Warga Negara Indonesia

Adhe Mirza Hakim – Bandar Lampung

Hanya tiga hurup sakti inilah yang sering kita gunakan untuk menyebut identitas diri kita sebagai seorang Warga Negara Indonesia. Dalam menyambut HUT RI yang ke 64 tahun, aku ingin sedikit berbagi uneg-uneg dengan teman-teman tentang makna WNI dengan hari Kemerdekaan. Tidak usah memungkiri, bahwa pola didik dari jaman kolonialisme yang membagi-bagi ‘kasta/kelas’ pada masyarakat kedalam 3 golongan, yaitu golongan barat, pribumi dan timur asing, masih memiliki efek hingga saat ini.

Terbukti masih berlakunya kitab undang-undang hukum perdata barat didalam sistim Peraturan Hukum di Indonesia. Apalagi jika kaitannya menyangkut ke sistim pewarisan, sejauh yang dibahas WNI Pribumi, kita tidaklah sulit mengatur hukum warisnya, terserah mau pakai waris adat atau waris secara agama, nah…kalau sudah bicara sistim pewarisan WNI Keturunan, tentunya sistim hukum yang dipakai tetap mengacu pada KUH PERDATA warisan jaman kolonial dulu. Jadi mau ketawa, katanya udah merdeka 64 tahun, tapi sistim hukumnya tetap mengacu pada warisan hukum Belanda.

64 tahun kemerdekaanDengan tetap ‘berprasangka baik’ terhadap semua aturan yang telah dibuat oleh Pemerintah RI selama ini, kita tetap harus mengakui bahwa sistim hukum peninggalan jaman Kolonial Belanda masih relevan dipakai hingga hari ini. Tidak mudah membuat suatu aturan hukum yang komprehensif dan mengakomodir kepentingan semua pihak, buktinya sering kita temui Undang-undang yang disahkan oleh para anggota Dewan yang terhormat itu dimintakan ‘Judicial Review’ artinya Undang-undang itu harus dikaji ulang isinya oleh Mahkamah Konstitusi.

Hanya sedikit analisa, mungkin pada saat perancangan dan pembahasan Undang-undang tersebut ada pihak-pihak terkait ‘yang luput’ disertakan. Sehingga pada saat di undangkan, Undang-undang tersebut banyak memiliki kelemahan. Inti dari yang ingin kusampaikan bahwa membuat Undang-undang itu tidak mudah, makanya uang rehat nya juga besar buat para anggota Dewan yang terhormat, sudah susah-susah dibuat eh…diprotes pula! Contoh UU yang diprotes, rasanya nggak usah dibahas disini yah, temanya terlalu berat padahal aku mau bahas yang ringan-ringan aja koq.

Dalam melaksanakan tugasku, memungkinkan aku bertemu dengan banyak pihak, para WNI maupun WNA, aku hanya mau membahas yang WNI, sedang yang WNA, nggak usah dibahas, lha idenya kan untuk menyambut dirgahayu RI, walau aku tahu para WNA juga ikut merayakannya, sebatas menikmati acara Pesta Kemerdekaan. Saat ini Pemerintah RI sudah menghapuskan istilah WNI Keturunan, dalam tataran hukum kewarga negaraan RI, pada kenyataannya tetap saja ada ‘Pengkhususan’, masih aja ditemui oknum-oknum tertentu yang suka mempersulit yang akhirnya tetap memakai aturan UUD (ujung-ujungnya duit), baru deh beres. Padahal WNI keturunan ini, kebanyakan sih Tionghoa dan sebagian besar menguasai sektor perekonomian negeri ini.

Masih sering ditemui pola pikir yang sinikal terhadap WNI keturunan Tionghoa ini, apa karena mereka ulet bekerja sehingga banyak yang berhasil dalam dunia perdagangan, maka dijadikan alasan mereka telah ‘Menguasai Perekonomian’ negeri ini. Harus diakui keahlian dan keuletan mereka dalam perniagaan yang memberikan kontribusi buat pembangunan negeri ini, disini aku berbicara dalam kerangka ‘Berprasangka Baik’ dan ‘Positif’, bahwa mereka adalah para Warga Negara Indonesia juga yang mempunyai hak hidup yang sama dengan WNI lainnya tanpa terkecuali.

