Achchi Mammy and Me

Syanti – Sri Lanka

Sembilan belas tahun yang lalu, pada waktu pertama kami datang ke Sri Lanka, kami menyewa sebuah rumah kecil yang berada di lantai dua, mereka menyebutnya annexe. Hampir setiap hari dari balcony di belakang annexe kami, melihat seorang wanita tua yang sedang mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti mencuci pakaian dan sebagainya. Saya pikir pasti wanita tua itu tinggal bersama keluarga anaknya, karena kami sering melihat sepasang suami istri dan anak-anak berusia remaja di tempat itu.

“Achchi…..achchi…….!” hampir setiap hari si Kecil putri kami berteriak-teriak memanggil wanita tua tersebut.

“ Yes darling……! “ Jawab wanita itu sambil tersenyum dan melambaikan tangannya ke si Kecil

Itulah awal perkenalan kami, dari hanya saling bertegur sapa melalui balcony… seperti Romeo and Yuliet hi hi hi. Akhirnya kamipun menjadi akrab walaupun hanya sebatas bercakap-cakap tentang kejadian sehari-hari.

Di Sri Lanka panggilan untuk seorang nenek atau wanita yang sudah tua adalah achchi amma, tetapi panggilan wanita ini adalah achchi mammy, karena anak-anaknya memanggil dia dengan sebutan mammy bukan amma.

Achchi mammy adalah seorang wanita tua yang berumur sekitar tuhjuh puluh tahun, tubuhnya kurus, rambutnya sudah mulai memutih dan gigi bagian depan sudah banyak yang tanggal atau ompong. Tetapi dia masih sanggup mengerjakan pekerjaan rumah tangga, walaupun kadang-kadang saya melihat dia berjalan dengan sempoyongan.

Achchi mammy ini dapat berbahasa Ingris dengan fasih, menunjukan dia berasal dari keluarga menengah ke atas. Karena pada era itu di mana pendidikan belum gratis di Sri Lanka, hanya keluarga yang mampu yang bisa menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah dengan pengantar berbahasa Inggris.

Sebetulnya saya sering merasa tidak sampai hati melihat achchi mammy yang sudah tua bekerja seperti itu, apalagi pada waktu saya mengetahui bahwa keluarga di rumah tersebut bukan anaknya achchi mammy melainkan keluarga keponakannya (anak dari adik perempuannya). Achchi mammy di rumah itu membantu keponakannya untuk memasak dan mengurus anak-anak mereka, karena mereka suami istri bekerja . Setiap hari Sabtu dan Minggu achchi mammy mendapat libur dan kesempatan tersebut digunakan oleh achchi mammy untuk mengunjungi keluarga anaknya.

Pada waktu kami menghadapi banyak problem di rumah sewaan kami tersebut, kami berusaha untuk mencari rumah sewaan baru. Kebetulan di rumah keponakan achchi mammy mempunyai annexe yang disewakan. Pada pertamanya keponakan achchi mamy tidak ingin menyewakan annexe tersebut kepada kami, karena mereka hanya menyewakan annexe tersebut untuk working couple tanpa anak.

Tetapi berkat bantuan dari achchi mammy, akhirnya mereka mau menyewakan annexe tersebut untuk kami.

Dengan kami menempati annexe tersebut, hubungan saya dengan achchi mammy jadi bertambah akrab. Kami sering mengisi waktu senggang kami bersama. Achchi mammy sering bercerita akan masa mudanya dan kehidupan rumah tangganya.

Dari acchi mammy ini saya banyak belajar, selain belajar memasak masakan Sri Lanka dan cara memakai sari pakaian tradisionil Sri Lanka. Tetapi yang lebih penting saya banyak belajar tentang arti kehidupan……..bagaimana achchi mammy menghadapi kehidupannya yang pahit dengan tetap tersenyum ….dia melakukan semua pekerjaannya dengan penuh suka cita, achchi mammy ini jarang sekali mengeluh.

Achci mammy tidak pernah menyesali kehidupannya, walaupun dia harus bekerja sebagai pembantu di rumah keponakannya sendiri, dia melakukan pekerjaannya dengan penuh kasih sayang.

Bahkan achchi mammy selalu bercerita dengan bangga tentang anak-anak dan cucunya….walaupun pada kenyataannya pada waktu itu, anak-anak dan cucunya belum bisa memberikan kehidupan yang layak untuk achchi mammy dikarenakan keadan ekonomi mereka belum memungkinkan.

Achhi mammy mempunya tiga orang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Dua dari anak perempuannya menjadi janda pada usia muda dan mereka juga bekerja sebagai pembantu untuk menghidupi keluarganya. Bahkan saya pernah membantu mencarikan mereka pekerjaan di tempat teman-teman orang Indonesia yang berdomisili di Sri Lanka.

Saya merasakan ada hubungan emosi yang dekat dengan achchi mammy….seperti dengan ibu saya sendiri. Achchi mammy akan menegur saya secara halus bila saya melakukan kesalahan….dia mengajarkan saya bagaimana cara untuk melayani keluarga saya dengan baik.

Saya sering merasa kehilangan kalau achchi mammy pergi berlibur ke rumah anak-anaknya dan bila saya pergi berlibur ke Indonesia saya selalu teringat padanya dan tidak lupa membelikan sesuatu untuknya….hubungan kami begitu akrab.

Sampai akhirnya nasib baik datang pada keluarga anak-anak dari achichi mammy, di mana ada beberapa cucunya yang mulai berhasil dalam kehidupannya….sehingga mereka bisa membawa acchi mammy untuk tinggal bersama mereka, tampa harus bekerja sebagai pembantu.

Akhirnya kami harus berpisah……kami berpelukan dan tampa terasa kami menangis bersama….!

Setelah achchi mammy tinggal bersama cucunya , hubungan kami seakan-akan terputus karena achchi mammy sering berpindah-pindah tempat, hanya beberapa kali kami sempat bertemu.

Beberapa tahun yang lalu setelah keluarga kami pindah dari annexe tersebut, salah seorang dari cucu achchi mammy menghubungi saya. Cucunya tersebut memberitahukan saya tentang kesehatan achchi mammy yang semakin menurun, cucunya berkata pula bahwa achchi mammy selalu menceritakan tentang saya dan achchi mammy ingin bertemu dengan saya.

Setelah saya mendapatkan alamat tempat tinggal mereka, saya pergi datang mengunjungi achchi mammy, dia begitu bahagia melihat kedatangan saya, dengan senyum khasnya dia berusaha bangkit dari tempat tidur, tetapi tubuhnya begitu lemah. Walaupun demikian kami masih sempat saling bertukar cerita tentang keadaan kami dan saling mlepas rindu.

Dan ternyata itu merupakan pertemuan saya yang terakhir dengan achchi mammy…….karena beberapa hari kemudian achchi mammy dipanggil pulang oleh yang maha kuasa. Saya merasa sedih kehilangan seorang sahabat seperti achchi mammy, tetapi saya juga merasa bahagia karena achchi mammy sudah lepas dari penderitaan hidupnya.

Ternyata persahabatan tidak hanya terjadi dengan teman kita yang berusia sebaya, saya bersahabat dengan achchi mammy yang usianya jauh lebih tua bahkan lebih tua dari ibu saya sendiri.

Dari persahabatan saya dengan acchi mammy, saya banyak belajar bagaimana kita menghargai anggota keluarga kita sendiri. Saya merasa berbahagia dan beruntung mempunyai sahabat seperti achchi mammy.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.