Wednesday, 12 August 2009
Selamat Ulangtahun Indonesiaku 3: Bangsa Indonesia, Bangsa Kualat?
Iwan Satyanegara Kamah – Indonesia
KUALAT? Wah, kayak kutukan seorang anak yang durhaka sama orang tuanya saja. Kalau anak yang berbuat dosa sama kedua orang tuanya, bisa dikutuk jadi batu. Seperti legenda Malin Kundang di Minangkabau. Kalau Indonesia bagaimana? Apa tepat dibilang bangsa kualat? Kualat sama siapa? Kalau diambil analoginya dengan kisah manusia, bangsa Indonesia mungkin kualat sama para pahlawannya. Orang yang punya andil melahirkan negara ini.
Inilah bedanya, antara Indonesia dengan Amerika Serikat. Meski negeri Paman Sam ini terkenal sebagai produsen film porno terbesar, serta negara paling banyak membunuhi rakyat sipil dari negara asing yang tidak pernah berperang dengannya. Namun AS adalah contoh yang baik sebuah bangsa yang menghormati pahlawannya, dibanding orang Indonesia. Mereka tahu siapa Founding Fathers mereka, meski tidak harus menghafal nama-nama mereka. Kalau kita? Buat apa tahu tentang pahlawan? ‘Gak penting!
Cobalah kita lihat diri kita sendiri. Terlalu jauh melihat bangsa Amerika. Bagaimana perlakuan kita kepada Soekarno? Kepada Hatta? Kepada Frans Mendur (si pemotret proklamasi)? Kepada Riwu Ga? Nah lho, siapa lagi orang ini? Kepada Sjafruddin Prawiranegara? Kepada M. Assaat? Kepada tokoh ini? Tokoh itu? Wah, bisa sedih ceritanya.
Kalau soal Soekarno, semua sudah tahu, kita punya sistem yang canggih bagaimana cara menyiksanya hingga mati dalam kesepian. Dia dibiarkan sakit dan tidak diobati optimal selayaknya sebagai seorang mantan presiden. Dia dibiarkan sendiri berak di celana, jatuh dari kamar mandi seorang diri hanya ditemani perawat di rumah sepi, jauh dari keramaian (sekarang rumah itu jadi Museum Satria Mandala. Dan masih tetap sepi).
Soekarno sangat tragis. Dia dibunuh berkali-kali. “Dimatikan” secara fisik (21 Juni 1971), dan dibunuh dalam literatur, dimusnahkan dalam pita seluloid (film) dan dihilangkan dari sejarah.
Seorang menteri pendidikan (1983-1985) di masa Presiden Soeharto, mencoba menghilangkan nama Soekarno sebagai penggali Pancasila. Belum puas dengan tikaman itu, dia melalukan cropping (memotong dan menghilangkan) gambar Soekarno yang sedang memberi hormat saat pengibaran bendera pusaka pertama kali tanggal 17 Agustus 1945. Gambar itu lalu menghiasi semua buku pelajaran sejarah siswa SMP secara nasional. Biar generasi mendatang tahu, bahwa proklamasi bukan jasa dan bukan dibacakan oleh Soekarno. Beberapa tahun silam, tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI), DN Aidit, membacakan naskah proklamasi saat HUT PKI ke 40 di Gelora Bung Karno tahun 1965, tanpa menyebut nama Hatta, “…atas nama bangsa Indonesia, Soekarno.” Wah, kebayang ‘kan bila presiden Indonesia Nugroho Notosusanto dan wakilnya DN Aidit? Proklamator kita pasti bukan Soekarno-Hatta nantinya. Mungkin Batman dan Robin, atau Tom and Jerry. Mungkin juga Hackel and Jackel.
Belum cukup itu, seorang mantan tokoh intelejen militer membuat buku di tahun 1989, yang isinya mengatakan bahwa Soekarno terlibat pemberontakan PKI. Buku ini membuat naik pitam Menko Polkam (waktu itu) Benny Moerdani. “Data intelejen tak bisa dijadikan bahan sejarah”, katanya marah. Benny, meskipun loyal kepada Soeharto, dia adalah penyayang Soekarno. Keberaniannya dalam merebut Irian Barat, membuat Soekarno sayang kepadanya, sehingga menjodohkan dengan putri dari teman baik Soekarno sewaktu masih di Bandung.
Ada anekdot pada tahun 1980an, kalau ada orang yang “macam-macam” sama Soekarno, pasti dia akan “dipanggil” Soekarno di alam sana. Artinya orang itu akan mati.
Hatta pun di saat masa tuanya, hidup dalam kesederhanaan. Di bawah batas kesederhanaan. Dia kekurangan uang untuk membiayai operasional rumahnya. Bahkan mau membeli sepatu kesayangannya pun, tak bisa, Saat itu, sekitar pertengahan 1970an, satu dari korupsi terbesar di dunia terjadi di Indonesia. Untuk dua proklamator saja, kita tidak takzim (respect), bagaimana dengan tokoh lainnya? Baru sekarang-sekarang saja kita memperingati 100 Tahun Bung Karno, 100 Tahun Bung Hatta, 100 Bung Sjahrir, 100 Tahun M. Natsir. Dulu sih, sekitar 20 tahun lalu, hmmm…boro-boro. Mencoba menayangkan gambar Soekarno di media massa saja, sudah ada “tuduhan miring”. Bakal nggak selamat hidupnya.Makanya saya shock, waktu PT Pos Indonesia menerbitkan perangko seri “50 Tahun Hubungan Indonesia-Kuba”, yang gambarnya Soekarno sedang ngobrol dengan Che Guevara. Weleh-weleh…jaman berputar….
Lalu bagaimana caranya orang bisa tahu kita merdeka? Banyak cara untuk menyampaikannya. Satu di antara dengan keliling kota, seperti yang dilakukan oleh pemuda Flores Riwu Ga. Dia adalah pembantu Soekarno sewaktu dibuang di Ende, Flores. Dia bawa Soekarno saat dibuang di Bengkulu, lalu diboyong ikut tinggal di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, tempat proklamasi dibacakan. Supaya orang tahu kita merdeka, Soekarno menyuruh Riwu Ga untuk menyampaikannya secara lisan. Caranya, Riwu Ga menggunakan jeep yang dikemudikan oleh Sarwoko, dengan menancapkan bendera merah putih di mobil sambil berkeliling Jakarta menyiarkan berita proklamasi. “Ooooi…..orang-orang! Kita sudah merdeka!”, teriaknya. Apa yang didapat Riwu Ga? Tidak dapat apa-apa, kecuali jadi petani miskin di kampungnya di Flores. Bahkan tiap perayaan 17an di kantor kabupaten tempat dia tinggal, dia tidak diundang. Bukan tamu penting.
Kita memang tak pernah menghiraukan para pendahulu. Paling tidak untuk bahan pelajaran kehidupan bernegara. Makanya salah terus apa yang kita jalankan. Karena tidak pernah belajar dari masa silam. Masa silam tak penting, yang penting itu masa depan, begitu kira-kira anggapan orang sekarang. Jadinya, bangsa kita seperti orang-orang sawah. Berwujud manusia tapi tak bernyawa.
Sumber foto:
http://rosodaras.wordpress.com
http://news.melayuonline.com
http://mahmara.com
August 12th, 2009 at 10:35
Makasih pak ISK… Banyak cerita yang kita tidak pernah dengar seperti ini…
August 12th, 2009 at 10:31
Pak ISK lanjut terus ….. anda memang top deh, artikelnya selalu enak dibaca dan perlu.
August 12th, 2009 at 10:02
Ayooo sujud minta maaap setulus-tulusnya, orang tua pasti memaafkan dan mudah-mudahan aja bisa keluar dari kutukan, tapi ke siapa? banyak bener yang udah sakit hati keknya…
August 12th, 2009 at 10:01
Bang Iwan..seperti biasa selalu memberi pencerahan terhadap pemahaman saya akan sejarah bangsa sendiri. Terima kasih…
August 12th, 2009 at 09:22
Pak Iwan, tulisannya top sekali !
Saya masih ingat waktu menteri pendidikan Nugroho mengatakan bahwa Sukarno bukan penggali Pancasila. Saya sendiri pada waktu itu merasa sangat gusar !
Tapi betul seperti bung Iwan tulis tentang anekdot tersebut, tak lama kemudian menteri pendidikan tersebut meninggal……kualatkah ?
August 12th, 2009 at 09:09
Pak Iwan, terima kasih banyak karena sudah mengingatkan kita untuk tidak melupakan jasa-jasa para pahlawan kita… ditunggu tulisan berikutnya Pak… btw, udah sembuh meriangnya??
August 12th, 2009 at 08:49
Pak iwan,tulisan kali ini cukup menyita emosi sy dan membuat trenyuh,betapa tidak,sejarah yg diajarkan kepada kita selama ini tdk jujur sepenuhnya. saya baru tau klo ada tokoh seperti Frans Mendoer dan Riwu Ga,dari tulisan ini. terima kasih,semoga tulisan ini bisa membuat kita lebih menghargai leluhur dan masa lalu.
August 12th, 2009 at 08:16
terenyuh bacanya bang Iwan… kebayang bagaimana susahnya jaman dulu dalam keadaan serba minin, tapi Soekarno dan kawan2nya berhasil memproklamirkan kemerdekaan Indonesia
MERDEKA..ditunggu kelanjutannya
August 12th, 2009 at 08:03
Pak Iwan, bapakku dulu juga pejuang ’45, meski kemudian tanpa tanda jasa apa-apa.
Beliau merasakan bagaimana keluar masuk penjara jaman belanda. Kisahnya sangat heroik, sering berulangkali kami mendengar penuturannya. Ada tiga orang teman seperjuangannya, kalau berkisah sahut menyahut, seru banget. tetapi dua orang temannya sudah meninggal. Kini Bapakku tinggal sendiri, keinginannya sangat kuat…, ingin menggenapi usianya hingga bilangan 100. Dan itu tinggal beberapa tahun lagi.
semoga apa yang diinginkannya terkabulkan oleh Sang PEmberi Usia.
August 12th, 2009 at 07:50
absen dulu, …
dah lama nungguinnya sih…