Mel Gibson dan Tujuhbelasan

Selamat Ulangtahun Indonesiaku 4: Mel Gibson & Tujuhbelasan

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

LHO? Apa hubungannya antara aktor Mel Gibson dengan 17 Agustus? Bisa ada hubungannya, bisa juga tidak. Nah, kalau mau dicari-cari kaitannya, bisa ditelusuri dari pidato kenegaraan Presiden Soekarno setiap tanggal 17 Agustus. Selama menjadi presiden Indonesia, Soekarno berpidato untuk 17 Agustus sebanyak 22 kali. Yang pertama, ya tanggal 17 Agustus 1945 di teras rumahnya, sekalian mengumumkan kepada dunia, lahirnya sebuah bangsa baru yang namanya Republik Indonesia. Sedangkan yang terakhir adalah pidato 17 Agustus 1966.

Keunikan dari pidato kenegaraan Soekarno adalah memakai judul. Atau tema yang biasa dipakai selama pemerintahan Presiden Soeharto. Namun, kalau tema perayaan 17 Agustus selama Orde Baru, kurang dikenal oleh publik. Bahkan banyak yang tidak tahu. Paling cuma panitia atau orang-orang pemerintahan saja dalam lingkaran kecil. Beda dengan judul pidato Soekarno setiap ulang tahun Indonesia. Semua orang tahu. Dari 22 kali perayaan, hanya 21 saja yang memakai judul. 

Sedangkan 17 Agustus 1945 tidak ada judul. Kalau mau dikasih judul, ya Proklamasi Kemerdekaan RI saja. Lha, waktu mau merdeka saja sudah setengah mati susahnya. Bahkan banyak yang ragu, proklamasi kita paling banter umurnya cuma sebentar. Artinya, Indonesia tidak akan berumur panjang. Wajar dugaan itu muncul, mengingat situasi saat itu yang membuat orang pesimis. “Bikin jarum aja gak bisa, kok mau merdeka”, kata orang berpikiran dangkal saat itu.
 
Nah, judul pidato Soekarno sangat unik, penuh semangat, natural, lugas dan penuh harapan. Makanya, meski dibacakan berjam-jam di depan tangga istana, orang rela mendengarnya, sambil disiram terik matahari yang menyengat. Sejak Presiden Soeharto berkuasa, pidato kenegaraan 17 Agustus, tidak disampaikan langsung di depan rakyat, tapi di depan wakilnya. Di gedung parlemen. Biasanya dibacakan sehari sebelum 17 Agustus, kadang dua hari sebelumnya, kalau 16 Agustus jatuh pada hari libur.
 
Selama 22 kali berpidato 17 Agustus, Soekarno  tidak selalu membacakan di depan tangga Istana Merdeka. Pernah 4 kali di dalam Gedung Agung (1946-1949), yaitu istana kepresidenan selama ibukota RI di Yogyakarta. Pernah juga di Lapangan Ikada (sekarang silang Monas). Pernah juga di Stadion Gelora Bung Karno (17 Agustus 1965), sambil dengerin pidato kayak orang lagi nonton sepak bola. Sisanya di tangga atau halaman Istana Merdeka.
 
Ada pidato yang berjudul bagaikan puisi WS Rendra, seperti “Tetap Terbanglah Elang Radjawali”. Bahkan pada pidato 17 Agustus 1950, diberi judul yang bersifat prophetic, “Dari Sabang Sampai Merauke”.
 
Padahal tahun 1950, Irian Barat secara de facto bukan milik Indonesia. Baru tahun 1963 wilayah itu masuk ke dalam RI. Dari semua pidato kenegaraan Soekarno, yang paling dikenang orang Indonesia adalah pidato terakhirnya, 17 Agustus 1966, yaitu “Djangan Sekali-Kali Meninggalkan Sedjarah”, yang disingkat menjadi “Djas Merah”.
 
Nah, ada judul pidato 17 Agustus yang rada aneh di kuping orang Indonesia. Pada 17 Agustus 1964, Soekarno memberi judul pidatonya dalam bahasa Italia! Yaitu “Tahun Vivere Pericoloso”. Artinya apa? Tahun Penuh Bahaya. Wah gawat!
 
Dalam perayaan 17 Agustus 1964 itu, memang agak unik. Yang menjadi pasukan pengibar bendera pusaka (paskibra) adalah Megawati Soekarnoputri, anaknya Soekarno. Nah, 37 tahun kemudian, justru Megawati yang berdiri di tempat yang sama menggantikan ayahnya, sebagai pemimpin upacara detik-detik peringatan proklamasi kemerdekaan RI.
 