Ada yang bilang mereka itu banyak yang mengemplang dana BLBI dan membawa kabur dananya ke LN, disana mereka enak-enak hidup, rakyat disini yang susah payah hidup melarat menanggung hutang-hutang mereka seumur hidup. Tetapi kita juga harus ingat! Mereka mengemplang dana BLBI tidak sendiri tapi ‘Bekerjasama’ dengan oknum yang ikut menikmati kucuran dana BLBI tsb. Jadi mana mungkin orang bertindak sendiri tanpa bantuan ‘Pihak lain’ yang memuluskan rencana perampokan dana BLBI itu, tetapi aktor utama pelakunya pasti ‘WNI keturunan’ yang disorot, coba itu yang aktor-aktor pemeran pembantu ‘Terbaik’ apa disinggung-singgung? Bahkan disebutpun tidak.

Tolong dicermati, disini bukannya aku mau ‘membela’ WNI Keturunan, tapi mereka juga ikut terlibat dalam pembangunan bangsa ini.

Beberapa hari yang lalu, aku berbicara dengan salah satu klien ku, dialog ini kubuat dengan A (Aku) dan K (Klien):

K : “Bu, kalau bisa urusan ini selesai sebelum 17 Agustus.”
A: “Kenapa bu?”
K: “Saya mau berangkat ke Palu”
A: “Loh…ibu sudah pindah ke Palu?”
K: “Saya udah lima tahun terakhir ini tinggal di Palu”
A: “Apa Ibu nggak takut dengan konflik agama disana?”
Klienku tampak tersenyum, mendengar pertanyaanku yang kedengaran aneh bagi dia,
K: “Disana aman koq bu!”
A: “Tapi kalau membaca berita-berita di media masa maupun menonton di TV, isu-isu perang antar pemeluk agama tertentu marak disana?”
K: “Bu, itu kekacauan emang sengaja dibuat! Yang buat kacau sebenernya orangnya yang itu-itu juga, hari ini dia buat kacau kaum agama ini, besok dia buat kacau agama itu, kerjaannya memang mengadu domba, padahal masyarakat antar agama itu baik-baik saja.”
A: “Boleh saya tahu, Ibu membuka usaha pabrik di wilayah yang mayoritas penduduknya beragama apa?”
K: “Muslim.”
Padahal Klien ku ini WNI keturunan Tionghoa yang beragama Kristen, berumur sekitar 50-an tahun.
K: “Saya malah sumbang Bus buat masyarakat setempat, buat anak-anak ke sekolah, karena sempat saya bertanya kenapa banyak anak-anak tidak sekolah, ternyata masalahnya jarak tempuh ke sekolah yang sangat jauh serta jarangnya kendaraan umum yang bisa dipakai untuk mencapai sekolah mereka.

Akhirnya saya berikan mobil bus, buat anak-anak sekolah maupun ibu-ibu yang mau pergi ke Pengajian. Sedang beban solarnya ditanggung oleh para pengusaha lainnya, kalau mobil itu lewat dijalan, anak-anak itu teriak, itu mobil kami!”

Klienku berbicara dengan nada yang bahagia sekali, aku tersenyum bahagia juga. Indahnya kebersamaan ini. Perlu sedikit kujelaskan bahwa Klienku ini seorang Pengusaha Perempuan yang cukup mapan di daerahku, kemudian beliau pindah Ke kota Palu untuk memulai usaha baru, yaitu membuka pabrik minyak kelapa. Beliau tidak merasa terganggu dengan pemberitaan seputar konflik agama disana.

Masih banyak Pengusaha yang WNI keturunan yang baik dan bersahaja dengan asset yang mereka miliki, disumbangkan buat kemajuan dan kesejahteraan rakyat negeri ini, salah satu yang pernah kubahas tentang sekolah Sugar Group Company yang bertaraf Internasional yang semuanya serba gratis buat anak-anak karyawan dari seluruh perusahaan yang berada dibawah Group ini.

Lalu ada PT. Djarum Kudus, yang mendirikan sekolah olahraga buat mencetak para atlit Bulutangkis yang handal dari anak-anak negeri ini. Ini hanya sebagian kecil yang bisa kusebut untuk mewakili, ada juga pabrik Jamu Air Mancur, yang selalu mensupport para penjual jamu gendong dengan kendaraan-kendaraan gratis saat mudik lebaran, yah ini hanya contoh saja, kalau pun ada omongan bahwa apa yang mereka telah sumbangkan tidak sebanding dengan yang telah mereka dapat, janganlah ‘menutup’ apa yang telah mereka sumbangkan buat sesama WNI. Kebaikan sekecil apapun akan selalu mendapat ganjarannya, begitu juga dengan kejahatan. Kaitan antara WNI dengan hari kemerdekaan lebih difokuskan pada ‘Tindakan’ dalam mengisi kemerdekaan, karena selanjutnya bahasan ini titik beratnya pada sikap kita dalam memaknai ‘Kemerdekaan’.

Dalam kerangka hari kemerdekaan ini, aku mencoba berbagi sudut pandang tentang makna ‘Kemerdekaan’. Bagiku arti kemerdekaan itu luas sekali dan sifatnya dinamis, tergantung sudut pandang dan pola pikir orang yang memandang arti ‘Kemerdekaan’ itu sendiri. Saat ini aku mau mengulas Kemerdekaan dari ‘Tindakan Nyata’ bukan sekedar ‘Omong Kosong’ tanpa bukti, bahwa kita selalu menggembar-gemborkan jargon ‘Mari kita isi Kemerdekaan ini dengan kerja dan upaya yang nyata untuk membangun Bangsa Indonesia ke taraf hidup yang lebih baik’.

Ini kalimat yang sangat Positif sekali tetapi penerapannya yang nggak mudah, kalau hanya sekedar mengucapkan sih gampang, coba dikaji lebih mendalam, apa sih yang sudah kita sumbangkan buat negeri ini? Jawabannya pasti beragam, ada yang bilang sudah, ada yang bilang nggak tahu, mungkin juga ada yang bilang belum bisa nyumbang apa-apa lha hidupnya aja masih di subsidi oleh orang tua, boro-boro mau nyumbang, hehehe….

Sumbangan buat negeri tercinta ini sifatnya bisa nyata dan bisa juga abstrak, sederhana saja kalau yang nyata itu bisa dilihat dari tindakan-tindakan yang jelas-jelas terlihat di mata fisik, contohnya banyak, bekerja untuk pembangunan negeri ini, jujur lho…para kuli bangunan itu juga sudah berjasa secara fisik membangun negeri ini, hanya kadang kita tidak menganggap penting peran mereka dalam pembangunan, yang sudah pasti kita hormati itu Para Pahlawan yang telah gugur di medan perang maupun Para Pahlawan yang telah membawa negeri ini meraih Kemerdekaan baik secara de Facto maupun de Jure.

Ada juga para olahragawan yang telah membawa harum nama Bangsa Indonesia melalui perjuangan mereka dalam memenangkan pertandingan dalam beraneka lomba cabang olahraga. Mungkin selain buruh bangunan para pahlawan tanpa tanda jasa seperti Para Guru, Dosen, Petani, Nelayan, Dokter, Perawat, ABRI, Polisi, PNS, TKI, Buruh Pabrik, Pedagang, Pelajar dan berbagai Profesi lainnya yang intinya sama ‘Membangun dan mengisi kemerdekaan dengan tindakan nyata’.

