Panggung Gembira

Nyai EQ – Di Bawah Panggung

Dear Readers,

Akhirnya ! Akhirnya…..Akhirnya sampai juga pada bagian terakhir. Setelah bergembira ria menyaksikan lomba panjat pinang dan mengikuti berbagai macam lomba, tibalah saatnya untuk menerima hadiah dan “berpesta” di atas Panggung Gembira. Namanya saja Panggung Gembira, pastilah panggung tersebut didirikan dan diselenggarakan untuk bergembira ria.

Ada banyak jenis bentuk panggung dan acara yang digelar. Masing-masing tergantung pada tempat (kampung/ desa/ kecamatan dsb di mana panggung tersebut di adakan). Di Jogja, yang saya tahu pada tahun lalu, beberapa tempat menggelar acara kethoprak, campur sari dan dangdut pada malam hari, setelah sebelumnya (pada sore harinya) diadakan acara untuk anak-anak dan pembagian hadiah. Panggung-panggung di dirikan di perempatan jalan (tentu saja harus menutup akses jalan di sekitarnya). Perempatan jalan dipilih dengan alasan area tersebut adalah area yang terluas di bandingkan bagian-bagian ruas jalan lainnya. Namun jika ada daerah yang memiliki lapangan atau memiliki penduduk yang mempunyai rumah dengan halaman luas, maka panggung akan didirikan di tempat-tempat tersebut, sehingga tidak mengganggu ruas jalan mana pun.

Acara panggung gembira biasanya diadakan tepat pada tanggal 17 Agustus atau pada tanggal 18 Agustus, sebab tanggal 16 Agustus malam biasanya di selenggrakan acara Malam Tirakatan, yaitu berkumpulnya warga kampong untuk berdoa bersama, mendengarkan ceramah dan makan-makan. Di Jogja ada acara yang snagat khas untuk Tirakatan 17an ini, yakni berjalan mengitari benteng, dari Pojok Beteng Kulon (Barat) sampai Pojok Beteng Wetan (Timur), yang dikenal dengan sebutan “mubeng beteng” (memutari beteng) sambil membisu, alias tidak boleh mengucapkan sepatah katapun sepanjang perjalanan yang memakan waktu beberapa jam tersebut dengan menempuh jarak beberapa kilometer. Saya belum pernah berniat untuk ikut acara ini, namun saya pernah menjumpai orang-orang yang sedang menjalaninya. Acara ini sudah menjadi semacam adat yang berlangsung entah sejak kapan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan berkah kraton dan ya…sesuai namanya : tirakat.

Lepas dari acara tirakatan, sebenarnya yang ingin saya ceritakan di sini adalah sebuah panggung gembira yang diadakan di desa Petung, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Jogjakarta. Saya dan beberapa orang teman membina sebuah sanggar belajar dan bermain di desa tersebut. Namanya Sanggar Sahabat. Anggotanya adalah anak-anak desa Petung yang berusia 4 – 12 tahun. Kegiatannya beraneka macam. Mulai dari belajar bersama (dengan kelompok-kelompok yang dibedakan atas tingkat kelas mereka), mendongeng, melakukan kegiatan-kegiatan kreatif seperti membuat berbagai prakarya sederhana, mengajarkan disiplin secara sederhana, misalnya mencoba membiasakan membuang sampah di tempat sampah, mencuci tangan sebelum makan, menggosok gigi setelah makan, mengajari cara memperlakukan buku dengan baik dan benar (kami memiliki sebuah taman bacaan kecil dan sederhana yang dikelola oleh anak-anak tersebut), kami juga mengajari menabung dan berbagai macam kesenian, di antaranya adalah menulis dan membaca puisi serta teater. Anak-anak di desa ini masih sangat sederhana. Bukan dari desa terbelakang, namun minim informasi. Salah satu anak (orang tuanya cukup kaya) bahkan memiliki handphone yang kami gunakan sebagai alat komunikasi bersama. Anak-anak tersebut memiliki rasa ingin tahu dan rasa ingin maju yang besar. Dan orang tua mereka mendukung penuh kegiatan kami.

Nah, demikian ulasan singkat tentang Sanggar Sahabat. Menjelang perayaan 17 Agustus tahun lalu, pak Dukuh meminta kami untuk melatih anak-anak dengan suatu kegiatan guna mengisi panggung gembira desa Petung. Sebab tahun tersebut (2008) penyelenggaraan panggung gembira jatuh gilirannya pada Rt 3, tempat Sanggar Sahabat berada (kami masih nebeng di rumah pak Dukuh Rt 3 untuk setiap pertemuan). Penyelengaraan pangggung gembira di desa tersebut memang bergilir setiap tahun. Jadi bisa dibayangkan bahwa pengunjungnya akan datang dari seluruh pedukuhan. Bahkan kabarnya saat itu, pak Camat juga mau datang. Suatu kehormatan bagi pedukuhan kecil tersebut. Dan “ beban” bagi kami.

clip_image002 clip_image004

Untuk membuat sebuah pertunjukan yang cukup “spektakuler” kami harus memutar otak dan bekerja keras satu bulan sebelumnya. Kami memutuskan untuk mengisi acara dengan gerak dan tari yang dilakukan oleh adik-adik kecil usia 4-6 tahun. Kemudian juga menyanyi, kelompok putra dan trio putri. Juga “ dance “ oleh adik-adik putri usia 12 tahun. Juga menyajikan pertunjukan teater sebagai puncak acara. Pada awalnya anak-anak laki-laki tidak mau bermain bersama anak-anak perempuan. Malu kata mereka. Untuk mengatasinya (karena bagaimana pun juga mereka harus main bersama dalam satu panggung), kami memecah menjadi 3 kelompok. Kelompok 1 dan 3 terdiri dari anak-anak putri (karena jumlah anak perempuan lebih banyak), sedang kelompok 2 terdiri dari anak laki-laki. Satu masalah terselesaikan. Drama mengambil tema 17an, dibagi menjadi 4 babak, sesuai dengan jumlah regu plus satu babak terakhir di mana all star naik ke panggung untuk menyanyikan lagu 17 Agustus, pembacaan Puisi di tengah lagu, kemudian ditutup dengan lagu Indonesia Raya seraya mengibarkan bendera Merah Putih. Itu rencananya. Naskah disusun oleh anak-anak sendiri. Latihan pertama adalah bedah naskah. Anak-anak diberi pengarahan cara membuat skenario. Tentu saja dengan cara yang paling sederhana. Selanjutnya adalah membicarakan dan mengulasnya. Latihan berikutnya adalah latihan membaca skenario. Sementara salah seorang teman mulai melatih adik-adik kecil bergoyang pinggul ikut irama kaset. Saya bahkan terpaksa harus “menyewa” rekan lain untuk membantu kami melatih drama, karena saya sendirian tidak sanggup melatih 3 grup sekaligus.

clip_image006 clip_image008

Setelah anak-anak lancar membaca naskah dan cukup hafal, maka dimulailah latihan ekspresi dan vocal, karena nantinya tidak ada microphone panggung. Jadi suara harus keras.

Oh, betapa sulit dan membutuhkan banyak perjuangan untuk melatih anak-anak ini. Ada kalanya satu anak ngambek, tidak mau berlatih dan demi toleransi, seluruh grup mogok berlatih. Pernah juga, suatu kali, entah kenapa, ada anak yang menangis saat istirahat, dan kemudian macet tidak mau berlatih. Ketika mulai berlatih, anak-anak ini selalu on time. Hebat ! tapi setelah istirahat…….duh !susah sekali mengajak mereka kembali berlatih. Itu baru berlatih drama, masih harus berlatih bernyanyi dan “nge-dance”. Karena anaknya ya hanya anak-anak itu juga. Bisa dibayangkan serunya masa-masa latihan tersebut.

clip_image010 clip_image012 clip_image014

Puisi yang dibawakan pun hasil karya salah seorang anak dari grup 1. Anak tertua dari Sanggar Sahabat.

clip_image016clip_image017clip_image019

 

PUISI KELOMPOK I

KEMERDEKAAN

Kemerdekaan adalah suatu harapan

Harapan bagi bangsa dan negara

Tuk abadi selamanya

Dan tak kan pernah kandas

Mesti dihantam segala bencana

Tak kan pernah rapuh

Meski saling tidak tahu

Kemerdekaan adalah kebebasan

Kebebasan untuk segala hal

Kebebasan untuk terlepas

Dari penderitaan, penyiksaan

Keterpurukan jiwa dan raga

Kemerdekaan tlah kita dapatkan

Untuk slama-lamanya

Sebagai kenangan yang terindah

Sepanjang hidup…………

Itulah kemerdekaan

Yang kita dapatkan dengan

Susah, payah dan rela

Mengorbankan nyawa

Hanya untuk kemerdekaan

Merdeka…….

Merdeka……..

Merdeka

Untuk Indonesiaku

 

Ditulis Oleh : Puput.

