Pukul berapa sih sebenarnya detik-detik proklamasi itu?

Selamat Ulangtahun Indonesiaku 8: Pukul berapa sih sebenarnya detik-detik proklamasi itu?

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

APA lagi nih? Kok mempermasalahkan yang sangat tidak penting! Semua orang se-Indonesia sudah tahu kok, kalau detik-detik proklamasi 17 Agustus 1945 terjadi TEPAT pukul 10.00 teng! Setiap tahun, detik-detik itu menjadi saat paling sakral dalam ucapara peringatan 17 Agustus. Untuk menghormati dan mengenang saat-saat sakral bagi bangsa Indonesia, dibunyikan dentuman meriam (hanya di Istana Merdeka), disusul bunyi suara pukulan bedug, melepas burung-burung, dug….dug…dug, lalu dentang suara lonceng gereja… Teng, tong, ting, teng… dan bunyi-bunyian lain.

Lalu kenapa dipertanyakan lagi? Nah, ini masalahnya. Orang Indonesia sangat terkenal dengan konsep jam karet. Konsep yang mengajarkan untuk molor dari waktu semestinya bila ada komitmen untuk sepakat soal waktu bertemu. Ditambah lagi, secara antropologis, orang Indonesia sangat tidak suka ketepatan waktu.

“Jam berapa, mas?”

“Jam 9”, jawab pemilik arloji sambil melototin jarum jam.

Padahal, jarum jam masih menunjukan 08.47, atau 09.11. Namun hal itu dianggap jam 9. Gejala ini sudah menjadi budaya, serta memperkuat sebutan bahwa ketepatan waktu orang Indonesia memiliki toleransi yang cukup besar. Atau sering orang Indonesia menyebut waktu dengan ketidakpastian. “Jam lima-an deh kita ketemuan”. Itu artinya bisa pukul 5 sore tepat, bisa 05.30, 06.00 atau 06.30. Bahkan, dalam masyarakat Indonesia yang kental dengan jiwa agraris, waktu menjadi tidak penting. “Nanti ada hajatan ba’da Isya (setelah waktu sholat Isya sekitar pukul 7 malam)”, begitu sering terdengar di kampung-kampung. Nah lho! Artinya, elastisitas waktu cukup molor dan melar. Bisa pukul 7.15, 8.00, 9.00 atau pukul 11 malam.

Kalau begitu, kenapa dipersoalkan kapan detik-detik proklamasi 17 Agustus 1945 yang sakral itu terjadi? Ya, nggak penting sih. Tapi juga bisa penting untuk membersihkan hal-hal yang meragukan dalam kelahiran Negara Indonesia.

Menurut keterangan para pelaku peristiwa 17 Agustus 1945, detik-detik proklamasi saat kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, terjadi tepat pukul 10.00 waktu setempat (Jakarta). Kok pukul 10.00? Ya karena Hatta datang ke rumah Soekarno tepat beberapa saat sebelum pukul 10 pagi. Coba kalau Hatta terlambat datang beberapa menit? Mungkin detik-detik proklamasi agak siangan terjadinya. Soekarno tak mau membacakan proklamasi tanpa soulmate-nya, Hatta.

Tapi apakah memang benar peristiwa itu tepat terjadi pukul 10 teng di pagi hari? Coba kita simak beberapa cerita dan bukti yang meragukan hal itu. Pertama, Soekarno dalam otobiografinya menulis, bahwa acara pembacaan proklamasi dilakukan SEBELUM pukul 10. “…aku masuk ke dalam dan terus ke belakang menuju kamarku. Hari jam sepuluh. Revolusi sudah dimulai”. Artinya, pada pukul 10 semua rangkaian acara pembacaan proklamasi kemerdekaan sudah tuntas, tas! Dilakukan. Makanya, Soekarno langsung tidur.

Keterangan dr. Soeharto, dokter pribadi Soekarno, yang membangunkan Soekarno agar segera membacakan proklamasi, sangat mendukung anggapan bahwa detik-detik proklamasi bukan pukul 10 tepat.

“Sudah jam setengah sepuluh, Mas,”, kata dr, Soeharto membangunkan Soekarno yang sedang tidur sakit meriang. Mungkin kelelahkan dan ditambah kondisinya yang menderita kambuh penyakit malaria.

Pembacaan proklamasi yang menggunakan mikrofon curian dari stasiun radio milik Jepang itu, didahului oleh kalimat pembukaan yang diucapkan secara lisan kepada sekitar 500 patriot sejati, yang datang untuk menyaksikan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Setelah Soekarno dibangunkan dan berpakaian rapih, dia bersama Hatta menuju ruang tamu. Barulah dibaca naskah proklamasi hasil ketikan Sajuti Melik. Setelah itu Soekarno mengucapkan pidato singat penutup dan berdoa sebentar. Total waktu dari pembukaan, pembacaan lalu penutup, sekitar 3 menit. Setelah itu pengibaran bendera pusaka dan menyanyikan lagu kebangsaan. Ya, total tidak lebih dari 20 menit dihitung sejak pukul 09.30, saat Soekarno bangun tidur. Setelah rangkaian upacara sakral yang singkat itu, Soekarno kembali ke kamar tidur. “Hari pukul sepuluh. Revolusi sudah dimulaI”, tulis Soekarno. Lalu dia tidur lagi.

Nah, kalau dihitung pakai stopwatch, dari Soekarno bangun tidur, baca proklamasi dan tidur lagi, nggak ada sampai setengah jam lamanya. Pukul 10 pagi, semua tuntas. Indonesia sudah merdeka.

Nah, ada bukti kedua, yaitu foto karya Frans Mendur waktu mengabadikan pengibaran bendera pusaka Merah Putih untuk pertama kalinya. Perhatikan, bayangan jatuhnya sinar matahari dalam foto itu. Bayangan itu terlihat di depan dengkul Bung Hatta dan di belakang Latief Hendraningrat, si pengibar pertama bendera pusaka.

Kemiringan bayangan matahari itu, bisa menunjukkan pukul berapa saat itu terjadi. Sudut bayangan matahari dengan permukaan tanah atau altitude, besarnya 50 derajat. Artinya, proklamasi dan pengibaran bendera pusaka terjadi sebelum pukul 10 pagi. Kok bisa bilang begitu?

Derajat bayangan

Coba aja hitung pakai kalkulator astronomi di berbagai situs. Masukan data seperti, tahun 1945, bulan Agustus (8) dan tanggal 17. Lalu masukkan data angka +7 untuk menunjukkan tambah 7 jam dari GMT untuk kota Jakarta, lokasi pembacaan proklamasi. Jangan lupa masukkan titik ordinat lokasi tempat Soekarno berdiri saat membacakan naskah proklamasi. Lokasinya persis

Di menara petir di halaman Tugu Proklamasi, Jakarta (rumah Soekarno tempat pembacaan proklamasi sudah dibongkar tahun 1960). Titik ordinat itu menurut Google Earth atau wikimapia.com adalah 06º12´11˝ Lintang Utara (sebelah utara garis khatulistiwa) dan 106Ëš 50´47˝ Bujur Timur (karena sebelah timur kota Greenwich, Inggris, patokan ukuran waktu). Terakhir masukkan waktu yang menurut kita detik-detik proklamasi dibacakan, yaitu 10.00 AM.

foto_2_proklamasi_indonesia

Setelah itu, klik.

Hasilnya apa? Bayangan kemiringan matahari (altitude) pada pukul 10.00 tanggal 17 Agustus 1945 di lokasi Jalan Pegangsaan Timur nomor 56, adalah 54,91º. Nah, pada foto Frans Mendur (lihat foto), bayangan (altitude) itu besarnya 50º. Makin kecil derajatnya, berarti makin pagi. Artinya, detik-detik proklamasi memang terjadi SEBELUM pukul 10 pagi.

Ketika matahari muncul dan mengintip pada pukul 05.59 di hari baru 17 Agustus 1945, itulah sinar matahari terakhir yang terbit mengakhiri masa kegelapan selama ratusan tahun di Indonesia. Esok harinya, pagi hari 18 Agustus 1945, itulah matahari pertama di alam baru.

Alam merdeka!!

28 Comments to "Pukul berapa sih sebenarnya detik-detik proklamasi itu?"

  1. Wal Suparmo  10 August, 2015 at 10:34

    Yang JELAS pada waktu itu masih berlaku TARIH JEPANG( Showa)- dan WAKTU JEPANG( waktu TOKYO). Hal itu berlaku sampai kedatangan tentara Sekutu dan dibuat peraturanPEMERINTAH.Ini juga DIBUKTIKAN oleh KORAN-KORAN yg terbit pada waktu itu.Jadi JELAS detik-detik proklamasi dilakukan bukan sesuai waktu yg berlaku di Jawa tetapi waktu Tokyo yg BERBEDA. ( 2 jam).Tetapi memang lebih NYAMAN kalau jam 10.00 meskipun tidak sesuai KEBENARAN SEJARAH.Pilih saja.Ada bukti
    lain?

  2. Teguh Raharjo  24 May, 2013 at 08:53

    soalnya zona waktu jaman Indonesia merdeka dengan sekarng dah berbeza, sexiong….
    http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/317786-indonesia-pernah-ubah-9-kali-zona-waktu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.