17 Agustus 1945, Hari Lahir Negara Asal-asalan

Selamat Ulangtahun Indonesiaku 2: 17 Agustus 1945, Hari Lahir Negara Asal-asalan

Iwan Satyanegara Kamah – Indonesia

TEGA amat bilang negara Indonesia sebagai negara asal-asalan. Sebenarnya ya tidak sejauh itu. Cuma mau kait-kaitan antara keadaan negara ini dengan kelahirannya. Kata orang dulu, kalau anak lahir pada saat tertentu, besarnya bisa seperti apa atau bagaimana. “Waktu dia lahir kayak gitu, makanya udah gede kayak gini”, begitu kebanyakan orang menilai perjalanan seseorang.
Bagaimana dengan negara kita, yang lahirnya 17 Agustus 1945? Sudah suratan takdir (destiny) kalau Indonesia lahir pada saat yang ‘gak tepat. Kok begitu? Lha, semua persiapan kelahiran negara ini dilakukan tanpa rencana matang. Jepang sih pernah umbar janji mau kasih kemerdekaan “di kemudian hari”. Tapi kapan? Tahun 1945? 1954? 2045? ‘Gak jelas! Tapi ada bukti rada agak aneh. Katanya sewaktu masa pembuangan di Ende, Flores, akhir tahun 1930an, Soekarno sering nulis naskah untuk tonil (semacam sandiwara). Satu diantaranya ada berjudul “1945”, yang menceritakan tentang masa kebebasan negeri ini. Nah lho!
Mau bacain proklamasi aja, masih tarik urat leher. Yang muda-muda maunya secepatnya. Bahkan mereka menculik Soekarno dan Hatta, dua pentolan, ke Rengasdengklok, Jawa Barat. Sebuah kecamatan kecil di utara pesisir Jawa Barat. Tujuannya, agar proklamasi Indonesia dikumandangankan di sana. Tapi batal.
Nah, setelah melewati masa-masa kritis antara tanggal 13 sampai 17 Agustus 1945, banyak kepentingan golongan yang berbeda pendapat tentang kapan, bagaimana, kayak apa dan dimana kita harus mengumunkan kemerdekaan. Setelah ketahuan Jepang dibom dan akhirnya menyerah kepada Sekutu, akhirnya kaum patriot mulai gerah dan gregetan kepingin merdeka, yang kadang kurang pakai taktik dan strategi.
Saat mau menyusun naskah proklamasi bingung cari tempat. Naskahnya harus disusun supaya ‘gak sembarangan bunyinya dan tidak menyakiti penguasa yang kalah (Jepang) dan tidak minta bantuan pihak Sekutu (pemenang perang). Karena kepepet dipilih tempat di Hotel Des Indes (sekarang pusat perbelanjaan Duta Merlin di daerah Harmoni, Jakarta). Tapi ditolak oleh pihak hotel. Dipilihlah rumah pribadi Laksamana Maeda. Akhirnya di situ kaum nasional para pendiri bangsa berkumpul. Maeda itu orang Jepang dan seorang pejabat tinggi. Eh, dia malah tidur waktu ke kamarnya waktu naskah itu disusun di rumahnya.
Ketika naskah sudah jadi ditulis tangan oleh Soekarno, semua orang yang hadir diminta tanda tangan. “Gak usah, kamu saja berdua”, kata mereka. Maksudnya Soekarno dan Hatta saja. Coba kalau mereka mau, ‘kan banyak proklamator kita! Di mana Soekarno dan Hatta menandatangani naskah itu? Di meja dong pastinya… Oh, tidak! Malah di atas piano! Hahahaha…
tulisan tangan proklamasi
Lalu disalinlah naskah tulisan cakar ayam Soekarno yang penuh corat coret itu, untuk di ketik oleh Sajuti Melik. Yang aslinya? Di buang di tempat sampah! Gawat! Untung ada BM Diah (pemimpin harian Merdeka yang sudah almarhum dan pernah jadi Menteri Penerangan). Diah memungut naskah sacral itu dan mengantonginya serta menyimpannya selama lebih 45 tahun! Akhirnya dia balikin naskah itu ke Presiden Soeharto agar disimpan di Arsip Nasional.
proklamasi ketikan
Di mana naskah itu mau dibacakan? Dipilihlah di lapangan Ikada (sekarang lapangan Monas). Tapi takut nantinya terjadi perumpahan darah antara masa dan tentara Jepang yang lagi stress berat karena kalah perang, akhirnya dipilih di rumah Soekarno. Coba bayangkan, mana ada negara di dunia proklamasinya diumumkan di rumah penduduk!
Upacara pembacaannya juga tergesa-gesa tanpa persiapan. Apalagi si tuan rumah, Soekarno, lagi sakit meriang karena malarianya kambuh. Waduh! Tiang benderanya dibuat dari bamboo pendek yang asal-asalan dibersihinnya. Kasar deh pokoknya. Bendera yang dikibarkan juga dari kain yang tak layak dan hasil rampasan. Mana bisa cari kain baru pada saat itu. Emangnya kayak sekarang di Tana Abang?
Lalu siapa yang memimpin upacara 17 Agustus 1945? Ya Soekarno sendiri. Gak ada protokol. Untung ada sound system yang ‘gak tahu didapat dari mana. Berarti ada rekamannya dong? Oh nggak! Lha yang kita denger itu suara siapa? Ya suara Soekarno yang direkam ulang setelah 5 tahun kita merdeka. Yang aslinya? Gak tahu ke mana, lha wong lagi perang ngurusin sound system.
Siapa seksi dokumentasi? Untung ada Franz Mendur, wartawan foto kawakan saat itu. Dia jeprat jepret saat Soekarno membacakan saat-saat bersejarah itu. Pasti banyak dong slide yang dihasilkan. Ternyata tidak! Dia ketakutan negative foto hasil jepretannya dirampas Jepang. Makanya Mendur nekad menyembunyikannya di bawah pohon di halaman kantor harian Asia Raja. Ya rusaklah! Film negative dipendem di tanah. Untung masih ada 5 slide yang selamat. Nah, foto-foto itulah yang terkenal dan kita bisa lihat suasana pembacaan 17 Agustus 1945. Terima kasih Pak Mendur!
Lalu apa yang dilakukan Soekarno setelah baca naskah proklamasi? Pidato? Berbincang dengan sekelompok patriot yang datang ke halaman rumahnya untuk menyaksikan hajatan 17 Agustus 1945? Tidak! Dia meriang. Dia pergi ke kamarnya. Dan tidur…. Zzzzzzzzzzzzzzzzzz…..
Setelah merdeka, presiden Indonesia tinggal di istana? Sorry! Ini bukan negara persemakmuran yang merdekanya kayak kado Barbie untuk gadis berultah ke 7. Soekarno beristana di rumahnya sendiri selama 4 bulan! Mana ada negara di dunia yang presidennya berkantor di rumah. Lalu setelah 4 bulan pindah ke Jogjakarta. Di sana agak bagusan tempatnya. Mirip istanalah. Tapi jangan salah, karena masih takut dihajar Belanda, Soekarno sempat nomaden dari rumah penduduk ke rumah penduduk lain untuk berkantor dan beristana. Bahkan sampai ke tengah hutan! Waduh!
Nah, karena semua tergesa-gesa dan tanpa persiapan, akhirnya sewaktu besar Indonesia jadi negara asal-asalan. Tidak ada yang pasti di negara ini. “Lha, waktu lahir juga gitu kok?”, kata orang.
koran toea
Ilustrasi:
Koleksi pribadi Redaksi, diambil dari buku 30 Tahun Indonesia Merdeka

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *