Merdeka di mata Orang Kampung

Kornelya – USA

Aku orang kampung, lahir dari keluarga bersahaja. Orang tuaku kaya anak, miskin harta. Sebidang sawah, petakan kebun kopi dan pisang menjadi tumpuan hidup kami. Ayahku minggat ke alam baka, saat aku masih remaja. Setelah kepergiannya, ibuku berjuang sendiri membesarkan anaknya yang jumlahnya melebihi anggota kesebelasan sepak bola.

Demi menghemat biaya system selongsoranpun diterapkan, dari baju, seragam, sepatu sampai perlengkapan sekolah. Nasib menjadi adik, kepastian akan mendapat baju baru akan datang setahun sekali, yaitu di kala Natal. Untuk membiayai hidup, selain hasil pertanian di kampung, ibuku menerima jahitan, membuat kue untuk dititipkan ke warung-warung dan juga menanam sayur-mayur, ternak ayam dan ikan di sekitar rumah yang hasilnya selain untuk dimakan sendiri juga dijual kepada masyarakat sekitar.

Masih segar dalam ingatanku, kami bersaudara sangat menikmati kehidupan sebagai anak petani, penjahit dan penjual kue. Apalagi saat harga kopi melonjak, membeli sepatu bata hitam yang sangat presistisius untuk ukuran kotaku bukanlah masalah. Perjalanan panjang dan melelahkan untuk membawa kopi, pisang dan padi sampai ke pasar. Kebun terletak di lembah yang tidak terakses jalan raya.

Hasil pertanian harus diangkut dengan alat “biofuel” apakah itu manusia, kuda atau kerbau dengan jalan mendaki sepanjang 3 km sebelum mencapai jalan raya. Selanjutnya 12km jalan raya berbatuan dan terjal menanti untuk ditempuh sebelum sampai ke pasar. Karenanya aku sering menghantarkan hasil jahitan ke rumah pelanggan ibu untuk membayar uang sekolah di saat kopi tak bisa diandalkan, kegiatan inipun punya greget tersendiri.

Ada pelanggan kaya, namun suka menunda-nunda pembayaran alias suka ngutang. Mana peduli dia, kalau dalam nota pengantar ibuku sudah menjelaskan kalau uangnya mau dipakai untuk bayar sekolahku. Dalam bisnis kue-kuepun ibuku tidak selalu beruntung. Seringkali, kue/roti yang akan didistribusi, disantap tanpa ijin oleh anak-anaknya secara sembunyi-sembunyi.

Dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan, ibuku berjuang agar kami mendapatkan pendidikan yang terbaik. Tak perduli dengan cemoohan tetangga, dalam rumah tanpa listrik, di bawah penerangan lampu teplok beliau mendatangkan guru private matematika dan bahasa Inggris, hal yang dulu aku selalu berusaha menghindari, namun sekarang bersyukur atas kesuksesan ibu menyeret aku dari balik pintu atau kolong ranjang tempat persembunyianku.

2662838p

Waktu berlalu, satu persatu kami keluar daerah untuk kuliah. Duapuluh tahun lalu saat banking online masih dalam angan-angan, weselpos menjadi andalan, dan curah hujan menjadi petaka, karena saat hujan pesawat tak bisa mendarat dan weselpun tertunda. Untuk membiayai kuliah system selongsoran kali ini berlaku untuk beban ekonomi. Kami berusaha mengurangi beban ibu, memutus tali kemiskinan dengan saling menopang pendidikan satu sama lain. Saat kami semua telah mandiri, dengan “nadi kemiskinan” masih bercokol pada beberapa di antara kami, ibuku tetaplah pekerja keras.

104725p

Ia tidak mau berhenti bekerja menikmati kemerdekaannya sebagai seorang seorang ibu yang telah membesarkan, mendidik dan menghantarkan anak-anaknya sampai jenjang perkawinan. Kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan adalah memaksa ibuku berhenti bekerja, tanpa kusadari sejak saat itu kesehatannya merosot, hingga akhir hayatnya.

Ya, aku orang kampung, percaya hanya swasembada pangan dan pendidikan yang membuat rakyat jelata merdeka. Selebihnya untuk kemakmuran penguasa.
 

Ilustrasi: http://kompas.com

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.