clip_image021

Puput dan puisinya saat Gladi Bersih

Setelah beberapa kali berlatih (kami meningkatkan frekuensi pertemuan, dari seminggu sekali menjadi 3 kali seminggu. Latihan dimulai dari pukul 2 siang hingga 5 sore), akhirnya kami mencapai kata sepakat untuk mulai merancang kostum. Sederhana saja. Sebab memang motto kami adalah “ Pandai dan sehat tidak harus mahal “. Selama ini kami sudah punya uang kas yang merupakan kumpulan uang iuran 200 IDR setiap kali pertemuan, sekali seminggu (baca baik-baik : dua ratus rupiah). Uang tersebut tinggal ditambah sedikit saja untuk kostum dan property pentas. Dan kami sama sekali tidak minta bantuan keuangan pada para orang tua, sampai para orang tua mereka tercengang dan heran. Kami bilang kalau anak-anak punya uang kas. Kami (para pembina) yang akan menambah uang tersebut—pembina, termasuk 3 orang rekan yang kami “sewa” berjumlah 6 orang. Dengan iuran 5000 IDR per orang, seluruh biaya akan tertutup rapi. Saya menyumbangkan rompi dan anting-anting besar untuk dipinjam anak-anak guna keperluan pentas. Juga hairspray berwarna merah menyala yang akan hilang jika dikeramas. Anak-anak menghendaki kaki dan tangannya di “tattoo”, hahhahhaaa……saya tidak pernah mempengaruhi mereka lho. Saya menggambarinya dengan cat khusus untuk body painting. Memuaskan !

Make up sederhana disumbang oleh teman. Sebagian dibeli dengan harga yang tidak terlalu mahal. Senangnya melihat anak-anak begitu gembira dengan segala property pentas mereka.

2 Hari sebelum pentas kami mengadakan gladi bersih. Panggung sudah didirikan. Jadi kami mengadakan gladi bersih di atas panggung. Wow !! menyenangkan !

clip_image023 clip_image025 clip_image027

Kostum sederhana…yang penting pentas dan meriah

 

Orang tua anak-anak pun bahkan meminta saran pada kami untuk menyelenggarakan pesta yang meriah namun sederhana. Kata mereka, biasanya mereka menyembelih kambing dan ayam untuk jamuan. Namun melihat kesederhanaan kami dalam mencoba memberikan sajian yang meriah dan bagus, mereka menjadi tertarik. Kami menyarankan untuk membuat masakan sederhana, yang diolah dari hasil kebun dan dimasak dengan bumbu yang pas. Dijamin akan lezat, meskipun tanpa daging kambing dan daging ayam yang berlebihan (daging ayam wajib ada). Akhirnya mereka memutuskan untuk memasak gudeg manggar (manggar = bunga kelapa sebelum diambil niranya). Rasanya lezat sekali. Daging ayam digoreng kering sebagai lauk, di samping tahu dan tempe bacem yang juga digoreng. Ditambah buah jeruk dan makanan dari ketela yang diolah menjadi kue. Ini untuk pertama kalinya mereka menyajikan hidangan semacam itu, kata mereka. Dan kami sungguh gembira, karena sambutan positif dari pak Camat. Fiuh ! Thanks God.

Acara panggung gembira berlangsung meriah dan sukses. Banyak para pengunjung yang datang, termasuk pak Camat beserta rombongan, beberapa teman kami dan orang-orang dari pedukuhan lain. Bahkan beberapa orang tua yang anak-anaknya turut pentas, meneteskan air mata terharu. Sebab, ini juga untuk pertama kalinya ada acara panggung gembira yang melibatkan anak-anak di atas panggung. Biasanya hanya diisi dengan acara para orang tua seperti campur sari, kroncong, kethoprak atau bahkan “hanya” pengajian saja.

clip_image029 clip_image031

Kelompok “Band Boy “ cool man ! Kelompok Trio Kwek-Kwek Petung

 

Banyak yang terharu sekaligus bangga dan gembira. Kami ikut berbahagia bersama para orang tua dan anak-anak. Acara berlangsung hingga pukul 9 malam. Acara pentas malam adalah milik para orang tua, berupa kethoprak. Kami, para pembina dipersilakan untuk menyantap makanan. Segera setelah berbenah, mengumpulkan segala peralatan dan perlengkapan serta beberapa asesories pribadi, kami beranjak menuju ruang tempat makanan sudah disediakan. Kami makan dengan lahap sambil bercakap-cakap puas. Beberapa kali kami terpaksa harus berdiri dan membalas salam serta menyalami orang-orang yang memberikan kami selamat. Terimakasih……terimakasih…..kami pun sangat gembira melihat adik-adik sukses di panggung. Sungguh tidak disangka mereka bisa melakukannya. Menyanyi, menari dan bermain drama sekaligus ! Hebat sekali mereka itu.

clip_image033 clip_image035 clip_image037

Kostum panggung dancer cilik—-Lihat rambut merahnya..cool !——-Peace yo…!

 

Salam Merdeka, semoga benar-benar Merdeka dan tetap Merdeka !! ^^v

Agustus 2009

9 Comments to "Panggung Gembira"

  1. habibi  4 April, 2012 at 21:32

    mantap….
    sastra bisa hidup dimanapun dan kapanpun tanpa terikat ruang dan waktu……

  2. habibi  4 April, 2012 at 21:31

    mantap,,,
    sastra bisa berada dimanapun tanpa ruang dan waktu yang membatasi..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.