Budaya salam kaum Abysinia – Ethiopia & Rastafarianism

EA. Inakawa – Kinshasa

Cinta adalah hidayah terbesar yang diberikan TUHAN kepada kita agar kita hidup damai dalam berdampingan terhadap sesama.

Cinta dianugerahkan TUHAN kepada kita mengetuk nurani/kalbu kita yang paling dalam untuk memberi dan berbuat dengan kejernihan & ketulusan.

Cinta dimulai dari kata hati yang paling dalam,menembus dinding nurani orang lain ketika kita menyampaikannya dengan bahasa atau isyarat sekalipun,dan cinta dapat juga tersampaikan melalui bentuk salam yg menjadi budaya bangsa.

Mengenang kembali perjalanan hidup selama 2,5 tahun di negeri Abyssinia – Ethiopia, saya mendapatkan sebuah pengalaman ungkapan Cinta & kasih sayang dalam harmoni ber-kehidupan mereka yang selalu memberi ucapan SALAM noeh, salam noeh yang sering ber-ulang seiring sentuhan bahu kanan & kiri sebanyak 3 kali setiap kali mereka saling bertemu.

Ungkapan salam ini sesungguhnya bermakna jauh lebih mendalam ketimbang sekedar Sapaan biasa…salam orang Ethiopia adalah sebuah pernyataan yang penuh Cinta dan sarat dengan kasih sayang.

Saya memaknai nya sebagai salam yang menyatakan & berdaulat :

SAYA MENGHORMATI ANDA SEBAGAI SESAMA CIPTAAN TUHAN
YANG PALING MULYA…..

DAN SAYA MENEMPATKAN ANDA DALAM RUANG HATI SAYA ATAS PERTEMUAN KITA HARI INI.

Saya menghormati ketulusan dalam diri anda di mana jika kita memberi peluang buat Kebersamaan hati kita untuk selalu damai… kita adalah satu kaum yang bersaudara dalam satu hati – satu rasa & karsa.

Dalam catatan sejarah bangsa Abyssinia di Aksum sekitar tahun 651 Masehi pernah dipimpin seorang Raja yang merupakan keturunan langsung dari pernikahan “King Solomon & Queen Sheba” (dalam Islam kita mengenal King Solomon sebagai Nabi Sulaiman) dan dari perjalanan asal & usul keturunan ini Ethiopia kemudian dipimpin seorang KING Tafari Makonnen bergelar “ Haile Selassie I yang merupakan The Last Emperor of Ethiopia. Haile Selassie ini dipuja sangat oleh bangsa Ethiopia sebagai Raja yang menanamkan kedamaian & kasih sayang kepada rakyatnya. DAN oleh keserakahan para kaum militer borjuis Ethiopia, Haile Selassie kemudian digulingkan oleh rezim militer pada tahun 1974.

Dan di dinding istana Haile Selassie itu pula saya melihat sebuah piagam Perhargaan dari President RI Soeharto ketika saya berkunjung kesana pada tahun 2002 lalu.

Dalam sejarah kepemimpinan Haile Selassie kemudian berkembang sebuah Sekte Agama African Origin yang kita kenal sebagai “RASTAFARIANISM” dengan ciri khas rambut ditocang mengkriwil/gimbal, sekte ini mengkultuskan Haile Selassie sebagai ………. “The Living GOD”.

bob-marleyDUNIA pun mengenal Bob Marley musisi & penyanyi reggae asal Jamaica yang militan & sangat fanatik dan berperan besar bersama comunitas penganut seni reggae dalam mengembangkan kepercayaan Rastafarianim di Benua Africa ini melalui lagu lagu mereka. (jadi dalam petikan sejarah Rastafarianism berasal dari Abyssinia dan bukan dari Jamaica).

Satu hal yang saya cermati dari Kaum Rasta ini adalah kemandirian mereka dalam menjalani kehidupan ini, mereka punya prinsip untuk tidak menyusahkan orang lain dan haram bagi mereka untuk meminta-minta di jalanan. Salah satu yang menonjol dari karakter mereka adalah kearifan, contoh : ketika mereka menawarkan barang dagangan mereka hanya memberikan harga sekali saja, dan harga itu sangat relatif murah, tak berlaku tawar menawar, kadang sangat tak wajar menurut hitungan kita.

Dalam pemikiran mereka, mereka hanya mengambil selayaknya tak ingin menyusahkan sang pembeli.Di Komunitas Rasta tidak semuanya menggeluti dunia seni musik mereka juga membentuk berbagai usaha home industri berupa tenunan pakaian, asesoris, pernik pernik hiasan wanita/pria dan berbagai jenis makanan tradisional sebagai mata pencaharian mereka dan mereka adalah kaum yang suka menolong satu sama lain terhadap sesama Rasta (kalau di Indonesia kegiatan kemandirian ini pernah saya lihat di kelompok sebuah aliran agama/kepercayaan asal Malaysia yang cukup berkembang di Indonesia).

Dan jangan pula anda berpikir apakah mereka seniman gembel semua … TIDAK ! Di antara mereka banyak yang sukses sebagai Pemusik – Pengusaha – Pengacara & Dokter.

Achir kata … ingatan jernih saya yang mengalir dari budaya damai & kasih sayang para kaum Abyssinia & Rastafarianism ini adalah kenangan saya dalam sepekan ini kepada “Mbah Surip” yang saya yakini membuat keterkejutan & membangunkan para Roh Musisi yang terkubur atau tertidur di sana ketika ia melejitkan namanya bak meteor misteri di kancah hiburan Indonesia, dalam gaya layaknya seorang Rasta dengan rambut gimbal semua orang dengan mata kasat pasti melihatnya sebagai penganut Rastafarianism atau pengidola Bob Marley.

Rengkuhannya terhadap popularitas yang iya tekuni secara hidup bergelandangan sebagai seniman mampu membakar & membangkitkan adrenalin kita untuk ber-sepaham dengan ungkapan kata-katanya yg enak, jenaka dan menggelitik & mudah dicerna.

DAN Tuhan berkehendak lain Mbah Surip harus memenuhi janji nya kepada TUHAN yang bisa saja tanpa kita ketahui ketika doa-doa yang iya pinta berupa permohonan Bisa populer & Jadi Milioner dalam sekejap diaminkan oleh para Malaikat setelah lelah bertahun karat tak pernah populer adalah komitmen yang harus mau tidak mau ia tebus sesuai janjinya.

Kini ia telah menempati ruang & waktunya sebagai seniman di tempat mana yang paling iya sukai…KETENANGAN dan mungkin saja dalam ketenangannya di alam barzah sana sesungguhnya iya terlahir kembali sebagai Seniman terpopuler di alam damai, sebagaimana keyakinan para Rasta “Kematian adalah persinggahan di alam damai”

Medio : 10 Agustus dua ribu sembilan “

Salam hangat dari Kinshasa : EA.Inakawa
 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.