Sedang yang sifatnya abstrak, tidak bisa terlihat langsung dengan mata fisik, tetapi bisa dirasakan dengan ‘Mata Hati’. Aku merasakan dan memandang bahwa Bangsa dan Negara Indonesia, memiliki semangat kesatuan dan persatuan yang kuat! Apapun bentuk ‘Penghancuran’ Negara ini baik secara sistematis maupun tidak melalui beragam cara, dari cara yang paling halus maupun yang paling brutal sekalipun, Bangsa ini tetap semangat untuk ‘menggalang kesatuan’ menghalau Para Pengacau yang akhir-akhir ini sering di idiom-kan dengan sebutan ‘Terorist’, karena hobbynya membuat terror dan kekacauan. Tujuannya cuma satu menghancurkan Indonesia.

Selain ‘semangat kesatuan dan persatuan’, ada lagi yang bersifat ‘abstrak’ dan inilah yang paling kuat pengaruhnya, yaitu ‘Do’a-do’a yang ikhlas dari semua rakyat Indonesia buat Negeri tercinta ini, agar selalu mendapat perlindungan-NYA’. Kedengarannya sepele, tetapi hasil dari sumbangan do’a-do’a dari orang-orang yang shaleh buat keamanan dan kedamaian negeri ini bisa kita rasakan, walau tidak terlihat oleh mata fisik. Kekuatan do’a bisa membentengi negeri ini dari gempuran macam-macam sistim penghancuran Negeri ini, baik penghancuran fisik lewat beragam terror bom, maupun penghancuran ideology bangsa ini, biasanya ini ditujukan buat generasi muda kita, yang sengaja ‘dicreate’ sedemikian rupa untuk mencintai ‘kebudayaan asing’ dibanding ‘kebudayaan asli Indonesia’.

Aku tidak menolak masuknya budaya asing dan berasimilasi dengan budaya lokal, tetapi kita harus tetap sadar, bahwa kita mempunyai jadi diri sebagai bangsa Indonesia, akui bahwa kita WNI yang tidak usah malu menunjukkan identitas diri sebagai Bangsa, walau pada kenyataannya di Pergaulan Internasional, Bangsa Indonesia masuk kedalam katagori Negara Miskin, kita bukan miskin!!! Tetapi KORUPSI yang telah memiskinkan Bangsa yang kaya ini!

Lihatlah banyak pihak asing yang berlomba-lomba memberikan hutang kepada Negara Indonesia, tujuannya satu, agar kita selalu bergantung kepada mereka, otomatis mereka akan selalu mendapat jatah konsesi untuk mengexplore kekayaan Negara Indonesia selama mungkin. Kekayaan negeri ini tidak akan pernah habis, walau kita harus membayar hutang Negara ini sampai berapa generasipun. Mungkin ada yang beranggapan bahwa pandanganku ini agak terlalu berlebihan, hehehehe…ketawa dulu, aku yakin bahwa pihak asing sudah sedemikian ‘Faham’ dengan isi perut Negara ini! Saat ini apa sih yang nggak bisa di intip? Isi perut bumi Indonesia ini sudah ‘dipetakan’ semua dari ujung Sabang sampai Marauke melalui satelit-satelit Pihak Asing yang kecanggihannya jangan diragukan lagi.

Buktinya penjajah Belanda bisa nyaman selama 3,5 abad di Indonesia, apa nggak bikin iri tuh? Mungkin kalau nggak menjajah selama 3,5 abad, ukuran Negara Belanda nggak seluas saat ini. Sudahlah…nggak usah membicarakan yang lalu. Kita bicara hal-hal kedepan yang bisa membuat Negara ini tetap tegak dan mempunyai kepercayaan diri yang kuat sebagai bangsa yang besar, bukan bangsa yang kerdil dan mudah di intimidasi. Sedih dan pilunya hatiku, saat seorang Noordin yang TOP nya menteror Bangsa Indonesia dengan serangkaian bom bisa ‘bebas berseliweran’ dengan ‘bantuan dana pihak asing’ yang tujuannya satu ‘menghancurkan negeri ini’.

