56 Etnis Suku di China: Suku Naxi

Negara Tiongkok mempunyai satu ciri khas yang sama dengan Negara tercinta kita, terdapat beberapa puluh suku hidup berdampingan bersama.

Mulai minggu ini, redaksi akan menurunkan cerita mengenai 56 Suku di Tiongkok. Yang akan dimulai dari Suku Minoritas, Naxi, Jingpo, Achang, Nu, Zhuang, Bai, Hasake, Dai sampai Suku mayoritas Han, Manchu , Hui.

Kisah pertama mengenai Suku Naxi, diceritakan oleh kontributor Baltyra, Mia di Lijiang.

 

THE NAXIS

Di China ada sekitar 55 etnik minorities, namun karena Han Chinese juga dimasukkan sebagai salah satu suku, semuanya berjumlah 56 etnik. Dari 56 ini, 26 di antaranya berada di Propinsi Yunnan, dan The Naxis adalah salah satunya.

Suku Naxi (纳西族 = bacanya na si cu), juga bisa dibaca Nakhi, juga Nahsi (asal jangan dibaca Nasi aja ya, apalagi ditambah Nasi goreng, Nasi uduk) berasal dari kata Naq (hitam) dan Xi (orang) = orang hitam. Kulit mereka memang jauh lebih hitam dibanding Han Chinese dari China bagian Utara. Jika Anda bertemu dengan mereka, terutama yang tidak bermata sipit, maka kita bisa bilang mereka benar2 mirip orang Jawa, hitam manis.

Namun Na juga berarti senior and honored, jadi maksudnya Naxi adalah orang yang terhormat.

Komunitas suku ini terkonsentrasi di Lijiang Prefecture (City), di sebelah Barat Laut Propinsi Yunnan, dengan populasi seluruhnya sekitar 310,000 orang saja. Karena itulah, bagi mereka yang tinggal di desa, mereka mendapat prioritas, diijinkan untuk memiliki dua anak, bertolak belakang dengan kebijakan pemerintah China yang hanya mengijinkan penduduknya untuk mempunyai satu anak saja.

Mulanya suku ini berasal dari Central China, mereka hidup secara nomaden, namun kemudian menetap di Barat Daya China dan bercocok tanam serta berburu sebagai mata pencaharian mereka.

Picture 1

Naxi Women & Dongba Pictograph

BAHASA/DIALEK

Bahasa China digolongkan ke dalam 4 keluarga bahasa utama, dan bahasa/dialek Naxi termasuk ke dalam keluarga Sino-Tibetan. Lebih dari 1000 tahun yang lalu, mereka telah menciptakan karakter piktograf yang disebut Dongba script dan juga tulisan silabis dikenal sebagai Geba script. Namun, karena sulit untuk dimengerti, maka hanya orang2 tertentu yang dapat menguasai script ini. Jadi pada dasarnya mereka hanya mempunyai spoken language

Saya lupa membaca di mana, tapi disebutkan bahwa Dongba script merupakan salah satu piktograf terkuno yang masih aktif dipakai di dunia ini.

Baru pada tahun 1957, pemerintah membantu mendisain Alphabet untuk diajarkan ke mereka. Namun hingga saat inipun bahasa tulis ini tidak terlalu populer, hanya orang2 tertentu yang mengerti dan tau bagaimana membaca dan menulisnya. Hanya ada satu kamus Alphabet yang cukup lengkap, yang ditulis oleh Thomas M. Pinson, linguist dari Summer Institute of Lingustics, Amerika.

Seperti Mandarin, bahasa ini juga terdiri dari 4 nada. Contoh:

Nada pertama: diakhiri dengan huruf l – Hol = delapan

Nada kedua: tanpa diakhiri huruf apapun – Ho = sup

Nada ketiga: diakhiri huruf q – Hoq = lambat

Nada keempat: diakhiri huruf f – Hof = benar

Selain itu struktur bahasa adalah: Subyek-Obyek-Predikat

Contoh, bila kita ingin berkata: Aku cinta kamu

Maka secara benar dan lengkap akan tertulis: Ngeq nee neeq gol pieq

Terjemahan lengkapnya: Aku dari kamu kepada cinta

Maksudnya cinta dari aku kepada kamu = Aku cinta kamu

(hehe complicated, isn’t it?)

 

PAKAIAN

Bagi para wanita yang tinggal di pedesaan, meskipun tidak selalu lengkap dan resmi, hampir tiap hari mereka memakai jenis pakaian yang sama untuk 24/7/31/12 (hehe..bener ga nih nulisnya ya?). Saya sering bertanya dalam hati, apa ga bosen ya mereka pake pakaian yang itu2 juga, warna yang sama, setiap hari, sepanjang tahun?

naxi women02 naxi women01

Bagi para wanita yang sudah lansia, mereka memakai pakaian yang sangat mudah dikenali: baju lengan panjang biru, dengan celana panjang, dengan apron/celemek warna hitam ato putih. Yang paling mencolok adalah cape dari bulu kambing di punggung mereka, yang diikat menyelempang bahu dengan embroidery bergambar lebah atau kupu2. Di samping itu di atas cape tersebut ditempel 7 buah lingkaran kecil dari kulit kambing juga yang melambangkan bintang. Maksudnya, para wanita Naxi itu selalu sibuk seperti lebah/kupu2, bekerja keras dari pagi hingga malam.

Sementara itu, para gadis/wanita yang lebih muda memakai pakaian yang warnanya lebih ceria. (liat foto). Sedangkan pria tidak mempunyai pakaian khusus, namun mereka sangat suka juga memakai baju berwarna biru dan topi Mao (Topi yang khas dan selalu dipakai oleh Mao Zhedong).

KEHIDUPAN KELUARGA

Pada dasarnya mereka hidup secara komunal. Dalam satu courtyard bisa hidup bersama 3-4 generasi. Ketika Han Chinese datang ke Lijiang di sekitar tahun 1700, budaya mereka yang saling menikah dengan anggota keluarga dekat untuk menjaga kekayaan yang mereka miliki, juga mempengaruhi budaya suku Naxi dalam pernikahan. Sehingga saat ini marga mereka hampir semuanya sama yaitu marga HE. Dalam kasus2 tertentu pernikahan dengan keluarga dekat ini menyebabkan kelemahan mental bagi keturunan mereka dan juga jenis2 disability lainnya.

Jaman dahulu, para wanita yang selalu bekerja keras di ladang, di rumah, juga dalam mendidik anak. Sementara para pria lebih banyak berkutat dengan seni (musik, lukis) dan berburu. Wanita-wanita Naxi benar-benar adalah pekerja keras. Sehingga ada pepatah yang berkata: “Menikah dengan wanita Naxi sama dengan memiliki 10 ekor Mule Namun, seiring dengan semakin majunya kehidupan mereka, sekarang pria dan wanita sama-sama bekerja keras.

(Note: Mule adalah perkawinan antara kuda dan keledai, bahasa Indonesianya apa ya?)

post-15313-1113449786
post-15313-1113449759
Rice Field

MUSIK DAN TARIAN

Orang-orang dari suku Naxi, pria dan wanita, sangat senang menari secara komunal dengan gerakan sederhana. Bila Anda datang ke Lijiang, maka Anda bisa memperhatikan, hampir di setiap taman, setiap malam, mereka berkumpul sambil membawa tape recorder. Mereka akan memainkan musik dari tape recorder, lalu menari sambil bersosialisasi, ngobrol apa saja.

Karena mereka komunal, bila Anda tidak menjumpai mereka menari, Anda akan menjumpai mereka di taman sedang bermain mahjong atau kartu, sambil makan kuaci.

Musik Naxi sendiri di sini mempunyai musik orkestra dengan menggunakan instrument musik asli/tradisional, seperti erhu (biola dengan 2 senar), bamboo flutes, pipa (Chinese lute), Gourd, dsb.

Ada musik-musik yang digunakan untuk acara ritual, juga ada musik lagu-lagu tradisional. Tapi anak-anak muda saat ini lebih suka lagu Pop dalam bahasa Naxi, karena mudah diikuti dan mudah dicerna.

