REPUBLIK INDONESIA. Revolusinya dari kamar tidur. Semangatnya dari toilet. Kedaulatannya dari humor.

Selamat Ulangtahun Indonesiaku 9: REPUBLIK INDONESIA. Revolusinya dari kamar tidur. Semangatnya dari toilet. Kedaulatannya dari humor.

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

HA HA HA HA HA…! Pasti ketawa orang bacanya. Tertawa seperti mBah Surip. Kok gitu sih? Nggak serius amat negara ini dilahirkan? Ya serius dong! Darah dan nyawa sudah banyak terbayar untuk harga sebuah kebanggaan. Kebanggan harga diri sebagai sebuah negara besar.

Tapi jangan lupa, di antara darah dan nyawa, terselip peristiwa kecil yang diabaikan. Peristiwa itu kadang lucu, aneh, unik dan menggelikan. Tapi itulah peristiwa atau kejadian yang menghantarkan perjalanan bangsa ini.

“Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang sudah merdeka!”, ucap Soekarno setelah membaca proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yang amat singkat tanggal 17 Agustus 1945 pagi hari. “Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita!, doa Soekarno berharap. Detik itu lahir sebuah bangsa baru. Semangat baru. Sebuah revolusi dari ratusan juta jiwa yang membakar.

berdoa

foto_1_proklamasi_indonesiafoto_3_proklamasi_indonesia  foto_2_proklamasi_indonesia

Di mana revolusi dikobarkan? Dari sebuah rumah sederhana di Jalan Pegangsaan Timur 56, di kawasan Cikini, Jakarta, yang bersebelahan dengan rel kereta api. Orang yang mengobarkan revolusi itu adalah seorang pria bernama Soekarno (dan Hatta), si pemilik rumah. Dari mana dia mengobarkan revolusi itu? Dari kamar tidurnya! Dia dibangunkan untuk mengumumkan kemerdekaan bangsanya, kemudian dia tidur lagi. Sebuah revolusi dari kamar tidur.

Lalu kalau revolusi sudah menggelora dan sudah menjadi sebuah bangsa, negara baru itu harus berdaulat di tangan rakyat. Rakyat itu harus diwakilkan dalam sebuah parlemen. Setelah 12 hari merdeka, Indonesia baru memilik sebuah parlemen. Tentunya bukan parlemen hasil pemilihan umum, karena tidak mungkin mengadakannya saat itu. Di malam hari 29 Agustus 1945, Presiden Soekarno melantik parleman baru, simbol kedaulatan Indonesia, di Gedung Kesenian, kawasan Pasar Baru, Jakarta. Gedung itu terkenal dengan sebutan Gedung Komedi. Tempat pertunjukkan seni dan tontonan hiburan lucu-lucuan diadakan. Di tempat itu parlemen Indonesia pertama kali bersidang. Sebuah kedaulatan telah lahir dari gedung humor.

Bagaimana revolusi dan kedaulatan itu berjalan? Tentu jalannya tidak mulus. Penuh liku, turun naik, air mata, darah dan nyawa untuk mempertahankannya di saat-saat kritis antara 1946 hingga 1950. Kita perlu semangat. Semangat dari apa saja, asalkan semua bergerak untuk mempertahankan sebuah semangat. Bisa dari tindakan heroik, tulisan, nyanyian, puisi (seperti Chairil Anwar) atau lagu. Hussein Mutahar, seorang pembantu dekat Soekarno, punya sumbangan brilian dari apa yang dia bisa berikan untuk negaranya. Dia menciptakan sebuah lagu (dan banyak lagu lainnya) untuk memberikan semangat jutaan rakyat yang ingin mempertahankan yang sudah ditekadkan tanggal 17 Agustus 1945. Lagu apa itu? Lagu perjuangan yang kita kenal dengan judul Hari Merdeka.

 

“Tujuhbelas Agustus tahun empat lima, itulah hari kemerdekaan kita!”, begitu bunyi syair lagu yang penuh semangat hasil ciptaan Mutahar. Di mana Mutahar menciptakan ide lagu itu? Di sebuah hotel, Hotel Garuda namanya yang ada di kota Jogakarta di masa revolusi. Di mana tepatnya dia mendapatkan ide lagu yang begitu revolusioner itu? Di toilet! Toilet hotel!

Republik Indonesia yang lahir pada 17 Agustus 1945, dibela, ditegakkan, dipertahankan tidak selalu bergelora dengan revolusi yang serius dan kaku, kadang kejam memakan anaknya sendiri. Tetapi terkadang penuh romantika, santai, bahkan lucu-lucuan.

Itulah Indonesia. Negara saya, negara Anda, negara kita semua. Negara ini lahir dan dikobarkan oleh Soekarno (dan Hatta) dari kamar tidurnya. Setelah itu dia tidur lagi.

“Bangun tidur, ku tidur lagi”, begitu bunyi syair yang dilantunkan penyanyi mBah Surip.

Saya ingin tidur dulu… Semoga Tuhan mempertemukan kita kembali di hari 17 Agustus 2010. Merdeka!

25 Comments to "REPUBLIK INDONESIA. Revolusinya dari kamar tidur. Semangatnya dari toilet. Kedaulatannya dari humor."

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  29 August, 2012 at 22:41

    Hahaha.. Pak SLB, memang kita belum sukses. Makanya saya sindir.

  2. Dewi Aichi  29 August, 2012 at 18:21

    Itu sindiran kok Pak Swan Liong Be….

  3. Swan Liong Be  29 August, 2012 at 17:56

    @ 21,I.S.Kamah: koq bisa bilang semoga TAMBAH sukses , lha wong sukses aja belum tercapai koq!

  4. Dewi Aichi  29 August, 2012 at 17:36

    Halahhhhh…ditilpon tilpon ngga di angkat kok, ya sudah he he…pakai saja…buat ayunan….he he..

  5. IWAN SATYANEGARA KAMAH  29 August, 2012 at 10:33

    SELAMAT ULANG TAHUN DPR RI. SEMOGA TAMBAH SUKSES DAN BISA MEWAKILI ASPIRASI RAKYAT DI DUNIA JUGA DIAKHIRAT NANTI. KAMI BERDOSA, ANDALAH YG DIBAKAR DI NERAKA. ANDA KAN WAKIL KAMI. IYA KAN?

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  29 August, 2012 at 10:31

    Kok kamu nggak telepon aku Wi saat itu. Selendangmu ketinggalan di rumahku. Sekarang dibuat ayunan sama anakku di ikat di plapon pintu dapur.

  7. IWAN SATYANEGARA KAMAH  29 August, 2012 at 10:30

    Hallo Mas badee, terima kasih atas apresiasinya. Sayang sekali benda=benda yang Anda sebut sudah tidak ada dan itu bisa dipahami bila melihat situasi masa itu.

    Salam.

  8. Dewi Aichi  29 August, 2012 at 09:18

    Wahhhh…untung di share lagi nih…18 Agustus 2009 saya sedang dalam perjalanan dari Jogja menuju Jakarta, kemudian tanggal 19 Agustus malam, saya berada di bandara Soekarno Hatta….diantar adik2 , tante dan ortu, untuk terbang ke Brasil….aduh…paling sedih ketika melambaikan tangan untuk menuju ke pesawat, paling ngga tahan memeluk satu persatu mereka…mengatakan selamat berpisah.

  9. badee  29 August, 2012 at 09:11

    wah.baru tau sejarahnya terbentuknya Indonesia yang tidak ada dibuku sejarah sekolahan saya dulu….makasih mas…tapi kira2 mic dan speaker yg digunakan waktu mengumandangkan kemerdekaan masih ada ngga ya ?? hehehe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.