapkan secara mutlak di negara bagian ini, atau New York berdasarkan agama Yahudi, di Dakota, Nebraska dan Montana berlaku hukum suku Indian Sioux dan di Arizona, dan Colorado berlaku hukum2 tradisi suku Indian Apache, atau di propinsi Quebec, Canada hanya bahasa dan hukum2 Perancis yg boleh dipakai?

Bagaimana bila semua gagasan2 ini mendapat dukungan dari negara2 lain karena ini dinilai sebagai “hak kebebasan (agama)” mereka? Apakah ini bukan mencampuri urusan dalam negeri AS? Apa yang terjadi dengan negara AS dan Canada? Yang jelas AS akan terhapus dari peta dunia karena terpecah belah, dan tidak ada lagi, dan mungkin di Quebec timbul perang saudara!

China tidak pernah menuntut agar negara2 barat harus menolak atau mengusir Dalai Lama bila dia berkunjung ke Eropa atau Amerika, melainkan hanya menolak pengakuan bahwa Dalai Lama itu datang sebagai satu2nya wakil dari rakyat Tibet dan yang berhak berbicara atas nama mereka semua. Kedatangan yang berlatar belakang politik ini bukan lagi satu kunjungan seorang “pemimpin agama”, melainkan seorang pemimpin politik yang secara tidak langsung bersifat menghasut dan mengadu domba, meski dengan disertai senyum yang penuh karisma.

Inilah perbedaan pandangan yang sering tidak dipahami. Bahkan oleh media di Barat sering diputar balikkan sesuai dengan penafsiran mereka sendiri tanpa menyelami latar belakang sebenarnya sesungguhnya.

Hal lain yg sangat penting adalah pertimbangan ekonomis yang juga berpegang peranan,meski oleh negara2 barat itu sendiri tidak pernah dibicarakan secara terbuka karena mereka juga mengetahui bahwa Tibet dan SinKiang kaya sekali akan bahan baku untuk industri yang masih belum diolah, a.l. uranium, bijih besi, wolfram, tembaga, timah, magnesium, kristal, chroom, “emas hitam”atau oil yang saat ini masih belum banyak diolah, dan masih terpendam. Bahan2 ini sangat penting sekali untuk industri negara2 barat sendiri di masa depan.

Tentu saja kebebasan, liberty, libertas, freedom adalah sesuatu yg baik dan hak setiap manusia, namun bukan berarti kebebasan itu adalah hak untuk menguasai kepentingan umum.

Meskipun secara pribadi saya sendiri bukan penganut dan penggemar komunisme, namun kita harus melihat realitas bahwa China sudah memakai sistim komunisme ala China, sebagai dasar ideologi negara berdaulat penuh. China 50 tahun yang lalu masih terpecah, penuh kemiskinan, kelaparan, dan berpenduduk hampir ¼ dari penghuni dunia saat ini menjadi salah satu raksasa didunia dan semua rakyatnya dapat makan dan mempunyai jaminan kesehatan yang minimal, termasuk penduduk Tibet, SinKiang, Qinghai dll. Ini adalah satu prestasi yang patut diakui, dihargai sangat tinggi. Dinegara yg “kaya” seperti AS saja, 47 juta dari 240 juta penduduknya tidak mempunyai jaminan kesehatan nasional (national health insurance) sama sekali. Baru pada th 1963 perpisahan antara penduduk hitam dan putih di sekolah2 dan universitas a.l. di Alabama, Georgia dihapus, meski negara ini sudah lebih dari 200 th merdeka.

Lebih dari 55 suku dan ras di China harus dilindungi oleh hukum negara dan bukan dengan hukum yang berdasarkan satu ideologi agama tertentu. Bila ideologi satu negara berdasarkan satu agama, maka suku2 dan ras lain juga akan menuntut yang sama. Bagaimana dengan negara kesatuan itu akirnya? Yang pasti akan hancur sama sekali

Bilamana ada negara2 (pada umumnya negara2 barat) yang menilai bahwa apa yang terjadi di Tibet dan Sinkiang itu adalah melangar Hak2 Azasi Manusia, maka negara2 ini menunjukkan pandangan mereka yang begitu naif dan bodoh, karena mereka meremehkan 55 suku dan ras lainnya yang hidup di China, dan secara tidak langsung justru mendukung extremisme didalam hal ini, karena semua 55 suku2 di China itu mempunyai pandangan dan ideologi yang berbeda-beda, Apakah 55 persoalan2 etnis yang mungkin timbul juga akan didukung oleh negara2 barat? Mengapa justru hanya Dalai Lama saja yang didukung?

Tentu saja setiap tetes darah yang dicurahkan karena adanya pertikaian itu tidak boleh didiam kan saja, melainkan juga harus ditindak.

Banyak pemimpin2 negara barat yang berpendapat bahwa Dalai Lama hanya menginginkan otonomi besar, dan dia tidak pernah menginginkan agar Tibet merdeka sepenuhnya.