Meski masih sangat banyak yang belum saya ceritakan di sini tentang The Naxis, saya stop dulu deh di sini, takut kepanjangan. Nanti saya sambung lagi di lain waktu

Semoga apa yang saya tulis ini bermanfaat

Terimakasih buat Baltyra yang sudah memuat tulisan saya, Gbu!

Soqni golseel lei ddoq! – Sampai jumpa di waktu mendatang!

main village

Main Village

 

9 Comments to "56 Etnis Suku di China: Suku Naxi"

  1. Manik  1 September, 2019 at 09:55

    Saya sebagai orang batak Akan menikah dengan suku naxi, ada kemiripan orang gunung Dan pekerja keras

  2. Mia  6 November, 2011 at 15:59

    hello Tha, thanks buat komennya…
    hehehe… sukurlah smua sudah rebez…
    salam dari jauh… (:

  3. agatha  6 November, 2011 at 14:59

    Kk Mia… Maaf baru buka inet dan kubaca …. WOOOW…… hanya itu komenku.
    Sudah ada permintaan maaf dan sudah rebez?
    Semoga kedepannya semua berjalan lancar dan suasana pertemanan lebih hangat ya.

    btw… katanya… umur kuda dan kambing dilihat dari GIGI ..hahaha
    dan…. kualitas persahabatan di UKUR dari WAKTU
    zzzzz…… Persahabatan hendaknya bukan bagaikan “politik” yang ngukurnya hanya dari “kepentingan”

  4. ~Mamamia~  5 November, 2011 at 17:41

    Thanks untuk tanggapannya: AM dan Cokibima – I love you, guys!
    Juga thanks utk komen dari Lembayung.

    Thanks untuk ko Josh yang dengan segera mereply saia di sini, saia sangat menghargainya.
    Sore ini sudah ada klarifikasi serta permintaan maaf dari ybs. Saia SANGAT MENGHARGAINYA. Saia juga menerima klarifikasi dan permintaan maaf dari ybs.

    Intinya, buku tersebut sudah ada edisi kedua. Sedangkan yang saia terima kemaren adalah edisi pertama. Pada buku edisi kedua, disebutkan oleh ybs., sudah ada acknowledgment atas tulisan saia di sana.
    Sebagai bentuk tanggungjawab saia karena sudah mengirimkan Open Letter ke Baltyra, maka klarifikasi dari ybs sudah saia teruskan ke Baltyra. Dengan demikian saia juga sudah minta kepada Redaksi untuk MEMBATALKAN PENAYANGAN Open Letter dari saia. Mohon Admin/Redaksi menindaklanjutinya.

    Meskipun fisik buku edisi kedua belum saia lihat / terima, saia percaya acknowledgment di maksud sudah tercantum di sana.

    Terima kasih atas perhatian Admin/Redaksi dan teman-teman. Mohon maaf bila ada hal-hal yang tidak berkenan.
    Semoga di masa yang akan datang saia bisa lebih baik lagi dalam meresponi hal-hal yang tidak mengenakkan.

    Tuhan memberkati!
    Salam,
    Mia

  5. J C  5 November, 2011 at 13:56

    Mamamia,

    Saya mewakili Admin & Redaksi Baltyra.com menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian yang mengecewakan Mia, seperti yang Mia sebutkan dalam komentar di sini dan juga Mia kirimkan ke Redaksi dengan judul Open Letter. Sebagai bentuk tanggungjawab Baltyra.com, kami akan menayangkan Open Letter tsb dalam edisi besok, hari Minggu. Saya yakin ybs – yang Mia sebutkan dalam komentar dan Open Letter tsb akan membacanya dan kita harapkan akan menanggapinya. Tanggapan bisa nantinya dalam bentuk terbuka atau via e-mail langsung ke Mia.

    Jika memang yang dipilih adalah langsung ke e-mail Mia, kami harapkan Mia bersedia meneruskannya ke Redaksi sehingga kami dapat mengikuti proses dan menghasilkan klarifikasi yang jelas akhirnya.

    Saya sebagai salah satu Redaksi Baltyra.com juga mengetahui dan memercayai bahwa tulisan artikel ini adalah karya Mia. Mengenai foto-foto,, terus terang saya tidak tahu didapat dari mana. Pada waktu itu yang menayangkan artikel ini adalah ex-redaksi yang Mia sebutkan di sini.

