“When I’m 64”

Selamat Ulangtahun Indonesiaku 6: When I’m 64

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

KEBETULAN saja HUT RI tahun ini adalah yang ke 64. Kalau pakai ilmu cokgalicok orang Jawa, angka 64 angka sedikit punya makna. Lha, orang Jawa yang budayanya berlatar Hindu, pasti akan bilang, “Wah, negara kita umurnya 8 windu”, kata mereka. Delapan adalah angka keberuntungan bagi sebagian orang. Ditambah lagi sewindu itu ya 8 tahun. Nah, klop deh.

Namun secara tak sengaja saya teringat sebuah judul lagu cantik dari kelompok lagendaris dari Inggris, the Beatles. Judul lagu itu “When I’m Sixty Four”, yang ditulis oleh Paul McCartney, seorang dari 4 anggota kelompok asal kota Liverpool, Inggris itu. Ketika Saya Berusia 64 Tahun, begitu artinya kira-kira.

Mengapa lagu itu? Ya karena saya ingat 17an tahun ini yang ke 64. Pas dong. Tulisan ini sedikit mengusik lagu itu sambil melihat usia negara saya, yang pas dengan maksud lagu itu di tulis. Lagu tersebut ditulis sendiri oleh Paul sekitar tahun 1967. Isinya kira-kira membayangkan usia si penulis lagu ketika berumur 64. Masa ketima menjadi tua, pensiunan, rambut pada habis, cuma ngurusin tanaman di kebun, sambil nyambutin rumput liar dan main sama cucu. Waktu lagu itu dicipta, umur Paul si pencipta masih 25 tahun. Sekitar 39 tahun lagi duia berumur 64 tahun.

Lalu apa hubungannya proklamasi 17 Agustus 1945 oleh Soekarno, dengan judul lagu yang populer dari the Beatles itu? Apalagi, kalau mau dihubung-hubungkan, Soekarno terang-terangan tidak suka sama ulah kreatif musik 4 pemuda Liverpool itu. “Mereka bisa merusak budaya kami”, kata di depan wartawan Amerika. Pemuda di sini yang mau mendengar lagu-lagu mereka, harus ngumpet-ngumpet. Kalau ketahuan bisa gawat. Piringan hitamnya bisa dibakar. Itu baru sekedar mendengarkan. Bagaimana kalau meniru gaya mereka? Wah bisa dipenjara, kayak kelompok Koes Bersaudara. Apalagi meniru rambut panjang mereka, bisa diamplas kepala pemuda yang menirukannya.

Nah, ketika ingat lagu “When I’m Sixty Four” itu, saya membayangkan kenyataan yang terjadi pada sang pencipta lagu. Angka 64 itu ternyata punya makna yang menakutkan bagi saya. Siapapun yang menjelang usia 64 tahun akan mengalami hal-hal yang kurang beruntung atau makin mundur, seperti kata syairnya. Bahkan dalam tradisi dalam Islam, ada anggapan kalau usia seseorang sudah menginjak 63 tahun, siap-siap saja. Usia melebihi 63 tahun dianggap karunia dari Tuhan, karena Nabi Muhammad wafat dalam usia 63 tahun.

Apa buktinya orang makin menurun di usia 64? Ketika menginjak usia 64 tahun pada 2006, Paul McCartney mengalami hal yang tidak enak untuk dirasakan. Dia bercerai dengan istri keduanya! Istrinya pertamanya meninggal beberapa tahun sebelumnya. Dan ngerinya, Paul harus menyerahkan seperempat dari semua hartanya, untuk membayar tunjungan perceraiannya! Busyet, jumlahnya sekitar 3,7 trilyun! Walah…

Wah, jangan-jangan Republik Indonesia, bisa sama nasibnya seperti yang dinyanyikan dari “When I’m Sixty Four”? Ternyata ada benernya juga. Lihat aja, Indonesia di usia 64 makin menurun pamornya. Hutang tercipta dengan jumlah terbesar dalam sejarah dalam 5 tahun terakhir. Negeri ini juga dilanda bencana-bencana yang dibuat kita sendiri. Kita pun gemar berkelahi dengan ketidakakuran yang cukup tinggi. Sendi-sendi perekonomian tidak sekuat yang kita harapkan. Suplai energy tidak menjamin kepastian dan makin sempurnya kerusakan lingkunan.

old-soekarno

Soekarno ketika merayakan ulang tahun ke 64 pada tahun 1965, dia pamornya tambah menurun dan akhirnya diturunkan. Habibie pun begitu. Menjelang usia 64 dia tak disukai perlemen yang bisa memilihnya menjadi presiden kembali di tahun 1999. Abdurrahman Wahid juga makin menurun kesehatannya menjelang usia 64. Gara-gara itu dia tak boleh ikutl lomba menjadi presiden tahun 2004. Bagaimana dengan Megawati? Dia makin tak disukai orang menjelang usianya ke 64, sehingga orang untuk kedua kalinya tak menghendaki dia dipilih menjadi presiden tahun 2009. Duh sedihnya… padahal tahun 1996-1998, semua orang bertumpu padanya agar bisa mengubah keadaan yang beku dan memuakkan. Tapi menjelang usia 64, semua menjadi pudar dan berbalik.

soehartohabibie gus dur

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun akan senasib terkena “64 Syndrome”. Menjelang usia 64 tahun, dia akan mengakhiri karir politiknya selama-lamanya tahun 2013 ketika dia tak boleh lagi jadi presiden. Siap-siap menjadi seperti syair lagu itu, “When I get older losing my hair, Many years from now…”

Anehnya, Soeharto yang menjadi presiden paling banyak merayakan 17 Agustus sebanyak 32 kali, justru mengalami usia 64 pada waktu kondisi puncak saat 17 Agustsu 1985. Rakyatnya bisa swasembada sembada beras diiringi banyak kemajuan material bagi Indonesia. Namun setelah 13 tahun kemudian, dia mencicil kesalahan yang dia lakukan sejak usia 64. Dia diturunkan rakyatnya dengan berdarah-darah di tahun 1998.

Mudah-mudahan Indonesia yang lahir 17 Agustus 1945 tidak terjadi seperti lagu diatas. “Will you still need me? Will you still feed me? I’m Sixty Four”. Masih ada yang butuh sama Indonesia?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.