Autumn Trilogy

QueeNerva – Somewhere

Hasil dari buka-buka folder-folder di Baltyra mempertemukanku dengan satu pojok bernama "Fiksi", so ga pakai panjang ga perlu lebar isenglah tangan ini mengirimkan beberapa bait kata. Sebenarnya ketiga puisi ini sudah malang melintang di blog pribadi (yang saking ga pentingnya pasti hanya diakses beberapa orang), so terserah redaksi mo ditampilkan apa enggak ya…

Note, ilustrasi yang terattach dari dokumen pribadi. 

Maka inilah, selarik kejujuran saat bibir terlalu berat untuk mengucap, hingga hanya dapat tergoreskan dalam pena.

 

Sebuah Mimpi Dalam Pelukan Jingga 

Dalam hening hati
Kembali kususuri titian tak bertepi
berteman malam mengirim bintang
Yang ingin kusematkan dihatinya
Meski ku tau kan goreskan luka
Luka yang sama yang dia torehkan
Lewat pelukan jingga 

Kubersimpuh menatap mimpi yang tlah pergi
Mengepakkan sayap-sayap menembus langit
Terbang bersama merah nurani
Meninggalkan guratan yang takkan menghilang 

Kubersimpuh mengiring mimpi yang terlupa
Mimpi seorang perempuan dalam diam
Menjalin roncean asa yang menghias bawah sadarnya
Merenda kepingan-kepingan tanya yang tak tergapai logika kecilnya 

Kini, kuseret langkah untuk pulang
Kembali kepada bising celoteh warna dunia
Tapi ijinkan kusimpan kenangan akan helai-helai malam
yang pernah kita taburkan
dalam pelukan jingga
 
November 2004

 

Autumn Melodies

Musim kembali menorehkan catatannya pada rona daun-daun
Mengetuk rikuh, mengintip malu-malu, tatkala ia tau alam tak memberinya waktu
Namun tetap kurasa, pelukan dinginnya pada malam-malam yang berlalu
Menyelimutiku dengan ribuan dejavu
Merajut sintesa retorika yang masih tak tergapai logika kecilku
Meski tlah kali kedua dia menyentuhkan jemari di depan pintu

Tak jarang kuberhenti mengayun hari tuk sekedar menyelip tanya
Apakah sedemikian pekat kebodohan yang kucipta?
Hingga tak mampu ku berdamai, bahkan dengan diriku sendiri

Apakah salah kalau aku tak merasa salah menggantung asa pada apa yang mereka anggap
hanya titik kesalahan silam?

Kesalahan yang masih mampu menyentak adrenalin dan meruntuhkan tirai melodia hatiku
Kesalahan yang hanya tertegun dalam tawa pedihnya tanpa mampu menjawab atas semua asaku

Tak perlu menghakimiku,
Karena kini bersama waktu dia menghukumku hingga saat yang belum kutau
Entah hingga kucukup mampu mencipta retorika baru
Atau haruskah kutunggu, hingga waktu dendangkan retorika itu untukku?
Yang entah kapan – tak pernah kutau
Namun satu yang kutau, musim kan selalu menggoreskan catatannya
Dengan atau tanpa aku.

Satu malam di Juni 06

 

Rhetorical Elegy 

Saat kau bertanya padaku arti sebuah kesepian
Maka dalam sepatah kata kaulah sepi yang bergema di dalamnya
Ketika kau menanyakan padaku makna atas kesendirian
Itulah waktu saat dirimu bertabur dalam bayangan
 

Namun ..
Jika kurasa ku takkan lelah menunggumu dalam waktu terentang
Kenapa tak lagi terasa serpihmu dalam imagiku
Dan jika kau lah yang terakhir untukku menunggu petang
Mengapa begitu berat benak melukiskan hadirmu di hidupku
 

Tak hanya sesekali retorika itu mengusik euphoria langkahku
Menjejakkan tapak dalam, menggores keping memori
Menerbangkanku diatas kristal dimensi waktu yang membeku
Menghempasku pada ilusi dan mimpi di satu sisi
Sekaligus mengaburkanmu dalam cirrus berkabut
Tak hanya sesekali …
 

Malam kian beranjak mencium rona cakrawala
Menyaput langit dengan kuas fajar jingga
Menghanyutkanku dalam elegi kita, elegiku tepatnya
” … and be with you till the end of time … “
Elegi yang kupastikan dengan janji akan berganti hari ini
 

May, 2008

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.