    Sekali lagi, sebagai pribadi dan salah satu Redaksi Baltyra.com saya memohon maaf atas kejadian ini. Kita tunggu bersama, semoga ada klarifikasi segera. Terima kasih.

  6. lembayung  5 November, 2011 at 12:46

    MamanyaMia, (hehehe) apakah di dalam buku itu ditulis “kontributor Mia” apa nggak? Apakah ada tanda petik, says Mia apa nggak? Apakah ada keterangan Narasumber dan tulisan oleh Mia apa nggak?
    Jika tidak, MamanyaMia perlu menyiapkan bukti2 jika itu tulisan MamanyaMia. termasuk file asli dan email ketika pertama kali mengirimkan artikel tersebut. Jika emailmu sudah terhapus ya silakan minta saja file emailmu di inbox redaksi (moga2 aja masih ada). Kalo semua data dan bukti sudah ada, MamanyaMia bisa menuntut pihak penerbit karena menerbitkan tulisan plagiat dan juga menuntut penulis atas alasan plagiat. Jika dalam buku itu ada tulisan “isi di luar tanggung jawab penerbit” ya silakan tuntutan langsung ditujukan kepada penulisnya. Walaupun seharusnya penerbit itu tetap salah juga. Menulis itu tidak memang tidak mudah, makanya lebih mudah mencomot tulisan orang lain untuk dijadikan buku. Akan lebih baik jika MamanyaMia dan penulis buku bisa duduk semeja (sambil makan mangga,misalnya) untuk menyelesaikannya secara kekeluargaan. Jikalau hal itu tidak memungkinkan ya bisa segera menempuh jalur hukum. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi, dan semoga redaksi baltyra juga dapat arif menyikapinya, bukan diam seribu bahasa. hahaha….

  7. cokibima  5 November, 2011 at 11:48

    Halo Mia pakabar ?
    Saya belum baca bukunya. Tapi andaikata hal itu benar, sungguh memalukan secara moril, (kecuali kalau urat malunya dah putus).
    Mia bilang, dia teman baikmu ? Bukan main…!!!
    Seorang teman baik tidak akan mencuri karya temannya dan dijual untuk tujuan komersiil ataupun untuk keuntungan diri sendiri.

    Saya tahu, website Baltyra diisi oleh orang2 terpelajar, educated. Tentu bukan sembarang orang yg kumpul disini. Apalagi ini pernah jadi pengurus Baltyra.
    Ternyata status sosial orang tidak menjamin kalau mental mencurinya akan sirna.
    Apakah sampai sebegitu jatuh miskin nya sampai karya teman baiknya sendiri dijual tanpa ijin ?

    Baiklah Mia, saya hanya bisa pesan satu hal.
    Ambillah pelajaran berharga dari kasus ini.

    TRUST NO ONE !!

    Salam hangat.

  8. AM  5 November, 2011 at 10:43

    Mia, diriku baru online nih…
    diriku belum membaca tulisan di buku itu ya, tapi penulis manapun pasti mengenali gaya tulisannya sendiri, dan kotak di atas:

    Posted by Mamma Mia Wednesday, 12 August 2009 on 07:56.

    Categories: 56 Etnis Suku di China. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

    You can leave a response or trackback to this entry

    adalah bukti bahwa dirimu yang menuliskannya pada tahun 2009 (ditambah bukti email sent)
    Diriku mendukungmu sesama penulis yang lagi struggling…

    -salam-

  9. ~Mamamia~  5 November, 2011 at 09:32

    Foto-foto di atas bukan milik saia, tapi tulisan di atas adalah tulisan saia, TULISAN SAIA!
    Namun ada seseorang yg mengambilnya tanpa ijin dari saia, dijadikan bagian dari buku yang katanya ditulisnya.
    Lalu dicetak dan diterbitkan…
    Mengapa hal sederhana seperti MINTA IJIN tidak dilakukan?
    Apa yg susah dari itu?
    Mengapa kita tidak belajar menghargai kekayaan intelektual orang lain.

    Saia BENAR-BENAR KECEWA dengan orang tersebut…!
    :'( :'(

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.