Pantai Mutun & Pulau Tangkil

Adhe Mirza Hakim – Bandar Lampung

Objek Wisata yang ada di seputar kota Bandar Lampung dan paling menjadi favoritku, apalagi kalau bukan Pantai. Letak geografis kota Bandar Lampung, yang menghadap ke Teluk Lampung, membuat ombak pantai yang ada di tepinya tidaklah besar, selain itu di hadapan teluk terbentang beberapa gugus pulau-pulau kecil, yang memiliki pantai-pantai berair sangat bersih dan berpasir putih dengan gradasi warna air laut dari biru muda sampai ke biru tua, dengan pantai yang landai tentunya, membuat kita nyaman untuk bermain air disana.

Lokasi tempat wisata pantai ini ada banyak pilihan, gimana nggak banyak, kota Bandar Lampung itu terletak di tepi Teluk Lampung, yang panjang pantainya membujur dari Kabupaten Lampung Selatan dan dua Kabupaten pemecahannya, yaitu Kabupaten Tanggamus dan Kabupaten Pesawaran. Bahkan di Kabupaten Tanggamus, ada objek wisata ‘Teluk Kiluan’ yang ada ikan lumba-lumbanya. Hm….aku belum sempat kesana next time aku akan explore deh.

Kali ini aku kembali menulis tentang pantai yang ada di dekat kota Bandar Lampung aja, yaitu Pantai Wisata ‘Mutun’ yang terletak di Kabupaten Pesawaran, letaknya tidak jauh dari kota, kalau dari rumahku sekitar 30 Kilo. Naik mobil pribadi paling juga 30 menit. Nama Pantai Mutun sendiri artinya apa aku nggak begitu faham. Tiket masuk ke lokasi pantai hanya Rp.3.000,-/orang, anak2 gratis. Di tepi pantai ada banyak gubuk-gubuk buat beristirahat yang disewakan Rp.50.000,-/gubuk jika hari Minggu dan Libur, kalau hari biasa paling juga Rp. 25.000,-/gubuk.

Yah harap maklum deh, mereka baru bisa dapat untung kalau saat hari Minggu atau Libur saja. Ada juga fasilitas toilet umum, yang dibuat warga setempat untuk tempat bilas badan setelah nyebur di pantai. Kalau mandi Rp. 2.000,-/orang, sedang untuk buang air kecil Rp.1.000,-/orang, standartlah. Untuk tempat makan paling juga tersedia warung bakso dan makanan ringan serta soft drinks. Jangan mikir nemu restoran atau cottages yang mentereng, ini bener-bener taman wisata hiburan yang merakyat. Ada juga pedagang rujak buah keliling, pedagang otak-otak dan pedagang es krim. Selain itu ada usaha penyewaan perahu cano yang tarifnya Rp.. 10.000,-/Cano kecil , Rp. 15.000,-/Cano besar selama 1 jam dan ban renang buat anak-anak yang mau berenang Rp 5.000,-/ban, lalu ada jasa pengantaran wisata ke Pulau Tangkil dengan perahu, jenisnya perahu sampan, yang bisa memuat 10-15 orang, jasa pengantaran PP Rp. 5.000,-/orang, buat anak-anak kecil ongkos 1 tiket untuk 2 anak.

Lumayan murah kan? Apalagi lama menyebrang ke pulau hanya memakan waktu kurang dari 10 menit, saat memasuki ke pulau kita harus bayar lagi, tiket masuknya Rp. 3.000,-/orang, lagi-lagi buat anak-anak gratis.

Kini aku mau nulis kisah jjs ke Pantai Mutun, bareng adik-adikku dan anak-anak. Sebelum berangkat ke sana, kami menyiapkan bekal buat Maksi (makan siang) maklum di sana nggak ada tempat makan yang memadai, selain itu membawa bekal maksi dari rumah lebih terjamin kebersihannya, selain lebih hemat pula. Wawa, khadimatku, menyiapkan nasi timbel, plus ikan asin, sambel trasi, tumis tempe, mie goreng, telur dadar dan krupuk, untuk camilannya kami bawa kacang kulit, kue Panekuk serta buah jeruk dan apel. Buat minum kami bawa sedus air mineral kemasan gelas.

Nah setelah dirasa cukup, kini giliran mempersiapkan baju-baju salin buat anak-anak yang pada mau main air plus sabun cair dan minyak kayu putih. Camera digital tentu gak boleh ketinggalan, hanya aku lupa bawa handycam, lha kupikir ini tempatnya dekat jadi bisa kapan aja ke sini, cukup bawa camera aja.

Rombongan kami terdiri dari 6 anak kecil usia 3-10 th, serta seorang bayi usia di bawah 1 tahun (2 anakku dan yang 5 adalah keponakanku) ditambah 5 orang dewasa. Berhubung daya tampung mobil terbatas, aku putuskan gak pakai supir, cukup aku saja yang jadi supirnya sekaligus pemimpin rombongan. Perjalanan ke Pantai Mutun berjalan lancar, anak-anak pada excited, jalanan di Bandar Lampung nggak ada judul macet, semua lancar. Kami berangkat pukul 10 Pagi, kalo kesiangan udara pantai bisa sangat panas, kasihan anak-anak yang pada mau main air.

Syukurlah kami tidak mengalami kesulitan mencari lokasi parkir mobil yang langsung berada di dekat gubuk yang mau kami sewa buat beristirahat. Setelah menurunkan semua barang-barang dan makanan, kami putuskan untuk langsung maksi dulu karena biar anak-anak tidak cepat masuk angin saat main air nanti. Maksi di tepi pantai rasanya enakkk banget! Apalagi menunya pakai nasi timbel. Hehehe…..inilah liburan sederhana ala diriku, tetapi buktinya tetap enjoy tuh bocah-bocah.

Setelah maksi aku memilih perahu untuk membawa kami menyebrang ke Pulau Tangkil, khusus buat sang baby, dia nggak diajak ke pulau, kasihan masih terlalu ‘imut’ buat diajak nekad naik perahu sampan, akhirnya Baby tinggal di Gubuk bareng sang Papa-nya. Kami putuskan bersepuluh, 6 anak dan 4 dewasa, yang berangkat ke Pulaun Tangkil, udara laut saat itu agak berangin, wah..membuat perahu kami agak berayun-ayun digoyang ombak.

Wuuuiiiihh……aku sedikit berteriak, begitu juga dengan anak-anak, tapi bukan teriak takut…tapi teriak seru seperti kalo naik perahu kora-kora di Dufan, hihihi…., Cuma serem juga sih…kita-kita pada gak pakai pelampung, bener-bener nekad, tapi yah emang adanya gitu, semua juga biasa-biasa aja yang naik perahu ke Pulau Tangkil, mungkin karena dekat ya. Aku perhatikan wajah bocah-bocah nggak ada yang takut, malah mereka terlihat happy. Hm……memang liburan ke alam itu lebih membuat mereka peka terhadap alam sekitar (teringat saat aku mengajak anak-anakku menikmati ecotourism at Bintan’s Mangroves). Apalagi ada 4 orang keponakan kecilku yang memang jarang jjs ke Pulau, bisa dibayangkan kalau anak-anak dari Kota Besar seperti Jakarta dan Batam, main-main ke Pulau di sekitar Teluk Lampung, tentu excited bukan.

AMH01

Saat perahu yang kami tumpangi sudah mendekati pulau, aku berseru “Subhanallah….indahnya!”, pantai yang landai dengan pasir yang berwarna putih bersih dan dangkal serta warna air lautnya yang bergradasi dari biru muda ke biru tua, nggak bisa aku ungkapkan gimana kereennya, yah…Pantai Pattaya putus nih! Kekurangan di sini, memang belum maksimal pengelolaannya. Masih sangat sederhana dan apa adanya.

AMH04 AMH02 AMH03

Perahu kami mendarat dengan mudah, kami langsung berhamburan turun, anak-anak langsung berlarian buat main air, sedang aku langsung sibuk jeprat jepret my digicam, narsis.com kumat, hehehe…., aku membayar tiket masuk Rp.15.000,- saja buat 6 anak kecil dan 4 orang dewasa. Anak-anak hanya dihitung 1 tiket saja, sedang yang dewasa Rp. 3.000,-/orang. Kami minta dijemput kembali dalam tempo 30 menit ke depan, sebenarnya mau lama main di Pulau, tapi mengingat ada anak Bayi yang ditinggal sama Papa-nya, aku putuskan gak usah terlalu lama.

AMH07

Anak-anak sempat main-main pasir dan nyebur-nyebur di tepi pantai. Aku hanya mengamati dari jauh, karena pantainya landai, aku nggak terlalu khawatir. Keadaan di Pulau Tangkil, sepiii…nggak ada yang namanya pedagang asongan, apalagi rumah makan dan cottages. Jadi kita harus bawa makanan dan minuman sendiri. Kebetulan aku sudah menyiapkan semuanya dari rumah, jadi anak-anak nggak terlalu bermasalah untuk urusan makan minumnya, apalagi sebelumnya mereka sudah pada maksi dulu. Di Pantai selain bermain air, ada juga yang bermain bola, sedang yang punya sedikit uang lebih bisa menyewa Banana Boat, Jetski dan Sailing Boat.

Kami dijemput agak telat, aku sedikit agak menggerutu, aku bilang ada anak bayi dari adikku yang menanti ibunya, di gubuk ditepi pantai Mutun, kasihan kalau terlalu lama ditinggal. Syukurlah Baby nya anteng nggak nangis, kek nya faham banget kalo ibunya lagi mau main ke Pulau Tangkil.

 AMH05 AMH06 AMH08 AMH09 AMH10 AMH11 AMH12 AMH13 AMH14

Sampai di pantai Mutun, anak-anak masih melanjutkan main perahu cano dan main pasir pantai, yasud kami yang tua-tua nungguin di gubuk aja. Toh banyak juga bapak-bapak penjaga pantainya, itu tuh para tukang perahu maksudku. Hari sudah semakin siang dan udara sudah semakin terik, pukul 13.00 siang, kami putuskan pulang. Dari pantai kami tidak langsung pulang kerumah, tapi mampir dulu di daerah Sukadanaham buat makan buah Durian yang langsung diambil dari pohonnya. Rasanya enak dong…walau agak mahal dikit, mungkin dilihat yang beli pakai mobil, ah…nggak masalah, toh kami nggak sering ini makan atau jajan buah Durian. Setelah puas makan Durian, baru kami pulang kerumah. Selesai juga JJS bareng keluarga di hari Minggu yang cerah, semoga bocah-bocah lebih mencintai wisata alam terbuka daripada hanya bermain games station.

Quote: “Alam Indonesia memang indah, giatkan Eco-Tourism pada anak-anak sejak dini.”

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

16 Comments to "Pantai Mutun & Pulau Tangkil"

  1. aldy  1 June, 2010 at 20:21

    Iya,rencana kita mau nginep di bandar lampung,di wisma haji di soekarno hatta,maklum rombongan mahasiswa,cari yg murah meriah..
    Mau nanya lagi mbak,alamat pantai mutunnya dimana ya,saya search ko g nemu2..
    makasih banyak mbak atas saran n infonya..
    Lampung pantainya emang TOP BGT..

  2. Adhe  1 June, 2010 at 15:20

    Aldy, kalo mau ke Pantai Mutun, sebaiknya nginep di Tanjung karang aja, kalau diseputar pantai Mutun dan Pulau Tangkil tidak ada resort atau hotel yg representatif. Tapi kalau mau ke Pantai Laguna di Kalianda, ada resort yg lumayan baik disana, sekelas bintang 3 lah…namanya Kalianda Resort, nah ini langsung view pantai. Hanya kalau mau jujur bagusnya ya…pulau Tangkil itu pantainya bener2 bersih dan natural. Ini no telpon Hotel Grand Amalia di Tanjung Karang. 0721-250555 dan Kalianda Resort 0727-322888 dan 0727-322900.
    Saran saya, kalo mau ke Pantai Mutun dan Pulau Tangkil di Pagi hari. Kalau siang atau sore cuaca suka hujan. Sebaiknya bawa makanan, karena disini nggak ada restoran. Yang ada warung2 kecil tempat jualan snack. Kalau mau makan di restoran yg menunya enak, tempanya nyaman dan harga relatif bersahabat walau rombongan sekalipun, coba mampir di Rumah Kayu Tertaurant , telp 0721-700666 atau 0721-787123. Have Nice Vacation bro Ardy.

  3. aldy  1 June, 2010 at 14:31

    Ada nomor pihak pariwisata yg bisa dihubungin g disana??
    Saya mau rombongan berencana mampir kesana..
    Masih bingung antara pantai mutun atau pantai laguna di kaliada..
    Saya dari jawa soalnya,pingin mampir refreshing k lampung dari acara di palembang,,.
    Kira2 bagus yg mana ya..
    terimakasih..

  4. niesma.r  16 January, 2010 at 08:50

    Wow..keren bngt pantainya..aku sering plng ke Lmpung tp mlah blm smpat jln2 ke Pantai Mutun or ke Pulau tangkil..ehm..kayaknya hrs diagendain nih ..txs u/ infonya..salam kenal ya..

  5. TerraResident  20 August, 2009 at 13:28

    Selamat siang Adhe. Pantainya keren banget. O, iya, pergi dengan anak2 kecil diusia tsb, dobel repot yah?

  6. adhe  17 August, 2009 at 13:15

    @Pak Sumonggo, setuju aku dengan yg bapak katakan, Kesederhanaan yang selaras dengan alam sekitar justru menonjolkan ‘Keindahan yang alami’.

    @Elia, trims ya sudah mampir di artikel ini.

Terima kasih sudah membaca dan berkomentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)