Perempuan-perempuan Proklamasi

Selamat Ulangtahun Indonesiaku 5: Perempuan-perempuan Proklamasi

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

INI istilah apa lagi? Belum pernah ada kok istilah perempuan-perempuan proklamasi. Yang kita kenal cuma istilah proklamator, yang menjadi milik konsesi selama-lamanya oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Istilah /proclamator/ juga sebutan yang ngaco, karena tidak ada dalam leksikon bahasa Inggris.

Lalu siapa perempuan-perempuan proklamasi?

Kalau dibaca kalimatnya, artinya perempuan-perempuan yang mempunyai kesempatan terlibat dari awal menjelang proklamasi, saat detik-detik proklamasi diucapkan, masa mempertahankannya dan saat mengisi tujuan kita mencetuskan proklamasi. Emang ada perempuan ikut campur di saat-saat kritis dan menegangkan itu? Bukannya drama hari-hari menjelang 17 Agustus 1945 adalah panggung yang diisi oleh para pemuda militan, progresif, revolusioner dan suka gregetan karena nggak sabaran? Ya, kadang-kadang pikiran mereka pendek tak strategis. Hanya meluapkan emosional seketika. Kalau kayak begini, pasti cewek-cewek atau perempuan pada nyingkir.

Ternyata tidak! Justru perempuan-perempuan proklamasi berperan membuat peristiwa bersejarah itu, berjalan dengan revolusioner, tapi romantis. Coba deh perhatikan baik-baik foto-foto pembacaan proklamasi 1945 di rumah Soekarno Jalan Pegangsaan Timur no. 56, yang diabadikan Frans Mendur.

Proklamasi 01

Proklamasi 02

Proklamasi 03

Pada saat bendera pusaka pertama kali dikibarkan, tampak di sisi paling kiri Soekarno (berpeci), Hatta yang keduanya memandang khidmat bendera. Lalu Latief Hendraningrat, pria bertopi yang menaikkan bendera pusaka. Kemudian tampak seorang pemuda belasan tahun bercelana pendek yang memegang bendera, yaitu S. Suhud (tetapi ada seorang pria tua bernama Ilyas Karim mengaku dialah yang memegang bendera, bukan Suhud).

Nah, pada foto-foto itu ada juga perempuan yang hadir. Yang jelas Fatmawati, istri Soekarno, yang memakai kerudung dalam foto legendaris itu. Di sampingnya berdiri Surastri Karma Trimurti, rambut hitam berkonde. Di samping kanannya ada seorang perempuan muda tak diketahui identitasnya. Mungkin saja Johanna Tumbuan Masdani. Nah lho, siapa tuh Johanna? Siapa pula Trimurti?

SK Trimurti fatmawati

Zus Jo, begitu panggilan Johanna Tumbuan. Ia kawin dengan pemuda nasionalis bernama Masdani. Kata cerita wartawan kawakan Rosihan Anwar (teman baik Johanna), Jo itu perempuan nasionalis. Waktu ikrar Sumpah Pemuda dibacakan tahun 1928, dia yang menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raja untuk pertama kalinya, saat pencipta lagu itu menggesek biolanya untuk memperkenalkan sebuah lagu yang kelak menjadi lagu kebangsaan Indonesia. Nah, Jo bernyanyi bersama Dolly, putri Haji Agus Salim. Johanna juga menjadi saksi dan datang pada saat Soekarno membacakan proklamasi 1945.

Jo memang pantas disebut perempuan proklamator. Waktu HUT RI Pertama 1946, tentara Sekutu yang menguasai Jakarta (karena Jepang kalah) melarang orang Indonesia merayakannya. Tetapi Johanna bersama organisasinya, punya ide membangun sebuah tugu di halaman rumah Jalan Pegangsaan Timur 56, sebagai rasa syukur bahwa negerinya bisa berjalan satu tahun. Tugu itu diresmikan sendiri oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir di sore hari, yang berkantor di bekas rumah Soekarno itu.

Malamnya, Jo bersama patriot-patriot perempuan dalam organisasinya, berdiri mengelilingi tugu sambil menyalakan lilin sebagai rasa syukur. Indah sekali dan romantis… “Roda revolusi Indonesia tidak akan jalan tanpa perempuan”, katanya galak. Tugu itu dibongkar tahun 1960 dan dibangun kembali oleh Gubernur Jakarta Ali Sadikin atas desakan Jo, orang yang membangunnya.

Maria Ulfa SantosaSiang harinya, pada 17 Agustus 1946, memang banyak orang ingin berkumpul di tempat kemerdekaan Indonesia pertama kali diucapkan. Tapi dihalang-halangi oleh tentara Sekutu. Ada sekelompok perempuan yang nekad nyerobos barikade yang dipimpin oleh Maria Ulfah Santoso. Wanita ini seorang sosialis dan sahabat baik Sutan Sjahrir yang aktif berorganisasi untuk kemerdekaan. Maria kelak menjadi seorang menteri, dan atas usulannya pula Sutan Sjahrir mengadakan perundingan dengan Belanda di kampungnya Maria, di kaki Gunung Ciremai, di Linggajati, Kuningan, Jawa Barat.

Nah, siapa pula Trimurti? Perempuan ini sahabat baik Soekarno jauh sebelum kemerdekaan. Dia kelak menjadi wanita pertama yang menjabat menteri. Sajuti Melik, pria yang menyalin dan mengetik naskah proklamasi hasil oret-oretan tulisan tangan Soekarno, adalah suami Trimurti. “Kamu saja yang kibarkan bendera pusaka”, perintah Soekarno kepada Trimurti setelah membacakan naskah proklamasi. Trimurti menolak. “Biar prajurit saja”, jawabnya. Akhirnya Latief Hendraningrat yang mengibarkannya. Latief memang seorang prajurit dan kakak Rukmito Hendraningrat, mantan dubes di Jepang, Manila dan Singapura.

Saya beruntung pernah berjumpa dan bersalaman dengan Ibu Trimurti hampir sepuluh tahun lalu. Trimurti bukan saja perempuan proklamasi, dia juga satu-satunya orang di dunia yang berani memegang ubun-ubun kepala negaranya ketika sang pemimpin menganugrahkan sebuah kehormatan rakyatnya. Waktu Presiden Megawati Soekarnoputri menganugerahkan sebuah penghargaan kepadanya (bareng dengan Mooryati Soedibjo, pengusaha kecantikan) pada Hari Ibu 2003, dia tidak hanya menyalami sang presiden, tapi memegang ubun-ubun kepala presiden! Mana ada orang Indonesia berani pegang kepala presidennya? Songong! Kurang ajar! Tapi kejadian ini agak unik, justru Megawati yang membiarkannya dengan penuh rasa sayang. “Lha wong Mega kecilnya saya tahu dan sering saya gendong kok?”, begitu kira-kira kata Trimurti.

Kalau Fatmawati jangan ditanya lagi deh peranannya dalam proklamasi. Dialah perempuan proklamasi sejati. Bendera pusaka yang pertama kali dikibarkan saat Indonesia merdeka, adalah hasil jahitannya dan milik pribadinya. Dia mendapatkannya dengan susah payah. Bahkan orang yang membawanya, menyimpannya dan menjaganya saat-saat negara ini sedang kritis, nekad mempertahankan bendera itu dengan nyawa sendiri. Orang itu Hussein Muhtahar (pencipta lagu Hari Merdeka), yang ditugasi Soekarno menjaganya karena dia ditangkap Belanda. “Jaga bendera ini dengan nyawamu”, pesan Soekarno.

Dalam keseharian pun, Fatmawati adalah seorang perempuan yang menganggap Indonesia seperti anaknya sendiri. Dia setia menyertai suaminya menjaga dan mempertahankan 17 Agustus 1945 dengan penuh kelembutan dan keibuan. Selama pusat pemerintahan RI di Jogjakarta, dia rajin petik daun singkong dari halaman asrama pengawal kepresiden, untuk dilalap suaminya. Tak jauh dari kebun singkong itu, dia suka bermain bulutangkis melawan ayah anak-anaknya. Bahkan dia sendiri suka menyapu halaman istana! Yang lebih parah, ketika suaminya tak menjadi presiden, dia suka naik bajaj menjemput cucunya pulang sekolah.

Meski Fatmawati sangat bersahaja, dia menjamu sendiri tamu-tamu suaminya. Koreografer terkenal Martha Graham mengunjunginya. Marlon Brando datang kepadanya. Pat Nixon, kelak menjadi istri Presiden AS Richard Nixon, bercengkerama riang dengannya. Helen Keller pun menemuinya.

tien-mutahar

Hussein Mutahar – Tien Soeharto – Sultan HB IX

Ada lagi seorang perempuan proklamasi yang mungkin bikin kaget: Ibu Tien Soeharto. Lho koq? Emangnya dia ikut-ikutan berjuang saat detik-detik proklamasi. Mungkin iya, Tapi yang jelas, istri setia Presiden Soeharto ini, telah membawa nuansa Indonesia dalam perayaan 17 Agustus. Maksudnya apa? Ibu Tien, ketika menjadi istri presiden, mungkin kurang sreg dengan resepsi kenegaraan untuk merayakan HUT RI yang diadakan malam hari di Istana Merdeka. Pasalnya, selalu disediakan dan diadakan pemotongan kue tart pada resepsi 17 Agustus.

soeharto-tien

Pada perayaan 17 Agustus 1972, Ibu Tien mengganti kebiasaan potong kue tart dengan tumpengan. “Biar lebih nasionalis dan bernuansa Indonesia”, alasannya. Pada HUT RI ke 27 itu, ada 17 tumpeng nasi kuning dihidangkan. Dan sebuah tumpeng raksasa dimasak sendiri oleh Ibu Tien! Sejak itu kita merayakan dan mensyukuri HUT RI selalu dengan tumpengan. Sampai sekarang. Ibu Tien juga satu-satunya perempuan Indonesia yang setia dan paling lama menghadiri perayaan 17 Agustus mendampingi suaminya. Selama 30 tahun, dari 1967 sampai 1995, Ibu Tien menyaksikan perayaan detik-detik proklamasi.

Perempuan-perempuan proklamasi memang tidak akan dikenang. Orang akan mengenangnya dengan tak sadar, bahwa kelahiran negeri ini tidak selalu gempita dengan hiruk pikuk revolusioner. Tapi bisa berjalan dengan penuh kesan romantic, keibuan dan kelembutan. Seperti marshmallow.


Sumber foto:

http://menjadikosong.wordpress.com

http://tempointeractive.com
[Koleksi Husein Mutahar; 39A/110/1982; 20040723]

http://masboi.com

http://acapellatower.blogspot.com

35 Comments to "Perempuan-perempuan Proklamasi"

  1. muhammad ismet  3 August, 2011 at 21:20

    sy mau jadi persabatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.