Kenapa pakai judul? Ya, tahu sendiri lah, Soekarno memang hobinya mendramatisir keadaan dengan sesuatu yang penuh semangat. Dia selalu menggunakan kata. Kekuatan kata adalah senjata dia untuk menggerakkan rakyatnya. Makanya dia selalu pakai judul untuk tiap pidato 17an-nya.
 
Pidatonya biasanya dipersiapkan jauh sebelum hari-H. Soekarno sendiri yang menulisnya. Bahan-bahannya dari buku-buku Perpusatakaan Nasional yang lokasinya di Museum Gajah (hanya beberapa meter dari Istana Merdeka, tempat tinggal Soekarno). Ya jelas, buku-buku itu dipinjam Soekarno. Biasanya disuruh anaknya Guntur atau ajudannya. Makanya, judul dan isi pidatonya bagus-bagus. Karena dia sendiri yang menulisnya, jadi dia menjiwai sekali apa yang mau dikatakan kepada rakyatnya.
 
Lalu kemana buku-buku yang dipinjam Soekarno? Dikembalikan ke Perpustakaan Nasional? Oh, tidak. Soekarno bukan anggota yang baik. Buku itu tidak dikembalikan. Mungkin lupa atau petugas perpustakaan yang nggak enak menagihnya. “Lha wong yang minjem presiden, masak saya mau minta lagi. Ndak enak toh”, begitu kira-kira pikiran mereka. Wah, berapa tuh dendanya?
 
Akhirnya buku-buku itu disimpan di rak buku yang diletakkan di ruang kerja presiden di Istana Merdeka. Soeharto jarang memakai ruang kerja itu. Hanya awal-awal kekuasaannya saja. Selebihnya, dia nongkrong di Bina Graha. Baru BJ Habbibie menggunakannya kembali sampai Presiden Yudhoyono. Nah, kalau kita lihat ada tamu negara yang diterima di ruang kerja presiden di Istana Merdeka, maka kelihatan susunan buku-buku itu. Misalnya, waktu Soeharto menerima Presiden Bill Clinton pada November 1994, ya di ruangan itu. Tampak jelas buku-buku “hasil rampasan” Perpustakaan Nasional RI menghiasi pertemuan tersebut.
 
Year_of_living_dangerously
Nah, karena pidato 17 Agustus ditulis sendiri Soekarno, makanya jadi terkenal. Seperti pidato17 Agustus 1964 itu. Judul itu akhirnya jadi inspirasi wartawan Australia, Christopher Koch untuk menulis novel tahun 1978, yang judulnya diambil dari judul pidato kenegaraan Soekarno, “The Year of Living Dangerously”, atau Tahun-Tahun Yang Penuh Bahaya (Tahun Vivere Pericoloso). Judul itu sering disingkat menjadi TAVIP. Makanya, kalau menemukan orang berumur 45 tahun keatas yang bernama pakai kata Tavip (Mohammad Tavip, Tavip Junaedi, Tavip Baskoro), ya diambil dari judul pidato itu.
 
Akhirnya, novel Koch itu disalin ke layar lebar pada tahun 1983 dengan judul yang sama dengan judul novelnya. Film itu dibintangi oleh aktor Mel Gibson, Sigourney Weaver dan Linda Hunt, yang mengambil lokasi shooting di Filipina (mana mau Soeharto mengijinkan). Bercerita tentang suasana Jakarta menjelang 30 September 1965.
 
Pada acara Jakarta International Film Festival tahun 2000, untuk pertama kalinya film tersebut diputar untuk publik Indonesia, penonton yang seharusnya lebih dulu tahu. Film itu dilarang beredar semasa Soeharto. Saya ingat waktu menontonnya di Djakarta Theatre. Penuh sesak seperti berebut pembagian zakat fitrah. Yang lucu, postur Soekarno digambarkan mirip tukang becak yang didandanin pakai pakaian Soekarno’s Look. Penonton pun tertawa ngakak melihatnya. 
danger
Judul film itu lalu menjadi terkenal dan menjadi phrase menarik dalam jagat jurnalistik. Sering kita menemukan tulisan dalam bahasa Inggris dengan judul, “The Year of Living …..ly”. Tinggal diganti saja kata sifatnya.
 
Nah, gara-gara judul pidato 17 Agustus itu, Mel Gibson jadi punya kaitan dengan tujuhbelasan.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *