Pupuk Bawang

Fire –Yogyakarta

Dalam khazanah dolanan anak-anak masa kecil saya, tersebutlah istilah pupuk bawang.

dinoboiSaat itu usia saya sekitar 5 tahun. Teman-teman kakak datang main ke rumah. Lalu mereka bersama-sama main dinoboy (ini dolanan anak lho bukan nama videogame, jaman itu kan belum ada rental playstation). Permainan tipe "hit and run" ini menggunakan gulungan kertas dikaretin layaknya bola kasti (tapi tak sakit bila kena tubuh), lalu satu orang yang ‘jadi’ (bukan kesurupan loh) mengejar-ngejar lainnya. Asyik ya? Cuma sayangnya aku nggak diajak, karena dianggap tidak sebaya, … hiks. Lalu daku merengek untuk ikutan main. Akhirnya teman-teman kakakku berkompromi, saya diperbolehkan ikut dengan status sebagai pupuk bawang. Jadi saya bisa ikut lari-lari sambil jerat-jerit saat dikejar. Tetapi bilapun kena lempar bola, tetap tidak "dianggap". Singkatnya sih, cuma penggembira doang. Yah, waktu itu sih asyik-asyik saja sih asal ikutan teriak-teriak, pokoknya bisa ikut "berpartisipasi".

Begitu pula waktu main petak umpet (jethungan). Saya juga ikutan sibuk nyari tempat sembunyi seperti yang lainnya. Tetapi kalau persembunyian saya yang ketemu, tetap tidak dianggap. Makanya nggak pernah "jadi", tapi bisa ikut ngumpet terus.

Semula memang senang-senang saja jadi pupuk bawang. Tapi lama kelamaan kok ngerasa nggak seru ya? Akhirnya saya protes, minta status keanggotaan saya "di-upgrade". Jadilah merasakan dikejar dan dilempar beneran, terus harus balik ngejar. Wah, pertamanya kadang mau mewek juga, yang dikejar sudah lebih gede dan kenceng larinya. Habis sudah terlalu lama menikmati status pupuk bawang, pas diajak ‘tenanan’ kok kalah terus?

gobaksodorMemang seringnya memperoleh status sebagai pupuk bawang, nggak selalu enak. Misalkan saat gerombolan cilik ini mau merencanakan sesuatu (kenakalan?), pendapat dari ‘member’ pupuk bawang dicuekin, karena tidak dianggap sebagai bagian dari "stake holder" (eh .. stake holder ki opo tho maksudnya? pokoknya sering diucapkan di tipi, jadi kelihatan keren, embuh tenane). Jadi anggota pupuk bawang ini kerap dianggap ikut-ikutan saja dan membebani kelompok. Dulu waktu kecil malah ada olok-olok seperti ini "Tiru tiru bojone sewu…" (yang suka ikut-ikutan nanti punya istri seribu). Waktu dulu diolok-olok seperti itu keki banget. Ya wajarlah anak kecil kan masih sering ikut-ikutan, masak ndak boleh. Cuma kadang yang lebih tua suka jengkel, kalau dirasa ada yang ngikut tingkah polahnya atau membuntuti. Padahal seharusnya kan yang lebih gede bangga bisa jadi role-model (iki opo maneh mangsute?).

Saya baru baca di berita olahraga di koran, pemain bola yang keluar dari klub elit jawara liga Eropa. Padahal gaji yang ditawarkan di klub barunya lebih kecil, dan peluang juara di lokalnya maupun Eropa juga kecil. Ternyata karena merasa selama ini di klub lamanya, hanya sekedar menjadi pupuk bawang saja, dan kurang dianggep sebagai andalan klub. Wah nggak enak ya rasanya jadi pupuk bawang? Tapi bicara soal bola, duh, jadi mikir, kapan ya kesebelasan Indonesia bisa berjaya di pentas internasional, biar nggak jadi pupuk bawang? Baiklah teman-teman, pernahkah dalam fase kehidupan kita menjadi pupuk bawang?

pupuk bawangputih

NB: Kalo admin bingung cari gambar, dipasang saja gambar pupuk sama gambar bawang, wakakaka …..

Catatan redaksi: special request dipenuhi…hahaha…


Ilustrasi:

http://ardiansukmaji.wordpress.com
http://kipsaint.com
http://img258.imageshack.us/i/gobaksodorgf0.jpg/
 

About Fire

Profile picture'nya menunjukkan kemisteriusannya sekaligus keseimbangannya dalam kehidupan. Misterius karena sejak dulu kala, tak ada seorang pun yang pernah bertatap muka (bisa-bisa bengep) ataupun berkomunikasi. Dengan tingkat kreativitas dan kekoplakannya yang tidak baen-baen dan tiada tara menggebrak dunia via BALTYRA dengan artikel-artikelnya yang sangat khas, tak ada duanya dan tidak bakalan ada penirunya.

Arsip Artikel

18 Comments to "Pupuk Bawang"

  1. probo  29 July, 2011 at 19:00

    sama dengan komen 15…bawang kothong

Comments are closed.