Bangsa Indonesia, Bangsa Kualat?

Selamat Ulangtahun Indonesiaku 3: Bangsa Indonesia, Bangsa Kualat?

Iwan Satyanegara Kamah – Indonesia

 

KUALAT? Wah, kayak kutukan seorang anak yang durhaka sama orang tuanya saja. Kalau anak yang berbuat dosa sama kedua orang tuanya, bisa dikutuk jadi batu. Seperti legenda Malin Kundang di Minangkabau. Kalau Indonesia bagaimana? Apa tepat dibilang bangsa kualat? Kualat sama siapa? Kalau diambil analoginya dengan kisah manusia, bangsa Indonesia mungkin kualat sama para pahlawannya. Orang yang punya andil melahirkan negara ini.

Inilah bedanya, antara Indonesia dengan Amerika Serikat. Meski negeri Paman Sam ini terkenal sebagai produsen film porno terbesar, serta negara paling banyak membunuhi rakyat sipil dari negara asing yang tidak pernah berperang dengannya. Namun AS adalah contoh yang baik sebuah bangsa yang menghormati pahlawannya, dibanding orang Indonesia. Mereka tahu siapa Founding Fathers mereka, meski tidak harus menghafal nama-nama mereka. Kalau kita? Buat apa tahu tentang pahlawan? ‘Gak penting!

Cobalah kita lihat diri kita sendiri. Terlalu jauh melihat bangsa Amerika. Bagaimana perlakuan kita kepada Soekarno? Kepada Hatta? Kepada Frans Mendur (si pemotret proklamasi)? Kepada Riwu Ga? Nah lho, siapa lagi orang ini? Kepada Sjafruddin Prawiranegara? Kepada M. Assaat? Kepada tokoh ini? Tokoh itu? Wah, bisa sedih ceritanya.soekarno-old

Kalau soal Soekarno, semua sudah tahu, kita punya sistem yang canggih bagaimana cara menyiksanya hingga mati dalam kesepian. Dia dibiarkan sakit dan tidak diobati optimal selayaknya sebagai seorang mantan presiden. Dia dibiarkan sendiri berak di celana, jatuh dari kamar mandi seorang diri hanya ditemani perawat di rumah sepi, jauh dari keramaian (sekarang rumah itu jadi Museum Satria Mandala. Dan masih tetap sepi).

Soekarno sangat tragis. Dia dibunuh berkali-kali. “Dimatikan” secara fisik (21 Juni 1971), dan dibunuh dalam literatur, dimusnahkan dalam pita seluloid (film) dan dihilangkan dari sejarah.

Seorang menteri pendidikan (1983-1985) di masa Presiden Soeharto, mencoba menghilangkan nama Soekarno sebagai penggali Pancasila. Belum puas dengan tikaman itu, dia melalukan cropping (memotong dan menghilangkan) gambar Soekarno yang sedang memberi hormat saat pengibaran bendera pusaka pertama kali tanggal 17 Agustus 1945. Gambar itu lalu menghiasi semua buku pelajaran sejarah siswa SMP secara nasional. Biar generasi mendatang tahu, bahwa proklamasi bukan jasa dan bukan dibacakan oleh Soekarno. Beberapa tahun silam, tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI), DN Aidit, membacakan naskah proklamasi saat HUT PKI ke 40 di Gelora Bung Karno tahun 1965, tanpa menyebut nama Hatta, “…atas nama bangsa Indonesia, Soekarno.” Wah, kebayang ‘kan bila presiden Indonesia Nugroho Notosusanto dan wakilnya DN Aidit? Proklamator kita pasti bukan Soekarno-Hatta nantinya. Mungkin Batman dan Robin, atau Tom and Jerry. Mungkin juga Hackel and Jackel.

Belum cukup itu, seorang mantan tokoh intelejen militer membuat buku di tahun 1989, yang isinya mengatakan bahwa Soekarno terlibat pemberontakan PKI. Buku ini membuat naik pitam Menko Polkam (waktu itu) Benny Moerdani. “Data intelejen tak bisa dijadikan bahan sejarah”, katanya marah. Benny, meskipun loyal kepada Soeharto, dia adalah penyayang Soekarno. Keberaniannya dalam merebut Irian Barat, membuat Soekarno sayang kepadanya, sehingga menjodohkan dengan putri dari teman baik Soekarno sewaktu masih di Bandung.

Ada anekdot pada tahun 1980an, kalau ada orang yang “macam-macam” sama Soekarno, pasti dia akan “dipanggil” Soekarno di alam sana. Artinya orang itu akan mati.

Hatta-1Hatta pun di saat masa tuanya, hidup dalam kesederhanaan. Di bawah batas kesederhanaan. Dia kekurangan uang untuk membiayai operasional rumahnya. Bahkan mau membeli sepatu kesayangannya pun, tak bisa, Saat itu, sekitar pertengahan 1970an, satu dari korupsi terbesar di dunia terjadi di Indonesia. Untuk dua proklamator saja, kita tidak takzim (respect), bagaimana dengan tokoh lainnya? Baru sekarang-sekarang saja kita memperingati 100 Tahun Bung Karno, 100 Tahun Bung Hatta, 100 Bung Sjahrir, 100 Tahun M. Natsir. Dulu sih, sekitar 20 tahun lalu, hmmm…boro-boro. Mencoba menayangkan gambar Soekarno di media massa saja, sudah ada “tuduhan miring”. Bakal nggak selamat hidupnya.Makanya saya shock, waktu PT Pos Indonesia menerbitkan perangko seri “50 Tahun Hubungan Indonesia-Kuba”, yang gambarnya Soekarno sedang ngobrol dengan Che Guevara. Weleh-weleh…jaman berputar….
Orang seperti Sjafruddin Prawiranegara (musuh politik Presiden Soeharto), juga tidak mendapat layak dalam sejarah bangsa. Dia dikucilkan penguasa. Padahal dia adalah presiden Indonesia secara teknis selama beberapa bulan, ketika memimpin pemerintahan darurat RI di rimba raya Minangkabau, untuk mempertahankan negara yang diproklamasikan 17 Agustus 1945. Lho? Kemana Soekarno Hatta? Ditangkap Belanda. Begitupun dengan Mr. Assaat, orang yang menjadi presiden Indonesia secara teknis selama RI berkedudukan di Jogjakarta. Bung Karno sendiri menjadi presiden RIS (Republik Indonesia Serikat), yang terdiri dari negara-negara kecil, satu diantaranya ya RI yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 itu. Mr. Assaat presidennya. Assaat pun wafat dalam ketidaktahuan orang banyak. Dan tak mendapat apa-apa sama sekali. “Lupa tuh”, kata bunyi iklan obat penghilang sakit kepala.syafruddin prawiranegara
Frans Mendoer
Apalagi sama Frans Mendur, wartawan yang mengabadikan peristiwa bersejarah proklamasi 17 Agustus 1945. Dia tak mendapat apa-apa yang layak sebagaimana mestinya. Sampai detik ini, semua foto saat proklamasi tak pernah mencantumkan nama “Frans Mendur” sebagai fotografernya. Makanya, sewaktu kita merdeka 17 Agustus 1945, hanya tersiar tersendat-sendat tanpa foto. Pokoknya kita sudah merdeka! Rakyat ‘gak ada yang tahu suasana pembacaan proklamasi. Keadaan itu berlangsung selama 7 bulan! Baru pada 20 Februari 1946, untuk pertama kalinya, foto proklamasi 17 Agustus 1945 hasil jepretan Frans Mendur diketahui publik saat dimuat di halaman depan harian Merdeka.
riwu-ga-di-ladang

Lalu bagaimana caranya orang bisa tahu kita merdeka? Banyak cara untuk menyampaikannya. Satu di antara dengan keliling kota, seperti yang dilakukan oleh pemuda Flores Riwu Ga. Dia adalah pembantu Soekarno sewaktu dibuang di Ende, Flores. Dia bawa Soekarno saat dibuang di Bengkulu, lalu diboyong ikut tinggal di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, tempat proklamasi dibacakan. Supaya orang tahu kita merdeka, Soekarno menyuruh Riwu Ga untuk menyampaikannya secara lisan. Caranya, Riwu Ga menggunakan jeep yang dikemudikan oleh Sarwoko, dengan menancapkan bendera merah putih di mobil sambil berkeliling Jakarta menyiarkan berita proklamasi. “Ooooi…..orang-orang! Kita sudah merdeka!”, teriaknya. Apa yang didapat Riwu Ga? Tidak dapat apa-apa, kecuali jadi petani miskin di kampungnya di Flores. Bahkan tiap perayaan 17an di kantor kabupaten tempat dia tinggal, dia tidak diundang. Bukan tamu penting.

Kita memang tak pernah menghiraukan para pendahulu. Paling tidak untuk bahan pelajaran kehidupan bernegara. Makanya salah terus apa yang kita jalankan. Karena tidak pernah belajar dari masa silam. Masa silam tak penting, yang penting itu masa depan, begitu kira-kira anggapan orang sekarang. Jadinya, bangsa kita seperti orang-orang sawah. Berwujud manusia tapi tak bernyawa.

 

Sumber foto:

http://rosodaras.wordpress.com

http://news.melayuonline.com

http://mahmara.com

 

48 Comments to "Bangsa Indonesia, Bangsa Kualat?"

  1. Onder de Boom  18 August, 2011 at 17:49

    Komen#45 It is me=Inilah saya …….yang WN Belanda,……apa bisa dibuktikan yang mendapatkan warga negara Amerika,merasa bangga?Adakah contohnya?

  2. matahari  18 August, 2011 at 17:04

    Tulisan yg sangat bagus….Thanks

  3. Itsmi  18 August, 2011 at 12:19

    Iwan, komentar kamu nomor 38 itu benar sekali. contohnya, imigran yang ke Amerika mereka bangga dengan mendapat warga negara Amerika. Sedangkan imigran Belanda dimana mereka dari A sampai Z di jamin, mereka tidak bangga karena Belanda anti nasionalisme.

  4. Kanakin  18 August, 2011 at 10:53

    Pak Iwan, thanks, cerita ini saya baru tahu karena dibuku2 yang kita pelajari waktu sekolah ngak komplit, saya anjurkan supaya article2 anda dikumpulkan jadi buku seperti Sophie, pasti banyak yang ingin baca.
    September saya akan ke Jkt lagi, kalau ada waktu kita kumpul ya.
    Salam,

  5. [email protected]  18 August, 2011 at 09:45

    dualem…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.