Mereka faham bahwa Indonesia mempunyai potensi kekayaan sumber daya alam dan manusianya yang besar. Alam yang cantik, orang-orangnya kreatif dalam artian bisa mencipta dan berkarya dengan beragam ide plus upah yang murah pula, serta beragam kebudayaan yang memperkaya negeri ini. Jujur aja, kalau saat di LN, aku selalu membandingkan apapun dengan keadaan di Indonesia, satu kata…’Murah’ di Indonesia ya. Mungkin orang-orang yang tinggal di LN beranggapan standart hidup mereka lebih tinggi dari pada standart hidup di Indonesia yang sangat rendah dalam ‘jaminan sosial’ buat masyarakat kecilnya. Lha…kalau mau nuntut standart hidup tinggi itu apa ya??? Wong cilik di Desa itu sudah cukup makan nasi 2x sehari, plus baju seadanya, bahkan baju robek-robek juga masih bisa di tambal sulam.

Bangsa ini patut bersyukur pada Yang Maha Kuasa, bahwa dari sekian ratus juta jumlah penduduk Negara Indonesia, yang sebagian besar ‘kaum Dhuafa’, mereka ikhlas menerima hidup diantara pola tingkah para pemimpinnya yang tidak amanat dengan janji-janji kampanyenya. Kalaupun ditanya ke mereka, jika ada janji-janji para pemimpin yang tidak sampai direalisasikan, selalu jawabannya “Gusti Allah tidak tidur, akan ada ‘ganjaran yang pantas’ buat mereka kelak!”.

Terkesan nrimo dan pasrah, apakah budaya ini memang efek penjajahan Belanda selama 3,5 abad? Atau memang asli sifat orang Indonesia yang selalu ‘berpasrah diri kepada Yang Maha Kuasa’? menurutku semuanya memiliki korelasi, kembali lagi kesudut pandang dari pihak-pihak yang diajak bicara. Bukankah ada Hadist Rasulullah “Lihatlah siapa lawan bicaramu”, artinya kita harus bijak mensikapi ‘Perbedaan’ pendapat. Perbedaan itu hikmah, sejauh tidak menimbulkan ‘perang’ diantara para pihak yang berbicara. Kita juga harus sadar bahwa ‘semua itu ada Ilmunya’. Janganlah menjadi keminter kalau kita tidak menguasai ilmunya, belajarlah walau mungkin tidak bisa sehandal para pakar ilmu yang kita pelajari, tetapi minimal kita bisa memahami dasar-dasar berpikir dari seorang pakar ilmu, kalau nggak faham mending diam deh, daripada sok teu yang malah bikin jutek orang lain, hehehe….

Cukup itu saja uneg-uneg dalam menyambut HUT Kemerdekaan RI yang ke 64 tahun, semoga Bangsa Indonesia dan Negara Indonesia selalu dalam lindungan-NYA serta tetap dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Quote: “Jadilah WNI yang bisa mengisi Kemerdekaan dengan tindakan nyata yang positif, kalau masih belum mampu minimal berdo’a dan tetap bersemangat menjaga persatuan dan kesatuan NKRI, jangan hanya pandai mengeluh sehingga lupa bersyukur bahwa Tuhan selalu memberkahi Negeri ini.”

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

11 Comments to "Warga Negara Indonesia"

  1. Swan Liong Be  26 August, 2012 at 16:42

    Mengapa ya, kalo yang dimaksud dengan keturunan koq selalu yang dimaksud orang tionghoa/cina. Apakah orang arab, india atau bule tidak termasuk keturunan, apakah mereka lebih asli ?
    @ JC: wah, tadi saya tulis agak panjang , tau² hilang komentar saya, ini saya tulis kedua kalinya, agak pendak aja ah.

  2. uchix  26 August, 2012 at 13:13

    Setuju dengan tulisannya, karena banyak perbedaan jadinya unik dan menjadikan Indonesia semakin kaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.