Apa yang diinginkan oleh Dalai Lama yang TIDAK mereka ketahui yaitu:

1. Tibet, yang 5 kali lebih besar dari Perancis dan hampir 1/5 dari wilayah PR China dijadi kan satu teritorial terpisah “apartheid” (seperti waktu Zuid Afrika dimasa politik kulit putih): Dazang Qu (the great Tibet territory).

2. Semua penduduk yang bukan suku Tibet, meski sudah beberapa generasi lahir dan hidup di Tibet, tanpa kekecualian, harus meninggalkan Tibet.

3. Angkatan bersenjata dan kepolisian China meninggalkan Tibet, dan dengan demikian membuat China sangat peka sekali terhadap serangan2 dari luar.

Di konperensi wartawan di India pada tanggal 10 maret 2009, Dalai Lama menyangkal bahwa dia pernah meluncurkan gagasan politik ini, dan meminta pemerintah P.R. China menyerahkan bukti2 bahwa dia terlibat dalam hal ini. Pada tanggal 13 maret 2009 presiden Hu Jintao menyerahkan bukti2 ini pada saat konperensi pers internasional di China kepada wartawan Perancis.

Tibetan Monks

Dari bukti2 ini tercantum bahwa Dalai Lama meluncurkan dua rencana bertahap dengan nama Xizang Wudian Heping Jihua yg beredar di AS sejak 1987, dan yang lain dengan nama Qidian Xin Jianyi yg beredar di Strassbourg, Perancis sejak 1988. Di dalam dokumen2 itu Dalai Lama dicantumkan sebagai pemimpin dari dua organisasi ini.

Dokumen lain yang diketemukan adalah pada tahun 2005 yang dinamakan Zhongjian Daolu Xuanchuan Shouce. Di dalam dokumen itu a.l. tercantum secara terang2an bahwa semua penduduk yang bukan suku Tibet tidak diperkenankan menjadi pegawai negeri, atau menduduki fungsi2 yg penting jika Tibet akhirnya “merdeka sepenuhnya”.

Bilamana orang2 Chinese dari suku2 lain, kecuali suku Tibet tidak diperkenankan untuk tinggal, bekerja mencari nafkah diTibet dan militer China tidak boleh berada di Tibet, apakah ini dapat dinamakan otonomi?

Tibet Map

Sekalipun seandainya pemerintah PRC bersedia menerima syarat2 yg diajukan oleh Dalai Lama di mana China akan melepaskan Tibet yg 20% mencakup wilayah China, yg hanya berpenduduk sekitar 6 juta orang, apakah diantara 1,2 miljard penduduk dari suku2 lain akan menerima semua ini dengan begitu saja, ataukah ada kemungkinan bahwa perang saudara akan timbul karena mereka juga menuntut kemerdekaan dengan jalan yg sama?

Apakah akibatnya? Dalam bidang ekonomi, didunia ini nantinya tidak lagi akan ada barang elektronis yang murah. LCD TV, komputer, sepeda motor, dan tidak mudah lagi akan terbayar karena 70% dari semua produksi elektronika di dunia diproduksi di China, sehingga industri akan mengalami kehancuran. Untuk dpt hidup China terpaksa harus menjual semua cadangan US$ yg dimiliki dan pada hakekatnya menjadi pilar ekonomi AS. China terpaksa akan menjual semua obligasi simpanan mereka yg 70% terdiri dari US$, ke pasaran bursa.

Apakah akibat dari semua pandangan yg semula sepele dan diremehkan itu untuk dunia nantinya? Anda dapat memberikan jawaban sendiri apa akibat yang terjadi. Uang US$ akan jatuh nilainya mungkin tidak berharga. Hutang dari AS ada lah yang terbesar dari seluruh dunia.

Mondial krisis yang jauh lebih parah dari sekarang ini yang semula hanya soal sepele saja, karena kebodohan dan kepicikan manusia yang begitu emosional terfokus kepada “greenback”, mata uang US$, tanpa memperhitungkan nilai intrinsik dan daya kekuatan mata uang ini, sehingga dijadikan “dewa”dari segala mata uang didunia, meski bila dinilai betul2 mata uang seperti €uro, Yen Jepang, Australia $ itu termasuk mata uang yang keras, lebih keras pondasinya dari US$.

Inilah perbedaan antara logika dan utopia, antara emosi dan ratio. Manusia seringkali kehilangan pandangan obyektip mereka.

clip_image006

Tibet Potala

Literature:

– A history of modern Tibet – M.C. Goldstein

– Tibet Country Report on Human Rights Practices – US foreign affairs, Bureau of Democracy,

Human Rights, and Labor.

Häufige Folter- und Misshandlungsmethoden in der VR China – Internationale Gesellschaft

für Menschenrechte

Tibetaans centrum voor mensenrechten en democratie.

 

Ilustrasi:

http://arxxiduc.wordpress.com

http://www.danmex.org

http://www.usatoday.com

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *